Starting From Saturday Night

Starting From Saturday Night
3 - sisi berbeda



Tita dan Eko membuang urat malunya jauh jauh, tidak peduli dengan adanya tama maupun keynara, mereka berdua lihai berjoget sambil bernyanyi, sedangkan keynara dan tama?, mereka hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah absurd kedua rekan kerja sekaligus temannya itu.


semalam...bobo dimana bobo sama siapa ngapain aja aye....


kira kira itulah lirik dan lagu yang mereka nyanyikkan. lagu kesukaan Eko dimana penyanyinya tidak jauh beda dengan Eko. namun bedanya Eko belum sampai tahap operasi plastik.


"ekhm ekhm ekhm". eko berdehem ketika merasa suaranya seperti mau habis. "suara hayati serak nih". keluh Eko manja. saat ini mereka sudah selesai menggelar konser mininya.


Tama memandang Eko jengah. "makanya kalau nyanyi yang bener bambank". tegurnya. "orang kalau nyanyi sekelas diva, kayak Agnez, Isyana, Raisa, ** dj, Kridayanti, itu kalau nyanyi dari suara perut. hasilnya bagus. kalau situ nyanyi dari suara jakun ya gitu, kalau gak suara habis ya sesak nafas". ujar tama panjang lebar, membuat mas mas dan mbak mbak yang bekerja di Geboy karaoke tertawa dalam diam. namun yang dilakukan Eko hanya kesal dan memukul pundak Tama manja.


"jadi ini siapa yang bayar?". tanya Keynara. meskipun ia tahu kalau mereka patungan untuk membayarnya


"yee si astuti nanya lagi!. patungan lah, situ pikir diantara kita ada yang mau bayarin?. orang jiwa missqueen semua". kata eko yang lagi-lagi membuat orang disekelilingnya tertawa. sebenarnya tidak hanya kalimatnya, namun gaya Eko ketika berbicara, tubuhnya akan ikut bergoyang tanpa sadar, dan tangannya akan melambai.


"make sure aja cantik, sensi banget sih. lagi datang bulan?" tanya keynara kemudian menyerahkan beberapa uang ke kasir.


"justru eke telat dua minggu bo....ngeri gak tuh". ujar eko dengan wajah takjub yang dibuat buat


"ih ngeriii..." ujar Tita bergidik. "oya, besok kan libur nih, makan dulu yuk di pecel ayam mbah mun. jadi kita pulang malam". saran Tita. pecel ayam mbah mun adalah langganan mereka. terkadang setiap pulang kerja, dan jika ada waktu, mereka akan makan bersama-sama termasuk vira dan rafiq.


"okey, gue setuju." ujar Tama


"okey". lanjut Keynara dan Eko


 


*********


waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan setelah membersihkan diri, keynara berangsur kebawah untuk menghampiri mamanya yang sedang berkutik dengan mixer dan oven.


Biasanya setiap satu  bulan sekali, baik Keynara dan ibunya, mereka akan membuat beberapa kue untuk diberikan ke panti asuhan cinta kasih yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Widia Indrawati selaku mama Keynara mengenal baik pengurus yang ada di panti, hal itu membuatnya terkadang membantu mengikuti kegiatan sosial ataupun jika ada waktu dan rejeki lebih, mereka akan membuatkan sesuatu seperti saat ini, membuat kue. memberikan apa yang bisa mereka berikan.


"mau berapa toples ma?" tanya Keynara


"yang putri salju lima, keju keringnya 3 solanya papa kamu ada beli beberapa kue keju, katanya ada diskon di toko depan, nah kalau untuk bolu kita buat 3 saja". ujar Widia menjelaskan dan keynara mengangguk mengerti.


tidak banyak yang dibicarakan ketika dua orang yang suka memasak dan membuat kue sedang melakukan kegiatan yang mereka sukai. hanya ada pembicaraan kecil sesekali.


"Amel belum bangun?" tanya Widia.


"sudah, sedang nonton kartun diatas ma." ujar Keynara memberitahu


"suruh dia mandi dan sarapan ra, kamu juga sarapan dulu baru bantu buat kue."


"iya ma."


Amelinda Ramadhani, dia adik Keynara satu-satunya. jika Keynara sedikit pendiam dan akan banyak bicara dengan orang yang sudah akrab dengannya, maka Amel tidak. Amel memang masih kelas enam SD, namun dia sangat suka berbicara pada siapapun yang belum ia kenal, gayanya petakilan, cerewet. pernah Keynara bertanya kepada mamanya, sebenarnya Amel adik dia atau Tita? dan Tita yang merasa bahwa Amel memang mirip denganya, dia juga bertanya kepada mama Keynara sewaktu berkunjung. apakah waktu hamil tante membeci Tita? mendengar itu Widia hanya tertawa, mamanya saja bingung kenapa anak keduanya itu petakilan dan ceroboh sekali.


