Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 15: Selene



Di sebuah hutan gelap yang dipenuhi dengan tumbuhan parasit dan rumput-rumput tinggi, tampak beberapa sosok yang tersebar di pintu masuk hutan sebelum menghilang dalam kedipan dan muncul di berbagai lokasi.


Theodore mengikat tinggi rambutnya dan mengenakan seragam hitam yang membuatnya mudah bergerak. Ketika berjalan melewati semak-semak, sebuah sulur diam-diam terulur ke arahnya dari atas. Sebelum sulur itu mencapai kepalanya, benda itu tiba-tiba membeku dan pecah menjadi serpihan es.


Theodore menengadah ke atas dan melihat ratusan sulur yang memiliki mulut bergerigi melesat ke arahnya. Sama seperti sulur sebelumnya, semua sulur-sulur itu tidak berhasil menyentuh mangsa mereka dan berubah menjadi serpihan es yang turun dengan indah.


Ketika semua sulur dibersihkan sebuah pohon besar di sampingnya tiba-tiba bergerak, di tempat di mana sulur-sulur itu dihancurkan sebelumnya, tampak sebuah bunga yang berbentuk seperti mulut manusia. Beberapa untai sulur yang terpotong dan layu itu terhubung dengan lingkaran luar bunga. Mulut itu terbuka dan memperlihatkan gigi tajam. Dahan-dahan pohon itu dengan gesit menyerang Theodore yang dihindari dengan mudah.


Tempat dimana Theodore berdiri sebelumnya, dilubangi oleh ranting pohon dan menunjukkan tanda-tanda korosi.


Melihat mangsanya menghindarinya dengan mudah, bunga itu tampak tersinggung dan menyemprotkan tetesan-tetesan air dari mulutnya, yang juga dihindari dengan mudah oleh Theodore.


Tetesan-tetesan air liur itu melubangi segala sesuatu yang disentuhnya, kecuali bagian dari tumbuhan itu sendiri.


Sebelum mulut itu menyemburkan air liurnya lagi, kekuatan mental yang menakutkan membelah seluruh bagian tanaman itu menjadi potongan-potongan kecil sebelum membeku dan berubah menjadi potongan batu es.


Sebuah batu kristal hijau seukuran telur puyuh tertinggal di tempat dimana tanaman ini berada sebelumnya. Kristal kecil itu melayang ke tangan Theodore sebelum menghilang.


Di bagian lain hutan, Aiden sedang mengumpulkan beberapa tanaman langka. Ketika seekor kalajengking hitam kecil perlahan merayap ke arahnya. Aiden menghentikan kegiatannya sejenak dan bergumam, "Sepertinya aku akan makan kalajengking panggang lagi..."


Kalajengking kecil itu membeku sejenak seolah dapat memahami kata-kata Aiden. Ketika sebuah percikan api kecil terbentuk di depannya, kalajengking itu mengayunkan ekornya dengan panik.


"Woo!!!Jangan makan Mimi!!!"


Aiden, "???"


"Meskipun Mimi baru berusia tiga tahun, tapi daging Mimi rasanya keras dan pahit! Makan Mimi bisa menyebabkan sakit perut, Woo... Jangan makan Mimi...Woo..."


Aiden, "..."


"Woo...Betapa malangnya nasib Mimi bertemu dengan orang jahat yang memakan kalajengking. Mimi tidak mau menjadi kalajengking panggang...Woo...."


Sudut mulut Aiden berkedut ketika dia mendengar tangisan bayi kecil yang menyedihkan. Percikan api yang berada di depan kalajengking itu menghilang seketika. Ketika Aiden berbalik dan melihat makhluk kecil yang jelek di depannya, kalajengking itu semakin gemetar, ekornya tersentak-sentak seolah tersetrum listrik.


Aiden, "..." Si kecil jelek ini ternyata cukup lucu juga.


Kalajengking itu mengangkat pandangannya dan menatap Aiden sementara Aiden mengamati kalajengking yang bisa berbicara bahasa manusia ini dengan pandangan menilai. Kedua saling bertatapan satu sama lain.


Kalajengking kecil, "..."


