Starting From Saturday Night

Starting From Saturday Night
15 - Kecewanya Tita



Setelah Genando mengantar Keynara kerumah, ia langsung bergegas mengganti pakaiannya dan menaruh baju kerja yang tadinya ia bawa ke rumah Genando. Kali ini Keynara berniat untuk mengajak adik, papa dan mamanya berkunjung kerumah Maira. Tidak ada maksud lain, Keynara hanya ingin memberikan suasana ramai agar Maira tidak merasa kesepian disa.


soal pekerjaan?


Untungnya Keynara sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan penting yang deadline, jadi dia tidak merasa khawatir.


"Ma, tapi nanti Rara jalan duluan ya. Rara gak bisa kalo nunggu Amel pulang sekolah. Kelamaan". Ujarnya


"Siapa yang nyuruh kamu buat nungguin?". Tanya nya


"ish mama".


"Papa kamu gak bisa ikut kayaknya ra. Hari ini kan ada mau cek proyek yang di Bandung. Jadi pasti pulang malam". Katanya memberi tahu


"Yaudah, yang penting nanti mama kasih tau aja kalau kita mau kerumah Genando". Ujarnya kemudian mencium pipi mama nya. "aku jalan dulu ya".


"hati-hati".


**********


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, sebelum adik dan mama Keynara datang, dia dan Mama Genando menghabiskan waktu dengan membuat kue kering, dan menonton film, beberapa kali Keynara juga menceritakkan hal-hal lucu sewaktu dia masih kecil. Dan setelah adik dan mama Kenara sudah datang, mereka berkumpul diruang tamu untuk mengobrol, kalo Amel tentu saja dia hanya main game. Keynara senang ketika melihat dua orang yang dia sayangi saling nyaman satu sama lain, seakan mereka sudah akrab sejak lama.


Tanpa merasa canggung Widia menceritakan bagaimana rewelnya Keynara dan Amel saat kecil, bagaimana ekspersi Keynara ketika menangis saat dirinya baru pertama kali datang bulan, dan amel yang tidak mau sekolah hanya karena sepatu kesayangannya basah, padahal ada sepatu lain pada saat itu. Maira juga bercerita masa-masa kecil anak-anaknya, bercerita bahwa Elizabeth selalu ada cara untuk mengerjai kakak-kakaknya dan itu tidak diragukan lagi.


"Kalian nanti makan malam disini ya". Pinta Maira. "Kita masak dulu sama-sama. Gimana?". Tawarnya


"boleh. apa kita masak sekarang aja?. sudah jam empat lewat. Genando juga sebentar  lagi pulang kan?". Tanya Widia entah kepada siapa


"Iya ma". jawab Keynara


"Yaudah kalo gitu kita masak sekarang aja". Usul Maira


Maira, Widia dan Keynara menuju dapur, dibantu juga oleh mbok Jum, sedangkan Amel dia tertidur lelap di sofa ruang tamu.


Keynara memotong beberapa bawang merah, bawang putih dan juga cabai, sedangkan mamanya mencuci sayur brokoli kemudian memotongnya kecil-kecil. Dia ingin membuat capcay. Kalo Maira?, dia sedang mencuci jengkol. Ya, fakta yang Keynara ketahui hari ini adalah Genando ternyata sangat menyukai jengkol yang diolah menjadi semur jengkol, jengkol saus padang, ataupun tumis.


Baik Widia dan Maira saling berbincang satu sama lain, mereka tidak berhenti mengobrol meskipun saat ini tengah sibuk untuk memasak. Keynara yang melihat itu hanya tersenyum, dia senang melihat interaksi dua orang yang ada disampingnya itu.


"oya ra, lebih baik Amel kamu pindahin ke kamar depan ya. Kamar tamu". Pinta Maira


"iya tante". Jawab Keynara kemudian mencuci tangannya sebelum dirinya mneghampiri adiknya yang masih tidur dengan lelap.


Keynara terdiam sejenak didepan adiknya, kemudian bergumam pelan. "gembroot". gumamnya gemas. Keynara mendongakkan kepalanya ketika mendengar seseorang menertawainya.


"loh kok udah pulang?". Tanya Keynara ketika mendapati Genando yang sedang menghampirinya.


"iya, setelah meeting diluar aku langsung kesini, lagian kalau ke kantor lagi malah bisa sampai jam 5 lewat". jawabnya. Genando menaruh tas laptopnya dimeja kemudian membantu Keynara mengangkat Amel untuk dibawa ke kamar.


