
Malam semakin larut, bahkann Keynara masih bisa melihat langit yang terlihat mendung meskipun langit sudah menunjukkan warna gelapnya.
Semenjak kejadian di pesta pertunangan Sela, dirinya hanya diam, tak banyak bicara. Pikirannya sibuk mempertanyakan, bagaimana Genando juga mengenal Samuel?. Keynara ingin menanyakannya, tapi dia juga takut dan belum siap menjelaskan secara detail permasalahannya dengan Samuel.
Keynara tersentak dari lamunannya ketika sebuah tangan menyentuh punggung tangganya. "heii. you okey?."
"maaf, aku kayaknya ngantuk banget." alibi Keynara. Dia berusaha senatural mungkin agar Genando tidak merasa curiga.
"kalau gitu aku antar langsung kerumah ya." Tawarnya, meskipun rencana awalnya adalah membawa Keynara ke Apartemennya dulu. Genando tidak cukup tega untuk tetap membawa kekasihnya itu ke Apartemennya. Meskipun sebenarnya dia ingin.
Keynara mengangguk, menoleh kearah Genando sembari tersenyum. "makasih ya."
***
Keynara menghempaskan tububnya diranjang besarnya saat dirinya selesai membersihkan diri dan juga mengoleskan skin care rutinnya. Saat dirinya sempat terdiam beberapa menit, kini Keyanra menggelengkan wajahnya lalu menepuk pelan pipinya.
"ini bukan suatu hal yang perlu lo pikirian ra, cukup jalanin aja kehidupan lo yang sekarang." gumamnya pada diri sendiri. "dia masa lalu, dan lo gak perlu khawatir dengan kedatangannya yang tiba-tiba."
drtt.. drrt..
mengalihkan pandangannya, senyum Keynara mengembang ketika ponslenya bergetar dan memunjulkan nama Genando disana.
"haii." Sapa Keynara pada Genando yang ada disebrang sana.
"haii. Kamu belum tidur?." Tanyanya
"hmm. tadi aku ngantuk banget, sekarang udah mandi malah seger lagi, gak jadi ngantuknya."
Genando terkekeh pelan mendengar jawaban kekasihnya. "tau gitu aku culik kamu ke apartemen."
"maunya."
"Ra." panggilnya pelan
"hm."
"aku sayang kamu." ungkapnya, membuat Keynara tak berhenti mengembangkan senyumnya.
"aku juga sayang sama kamu. sayang banget." balas Keyanra tak kalah membuat Genando melayang.
"aku pingin cepet² halalin kamu jadinya." ungkapnya lagi membuat Keynara terkekeh namun juga merasa bersalah karena Genando harus menunggunya lebih lama lagi.
"maaf dan terimakasih ya."
"untuk?."
"maaf sudah meminta kamu untuk nunggu aku sampai aku siap. — dan makasih udah mau nunggu aku dan terima keputusan aku ini."
"it's okey. aku ngerti. — Yaudah ,sekarang kamu tidur ya. Besok kita ke kantor bareng."
"good night sayang."
"good night. sleep well."
****
Tita menajamkan pandangannnya pada Keynara yang tengah memasuki ruangannya. Bahkan Keynara paham apa arti dari tatapan sahabatnya itu, dia paham jika Tita tidak sabar untuk menunggu ceritanya pasal manatan kekasinya.
Semalam Keynara memang sempat mengirimakn pesan kepada tita. Memberitahu sahabatnya itu jika dia bertemu dengan Samuel.
Tita mendekat kearah Keynara, mendekatkan wajahnya pada telinganya. "jadi gimana?."
"jam istirahat deh gue cerita. Kerjaan numpuk nih." pinya Keynara, berharap Tita mengerti. toh Tidak enak juga jika mereka bercerita tentang hal diluar pekerjaannya.
"rasa penasaran gue udah sampe ubun-ubun nih." protes Tita tak sabaran.
"Ta." panggil seseorang mengintrupsi aksi bisik-bisikan Keynara dan Tita.
"apaan tam?."
"ikut ke Ruangan produksi." Ajak Tama. lebih tepatnya karena proses produksi sedang membuat detail design yang dibuat Tama dan Tita. Maka dari itu Tama mengajak Tita.
"males ah."
"lo lupa, tim produksi lagi kerjain design lo?." sarkas Tama membuat Tita kini beranjak dari tempat duduknya.