Aiden, "..."


"Sepertinya pria jahat ini tidak jadi memanggang Mimi...Mungkinkah, dia ingin menjual Mimi?! Woo...Mimi tidak mau dijual..."


Aiden menatap makhluk yang mengaku sebagai Mimi ini dengan pandangan geli dan berkata, "Aku tidak tertarik untuk menjualmu, jadi berhentilah menangis."


Kalajengking kecil, "!!!"


Kalajengking kecil itu tiba-tiba berputar dengan panik, "Bagaimana mungkin orang jahat bisa memahami kata-kata Mimi?! Jelas-jelas dia bukan keluarga Mimi!"


Aiden berjongkok dan mengangkat kalajengking itu dari tanah ke tangannya, "Jadi orang lain yang kamu temui sebelumnya tidak bisa mendengarmu berbicara?"


Kalajengking itu bergetar dan mengayunkan ekornya sebagai persetujuan.


Aiden menatap makhluk kecil di tangannya dengan penuh pertimbangan, "Kamu terlihat seperti kalajengking biasa..."


Kalajengking kecil itu membeku sejenak sebelum berputar-putar di tangan Aiden seolah tidak ada yang terjadi, namun Aiden jelas menyadari kejanggalan dalam perilaku kalajengking kecil itu.


"Jadi katakan padaku, mengapa kamu mendekatiku? Ingin menyengatku?" tanya Aiden.


"Bukan! Mimi ke sini karena ingin mengambil beberapa bunga disini."


"Untuk apa?"


"Teman Mimi sedang sakit, bunga-bunga ini bisa menyembuhkan teman Mimi..."


Aiden mencabut beberapa bunga yang disebut kalajengking kecil itu dan menggoyangkannya, "Cukup?"


Kalajengking kecil itu terkejut sejenak, namun dia segera menjawab dengan penuh antusias, "Cukup!"


"Dimana temanmu? Aku akan mengantarmu kembali."


Kalajengking kecil itu ragu-ragu sejenak, tetapi dia akhirnya memutuskan untuk mengarahkan Aiden ke sarangnya. Mereka tiba di sebuah gua kecil. Aiden menurunkan kalajengking kecil itu ke tanah dan mereka berdua memasuki gua yang gelap gulita itu.


"Momo! Mimi sudah membawakan bunganya!!"


Meskipun gua itu gelap, namun Aiden bisa melihat dengan sangat jelas seisi gua itu. Di tumpukan rumput kering, berbaring seekor kalajengking besar seukuran lengan manusia. Kalajengking besar itu tampaknya merasakan kehadiran makhluk tak dikenal dan bertanya dengan waspada, "Mimi, siapa itu?!"


Suara seorang remaja yang lemah terdengar di gua itu. Kalajengking kecil itu segera menuju kalajengking besar dan menceritakan pertemuannya dengan Aiden. Si besar dan kecil itu sempat bertengkar sejenak, namun kalajengking kecil meyakinkan kalajengking besar kalau Aiden tidak akan memakan mereka atau menjual mereka.


Aiden memandang interaksi keduanya dengan tenang, dia bisa merasakan kekuatan mental kalajengking besar ini jelas tidak dibawah level A, namun usianya baru remaja?


Setelah diyakinkan terus-menerus oleh kalajengking kecil, kalajengking besar akhirnya menerima kehadiran Aiden dengan enggan.


Aiden dengan santai berjalan ke arah kalajengking besar itu dan menyentuh area lukanya. Kalajengking besar itu menegang seketika. Aiden memeras sebagian bunga di tangannya hingga hancur sebelum mengoleskannya ke luka kalajengking besar. sebagian lagi ditaruh di depan kalajengking besar agar makhluk itu bisa memakan bunganya sendiri.


"Terima kasih," gumam kalajengking besar.


Luka di sekitar kalajengking besar itu segera memadat dan membentuk kerak.


Kalajengking kecil berputar-putar di sekitar kalajengking besar dan menyatakan kekhawatirannya. Setelah kalajengking kecil memastikan kalau kalajengking besar sudah sehat kembali, makhluk kecil itu berinisiatif merangkak ke kaki Aiden.


