Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 12: Kekuatan Misterius



Beberapa hari setelah Dylan diselamatkan, berita mengenai kasus perdagangan manusia tersebar luas di internet. Berita mengenai korban disembunyikan oleh pihak kepolisian, tetapi media masih menangkap beberapa informasi asli dari berbagai sumber. Yang membuat kasus ini menjadi gempar di kalangan masyarakat adalah jumlah korban jiwa yang meninggal ternyata mencapai angka tiga digit, korban yang telah diperjualbelikan dibawa kembali oleh pihak kepolisian. Korban yang mengalami gangguan mental akan diberi bantuan pengobatan jiwa sebelum dikembalikan ke keluarga.


Yang membuat masyarakat lebih geram, banyak anak-anak di bawah sepuluh tahun menjadi korban dari para pedagang manusia itu. Tidak sedikit juga anak-anak itu meninggal karena mengalami siksaan fisik dan mental.


Meskipun pihak kepolisian telah memblokir informasi korban demi kenyamanan pribadi korban dan pihak keluarga, beberapa media masih tetap menggembar-gemborkan informasi pribadi korban demi menarik perhatian masyarakat yang berakibat ditangani secara resmi oleh pihak kepolisian.


Dylan duduk di sofa dan menonton berita mengenai kasus ini di televisi. Namanya tidak disebutkan oleh media, mungkin karena pengaruh keluarga Adler. Melihat bagaimana media menyiarkan informasi korban dan mengungkapkan simpati mereka, Dylan tidak bisa menahan cibirannya. Orang-orang itu jelas hanya berpura-pura bersimpati dengan korban, jika mereka benar-benar merasa kasihan, mereka tidak akan menggali semua sejarah gelap korban dan menyebarkannya dari mulut ke mulut.


Mematikan televisi dengan suasana hati yang buruk, Dylan memandang jam. Psikiaternya akan segera tiba. Setelah kejadian yang menimpanya, Irene mengundang psikiater untuk memulihkan traumanya yang menurut Dylan tidak berguna. Saat ini dia benar-benar menolak kehadiran orang asing, tapi dia tidak tega menolak saudarinya yang mencemaskannya.


Menghela nafas lelah, Dylan mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menjalani sesi konsultasi dengan psikiaternya.


Sesi konsultasi hanya berlangsung selama dua jam. Dylan berusaha menahan perasaan waspadanya terhadap psikiaternya dan berusaha melakukan percakapan yang rasional dengan psikiater. Mungkin karena kewaspadaannya terlalu jelas, sang psikiater berusaha untuk membuat dirinya seramah mungkin dan berkomunikasi dalam jarak yang cukup sopan.


Tidak lama setelah sesi konsultasi berakhir, Irene yang dipanggil oleh pihak kepolisian akhirnya kembali.


"Dylan bagaimana sesi konsultasinya?"


"Cukup lancar."


Irene bisa tidak bisa melihat apakah saudaranya berkata jujur. Setelah kejadian penculikan, Irene semakin sulit membaca saudaranya. Dylan tidak menunjukkan tanda-tanda trauma dari kejadian itu, namun Irene tidak yakin saudaranya baik-baik saja. Ketika melihat Dylan dalam pelukan Aiden, kondisi saudaranya benar-benar sangat memprihatinkan. Memang tidak ada luka fisik yang serius, tetapi sebagai pasien penderita OCD, tinggal lingkungan yang kotor saja sudah menjadi suatu siksaan bagi mereka.


Dylan bisa melihat kekhawatiran yang disamarkan di mata Irene, dia merasa sedikit bersalah karena telah menipu saudarinya yang dengan tulus mencemaskannya.


"Irene, kamu belum menceritakan apa saja yang terjadi pada saat penculikanku. Mengapa kamu bisa akrab dengan Presiden Menara?" tanya Dylan untuk mengalihkan kecemasan saudarinya.


Irene menunjukkan senyum canggung dan mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Presiden Menara hingga bagaimana dia melakukan percakapan tatap muka dengan Theodore.


Dylan terdiam.


