
Keynara merasa gugup, bahkan saat ini dia sibuk memegangi telapak tangannya yang basah. rasanya dia menyesal telah meng-iyakan permintaan bosnya itu.
Dua hari yang lalu, dimana Genando berada dirumah Keynara, ia mengatakan pada Keynara bahwa ingin mengajaknya ke acara ulang tahun Wira Dinata - ayah dari Shela. Bukan tanpa alasan Genando mengajak Keynara, ia menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu Shela menyuruhnya datang bersama Keynara, selain itu Genando juga kenal dekat dengan orangtua Shela, meskipun sudah tidak menjalin hubungan dengan anaknya, Genando masih berhubungan baik dengan orangtuanya.
"kamu baik-baik saja?" tanya Genando
"saya hanya gugup." ujarnya jujur. malam ini Keynara mengenakan dress hitam panjang, senada dengan jas yang dikenakan Genando.
Genando mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Keynara yang sontak membuat wanita itu kaget. "kita masuk sekarang." ujarnya
Genando mengamati sekeliling ruangan yang sudah ramai, ketika matanya sudah menemukan sosok yang ia cari, ia menghampirinya. "malam om, tante." sapanya ke kedua orangtua Shela.
"lama tidak bertemu, tante sama om kange loh." ujar Sofi istri Wira.
"maaf baru bisa datang." katanya tak enak
Wira dan sofi melirik kearah Keynara yang sedari tadi terlihat tegang. "perkenalkan, dia Keynara om, tante." ujar Genando
"Keynara om, tante." ujar Keynara memperkenalkan diri.
"mantan calon mertuanya Genando." ujar Wira dengan nada bercanda, baik sofi, Genando dan Keynara hanya tersenyum mendengar candaan Wira.
"om sama tante sedih kamu sama Shela putus, padahal tante berharap kamu jadi menantu tante loh." ujarnya blak-blakkan. Keynara tidak memperdulikkan perkataan mereka tentang hubungan Genando dan Shela. toh memang dia tidak ada hubungannya dengan itu semua. tujuannya adalah hanya membantu Genando saja, jadi dia tidak merasa tersinggung.
"tapi bagaimanapun tante sama om tetap sayang kamu. semoga pilihan kamu yang sekarang jauh lebih baik dan lebih mengerti kamu." doa sofi tulus untuk Genando. "kalau gitu kalian kita tinggal ya, kita mau menemui tamu yang lain." ujar Wira
Genando lebih memilih menjauh dari kerumunan, ia memilih tempat yang tidak terlalu banyak orang agar Keynara juga merasa lebih nyaman. dan sejak tadi, dari awal masuk hingga sekarang, Genando masih menggenggam erat tangan Keynara.
Keynara sebenarnya merasa sedikit risih, terlebih tangan Genando yang terasa hangat digenggamannya, dan karena itu pula akhirnya Keynara melepaskan genggaman tangan bosnya itu, membuat Genando merasa malu.
"disini rupanya." ujar Shela yang tiba-tiba saja datang tanpa diketahui Genando. "aku kira kamu gak akan datang." Ujarnya lagi kemudian melirik kearah Keynara sekilas.
"aku senang kamu datang, tapi entah kenapa rasanya menyakitkan sekali melihat kamu datang bersamanya." ujarnya dengan sorot mata kecewa. baik Genando dan Keynara hanya diam ditempatnya.
"aku ingin bicara sama kamu." pinta Shela. Genando hendak menolak, namun sebelum berbicara, Shela lebih dulu menyelanya. "please. kali ini aja dan aku gak akan ganggu kamu lagi."
Genando menimbang-nimbang permintaan Shela, kemudian meng-iyakan permintaanya. Genando hanya berharap bahwa perkataan Shela kali ini benar bahwa dia tidak akan menganggunya lagi.
**********
Genando dan Shela kini berada dihalaman samping rumah, tempat dimana dulu sering ia datangi ketika masih menjalin gubungan dengan Shela.
"waktu kita masih bersama, dulu kamu selalu sibuk dengan pekerjaan kamu, bahkan sampai sering mengabaikan aku." ujarnya menjelaskan tanpa diminta oleh Genando. "kamu selalu bisa menemani aku kemana saja, tapi waktu itu tidak. aku merasa kamu berubah, aku merasa kamu sudah tidak peduli lagi". Shela memberi jeda. "Tomy sahabat kamu, dan aku pikir, jika aku bercerita dengannya aku akan merasa lebih baik, karena dia pasti mengerti kenapa kamu seperti itu, beberapa kali kamu acuh, beberapa kali pula aku dan Tomy akhirnya sering bertemu. aku akui jika awalnya bertemu denganya hanya karena curhat dan membicarakan tentangmu. namun karena Tomy selalu ada disaat aku butuh, entah kenapa aku.." Shela terdiam, dan Genandopun hanya mendengarkan Shela yang sedari tadi berbicara karena sebenarnya memang dia sudah peduli lagi.