"jangan bilang tadi kamu diem karena mikir gak akan kuat angkat adik kamu". ledeknya


Keynara memandang Genando sebal. "Hm, suka-suka kamu". jawabnya cuek


Setelah menaruh Amel diranjang, Genando berbalik, menatap ke arah Keynara kemudian membawa wanita itu kedalam pelukannya.


"kangen". ujarnya lirih


"gausah gombal deh, kayak gak ketemu satu bulan aja". Ujar Keynara tapi tak urung membalas pelukan Genando


Genando semakin mempererat pelukannya, sesekali mencium puncak kepala Keynara dengan lembut.


"kamu tau gak?, aku alesan ke Tita mau ke bandung hari ini, kerumah saudara". Katanya memberitahu


Genando tertawa pelan. "Kenapa gak bilang sakit?".


"kalau aku bilang sakit, Tita pasti  bakalan langsung kerumah".


"hmm. gitu".


"Ge udah ah, nanti Amel bangun, aku juga mau bantuin mama sama tante masak". Protes Keynara ketika kekasihnya itu masih memeluknya. Padahal posisi mereka saat ini berada dikamar tamu dimana Amel sedang tidur terlelap.


"ge". panggilnya lagi


Genando memberikkan jarak diantara mereka, namun tangannya masih memeluk pinggang Keynara.


"Jangan ngliatin gitu. Aku malu". Kata Keynara pelan dengan wajah menunduk ketika Genando memandangnya dengan lekat.


Keynara melangkah mundur ketika Genando hendak menciumnya, terlihat wajah kecewa diwajah Genando, dan Keynara yang melihat itu hanya tersenyum geli. Dia melepaskan tangan Genando di pingganya kemudian mengecup singkat bibir Genando sebelum ia benar-benar melangkah pergi menuju dapur. Namun baru satu langkah Keynara melangkah, tangannya sudah ditarik oleh Genando, dia memerangkapnya di dinding dengan kedua tanganya. Genando menatap wajah panik Keynara sejenak, lalu tersenyum mendekatkan wajahnya ke Keynara.


Awalnya Genando mencium kening Keynara kemudian hidung lalu berakhir di bibirnya, dia menciumnya dengan lembut dan hati-hati, hati-hati agar orangtua mereka tidak tahu, dan hati-hati agar Amel tidak terbangun. Sungguh tidak tau tempat memang, tapi jika menyangkut sepasang kekasih yang dimabuk asmara, tempat seramai apapun akan terasa hanya ada mereka berdua.


Mereka terus larut dalam dunianya dan dalam kenyamanan mereka. Mereka menyalurkan kasih sayang melalui sebuah ciuman dan pelukan, dan semakin hari Keynara tahu bahwa kasih sayang dan cinta Genando selalu bertambah untuknya dan begitupun sebaliknya.


**********


"Mau kemana?". tanya Keynara ketika melihat Tita merapikan beberapa dokumen dan bangkit dari duduknya.


"Ke ruangan bos, mau ngasih proposal sama sampel majalah". Jawabnya semebari menunjukkan sampel majalah yang berisikan semua brand dari G Group.


"Titip gue aja Ta, kebetulan ada yang mau gue omongin sama bos". Tawar Keynara


Tita nampak berpikir sejenak, merasa ragu namun tak urung meng-iyakan tawaran Keynara. "boleh deh, gue juga mau kebawah sih, ada urusan". Ujarnya kemudian Tita menyerahkan berkasnya ke Keynara.


Setelah itu Keynara langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian menuju ruangan Genando. Tidak butuh waktu lama, hanya sampai ketukan pintu ke dua Genando mempersilahkannya masuk.


"hai..". Sapa Keynara saat masuk keruangannya


Genando menutup laporannya kemudian mengalihkan pandangannya ke Keynara. "Hai'. Balasnya tersenyum


Keynara duduk dikursi yang berada di depan meja Genando, dia menyerahkan majalah dan map yang diberikan oleh Tita. "Tita nitip ini".


Genando menatap bingung tapi tak urung mengambil map dan majalahnya lalu menaruhnya ditumpukan berkasnya. "kesini mau kasih itu aja?". Tanya Genando


Menggeleng pelan. "Aku tadi chat kamu, tapi ceklis satu makanya aku kesini. Hp kamu mati?".


"nyala kok". Katanya yakin kemudian mengecek ponselnya. "eh iya, habis batre".


"Shela ngajak aku ketemuan". Ujar Keynara to the point.


"Shela?". Tanyanya bingung


"hm".