Tingkat kecocokan kekuatan mental 99,9% benar-benar adalah sesuatu yang mustahil, apalagi ketika pasangannya adalah roh kuno yang memiliki pengaruh yang sangat tinggi dalam masyarakat. Jika bisa, dia tidak ingin Irene memiliki hubungan dengan sosok-sosok berpengaruh seperti Yang Mulia Theodore. Dia tidak ingin Irene terlibat dengan hal-hal rumit yang tidak akan membuatnya tenang seumur hidup. Tapi masalahnya adalah sekarang Irene sebenarnya sudah menginjakkan kaki ke kolam berlumpur, sejak Menara melihat hasil kecocokan mereka, mau tidak mau, saudarinya sudah terlibat dalam masalah yang cukup besar.


Terlebih lagi, ketika Irene membicarakan Yang Mulia Theodore, Dylan bisa melihat saudarinya mulai tertarik dengan roh kuno itu. Dylan tahu Irene pasti menyadari konsekuensi dari melibatkan diri dengan Yang Mulia Theodore, tapi dia masih tidak bisa menjaga hatinya...


"Irene, kalau kukatakan aku tidak setuju?"


Irene membeku seketika, kebingungan melintas di wajahnya.


"Alasan aku tidak setuju sangat sederhana, kuharap kamu tidak akan terlibat dalam masalah yang tidak bisa kamu atasi nantinya."


Irene menurunkan matanya, "Aku tahu. Sebenarnya aku juga belum memikirkan tentang pernikahan dan terlibat dengan Yang Mulia pasti akan membuatku menjadi pusat perhatian masyarakat yang tidak akan aku harapkan."


Dylan menghela nafas, mendengar pendapat Irene tentang Yang Mulia Theodore, pria itu sepertinya bukan tipe roh yang memaksa kehendaknya pada orang lain. Jika memang memungkinkan, dia ingin menunda masalah ini terlebih dahulu setidaknya sampai mereka tahu alasan mengapa nilai kecocokan kedua kekuatan mental bisa begitu abnormal.


Irene menggaruk kulit kepalanya dengan lelah dan berkata, "Sudahlah, jangan bahas masalah ini dulu. Memikirkannya hanya akan membuat kita lebih sakit kepala. Selain itu, ada hal yang ingin kubahas denganmu. Nyonya Wilson mengirimkanku surat undangan ke Royal Academy. Menurutmu haruskah aku menerimanya?"


Royal Academy adalah salah satu akademi terbaik yang ada di Federasi. Siswa yang bersekolah di akademi ini biasanya berasal dari golongan kelas atas karena biayanya yang mahal, tapi akademi juga akan merekrut siswa berprestasi dari golongan masyarakat biasa melalui jalur tes dan memberi mereka beasiswa.


Jika Irene mengikuti jalur tes, dengan surat undangan dari Nyonya Wilson, kemungkinannya untuk masuk ke bidang farmasi akan lebih tinggi. Kesempatan ini tentu saja membuat Irene sangat bersemangat, tetapi Royal Academy memiliki peraturan kalau siswa tahun pertama harus tinggal di asrama, mereka hanya boleh pulang pada hari sabtu dan kembali lagi pada hari minggu.


Peraturan ini membuat Irene menjadi ragu-ragu. Jika dia tinggal di asrama, bagaimana dengan Dylan? Dia tidak bisa meninggalkan saudaranya sendirian setelah semua kejadian baru-baru ini.


"Tentu saja ini kesempatan yang sangat bagus," ujar Dylan dengan sedikit kejutan dalam nadanya.


"Tapi..."


Dylan langsung tahu keraguan saudarinya. Dia mengacak-acak rambut Irene dan berkata dengan serius, "Jangan melewatkan kesempatan berharga ini, apalagi mengecewakan Nyonya Wilson. Tidak perlu khawatir tentang diriku, aku tidak kehilangan tangan atau kaki sehingga harus membuatmu mengawasiku sepanjang hari."


Irene masih sedikit ragu, tapi dia juga tidak ingin mengecewakan Dylan dan kesempatan ini memang sangat menarik baginya.


"Baiklah."


....


Mansion Theodore, Ruang Kerja.


"Saudaraku tidakkah menurutmu mantra kutukan ini sedikit aneh? Objek yang dikutuk tidak dikendalikan tetapi malah menumbuhkan kesadarannya sendiri," tanya Aiden sambil mengerutkan keningnya saat dia memainkan sisa boneka badut yang dibunuhnya.


Theodore menonton rekaman video Aiden saat dia masuk ke gedung hingga bagaimana dia membunuh badut. Aiden diam-diam merekam kejadian ini dan tidak menyerahkan rekaman ini kepada pihak kepolisian ataupun pihak Menara. Sejak pertama kali dia masuk ke gedung tempat badut itu tinggal, dia sudah merasakan ada aliran kekuatan yang menutupi gedung itu seperti jaring. Saat dia bertemu dengan badut, dia merasakan jaringan kekuatan misterius itu terpusat pada setan badut.


