Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 1: Keluarga Adler



Gelap


Seorang wanita berdiri linglung di tengah ruang hampa. Tidak ada tanah, tidak ada langit, tidak ada cahaya, tidak ada bunyi, hanya kegelapan yang memeluknya.


Tes...


Tes...


Tes...


Suara tetesan air yang tiba-tiba bergema di kegelapan, memecah keheningan yang mematikan. Wanita itu sedikit tersentak ketika suara tetesan air tiba-tiba bergema. Setiap suara tetesan air yang bergema menusuk jauh ke otak yang membuatnya merasa sedikit mati rasa.


Mengerutkan alisnya, wanita itu tampak ragu-ragu. Namun, tidak lama kemudian wanita itu membuat langkah pertama dan bergerak meninggalkan posisinya. Meskipun sudah lama berdiri tegak tanpa mengubah posisi untuk waktu yang lama, ketika melakukan langkah pertamanya, tidak ada rasa kebas atau tidak nyaman.


Mengikuti suara tetesan air, wanita itu bergerak maju di kegelapan yang mencekam. Semakin dia berjalan, semakin keras suara tetesan air yang bergema di otaknya, namun tidak peduli berapa lama dia berjalan, dia tidak menemukan ada yang berbeda di sekitarnya. Dia masih berada di kegelapan yang kosong, hanya suara tetesan air yang menemaninya.


Di tengah kegelapan, dia tidak memiliki konsep waktu. Ketika pertama kali dia berada di ruang hampa, dia sangat kebingungan. Tidak ada cahaya dan tidak ada suara. Dia tidak bisa mendengar suaranya ketika berbicara, tidak ada suara nafas, tidak ada suara detak jantung. Penglihatannya tidak berguna di kegelapan. Dalam hati, wanita itu menghitung setiap detik yang dia lewati di ruang hampa itu. Ketika tiga jam telah berlalu, wanita itu akhirnya berhenti menghitung. Dia menunggu. Ada suara jauh di lubuk hatinya yang memberitahu bahwa dia aman. Dia hanya perlu menunggu.


Sekarang bahkan jika dia harus berjalan selama berjam-jam mengikuti satu-satunya suara yang muncul di kegelapan, dia tidak akan mengeluh karena intuisinya mengatakan bahwa suara ini bisa membawanya keluar dari kegelapan yang telah menjeratnya.


Seolah membenarkan suara hatinya, setitik cahaya perak muncul di depannya. Tanpa ragu-ragu, wanita itu berlari menuju satu-satunya cahaya yang muncul di kegelapan. Dia tidak tahu berapa lama dia berlari, tetapi dia tahu dia semakin dekat dengan cahaya, dengan kebebasan.


Ketika cahaya perak yang membutakan penglihatan menyelimuti dirinya, wanita itu tersenyum meskipun rasa perih membakar matanya. Perasaan hangat memeluknya menggantikan rasa dingin kegelapan. Namun, perasaan hangat itu tidak lama karena sekali lagi semuanya menjadi gelap. Akan tetapi, kali ini semua indranya memudar seolah tidur menyambutnya.


....


"Rene...Irene!"


Seorang wanita muda yang tertidur lelap tersentak setelah namanya diteriakkan. Dengan tatapan buram yang masih setengah sadar, wanita itu menatap sekelilingnya dengan pandangan tidak jelas.


"Irene!"


Bentakan itu membuat Irene tersadar dari rasa kantuknya. Dia menatap pelaku yang membentaknya. Seorang pria gemuk tua dengan kepala yang botak sebagian dan kaca mata bulat yang membingkai wajah gemuknya sedang menatap Irene dengan ekspresi mencela. Ya, guru matematika sekaligus wali kelasnya menatapnya seolah dia telah melakukan kejahatan yang tidak termaafkan.


"Irene Adler, temui saya di kantor sepulang sekolah."


Dengan enggan, Irene mengangguk patuh dan tersenyum meminta maaf, "Baik Pak."


Setelah mendapat jawaban yang diinginkan, sang guru matematika masih dengan ekspresi mengerutnya, melangkah keluar dari kelas. Setelah melihat gurunya pergi, wanita yang sebelumnya tertidur di kelas menatap ke luar jendela dan menyangga dagunya sambil memikirkan kembali mimpi aneh yang dialaminya. Dia mengabaikan tatapan kurang ramah dari teman-temannya serta bisikan-bisikan yang tidak menyenangkan.