Keynara dan Amel menyantap sarapannya dalam diam, sesekali dengan iseng Amel mengambil potongan tempe yang ada di piring Keynara.


"ish amel...,itu tempe masih banyak dipiring. jangan ambil punya kakak." tegur Keynara kemudian mengambil tempe lagi ketika miliknya sudah dilahap oleh Amel.


"habis punya kakak kelihatan lebih enak." alibinya


"terserah kamu. pokoknya setelah ini mandi, bantu kaka sama mama susun kue setelah itu kita ke panti".


 ******


Suasana panti tidak seperti biasanya, ini terlihat ramai, bahkan beberapa pengurus sedang kumpul bersama.


"assalamualaikum." Widia mengucapkan salam ke pada ibu ibu yang tengah berdiri dihalaman panti.


"walaikumsalam bu Widia." balas bu Nirma selaku kepala pengurus panti.


"ini, seperti biasa." Widia, Keynara dan Amel menyerahkan beberapa bingikisan kue yang sudah disiapkan. "kali ini kue kering dan bolu." ujarnya sembari tersenyum


"terimaksih loh bu."


"kok tumben ramai bu? ada acara?" Tanya keynara penasaran.


"oh iya, hari ini bakalan ada yang datang, mau jadi donatur tetap disini. dan kebetulan suami bu siska juga kenal". siska adalah pemilik dari panti, dan suaminya bernama Hendrik hendrawan.


"oh ya key, ibu minta tolong nanti bantu ibu untuk  memperkenalkan donatur baru agar lebih dekat dengan anak anak. ini juga salah satu permintaan donatur yang ingin lebih tahu tentang anak - anak dipanti. kamu bisa?" Tanya bu Nirma memastikan. "sebenarnya ibu mau kasih tahu kamu kemarin. tapi lupa, maklum udah tua." jelasnya lagi


"key bisa kok bu. tapi bu , sepertinya persiapannya tidak seperti biasanya. apa calon donaturnya orang penting?" Tanya Keynara


"Ibu juga kurang paham, hanya saja bu siska dan  pak hendrik memintanya untuk menyiapkan yang terbaik. mungkin karena mereka kenal dekat." paparnya dan keynara hanya mengangguk


Widia, Nirma dan beberapa pengurus yang lain mengurus makanan untuk dijadikan santapan prasmanan saat calon donatur dan pemilik datang, sedangkan amel dan keynara masih bermain dengan beberapa anak yatim yang memang sudah akrab dengan Keynara dan Amel.


Keynara mengendurkan pandangannya ketika melihat dua mobil masuk ke area panti, keynara merasa tidak asing dengan mobil itu, memang banyak yang memiliki mobil Mercedes Benz S-Class, namun keyanara tidak asing dengan nomor platnya.


"Astaga itu pak Genado" pekik Keynara pelan


"kenapa kak?" Tanya Amel ketika kakaknya berekspesi aneh saat memandang laki laki yang ada didepan panti. "kak kenapa?" Tanyanya lagi.


cukup lama mereka didalam, bahkan mama Keynara dan adiknya sudah lebih dulu pulang, sedangkan Keynara masih tetap setia menunggu mereka selesai.


Keynara saat ini sedang duduk diruang tamu. "key?" Keynara menoleh ketika seseorang memanggilnya.


"Sudah selesai bu?" tanya Keynara ke bu Nirma.


"maaf lama." katanya tak enak.


"Tidak apa bu." Keynara melihat kesamping bu Nirma, sudah ada Genando disana. keynara bisa melihat bahwa bos nya itu sedikit terkejut.


"Pa Genando, mohon maaf sekali saya tidak bisa menemai untuk memperkenalkan dengan anak-anak karena ada beberapa urusan yang urgent, namun nak Keynara ini bisa menemani bapak." Jelasnya


"apa dia pengurus panti juga?" Tanya Genando sengaja, Keynara yang mendengarnya hanya diam saja, tidak begitu peduli dengan pertanyaan Genando.


"Bukan. Kebetulan nak keynara ini suka main ke panti dan sudah akrab sama anak panti. jadi ibu minta tolong."