"ge, aku tahu aku salah karena kejadian itu aku dan Tomy semakin dekat, terlebih dia sahabat kamu. tapi harusnya kamu sadar, aku seperti itu karena kamu. karena kamu yang acuh dan selalu mementingkan pekerjaan kamu dibanding aku. jadi tidak seharusnya kamu seperti itu." ujarnya lagi, kini dengan air mata yang sudah mengalir dipipi Shela.
"bagaimanapun, kalau kamu benar benar cinta sama aku saat itu, kamu tidak akan pernah berpaling pada siapapun." ujar Genando tanpa mengalihkan pandangannya dan masih menatap lurus kedepan.
"ge, aku masih cinta sama kamu. please, kasih aku kesempatan." pinta Shela dengan menggenggam tangan Genando.
"jika sudah selesai, aku pergi dan tolong tepati janji kamu untuk tidak lagi menggangguku". ujarnya kemudian pergi meninggalkan Shela yang a,sih terisak dengn tangisnya.
**********
Ribuan hari aku menunggumu
Jutaan lagu tercipta untukmu
Apakah kau akan terus begini
Masih adakah celah di hatimu
Yang masih bisa aku tuk singgahi
Cobalah aku kapan engkau mau
Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tujuItu aku...
Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tujuItu aku...
Coba keluar di malam badai
Nyanyikan lagu yang kau suka
Maka kesejukan yang kau rasa
Coba keluar di terik siang
Ingatlah bintang yang kau sapa
Maka kehangatan yang kau rasa
Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tuju
Sheila on 7 - itu aku
Keynara menikmati setiap lirik lagunya, Sheila on 7 adalah salah satu band indonesia favoritnya.dan saat ini lagu itu terputar begitu saja. seakan mengerti bahwa Keynara menyukainya. kini Genando dan Keynara berada di kafe yang tempatnya berada di roof top, angin yang berhembus kencang, lampu-lampu yang menghiasi setiap gedung membuat pemandangan menjadi semakin indah dan nyaman. terlebih suasanya kafe saat ini tidak begitu ramai.
"terimakasih." ujar Genando. "dan maaf sudah membuat kamu terlibat." setelah berbicara dengan Shela, Genando langsung menghampiri Keynara dan mengajaknya ke Kafe.
Keynara memandang Genando sembari tersenyum. "iya. apa bapak lega?" tanyanya. dalam perjalan menuju kafe, Genando memberitahu Keynara bahwa Shela tidak lagi menganggunya.
"ya. saya harap dia benar-benar menepati janjinya."
"ya?" tanya Keynara ketika Genando menatapnya.
"jangan panggil saya bapak. panggil Genan saja." pintanya
"tapi pak, saya kan bawahannya bapak." tolak Keynara
"ini diluar jam kerja." ujarnya memberitahu
"baiklah." lagi lagi Keynara menurutinya
kedunya terdiam, saling menikmati alunan musik dna hembusan angin. Mereka menatap langit yang saat itu tidak banyak bintang disana.
"dulu saya berfikir bahwa Shela adalah orang yang tepat, bahkan berniat menjadikannya yang terkahir pada saat itu." ujarnya tanpa disangka-sangka oleh Keynara. karena begitu mudahnya dia bercerita, memberi tahu Keynara tentang kisahnya meskipun Keynara tidak berharap itu. "tapi terkadang apa yang kita yakini, apa yang kita mau belum tentu bisa kita dapatkan. dan saya bersyukur saat itu melihatnya dengan orang lain. jadi saya tahu apa yang harus saya putuskan agar tidak jatuh terlalu dalam."
"tuhan menunjukkan kita sesuatu dalam berbagai cara. meskipun menyakitkan." ujar Keynara, ada nada kesedihan saat dia mengucapkan kalimat itu. "tapi saya percaya, tuhan mematikan satu perasaan untuk menumbuhkan perasaan lainnya. seperti kita diajak untuk keluar ruangan agar kita dapat melihat bahwa diluar sana ada yang jauh lebih baik. seseorang yang memang ditakdirkan untuk kita." ujarnya dengan mata yang masih mengamati langit.
Genando masih memperhatikan Keynara, memperhatikan bagaimana dia berbicara, memperhatikan wajahnya yang menurutnya sangat cantik. sejak saat itu dia ingin sekali dekat denganya dan ya, tuhan memberikan jalan untuk Genando bisa lebih dekat dengan Keynara, dengan cara mengisi waktunya yang akhir-akhir ini selalu diisi dengan hadirnya Keynara disisinya. dan wanita itu berhasil membuat Genando semakin ingin tahu tetang kehidupannya, Keynara berhasil membuat Genando kagum hanya dengan setiap perkataannya dan kalimt kalimat logis yang diucapkannya.
"kamu pernah mengalami hal seperti itu?" tanya Genando
"maksud bapak?" Keynara balik bertanya.
"ck. bapak lagi?" protes Genando, Keynara hanya tertawa, bagaimana ia bisa lupa kalau Genando emmintanya untuk memanggil namanya.
"maaf, saya tetap tidak bisa dan tetap memanggil 'bapak' sepertinya." ujar Keynara
"baiklah, terserah kamu." kata Gennado pasrah. "jadi pernah mengalami apa yang saya alami?" Genando memperjelas pertanyaannya.
