
Keynara mengemasi barangnya, memasukkannya kedalam tas kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke seseorang.
Hari ini Tim Design akan makan malam bersama karena hari ini Vira ulang tahun. Bahkan suami dan anaknya sudah menunggu direstoran yang sudah mereka booking.
"jadi nanti lo nyusul ra?". tanya Tita
"iya, gue nyusul ya. masih harus selesain ini". Ujarnya menunjukkan satu kertas. "tapi gak lama kok".
"yaudah jangan lama² ya". balas Vira
Sebenarnya Keynara sudah menyelesaikan pekerjaannya dari tadi, dia hanya ingin ke ruangan Genando untuk memastikan jika lelaki itu baik-baik saja. Semenjak makan seblak dia selalu saja bolak balik ke kamar mandi, bahkan sampai sekarang perutnya masih terasa perih. Itu membuat Keynara khawatir.
Keynara menghampiri Genando yang sedang tidur di sofa, membenarkan selimut tipisnya kemudian duduk disamping.
"kamu gak jadi pergi?". tanya Genando ketika membuka matanya dan mendapati Keynara duduk ditepi sofa.
"jadi. Nanti aku nyusul". jawabnya. "Nih minum obatnya". perintah Keynara. Dia memberikan obat untuk mencegah Genando agar tidak bolak balik lagi ke toilet.
"Ini juga pakai diperut kamu biar enakkan". lanjutnya lagi dengan memberi minyak telon.
"nanti aku antar kamu ya". Ujar Genando.
Keynara menggeleng. "Gak usah. Aku bisa naik taksi nanti. Tapi kamu beneran gak papa bawa mobil dalam keadaan begini?". Tanya nya khawatir.
"Iya. Lagian ini sudah jauh lebih baik. Lagipula aku pulang kerumah bukan ke apartemen jadi lebih dekat jaraknya". Jawabnya
Genando menyenderkan kepalanya di bahu Keynara, memeluknya erat dengan mata yang terpejam. Keynara menggerakkan tangannya untuk mengelus lembut punggung Genando dia merasa kasihan melihat dia yang seperti itu, dan tentunya Keynara juga merasa bersalah. Coba saja saat itu bisa mencegah Genando memakan seblak, mungkin dia tidak akan seperti sekarang. Dan lebih anehnya lagi, justru Elizabeth mentertawakannya bukan malah meminta maaf atau merasa bersalah. Tapi bagaimanapun hal itu tidak bisa membuat seorang kaka marah kepada adiknya.
**********
Genando memarkirkan mobilnya pelan, sesaat matanya memicing ketika mendapati mobil city hitam terparkir didepan rumahnya. Tentu saja dia tahu itu mobil siapa, bahkan saat ini dia justru berpikir untuk masuk atau tidak karena dia sangat malas jika harus bertemu dengan pemilik mobil itu. Namun setelah berpikir kembali dan berpikir akan adanya kemungkinan buruk yang terjadi pada mamanya , akhirnya Genando memutuskan untuk masuk kedalam.
Saat memasuki rumah, justru keadaan terasa sepi, dan Elizabeth?. dia sudah kembali ke Jepang karena adanya perubahan jadwal untuk sidang studi akhirnya.
"Mbok. Mama dimana?". tanya Genando ketika mendapati mbok Jum keluar dari halaman belakang.
"Ada diatas kok den. Tadi pas Bapak pulang Ibu langsung keatas". jawabnya
Genando mengangguk dan melangkahkan kaki untuk menuju lantai dua dimana kamar orangtuanya berada. Dan benar saja dia mendapati mamanya sedang duduk diam diruang keluarga dengan TV menyala, namun tidak ia tonton. Mamanya terlihat murung, dan Genando benci melihat itu.
Maira terkaget ketika ada tangan menyentuh pundaknya. "Ma". panggil Genando penuh sayang
"besok bawa Rara kesini ya. Mama kangen". ujarnya tiba-tiba dengan suara yang serak dan sangat pelan. Suara seakan sedang menahan sakit didadanya. Dan Genando bisa merasakan itu.