Namanya Irene Adler, putri tertua dari keluarga Adler. Keluarga Adler termasuk keluarga bangsawan manusia kelas dua.


Selain manusia, hewan, dan tumbuhan dunia ini juga dihuni oleh makhluk-makhluk lain yang memiliki tingkat kecerdasan yang tidak kalah dari manusia, mereka adalah roh atau lebih dikenal sebagai hantu dan undead.


Ribuan tahun yang lalu, bencana melanda bumi dan menghapus hampir sebagian makhluk hidup di bumi. Makhluk hidup yang lolos dari seleksi alam kemudian berevolusi. Hewan dan tumbuhan menunjukkan tingkat kekuatan fisik dan kecerdasan yang menakutkan. Manusia mengalami modifikasi genetik yang memperpanjang usia dan meningkatkan kekuatan fisik mereka serta menumbuhkan kekuatan baru dalam diri mereka yang disebut "kekuatan mental".


Namun, ketika makhluk hidup di bumi berevolusi, makhluk-makhluk yang pernah menjadi fantasi manusia mulai bermunculan. Penampakan jenderal terdahulu negara timur yang hanya ada dalam sejarah muncul dari makam kerajaan terdahulu, penampakan leluhur kerajaan negara barat, serta penampakan-penampakan lainnya.


Orang-orang yang sudah meninggal muncul kembali dengan keadaan tanpa fisik. Makhluk-makhluk halus lainnya yang telah tertidur selama berabad-abad terbangun dan muncul di berbagai tempat. Ada penampakan yang tidak berbahaya, namun ada juga penampakan yang membahayakan makhluk hidup begitu mereka muncul. Beberapa makhluk halus membantai manusia begitu mereka muncul. Beberapa manusia yang dibantai kemudian akan berubah menjadi makhluk halus yang dinilai berbahaya atau mungkin jinak, tetapi beberapa akan berubah menjadi mayat hidup.


Munculnya makhluk halus dan mayat hidup membuat manusia yang baru berevolusi menjadi kewalahan. Untungnya tidak semua makhluk halus yang bangkit bersifat agresif terhadap manusia. Makhluk halus yang bangkit memiliki ingatan semasa hidup mereka, sehingga beberapa di antaranya bersedia membantu manusia mengatasi ancaman.


Seiring berjalannya waktu, manusia membangun komunikasi yang ramah dengan beberapa makhluk halus dan memanggil jenis mereka sebagai "hantu" atau "roh". Beberapa kelompok manusia bersedia mempercayai roh yang mereka kenal, beberapa manusia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan roh jahat dan mayat hidup sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain menjalin hubungan yang baik dengan para roh lain yang rasional.


Bersama para roh, manusia kembali membangun tatanan sosial di samping mengeksekusi musuh mereka. Para roh yang memiliki status mulia semasa hidup mereka tetap mempertahankan status mulia mereka. Seiring perkembangan zaman, perselisihan antara roh dan manusia semakin memudar dan sekarang manusia telah sepenuhnya menerima keberadaan roh dan kedua ras ini hidup berdampingan. Ada pun mayat hidup, seiring berkembangnya zaman, mereka juga telah berevolusi. Para undead memulihkan penampilan dan kecerdasan mereka seperti ketika mereka masih hidup, para undead yang lebih kuat juga telah membuat perjanjian damai dengan manusia, namun manusia tidak bisa hidup berdampingan dengan undead.


Hal ini dikarenakan sebagian besar undead tidak bisa menahan insting mereka untuk memangsa manusia. Undead ini adalah jenis yang paling rendah. Undead yang mampu mempertahankan rasionalitas mereka adalah undead kelas yang lebih tinggi.


Para undead membangun tatanan sosial mereka sendiri. Undead yang lebih tinggi memiliki fisik yang lebih kuat dibandingkan sebagian besar manusia, mereka tidak perlu memangsa manusia untuk memuaskan insting mereka. Para undead dibagi menjadi tiga kelompok masyarakat: bangsawan (undead kelas A),  masyarakat biasa (undead kelas B), dan masyarakat bawah (undead kelas C).