 *****


"kamu tinggal didekat panti?" tanya Genando


"ya." jawab Keynara seperlunya


Saat ini mereka sedang dihalaman belakang panti asuhan. terdapat beberapa mainan ayunan dan danau kecil disana. panti asuhan cinta kasih memang sangat luas, meskipun berada disebuah perumahan kota namun panti ini seperti terletak di sebuah desa,memiliki lahan yang luas, beberapa pohon dan tanaman seperti diperkebunan dan juga danau kecil.


"Disini sangat nyaman." penyataan Genando membuat keynara menoleh


"bapak benar. itulah kenapa saya suka kesini". katanya jujur. "saya tidak menyangka bapak jadi donatur disini." ujarnya tak percaya dengan mata masih menatap lurus kedepan


"Apakah seaneh itu?" tanya Genando


"Tidak, hanya saja ..." Keynara menggantungkan kalimatnya, tidak yakin jika harus mengatakan jika Genando sangatlah berbeda dari yang ia lihat dikantor.


"katakan saja". ujar Genando penasaran


"ya hanya saja bapak terlihat berbeda, maksud saya." Keynara menghentikkan kalimatnya sejenak. "Terlihat lebih lembut dibandingkan saat dikantor, bahkan saat berkumpul dengan anak panti, bapak terlihat ramah sangat berbeda dengan yang biasa saya lihat." ujarnya jujur


"Apa saya segalak itu." tanya Genando yang tadinya menatap lurus kini mengalihkan pandangannya ke Keynara.


Keynara ikut menoleh, kedua mata mereka bertemu. "ya. saya sampai takut kalau mau keruangan bapak." ujarnya kemudian tertawa, entah apa yang lucu, namun situasi ini terasa lucu bagi Keynara. lucu karena bisa bisanya dalam sekejab ada moment dimana dia dan bos devilnya ini bisa duduk santai dan berbicara layaknya bersama teman.


"Tapi apakah bapak sengaja bersikap seperti itu?" tanya Keynara penasaran


"Saya hanya melakukan apa yang menurut saya baik untuk perusahaan. Saya harus tegas." Ujarnya kembali menatap lurus kedepan, "setidaknya dengan seperti itu tidak ada yang berani macam macam."


Keynara mengangguk pelan, kini matanya mengamati beberapa anak panti yang masih bermain, mereka seakan tidak memiliki beban apapun, tertawa lepas dan bahagia dengan apa yang mereka miliki saat ini.


"Menyenangkan melihat anak kecil bisa bermain tanpa beban seperti itu." ujar Genando. "tidak perlu ponsel canggih, tidak perlu ke mall, mereka bisa bermain dengan apapun yang mereka miliki saat ini." lanjutnya lagi dan Keynara hanya menyimak


Keynara menoleh kearah Genando, begitun sebaliknya. "tidak perlu sesuatu yang mewah untuk mendapatkan kebahagiaan. bahkan kalau kesuksesan dan uang bisa menjanjikkan kebahagian, artis diluar sana yang sukses dan banyak uang tidak akan depresi dan bunuh diri." Dan Genando membenarkan itu.


Keduanya masih saling menatap, keynara terpaku, ternyata Genando memiliki mata yang indah berwarna coklat dan bulu mata yang lentik. Keynara tidak pernah menyadari itu. dan Genando, dia sibuk memikirkan sesuatu, dimana dia teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, dan hari ini dia bersyukur, bahwa bertemu dengan Keynara hari ini dapat membuatnya mengerti sisi lain dari wanita itu.


Keynara mengalihkan pandangannya ketika Genando masih menatapnya lekat. dan saat itu juga terdapat notif pesan dari mamanya. "sepertinya saya harus pulang pa." ujarnya memberitahu


"pulang?" tanya Genando polos


"ya." jawabnya heran. "ada urusan mendadak." lanjutnya


"oh iya, silahkan. saya juga harus bicara lagi dengan bu Nirma."


"kalau begitu saya permisi." pamitnya namun sebelum jauh Genando memanggilnya.


"ya?" tanya Keynara saat berbalik menghadap Genando


"terimakasih."ungkapnya sembari tersenyum


Keynara sempat terpana melihat senyum Genando. jarang sekali bahkan hampir tidak pernah Keynara melihat bosnya tersenyum.


"ya." balasnya dengan senyum kemudian pergi meninggalkan Genando. "sama-sama Pa."


***SFSN -Quote ***


Setiap mahluk hidup memainkan perannya masing masing


ada yang menjadi diri sendiri 


ada pula yang menjadi orang lain agar mendapatkan perahatian


tapi, terlepas dari itu, kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya mereka inginkan


bahkan yang terlihat buruk belum tentu buruk 


yang terlihat baik belum tentu baik