"Jangan gini lagi ma". Katanya putus asa
"Mama banyak salah ya Sel?. Papa kamu ..... ". ujarnya lagi kini dengan nada terisak dan tidak melanjutkan kalimatnya. Tanpa melanjutkan kalimatnya namun Gennado tahu persis apa yang akan diucapkan oleh mamanya.
Maira terkadang memang memanggil Genando dengan nama tengah nya 'Ansel'.
Genando tidak tahan jika harus melihat mamanya seperti itu. Genando emmeluk tubuh mamanya, mengelus rambutnya penuh kasih sayang. Genando paham akan semua yang terjadi, sangat paham dibandingkan kakanya - Gefano ataupun adiknya - Elizabeth. mereka tahu apa yang terjadi tapi tidak tahu bagaimana dan perasaan Genando ketika ia sering mendapati keadaan mamanya yang seperti itu. Ini jauh lebih menyakitkan.
"Mama tidur dikamar Eliza ya. Gnenado temenin. tapi jangan nangis". Ajak Genando. Dia tahu jika papanya pasti saat ini dikamar, maka dari itu dia mengajak mamanya untuk tidur di kamar Elizabeth.
Maira menuruti perkataan anaknya, menuju kamar Elizabeth dan berbaring disana. sedangkan genando duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Dia menyanyikan lagu yang selalu ia nyanyikan untuk mamanya.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu 'ku membalas
Ibu, Ibu
Ingin kudekap
Dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu, Ibu
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu 'ku membalas
Ibu, Ibu
"Aku sayang mama". ujarnya kemudian melangkah keluar meninggalkan Maira yangs udah tertidur lelap.
**********
"hati-hati dijalan". Ujar Genando sebelum memutuskan panggilannya kepada Keynara. Genando butuh seseorang yang menemaninya, dan seseorang yang mampu membuat mamanya merasa jauh lebih baik, karena itu dia menyuruh Keyanra untuk bermalam di rumahnya, dan Genandopun sudah meminta ijin kepada orangtuanya, meyakinkan jika tidak akan terjadi apa-apa.
Menyenderkan kepalanya disofa dan memejamkan matanya, Genando merasa dia sangat lalah, dan ketika ia membuka matanya, dia mendapati seseorang yang bahkan sesalu membuatnya bingung harus melakukan apa.
"pergi lagi?". tanyanya
"hm". hanya itu jawaban yang kelaur dari mulutnya
"Ck!. begitu mudahnya seorang suami pulang pergi seenaknya. Melantarkan istri yang bahkan hampir setiap malam tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan suaminya". Katanya tanpa memandang sedikitpun kearah papanya.
"Jika tidak tahu apa-apa lebih baik diam". balasnya yang semakin membuatnya marah
Kini Genando berdiri, membalikkan badanya untuk menatap seseorang yang dengan berani membuat mamanya terluka. "Anda pikir orang yang bahkan hampir setiap hari mendengarnya bercerita, menghapus airmatanya, menemani dia tidur sampai terlelap, melihatnya tertawa, melihatnya merenung, melihatnya menangis lagi, dan selalu berpikir mencari cara bagaimana membuatnya baik-baik saja tidak akan tahu apa-apa?". Katanya penuh dengan kekesalan yang selama ini menumpuk didalam benaknya. "Anda tidak jauh berbeda dengan lelaki brengsek diluar sana". lanjutnya lagi dengan nada lantang.
"Anak kurang ajar. Tutup mulut kamu!!'. Bentak Dani Abraham.
"Kenyataannya memang seperti itu". Ujarnya lagi.
"Dulu papa pernah memberikannya pilihan. Dan ini yang mama kamu pilih. jadi jangan hanya bisa menyalahkan papa". Ujarnya lagi kemudian pergi meninggalkan Genando yang masih diselimuti dengan amarah. Sedangkan disisi lain, Keynara sudah berada dibalik pintu depan, mendengarkan apa yang barusan terjadi tanpa Genando dan Dani Kusuma ketahui. Dan ketika Keynara melihat Dani sudah pergi, barulah dia masuk untuk menghampiri Genando yang terlihat kacau.