Undead kelas A dan B memandang rendah undead kelas C yang berada di dasar hirarki, mereka tidak memangsa manusia, tetapi mereka juga tidak perlu bertanggung jawab atas undead kelas C yang memangsa manusia. Hal ini tertulis dalam perjanjian yang ditandatangani oleh pihak manusia dan undead.


Setiap makhluk yang lolos dari seleksi alam mengembangkan kekuatan mental dengan berbagai tingkatan, dengan F adalah yang terendah, kemudian meningkat ke E, D, C, dan seterusnya. Kekuatan mental level S adalah level yang superior.


Irene Adler adalah putri tertua di keluarga Adler. Keluarga Adler saat ini memiliki lima anak, tiga putra dan dua putri. Secara logika, wanita dari keluarga bangsawan ini hidup dalam kemuliaan dan rasa hormat, namun kenyataan justru sebaliknya. Irene tidak memiliki status di keluarganya karena dicap sebagai anak tidak sah dari saudara jauh ayahnya yang telah meninggal. Ibu Irene meninggal tidak lama setelah melahirkan bayi kembar perempuan dan laki-laki. Ayahnya, John Ronald Adler dan ibu tirinya Christine yang pada saat itu juga sedang hamil, mengumumkan kepada publik bahwa mereka akan mengadopsi kedua bayi tersebut.


Saudara kembar Irene, Dylan Adler, memiliki kesehatan yang buruk sejak kecil. Di rumah Adler mereka saling mengandalkan satu sama lain. Tidak lama setelah kelahiran Irene dan Dylan, Christine juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama Ethan Adler. Beberapa tahun kemudian Christine mempunyai dua anak lagi, putra keduanya diberi nama Evan Adler, dan putrinya diberi nama Caroline Adler.


Di keluarga Adler, satu-satunya orang yang tidak memusuhi Irene dan Dylan adalah Ethan. Ethan tidak menunjukkan favoritisme yang terlalu berlebihan kepada Irene dan Dylan, tetapi dia adalah yang paling tulus dan jujur ketika menghadapi Irene dan Dylan jika dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya.


Irene menghela nafas ketika melihat guru lain memasuki kelas. Sejujurnya dia sedang tidak mood mendengarkan pelajaran, tetapi dia juga tidak ingin ditegur lagi. Membuka bukunya, Irene berharap waktu segera berlalu agar dia bisa pulang menemui saudaranya yang tercinta.


...


Bel pulang menandakan berakhirnya waktu sekolah. Irene baru saya keluar dari kantor guru setelah menerima teguran dari wali kelasnya selama 30 menit penuh dimana dia juga disuruh menuliskan esai mengenai materi yang dijelaskan di kelas sebanyak dua puluh kali. Irene tahu hanya dia yang memperoleh perlakuan khusus ini. Jika digantikan dengan siswa lain, guru mereka tidak akan memedulikan satu dua siswa yang tidur di kelas.


Irene bisa merasakan tatapan para siswa disekitarnya seolah dia adalah hewan langka tertentu yang dipamerkan. Meskipun sudah terbiasa, terkadang Irene masih merasa tidak enak. Mengabaikan semua orang di sekitarnya, Irene bergegas pulang ke rumah tanpa melihat ke belakang.


....


Mansion Keluarga Alder


Irene melewati lorong-lorong kecil ke kamarnya untuk menghindari bertemu dengan orang-orang di mansion. Sayangnya, harapan kecilnya tidak terkabulkan.


"Kak Irene mau kemana? Kelihatannya buru-buru sekali."


Irene menghentikan langkahnya, dengan enggan berbalik untuk melihat ke arah sumber suara. Seorang gadis kecil berusia dua belas tahun yang tampak imut berdiri di lorong sebelah.


"Caroline, kenapa kamu disini?"


Gadis kecil itu mengedipkan matanya dengan polos dan berujar, "Carol mau ke taman, tetapi ketemu dengan kakak."


Irene tersenyum dan berkata, "Kalau begitu kamu lanjut ke taman, kakak mau ke kamar dulu."


Mendengar perkataan Irene, Caroline tersenyum manis dan berjalan menuju Irene dan memegang tangannya, "Carol mau ikut dengan kakak, ke tamannya nanti saja."


Irene sedikit mengerutkan keningnya, dalam hati dia sedikit waspada. Caroline memang terlihat imut dan polos, tetapi gadis kecil ini tidak pernah menyukai Irene dan Dylan di bawah pengaruh ayah dan ibunya. Irene tidak tahu apa yang sedang direncanakan Caroline sekarang, tetapi dia juga tahu akan sia-sia menolak Caroline jika gadis kecil ini sudah memutuskan untuk mengikutinya.