"Buat apa?". Tanyanya lagi penasaran. Genando tidak ingin nantinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terlebih lagi jika menyangkut soal keselamatan dan hubungan mereka.


Keynara menggeleng. "Makanya aku kesini mau kasih tau kamu, kalau nanti malam aku mau ketemu dia".


"kamu bisa menolaknya ra". Kata Genando tak suka.


Keynara menggenggam tangan Gennado yang berada diatas menja, dan menatapnya dalam. "Gak akan ada apa-apa Ge, kalau aku gak nemuin dia, aku takut kedepannya dia akan ganggu hubungan kita. Lagi pula dia bilang, dia hanya ingin bicara sebentar". Ujarnya meyakinkan


"Kalau begitu aku temani".


"gak Ge, aku sendiri aja, kalau ada apa-apa aku bakalan hubungi kamu. Aku bakalan kasih tau kamu kalau aku udah sampe, apa yang dibicarain Shela, pokoknya apapun itu aku akan kasih tau kamu".


Genando beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Keynara dan menarik Keynara untuk berdiri, kemudian memeluknya. "Janji untuk kasih tau aku apapun yang dibicarakan Shela". Pintanya


"iya".


"Key!!. Astagaa". Ucap seseorang yang tidak sengaja melihat Genando dan Keynara berpelukkan.


"Tita!". Keynara melepaskan pelukannya, berdiri kaku dan bingung harus mengatakan apa. Sedangkan Gennado?, ya dia hanya menampakkan wajah datarnya.


"ada apa?". Tanya Genando tenang.


"maaf pa, ada dokumen yang tertinggal makanya saya mau kasih ini". Jawabnya sembari menunjukkan berkas yang tertinggal.


"aku keluar dulu". pinta Keynara pelan ke Genando. Dia melangkah keluar kemudian meraih tangan Tita untuk diajaknya ke Toilet.


"Tadi maksudnya apa?". Tanya Tita ketus ketka mereka sudah berada didalam toilet.


Keynara mengusap wajahnya gusar. "gue,—gue sama Genando pacaran ta".


"what?!!, seriously Key??". Tanyanya tak percaya


Keynara Mengangguk. "ya. tadinya mau cerita tapi gue ngerasa waktunya belum tepat".


Tita memandang kesal, dia merasa Keynara mengkhianatinya. oke kalian bisa bilang ini lebay dan terserah Keynara mau berbuat apa. Tapi mereka bersahabat dari lama, tidak ada satupun yang mereka sembunyikan, masalah Tita, Masalah Keynara, smeuanya. mereka saling tahu.


"berapa lama lo pacaran?".


"hampir satu bulan".


"hampir satu bulan?!. Selama itu lo gak ada waktu buat cerita sama gue Key?. Lo anggap gue apa?". Tanya Tita dengan nada kesalnya


"Ta..semuanya tiba-tiba. long story".


"Duh gila ya, gue gak ngerti sama lo. Jadi selama ini yang lo suka ngilang gitu aja, sibuk entah sama siapa. Itu sama Genando?. iya?". Tanya Tita dan Keynara hanya diam saja


Percuma jika Keynara harus membela diri saat ini, bahkan meminta maaf pun sepertinya tidak akan diterima. Ini memang salahanya, salah karena tidak memberitahunya dari awal. Wajar saja jika Tita merasa kecewa.


"Ta sorry..please jangan marah. Gue bakal ceritain semua". Ujar Keynara dengan wajah Melasnya.


"Lo tau?. Saat ini di otak gue banyak banget pertanyaan. Tapi kayaknya percuma kalau gue tanya. Toh lo juga gak ada niat kan buat ceritain ke gue?". Ujarnya dengan sindiran, dan tanpa peduli dengan Keynara, tita melangkah pergi dengan wajah kesal. Tidak peduli jika Keynara masih emmanggilnya.


Tita Maharani, sahabat Keynara dari SMP. Mereka begitu dekat, suka duka yang mereka lewati bukan lagi rahasia. Mereka saling mengetahui keburukan masing-masing. Mereka saling berbagi satu sama lain. Tita tidak pernah marah besar, hanya terkadang jika terjadi suatu hal kecil yang membuatnya kesal, dia hanya marah sesaat kemudian meminta keynara untuk mentraktirnya. Namun kali ini, bagi Tita adalah suatu hal yang tidak begitu saja dimaafkan, dia masih tidak menyangka jika Keynara menyembunyikan sesuatu yang menurutnya sangat mudah untuk dijelaskan, dan Titapun juga akan mendukungnya apun alasannya. Tita merasa kecewa karena hal itu.