"iya iya. Galak banget lo." kesalnya membuat Tama hanya terkikin geli.
***
"gila!. serius lo ketemu samuel?." pekiknya masih dengan nada pelan, karena saat ini mereka berada di kantin kantor yang terlihat ramai. Tita masih tidak menyangka jika sahabatnya itu akan kembali berurusan dengan mantan kekasihnya. dan bahkan ada satu hal lagi yang Tita khawatirkan. "jadi Genando sama udah saling kenal??."
Keynara mengangguk, membenarkan perkataan Tita. Keynara juga sempat bingung, resah saat mengetahui kekasihnya mengenal Samuel. Keynara tidak tahu jika ternyata dunia ini sempit. Dan dia benci akan fakta itu.
Gadis itu hanya berharap semoga saja Samuel tidak melakukan hal nekat ataupun melakukan sesuatu yang dapat menganggu hubungannya dengan Genando. Karena Keynara tahu, jika lelaki itu selalu menghendaki apa yang dia inginkan. Termasuk saat dulu dia berusaha untuk menarik Keynara kembali kedalam kehidupannya.
"Gue takut ta. Lo masih inget kan segigih apa dia??"
"bukan gigih Key, tapi phsyco." ujarnya lirih sembari memijit keningnya pelan, jujur saja Tita ikutan pusing mendengar nama samuel itu. "lo gak mau jujur aja sama Genando kalau dia itu mantan lo?"
Keynara terlihat berpikir, namun tidak tahu apa yang ditunggu, hanya saja dia merasa belum waktunya untuk membicarakan ini dengan Genando. "Gue akan bicara nanti."
"ya, gue gak tahu sih kedepannya Samuel akan berbuat apa sama lo Key. Tapi setidaknya lo harus berjaga-jaga dari sekarang. Toh kalau Genando tahu, dia bisa jadi pelindung lo kan."
Apa yang dikatakan Tita ada benarnya, tidak seharusnya Keynara menyimpannya lama-lama. Lagi pula ini tidak adil bagi Genando, dia sudah terbuka dan bercerita tentang keadaan keluarga. tapi sedangkan Keynara?? dia belum bisa jujur tentang masa lalunya.
***
Keynara mengetukkan jari-jarinya dimeja tunggu yang ada di dalam ruangan Genando. Lelaki itu meminta Keynara untuk menemaninya makan siang karena sedari tadi disibukkan dengan kegiatan meeting dan membuatnya baru bisa menyantap makan siangnya di jam tiga sore.
"kalau kamu gitu lagi aku bodo amat ya! mau asam lambung kamu naik, mau mag kamu kambuh aku gak peduli." Keynara merajuk, pasalnya lelaki itu sempat mengeluh sakit dibagian perutnya akibat menunda makan dan lebih memilih mempercepat jadwal meeting.
"aku gak bisa nunda pekerjaan sayang. makanya aku selesaikan semua biar cepat selesai." bela Genando namun semakin membuat Keynara menatapnya sebal.
"kamu bisa makan siang dulu, setelah itu lanjut meeting. Bisa kan? toh ini meeting internal."
Genando menaruh sendoknya, lalu mengambil satu tissue yang digunakan untuk mengelap mulutnya, setelah itu menenggak minumannya. Lelaki itu perlahan duduk menghampiri Keynara, mendekat ke arah gadis yang tengah mengacuhkannya dan membuang pandangan wajahnya kesamping untuk menolak menatap Genando. "Sayang." panggilnya lembut.
"janji deh aku gak akan makan telat lagi. udahan ya marahnya." ujarnya dengan nada memelas, berharap dapat meluluhkan hati Keynara.
Keynara menghela nafasnya panjang, lantas menoleh kearah Genando yang saat ini tengah memeluk pingganya dari samping. "ish kamu!" kesalnya lagi saat Genando mengecup singkat bibir ranum nya.
"kamu gak mau maafin aku??"
"Janji jangan begitu lagi?" Tanyanya memastikan dan Genando mengangguk yakin. "kalau sampe kamu ingkar janji dan aku tahu kalau kamu nunda makan lagi, aku gak mau ngomong lagi sama kamu." ancamnya.
"iya." balasnya masih dengan menatap Keynara lekat.