"Kak Irene."


"Ya?"


"Kakak akan segera mengikuti tes kekuatan mental, kan?"


Langkah Irene terhenti sejenak, "Iya."


"Kalau begitu kita harus mengadakan pesta untuk merayakan kedewasaan Kak Irene, Kak Dylan, dan Kak Ethan! Kakak pasti sangat senang."


Irene terdiam.


Sudah menjadi suatu kebiasaan bahwa setiap manusia akan menguji kemampuan mental mereka seumur hidup paling sedikit dua kali. Pertama kali ketika baru lahir dan kedua kalinya ketika berusia 17 tahun.


Manusia dengan kekuatan mental level E sulit meningkatkan level ke D, bahkan lebih sulit lagi jika ingin kekuatan mental E meningkat ke C. Adapun kekuatan mental level F, hampir tidak terdengar ada manusia dengan kekuatan mental ini. Hal ini dikarenakan pada dasarnya level F berarti orang tersebut hampir tidak memiliki kekuatan mental.


Di zaman sekarang, kekuatan mental pada dasarnya sudah digunakan untuk melakukan berbagai hal. Keluarga Adler terlibat dalam bidang farmasi. Sebagian besar keturunan keluarga Adler adalah apoteker. Seorang apoteker membutuhkan kekuatan mental yang cukup kuat untuk mengekstrak bahan farmasi, mengingat setiap tumbuhan dan hewan juga mengembangkan kekuatan mental. Tanpa dukungan kekuatan mental yang cukup, tingkat keefektifan obat tidak akan maksimal dan akan meninggalkan residu yang kurang untuk tubuh.


Irene dan Dylan mengembangkan kekuatan mental level B ketika mereka pertama kali diuji. Namun, karena kecelakaan sewaktu kecil, kekuatan mental Dylan rusak dan turun ke level D. Kekuatan mental memiliki kaitan yang erat kekuatan fisik seseorang. Semakin kuat fisik seseorang, maka semakin mudah menanggung kekuatan mental yang kuat. Dylan memiliki kesehatan yang sangat buruk sehingga pada saat kecelakaan terjadi, tidak hanya fisiknya yang terluka, tetapi kekuatan mentalnya juga ikut mundur.


Bukan tidak mungkin menggunakan obat-obatan untuk mendukung kondisi fisiknya dan memulihkan kekuatan mentalnya, tetapi jumlah obat yang dibutuhkan sangat besar dan biaya perawatan juga sangat mahal. Dokter mengatakan bahwa Dylan mungkin tidak akan hidup lama mengingat bahwa kesehatannya memang sudah cacat sejak lahir. Bisa selamat dari kecelakaan dengan kondisi fisik yang lemah sudah sangat beruntung. Dokter takut Dylan tidak mampu menahan rasa sakit dari perawatan. Ayah mereka pernah bertanya apakah Dylan ingin melakukan perawatan memulihkan kekuatan mentalnya, tetapi Dylan yang pada saat itu hanya anak-anak menggeleng kepalanya dan berkata bahwa dia mungkin tidak bisa menahan perawatan mengingat kondisi fisiknya yang sakit-sakitan.


Sejak kecil, Dylan selalu patuh dan bijaksana. Irene terkadang merasa sedih dengan kedewasaan yang ditunjukkan saudaranya sebagai anak-anak yang tidak sesuai dengan usianya. Irene tahu kepatuhan dan kerendahan hati Dylan ditukar untuk kenyamanan mereka di rumah Adler. Dulu Irene tidak mengerti mengapa Dylan menolak perawatan, dia bahkan sangat tidak setuju dengan saudaranya. Tetapi dengan semakin bertambahnya usia, Irene akhirnya mengerti mengapa Dylan memilih untuk menjadi orang tidak berguna yang sakit-sakitan, itu karena status mereka. Dylan ingin menunjukkan bahwa sebagai putra tertua, dia tidak memiliki ambisi untuk kekuasaan keluarga Adler.


Kata-kata Caroline terdengar seperti ungkapan kebahagiaan polos anak-anak yang tidak bersalah, tetapi siapa di keluarga Adler yang tidak mengetahui kondisi Dylan? Bahagia...