"mungkin jauh lebih parah." ujar Keynara dan berhasil membuat Gennado membelalakkan matanya. "tapi maaf, aku tidak bisa menceritakkannya." sela Keynara. dia tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, terlebih sudah sangat lama kejadian itu berlangsung. kejadian yang membuatnya susah untuk dekat ataupun menjalin hubungan kembali dengan orang lain.
"it's oke Keynara. saya mengerti." ujar Gennado dan dibalas senyum oleh Keynara.
Meskipun sangat penasaran namun Genando tidak memaksakan Keynara untuk menceritakkan kisah masa lalunya. dan dia tidak ingin jika nanti satu kalimat yang kelaur dari mulutnya dapat menimbulkan rasa sakitnya kembali. dia tidak ingin itu.
**********
waktu cepat berlalu tanpa kita sadari, dan tanpa sadar pula Genando dan Keynara semakin dekat. semuanya mengalir begitu saja. entah menonton bioskop bersama, membahas pekerjaan, entah mengajaknya berbicara di pantry sambil menyesap coklat panas bersama, bahkan sekarang Keynara menceritakan tingkah konyol yang selalu dilakukan oleh eko, dan memberi tahu Genando bahwa rekan kerjanya itu sangat mengaguminya.
Sekarang mereka berada di salah satu mall di Jakarta Selatan, beberapa hari yang lalu Genando meminta Keynara untuk menemaninya membeli kado ulang tahun untuk mamanya.
mereke berada disalah satu toko yang menjual peralatan memasak, Genando memberitahu Keynara jika mamanya sangat suka memasak, dan beberapa hari yang lau dia juga melihat mamanya sedang menonton tv dengan iklan yang menawarkan satu set alat masak, maka dari itu Genando memilih tu membeli alat itu sebagai hadiah untuk mamanya.
"hanya ini?" tanya Kenara
"ada satu lagi." ujarnya kemudian pergi setelah membayar . kini Genando menghampiri salah satu toko perhiasan langganannya.
"saya ingin memberikannya kalung." ujar Genando. "bisa pilihkan?" tanya Genando
"emm ada foto mamanya bapak? setidaknya biar saya tahu kalung mana yang cocok." ujar Keynara kemudian Genando mengambil ponselnya, mencari foto dan menunjukkannya pada Keynara.
"mama nya bapak suka yang simple atau bagaimana?" tanya Keynara
"simple." jawabanya
Mata Keynara mecari-cari kalung mana yang kira - kira akan cocok dikenakan oleh mama Genando. matanya mengamatinya dengan teliti.
"bisa ambilkan ini." pinta Keynara kesalah satu karyawan disana ketika mendapati satu kalung yang telihat simple tapi elegan.
"coba bapak lihat, kalu menurut saya ini akan cocok." ujarnya, kemudian memberikakan kalung dengan gantungan berbentuk bulat namun terdapat ukiran abstrak didalamnya dan dilapisi permata.
"saya rasa mama akan suka." ujar Genando. "saya pilih ini." ujarnya kemudian memberikan kalunya ke pegawai untuk dikemas.
Setelah semua yang dibutuhkan sudah lengkap, kini Genando dan Keynara memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang dan jauh-jauh hari Genando juga sudah memberi tahu Keynara untuk mengajaknya ikut merayakan ulang tahun mamanya, jadi selepas makan, Keynara akan ikut kerumahnya.
"terimakasih." ujar Keynara dan Genando saat makanan yang dipesan datang.
keduanya menikmati makanannya masing-masing. tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua
sesekali Genando melirik kearah Keynara yang duduk didepannya, dan menyadari hal itu, Keynara hanya diam dan tetap fokus menghabiskan makanannya.
Keynara tersentak ketika Genando lagi - lagi membuatnya kaget, saat ini lelaki itu mengulurkan tangannya untuk mendekat kewajah Keynara, ibu jarinya terulur mengusap sesuatu yang berada disudut bibir Keynara. "ada nasi." ujarnya
Keynara merasa salah tingkah, perlakuan Genando sekarang mampu membuat jatungnya berdetak tidak normal. Genando hanya tersenyum melihat reaksi Keynara dan lagi-lagi menggodanya dengan menautkan rambut Keynara kebelakang telinga wanita itu ketika sejumput anak rambut terurai kedepan. Keynara tidak tahu harus berbuat apa, setelah sekian lama menutup hatinya, kini perlakuan Gennado malah membuatnya berdebar dan Keynara tidak ingin itu terjadi mengingat Keynara takut jika suatu saat dia akan jatuh hati, yang membuat dia berspekulasi bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dulu akan terulang lagi, saat dimana mimpi-mimpi Keynara yang ia bangun hancur begitu saja karena ulah seseorang yang dulunya sangat dia cintai.
SFSN Quote
Cinta itu penuh warna ...
**Jika kamu menemukan yang tepat mungkin bagimu cinta itu warna merah, pink, biru, hijau dan lain sebagainya **
dan jika kamu menemukan yang tidak tepat, maka bagimu cinta itu bewarna abu-abu, hitam atau putih tak berwarna