Genando merasa kaget ketika Keynara sudah berada dirumahnya.
"Maaf aku tidak bermaksud menguping". Ujarnya merasa tak enak
Genando menghela nafasnya pelan. "Tidak apa-apa". Ujarnya kini menarik tangan Keynara untuk duduk di sofa.
"aku ambil minum dulu". Ujar Keynara dan membawakan segelas air putih untuk Genando
Sebenarnya ada banyak pertanyaan dikepala Keynara tentang kejadian tadi, tapi dia tidak ingin terlalu mengusik urusan keluarganya terlalu jauh. Karena bagimanapun yang dibutuhkan Genando saat ini adalah seseorang yang selalu ada disampirngnya, dan Keynara akan melakukkannya tanpa banyak bicara, biarkan saja lambat laun Genandolah yang akan memberitahunya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu tidak mau bertanya apa-apa?". tanya Genando yang menunduk dan memegang gelasnya.
Keynara mengambil gelas yang berada di tangan Genando, emnaruhnya diatas meja kemudian membawa kepala lelakinya untuk bersandar di dadanya. "Tidak. aku tidak akan tanya apa-apa". ujarnya
"Bukan karena aku tidak peduli dan tidak mau tau, hanya saja saat ini sepertinya kamu lebih butuh pelukan dari pada bercerita suatu hal yang nantinya akan membuat kamu makin terluka. Dan aku akan nunggu kamu sampai kamu siap untuk memberitahu aku jika waktunya tepat dan merasa lebih baik". Jelas Keynara
Genando merasa lega, berada di pelukan Keynara, membuat dirinya merasa nyaman dan dipahami. Wanita itu mampu membuatnya jauh lebih baik, dia yang selalu berpikiran dewasa, selalu mengerti akan dirinya dan tidak selalu memaksakan apa yang sebenarnya ingin dia ketahui. Seperti saat ini.
"Terimakasih".
**********
Keynara membawa dua gelas cangkir coklat hangat, dia sengaja membawa beberapa sachet coklat bubuk kesukaannya kerumah Genando. Saat ini dirinya masih terjaga ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan yang ia lakukan dengan Genando hanyalah menonton film komedi. Setidaknya ada hal lain yang bisa membuatnya tertawa dan melupakan kejadian beberapa jam yang lalu.
"Lebih baik?'. Tanya nya dengan menyerahkan satu gelas coklat.
Genando mengangguk tersenyum
"Syukurlah, ngomong-ngomong besok kamu ada meeting pagi kan?". tanya lagi memastikan
"iya. besok kamu gak usah masuk kerja ya. temenin mama dirumah". pintanya membuat Keynara sedikit terbatuk
"mana bisa begitu. aku...".
"Please...aku gak mau sampai mama murung, dia juga bilang kalau kangen sama kamu". Ujar Genando memotong perkataan Keynara. "saat ini mama butuh temen ra, cuma kamu yang bisa aku andelin".
Keynara terdiam, membenarkan perkataan Genando dan lagipula Genando juga tidak mungkin membiarkan karyawannya tidak disiplin, tidak mungkin juga dia berbuat seenaknya dengan mengijinkan kekasihnya tidak bekerja hanya karena dia bosnya. Dia hanya melakukan itu karena mamanya.
"Tapi besok aku pulang dulu, setelah itu kesini lagi. Gimana?".
"Iya". Jawab Genando
Genando membaringkan badannya, menjadikan paha Keynara sebagai bantal kemudian memejamkan matanya perlahan. Dia menghembuskan nafasnya panjang, seakan ada beban berat yang dia keluarkan.
"papa...". Katanya pelan kemudian menghembuskan nafasnya lagi. "Papa tidak benar-benar mencintai mama, mereka menikah karena dijodohkan ra. Dari awal pertemuan, mama sudah menyukai papa, tapi tidak sebaliknya. Ada wanita lain yang papa cintai ra. Dan setiap hari mama selalu mencoba melakukan yang terbaik, mencoba meluluhkan hati papa, tapi nyatanya tidak bisa. Sekeras apapun mama mencoba, dia tidak pernah terlihat sedikitpun dimata papa, keberadaannya selalu diacuhkan. Selama ini papa hanya diam saja, tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti mama meskipun tidak pernah menganggap mama ada".