Bagaimana dia bisa bahagia dengan keadaan saudaranya? Pesta perayaan di mulut Caroline akan menambah noda baru dalam hidup Dylan yang akan membuatnya dilabeli sebagai orang tidak berguna oleh publik. Kata-kata Caroline menusuk titik sakitnya.


Tepat sebelum Irene mulai meledakkan emosinya, suara damai yang akrab menenangkan emosinya.


"Irene"


Di depan mereka, tampak seorang pemuda kurus pucat yang duduk di kursi roda. Wajah pucat dan kantong mata yang terlihat, semuanya menunjukkan tanda-tanda penyakit.


Melihat wajah yang memiliki tujuh poin kemiripan dengannya, Irene merasa semakin sedih untuk saudaranya. Irene merasakan tangan kecil yang menggenggam tangannya terlepas, Caroline berlari ke sisi Dylan dan meraih tangan Dylan yang bersarung tangan, mengayunkannya sambil tertawa manja, "Kak Dylan!"


Ekspresi Dylan sedikit tidak wajar ketika tangan Caroline sedikit menyentuh kulit lengannya. Dengan pelan Dylan melepaskan tangan Caroline dan menyembunyikannya di lengan bajunya yang panjang. Sambil tersenyum lembut, Dylan membelai puncak kepala Caroline sebentar sebelum menarik tangannya kembali.


Caroline tampak tidak melihat ketidaknyamanan Dylan dan tersenyum manis, "Kak Dylan, sebentar lagi kakak akan mengikuti tes kekuatan mental, kakak pasti sangat bahagia!"


"Kenapa Carol berpikir begitu?" tanya Dylan.


"Karena berarti kakak akan segera dewasa dan bisa menjadi apoteker di perusahaan farmasi keluarga kita! Ayah pasti akan sangat bangga!"


"Carol, kakak mungkin tidak bisa menjadi apoteker."


"Kenapa?"


"Karena kekuatan mental kakak mungkin akan sangat rendah, terlebih lagi fisik kakak juga tidak mendukung profesi ini."


Caroline menatapnya dengan ekspresi terkejut dan malu-malu, dengan suara lembut yang kekanak-kanakan, dia berkata, "Maaf Kak, Carol lupa kalau kekuatan mental kakak sudah rusak. Tapi kakak jangan khawatir, Kakak kan tidak perlu bekerja, keluarga akan selalu mendukung kakak."


Dylan masih tersenyum, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Kakak, kalau begitu Carol ke taman dulu ya, sampai jumpa lagi Kak Dylan," ucap Carol yang melambaikan tangannya dan tersenyum manis ketika melewati Irene.


Irene yang melihat dan mendengar seluruh percakapan mereka merasa tidak enak. Caroline jelas hanya mempermainkan perasaan Dylan, mungkin gadis kecil itu pergi karena bosan setelah tidak mendapat reaksi negatif dari Dylan.


"Bagaimana harimu di sekolah?" tanya Dylan ketika Irene mendorong kursi rodanya.


"Ditegur guru karena tidur di kelas," jawab Irene.


Dylan sedikit menggeleng kepala ketika mendengar jawaban Irene, "Kamu ini..."


Irene membawa Dylan kembali ke kamarnya. Kamar Irene dan Dylan bersebelahan dan kedua kamar itu saling terhubung, sehingga Irene bisa lebih merawat saudaranya. Memang, privasi di antara kedua kakak beradik tersebut cukup tipis. Kecuali pergi ke kamar mandi dan makan, Irene hampir mengurusi kebutuhan sehari-hari Dylan.


Sesampainya di kamar Dylan, Irene mengambil kain yang basah dan mengelap lengan Dylan yang bersentuhan dengan Caroline. Dylan sedikit kaku ketika kain basah menyentuh lengannya yang terbuka. Alasan mengapa Irene harus melakukan hal ini karena Dylan memiliki gangguan OCD.


Irene bisa melihat ketidaknyamanan Dylan yang disembunyikan ketika Caroline menyentuh kulitnya. Penyakit OCD nya tidak begitu parah, tetapi tetap saja meski hanya sentuhan sekilas dengan orang lain, Dylan bisa merasa tidak nyaman. Namun, penyakit OCD Dylan tidak menolak sentuhan saudarinya sehingga Irene menjadi satu-satunya orang yang bisa menyentuh Dylan tanpa menyebabkan rasa tidak nyaman. Itulah sebabnya kebutuhan Dylan selalu disiapkan oleh Irene karena dia tidak bisa menanggung barang-barangnya disentuh oleh orang lain.