"Orang baik, terima kasih sudah menyembuhkan Momo. Kalau ada yang bisa Mimi bantu, katakan saja!" ujar kalajengking kecil.


"Bukan aku yang menyembuhkan Momo-mu, tapi bunga-bunga itu. Selain itu, memangnya apa yang bisa dilakukan makhluk kecil sepertimu?"


"Mimi mengenali beberapa daerah di sekitar hutan ini, Mimi juga tahu kalau hutan sudah dimasuki beberapa orang dari luar. Kalian pasti sedang mencari sesuatu! Mimi mungkin bisa membantu kalian menemukan sesuatu yang kalian cari!" seru kalajengking kecil itu dengan bangga.


Kalajengking besar menyaksikan interaksi keduanya dengan tidak senang. Dia ingin memukuli kepala kalajengking kecilnya karena begitu mudah mempercayai orang luar. Padahal beberapa makhluk di hutan ini dibantai oleh orang-orang dari luar itu.


"Mimi masih kecil, dia hanya menyemburkan omong kosong. Kalau kamu memang ingin mencari sesuatu, aku bisa mengarahkan jalan pada kalian, tapi jangan harap aku akan membantu kalian membantai makhluk-makhluk di hutan ini," ujar kalajengking besar.


"Momo!"


"Diamlah! Dan turun kesini!"


Kalajengking kecil dengan sedih kembali ke sisi temannya.


Aiden bisa melihat kekhawatiran kalajengking besar terhadap kalajengking kecil sangat tulus. Aiden merasa sedikit ironis ketika memikirkan bahkan hewan bisa lebih melindungi dan menyayangi satu sama lain, tetapi manusia? Dia sudah melihat banyak kasus dimana orang suka mengorbankan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Contohnya kasus perdagangan manusia baru-baru ini, kalau Dylan tidak ditangkap dan dia tidak turun tangan, mungkin kasus ini tidak akan terungkap secepat ini.


Setelah meminta kalajengking kecil untuk tetap di sarang, Aiden dan kalajengking besar keluar dari gua.


"Jadi, benda apa yang kalian cari?" tanya kalajengking besar.


"Apakah kamu tahu keberadaan kristal emas?"


Kalajengking besar menatap Aiden dengan penuh kejutan, "Untuk apa kamu mencari benda itu?! Benda itu sangat terkutuk dan bisa membuat manusia yang mendekatinya menjadi berhalusinasi dan kemudian gila. Setiap kali ada orang yang masuk ke hutan untuk mendekati kristal emas, tidak ada dari mereka yang keluar hidup-hidup!"


"Sebenarnya kristal emas bukan tujuan kami, tetapi sesuatu yang membuat kristal emas menghasilkan efek ini. Benda itu pada awalnya bukan milik hutan ini," kata Aiden saat dia berjalan berdampingan dengan kalajengking besar.


Kalajengking besar terdiam. Memang, nenek moyang mereka pernah mengatakan kalau awalnya hutan ini tidak memiliki kristal emas, tapi beberapa abad yang lalu, daerah tertentu dari hutan ini tiba-tiba diselimuti dengan energi aneh. Energi ini membuat sebagian besar makhluk yang tinggal di hutan bermutasi dan menjadi lebih kuat, namun hal ini tidak berlaku pada manusia. Manusia yang terkena energi ini langsung menjadi gila dan kemudian mati dengan perlahan.


Aiden mentransmisikan pesan jiwa pada saudaranya dan melaporkan semua peristiwa yang baru saja terjadi.


Beberapa saat kemudian, Aiden menatap kalajengking besar dan bertanya, "Jadi Momo, bisakah kamu mengubah dirimu menjadi seukuran Mimi?"


"Tidak masalah."


Selesai memberikan jawabannya, kalajengking besar itu menyusut hingga akhirnya ukurannya tampak persis seperti ukuran kalajengking kecil.


Aiden mengulurkan tangannya ke Momo dan si kalajengking itu melompat ke tangan Aiden. Setelah itu, Aiden memejamkan matanya dan sosoknya menghilang dari tempat bersama kalajengking.