Aiden awalnya berpikir kalau badut itu hanya makhluk hidup yang berubah karena menyerap energi kebencian, tetapi saat badut itu bertransformasi dengan menyerap aliran kekuatan yang disalurkan kepadanya dari jaring, Aiden tahu kalau makhluk di depannya tidak seperti yang dipikirkannya. Yang membuatnya merasa lebih aneh adalah dia bisa merasakan kalau tali jaringan yang padat menghubungkan makhluk itu dengan Dylan.


Sebuah dugaan terbentuk di benaknya dan terkonfirmasi setelah mayat badut itu berubah menjadi boneka. Setelah badut itu mati, jaringan kekuatan misterius itu menghilang dengan sendirinya. Jiwa-jiwa yang bergentayangan berubah menjadi titik-titik serpihan dan berpencar. Sebagai ungkapan terima kasih kepada anak kecil yang sudah membantunya, Aiden memberi anak itu beberapa kekuatan jiwanya sebelum sosok anak itu sepenuhnya menghilang.


Dengan sedikit kekuatan jiwa Aiden, anak itu akan terlahir dengan potensi dan keberuntungan yang lebih besar dibandingkan reinkarnasi pada umumnya.


"Bukan mantranya yang bermasalah, tetapi energi yang disuntikkan pada mantra ini."


Aiden mengalihkan pandangannya dari boneka ke saudaranya.


"Mantra ini hanya berfungsi sebagai gembok, energi yang disalurkan ke boneka ini yang benar-benar memicu perubahan pada boneka ini. Kamu bilang makhluk ini menyerap energi dari jaringan yang menghubungkannya dengan seluruh gedung?"


"Maka dugaanku jiwa-jiwa yang telah mati itu berfungsi sebagai cadangan energinya, adapun sumber energi utamanya adalah Dylan Adler," lanjut Theodore.


"Tapi ini tidak masuk akal. Jika dia benar-benar menyerap kekuatan hidup Dylan Adler, mengapa anak itu masih baik-baik saja? Sumberku mengatakan kalau badut memiliki hobi memakan manusia, mungkin sebenarnya itu bukan hobi tapi kebutuhan. Kekuatan hidup dan energi kematian sangat bertentangan, makhluk itu tidak mungkin bisa mengkonsumsi kedua energi itu secara bersamaan."


Theodore menatap boneka di tangan Aiden dan berkata, "Mungkin energi yang dibutuhkannya bukan energi kematian atau kekuatan hidup dari makhluk hidup, tetapi ketakutan."


"Aiden, dia menyerap ketakutan makhluk hidup disekitarnya sebagai energi kehidupannya."


Kata-kata Theodore memecahkan keraguan Aiden seketika. Pantas saja...jiwa gentayangan berkumpul di gedung itu karena mereka mengalami kejadian yang tragis sebelum kematian mereka. Bahkan setelah mereka mati, ketakutan mereka masih terukir di jiwa mereka.


"Lalu mengapa badut itu tidak melakukan rutinitasnya pada Dylan?"


Theodore terdiam sejenak, lalu berkata, "Mungkin karena Dylan Adler memiliki sesuatu yang khusus dalam dirinya. Sesuatu yang tidak dimiliki manusia lainnya."


Aiden memiringkan kepalanya dan tersenyum, "Saudaraku, kenapa sepertinya kamu juga memperlakukan anak laki-laki itu dengan sedikit spesial? Mungkinkah kamu juga tertarik dengan saudara gadismu?"


Ekspresi Theodore mendingin seketika. Dia menatap Aiden dengan tatapan beku, "Jangan sembarangan membuat asumsi. Aku hanya menginginkan gadisku, bukan orang lain."


Aiden memutar matanya dihadapan wajah es saudaranya, "Hanya bercanda."


Tiba-tiba keduanya menatap ke arah jendela. Theodore mematikan rekamannya dan Aiden menyimpan potongan boneka badut yang dimainkannya.


"Kita kedatangan tamu," ucap Theodore yang berjalan ke arah jendela dan menatap Felix yang membuka pintu gerbang dan memperlihatkan seorang wanita bersurai emas. Wanita itu mengarahkan pandangannya menatap langsung ke arah jendela ruang kerja Theodore dan tersenyum.