"Dylan"


Saudaranya menatapnya dengan pandangan bertanya.


"Bisakah kamu tidak mengikuti tes kekuatan mental? Lagipula kamu tidak bisa menahan sentuhan objek lain," ucap Irene dengan lembut.


"Ini bukan pilihan, tapi suatu keharusan. Bahkan jika aku merasa tidak nyaman, aku harus menjalaninya," jawab Dylan.


"Tapi-"


"Irene, aku tahu apa yang kamu cemaskan. Aku sudah lama menerima masalah ini. Bahkan menurutku situasiku saat ini cukup baik. Dengan kekuatan fisik dan kekuatan mental yang rendah, aku akan menimbulkan sedikit ancaman di mata Ibu," ujar Dylan dengan tenang.


"Tetapi orang-orang akan semakin memandang rendah dirimu," protes Irene.


"Memang benar bahwa aku adalah orang cacat yang tidak berguna, beberapa cemohan tambahan tidak akan menyakitiku."


"Dylan! Jangan mengatakan hal-hal buruk tentang dirimu sendiri! Kamu bukan orang yang tidak berguna, kamu-"


"Shh...Maafkan aku. Aku salah, jangan marah lagi saudari," kata Dylan dengan nada lembut sambil memeluk Irene.


Kemarahan Irene mengempis seketika. Dylan benar-benar tahu titik lemahnya. Karena kesehatan Dylan yang buruk, tubuhnya sangat kurus dan tulang-tulangnya yang kecil sehingga Dylan terlihat cukup kecil sebagai laki-laki. Sejak kecil, Dylan akan memeluknya dan memanggilnya saudari jika Irene sedang kesal dengannya. Tindakan Dylan di mata Irene sebenarnya cukup imut mengingat saudaranya selalu bersikap dewasa. Bahkan sekarang, ketika mereka sudah dewasa, Irene tidak bisa tidak merasa imut melihat saudaranya bertingkah seperti ini.


Sambil tersenyum, Irene memeluk erat saudaranya.


....


Waktu makan siang tiba, Irene mendorong kursi roda Dylan ke ruang makan. Disana, sudah ada empat orang yang menunggu. Melihatnya, Irene mendorong kursi roda Dylan sedikit lebih cepat.


Ayah mereka John, tidak mengomentari keterlambatan mereka dan hanya berkata, "Duduk."


Dengan senyuman meminta maaf, Dylan berkata, "Maaf Ayah, Ibu, telah membuat kalian menunggu lama."


Irene menundukkan kepalanya setelah mengambil tempat duduk di samping Dylan.


"Kakak tidak perlu meminta maaf, lagipula ini bukan pertama kalinya kalian membuat kami menunggu," ujar seorang pemuda tampan yang memiliki empat poin kemiripan dengan Irene dan Dylan.


"Evan, jangan kasar kepada saudara dan saudarimu," tegur seorang wanita yang duduk di samping ayah mereka.


Pemuda yang menyindir Irene dan Dylan adalan Evan, dan wanita yang menegur Evan adalah Christine, ibu mereka.


Dylan melihat Caroline tersenyum kepadanya dan membalas senyuman itu kembali.


Makan siang itu berakhir dengan suasana yang tidak menyenangkan, menurut Irene.


Sebelum ayahnya pergi, dia menatap Dylan dan berkata, "Setelah makan temui ayah di ruang kerja." Tanpa menunggu jawaban Dylan, John meninggalkan mereka.


Christine menatap Irene dan Dylan dengan tatapan penuh kasih dan bertanya, "Sebentar lagi adalah hari kedewasaan kalian. Sudahkah kalian memikirkan hadiah apa yang kalian inginkan?"


"Terima kasih Ibu, tetapi kami tidak kekurangan apa pun. Kami sudah sangat bersyukur keluarga Adler sudah membesarkan kami hingga sekarang," jawab Dylan.


"Anak ini....," Christine menggeleng kepalanya sambil tersenyum sayang, tetapi apakah dia memang tersenyum karena cinta keibuannya atau karena maksud lain, siapa yang tahu?