Perlahan Genando mengunci kedua netra Keynara, mendekatkan dirinya agar dapat meraih bibir yang sudah menjadi candunya. Namun saat sedikit lagi bibirnya dapat mendarap sempurna dibibir Keynara, suara ketukan pintu mengintrupsi mereka, membuat atensinya beralih pada pintu kaca besar yang ada diruangannya.
Keynara segera menjauhkan dirinya dari Genando, dengan asal dia mengambil apapun yang dapat dijadikannya alasan mengapa dia berada di dalam ruangan bos nya itu.
"masuk." Perintah Genando saat dirinya sudah beralih duduk di kursi kebesarannya.
"sore pa, ini—." Ucapan staff yang bernama Jessy itu terhenti kala melihat Keynara. "loh kamu disini Key."
"i-iya, ini sudah selesai kok urusannya." Alibi Keynara lalu segera berpamitan kepada Jessy dan juga Genando. "Saya permisi, Pak."
Sebuah resiko ketika Keynara tidak mau hubungannya dengan Genando diketahui para karyawan genando.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Keynara masih setia menunggu Genando menyelesaikan pertemuannya dengan clien. Bukan meeting biasa, melainkan Genando sebenarnya menemani clien itu untuk makan malam sebentar lalu setelahnya berniat untuk menghampiri Keynara.
Tadi sore Keynara sempat mengirimkam sebuah pesan kepada Genando, malam ini dia berniat untuk memberitahu semua tentang dirinya dan Samuel. Dia tidak akan menundanya lagi, karena Keynara takut akan terjadi sesuatu yang barangkali bisa merusak hubungannya dengan Genando.
"haii." Sapa seseorang. Bukan Genando, bukan ! melainkan...
"samuel!" ucapnya tak percaya. Bagaimana bisa dia bisa bertemu Samuel disini.
Dengan segera Keynara bangkit dari kursinya, hendak pergi dari sana dan urusan Genando, biarkan dia nanti mengabarinya jika pertemuannya dibatalkan.
"Mau pergi kemana?" Tanya Samuel ketika dia berhasil meraih pergelangan tangan Keynara.
"Bisa lepas!! saya mau pergi"
"aku perlu bicara." katanya, membuat Keynara tersenyum remeh.
"Saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Saya dan anda tidak ada hubungan apa-apa. paham?" Ujarnya tegas dan penuh penekanan bahwa dia dan Samuel tidak memiliki hubungan apa-apa.
Keynara mencoba sekuat mungkin agar tidak terlihat lemah didepan Samuel. Dia ingin lelaki itu bisa melihatnya bahwa dia baik-baik saja meskipun telah dicampakkan olehnya beberapa tahun yang lalu.
"please kita bicara sebentar."
"tidak ada yang perlu kita bicarakan!!" Teriaknya frustasi, membuat orang lain yang berada di kafe itu sibuk memperhatikan Keynara dan Samuel dengan pandangan aneh dan bertanya-tanya.
Keynara melangkah pergi, berlari keluar dari kafe itu dan berniat menjauh sejauh-jauhnya dari Samuel. Dengan segera dia men-stop taxi, lalu berlalu meninggalkan Samuel yang tak berhasil mengejarnya.
"ke jalan samudera ya pa." Ujarnya lirih.
Tanpa terasa dan tanpa dia mau, airmatanya keluar. Mengeluarkan segala kekesalan dan amarah yang ada. Gadis itu larut dalam pikirannya sampai satu suara membuyarkan dirinya.
"Sayang." sapa seseorang disebrang sana. "aku sudah di kafe. kamu dimana?"
"maaf." ujarnya lirih, jujur saja airmatanya tidak bisa berhenti, bahkan suaranya terdengar serak saat ini. "aku gak enak badan ,jadi aku pulang." bohonya
"kamu kenapa?? kamu nangis?"
"gak ge, aku gak apa²."
"jangan bikin aku khawatir. Ku ke rumah kamu sekarang." Ujarnya tanpa bantahan.
"tidak usah ge."
"tidak ada penolakan. aku ketempat kamu sekarang." Ujarnya lalu memutuskan sambunhan telponnya.
Genando, dia benar² khawatir, dan dengan segera lelaki itu pergi untuk menyusul kekasihnya. Dia tidak ingin melewatkan apapun yang dapat membuat dirinya menyesal.
_________________________________________________
to be continue ~