"Mengapa Blaire disini?" tanya Aiden setelah merasakan aura yang dikenalnya.


"Kita akan segera mengetahuinya," jawab Theodore.


Sosok Blaire menghilang setelah memasuki gerbang.


"Lama tidak bertemu Theodore."


Di kursi tempat Theodore duduk sebelumnya, tampak sosok Blaire yang duduk dengan anggun dan menyilangkan kakinya.


"Tsk. Tidak perlu berbasa-basi, langsung saja ke tujuan kedatanganmu," ujar Aiden dengan ketus.


"Baiklah, jadi aku disini mewakili militer untuk menawarkan sebuah proposal kepada Theodore."


"Aku menolak."


Blaire mengerutkan keningnya dan menatap Theodore dengan pandangan jengkel, "Setidaknya biarkan aku mengatakan isi proposalnya dulu sebelum menolak."


Aiden tertawa pelan, "Bukankah saudaraku selalu seperti ini? Ini juga bukan pertama kalinya militer ingin merekrut saudaraku. Kalian jelas tahu kalau dia tidak suka hal yang merepotkan."


Blaire menyandarkan punggungnya ke punggung kursi dengan malas, "Setidaknya kirimkan balasan penolakanmu ke militer. Sekelompok ayam-ayam itu terus berkokok di telingaku sepanjang tahun untuk menarikmu kembali ke militer."


"Blaire, militer tidak membutuhkanku lagi."


Blaire mengarahkan pandangan rumit pada Theodore. Theodore pernah menjadi pemimpin yang baik di militer dan legiunnya memiliki reputasi yang terkenal menjadi salah satu yang terbaik, tetapi sejak kejadian itu...


"Baiklah, aku akan menyampaikan kata-katamu pada mereka."


"Terima kasih."


"Ada satu hal lagi yang ingin kubahas. Ini tentang saudara-saudari Adler."


Aiden mengangkat sebelah alisnya, kenapa baru-baru ini sepasang kembar Adler selalu disebutkan?


"Setelah Mu ZiXi menganalisis data-data kekuatan mental mereka, dia menemukan aliran kekuatan lain yang bersatu dengan kekuatan mental mereka. Kekuatan yang sangat aneh, kekuatan itu berbeda dari kekuatan jiwa para roh atau sihir milik undead, dia menduga ini adalah kekuatan yang berasal dari zaman sebelum evolusi atau bahkan jauh lebih lama lagi."


Blaire menatap keduanya dan melanjutkan, "Dan kekuatan itu memiliki sedikit kesamaan dengan kekuatan sekunder dalam jiwa kalian."


Mata Aiden melebar. Sangat sedikit yang tahu kalau Theodore dan Aiden telah memendam kekuatan misterius dalam jiwa mereka sejak pertama kali mereka dibangkitkan, kekuatan yang tertanam jauh di jiwa mereka sebelum mereka menjadi roh. Sejak kebangkitannya, Aiden melupakan sebagian dari memori kehidupannya, tetapi dia yakin kalau dia dan saudaranya adalah manusia biasa. Jadi dia sama sekali tidak tahu dari mana asalnya kekuatan misterius yang menempel pada mereka.


Kekuatan misterius itu tidak menimbulkan efek samping apa pun pada mereka dan hanya bersarang seperti hiasan. Theodore tampaknya mengetahui sesuatu, namun saudaranya tidak ingin mengungkapkan apa pun. Dia hanya mengatakan kalau kekuatan itu tidak akan membahayakan mereka.


"Theodore, apakah ini takdir yang selalu kamu maksudkan?" tanya Blaire.


Theodore terdiam.


Diamnya Theodore membuat Aiden membenarkan firasat buruknya. Aiden membenci banyak hal, tapi yang paling dibencinya adalah dipaksa untuk terikat dengan sesuatu yang di luar dari keinginannya. Dia paling benci diatur.


"Sudah pernah kukatakan, aku tidak percaya pada takdir," ujar Aiden.


Theodore dan Blaire mengarahkan pandangan mereka kepada Aiden. Theodore menatap Aiden dengan pandangan kontemplasi.


"Theo, kapan kamu lihat aku pernah melakukan sesuatu yang kubenci? Jika aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya, namun sebaliknya jika aku tidak menginginkan sesuatu, tidak ada yang bisa memaksaku menerimanya."