"orangtua mereka tahu soal ini?". Tanya Keynara
Genando menggeleng pelang. "Mereka menganggap keluarga kita baik-baik saja. Pernikahan ini menghasilkan tiga anak, Gefano, aku, Elizabeth, dengan itu mereka menganggap bahwa mama dan papa saling mencintai, padahal bagaimanapun papa juga laki-laki yang punya kebutuhan bilogisnya". Ujarnya tersenyum miris.
"Tapi terlepas dari itu, setelah kehadiran kita, lama kelamaan sikap papa mulai mencair, mulai bisa menerima mama tapi tidak untuk mencintainya. Meskipun begitu mama merasa lega dan bersyukur, setidaknya dia bisa merasakan layaknya menjadi istri sesungguhnya. Tapi ...". dia berhenti sejenak, memberi jeda pada kalimatnya dan memposisikan diri untuk duduk menghadap ke Keynara.
Dia menunduk, seakan tidak mau wajah sedihnya terlihat oleh Keynara. "Semua berubah ketika mama mengalami kecelakan sekitar dua tahun yang lalu. Dari arah yang berlawanan terdapat truk pengangkut barang yang hilang kendali, melihat itu mama langsung banting setir dan mengenai mobil lain. Beruntungnya mama hanya luka, tapi orang yang tanpa sengaja mama tabrak lukanya cukup parah, mobilnya menghantam bahan konstruksi bangunan yang tidak jauh dari situ ra dan orang itu meninggal saat itu juga karena batu bangunan menimpa bagian depan mobilnya".
"lalu apa hubungannya?". tanya Keynara hati-hati
"orang yang tanpa sengaja mama tabrak adalah Wanita itu ra, Wanita yang tidak pernah bisa papa lupakan dan selalu dia cintai. Dan saat papa tahu, papa murka, papa marah besar, sikap papa sampai sekarang bahkan jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya, papa suka berkata kasar ke mama, lebih sering mabuk, pulang malam bahkan ...bahkan bermain perempuan". Ujarnya kini dengan nada seraknya dan kini lelaki itu tertunduk dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Keynara menarik Genando kedalam pelukannya, membiarkan lelakinya menangis pelan dipundaknya. "Dan yang paling membuatku sakit adalah ketika mama selalu menyalahkan diri sendiri atas kematian wanita itu, mama sampai menjalani terapi karena depresi, ditambah sikap papa yang seperti itu. Hampir setiap hari ra, setiap hari mama menangis, aku mencoba bicara baik-baik dengan papa tapi tidak pernah sedikitpun papa mengerti. Dan bodohnya aku menyerah, aku nyerah buat meyakinkan papa, aku nyerah untuk membuat papa bisa bersikap baik ke mama, dan sekarang entah kenapa rasanya aku benci dengan Dani Kusuma".
Keynara merasa hatinya ikut terhantam, dia seakan bisa merasakan kepedihan yang genando rasakan. Ia juga pernah melewati masa sulit, tapi tidak sesulit yang Genando jalani selama ini.
Keynara melepaskan pelukannya, menatap Genando dalam. "Mulai dari sekarang aku minta sama kamu, tolong jangan simpan semuanya disini". Ujar Keynara dengan menempatkan tangannya didada Genando. "Tidak banyak yang bisa aku lakuin bahkan mungkin aku gak bisa bantu apa-apa, tapi aku mohon sama kamu, aku gak mau kita hanya berbagi suka, tapi kita juga harus berbagi duka". Lanjutnya lagi.
"Ya". Ujar Genando lirih. "Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang menyakiti kamu sepeti yang Dani Abraham lakukan ke mama". Ujarnya meyakinkan.
"ya". Balas Keynara kemudian memeluk kembali tubuh rapuh kekasihnya itu.
Kita tidak akan pernah tahu
Jika sampul buku yang terlihat bagus
Ternyata didalamnya menyimpan cerita yang menyakitkan