Theodore dan beberapa bawahannya termasuk Felix sedang duduk di bawah pohon, tidak lama kemudian, sosok Aiden muncul dari udara.


Theodore menatap kalajengking kecil di lengan Aiden, "Dialah yang akan membantu kita?"


"Ya, namanya Momo," jawab Aiden sambil menusuk cangkang Momo dengan jari telunjuknya.


Momo menghindari jari nakal yang mengganggunya dan melompat turun ke tanah dari tangan Aiden.


"Ikuti aku."


......................


Kelompok itu sampai di depan sebuah tebing. Theodore meminta bawahannya untuk menunggu di atas tebing, sedangkan dia dan Aiden akan masuk ke dalam bersama Momo.


Aiden membawa Momo ke atas bahunya dan meminta Momo untuk mencengkram erat bajunya. Keduanya melompat ke bawah dengan lancar. Setelah beberapa menit, mereka mendarat dengan aman di tanah. Momo membawa mereka masuk lebih dalam dan mereka sampai di depan sebuah mulut gua.


Dari luar saja, mereka bisa merasakan energi kuat yang berasal dari dalam. Memang benar, jika manusia yang masuk, maka pikiran mereka akan terkorosi secara perlahan. Aiden menjentikkan jarinya dan beberapa nyala api muncul di sekitar mereka, cukup untuk menerangi kegelapan di gua ini.


Pemandangan di dalam gua tampak menakjubkan. Kristal merah keemasan tumbuh menutupi seluruh dinding gua. Mereka masuk lebih dalam hingga akhirnya mereka keluar dari lubang lain dan melihat lautan lava.


Kalajengking di bahu Aiden sedikit tertekan dengan aura dari dalam lautan lava, tetapi dua manusia yang dibawanya sama sekali tidak terlihat tidak nyaman. Mungkinkah kualitas manusia yang semakin meningkat? Lagipula orang terakhir yang mencari kristal emas datang puluhan tahun yang lalu.


Theodore terbang ke tengah lautan lava dan memukul kekuatan jiwanya ke bawah, menembus lava.


Lautan lava berguncang sejenak, sebelum bagian tengah lava terbelah dua dan menunjukkan sebuah pedang yang tertancap di dasar. Pedang itu memancarkan reaksi penolakan terhadap kekuatan jiwa Theodore dan memancarkan gelombang energi panas yang menyerang balik Theodore. Energi panas itu bentrok dengan energi dingin Theodore, sebelum energi panas mulai melemah dan perlahan menghilang. Pedang yang awalnya memancarkan cahaya merah terang yang mewakili api, berubah menjadi biru pucat es.


Pedang itu tercabut dari dasar dan melayang ke depan Theodore.


"Lama tidak bertemu, Selene."


Pedang itu memancarkan cahaya biru keperakan, seolah menjawab salam Theodore. Semenjak pedang itu tercabut dari dasar laut, lautan lava yang terbelah berubah menjadi batu es.


Selene, pedang itu, berubah menjadi cahaya perak dan menembus alis Theodore. Sebuah tanda garis perak muncul di dahi Theodore.


Momo tidak menyangka pemandangan ini yang akan menyambutnya. Dengan nada pelan, dia bertanya, "Apakah kalian bukan manusia?"


Aiden memiringkan kepalanya dan menatap kalajengking di pundaknya dengan seringai, "Kapan aku bilang kalau kami adalah manusia?"


Momo, "..."


Aiden tertawa pelan melihat kalajengking di pundaknya yang selalu bertindak kasar, mematung di bahunya.


"Kami bukan manusia, tapi roh. Lebih tepatnya roh yang dibangkitkan pada zaman evolusi," jawab Aiden sambil menatap lurus Theodore yang masih melayang di kejauhan.


"Kamu mungkin pernah mendengarnya, kami sering disebut sebagai roh kuno."


"Adapun pedang itu, mungkin saudaraku meninggalkannya di tempat ini beberapa dekade yang lalu. Meskipun pedang itu mungkin kelihatan seperti hanya senjata mati, tapi faktanya dia cukup spiritual dan memiliki nama."


"Namanya Selene."