
"Hai Nara." Sapanya tanpa merasa canggung.
Dengan sigap Genando melangkah kedepan, berdiri sejajar dengan Keynara lalu menggenggam tangannya erat.
"oh, hai Do. Kita bertemu lagi disini." Lanjut sapanya.
***
Genando memutuskan panggilan teleponnya, setelah selelsai memberitahu mamanya jika dirinya dan Keynara akan terlambat kerumah, ia langsung kembali menghampiri Samuel dan Keynara yang tengah duduh diam tak bersuara.
"yang gue perlukan disini adalah berbicara dengan Keynara." Ujar Samuel tanpa mengalihkan tatapannya pada gadis itu. Menyindir Genando, berharap lelaki itu peka lalu berniat meninggalkan mereka berdua diruang tamu.
Genando yang tahu akan maksud dari perkataan Samuel hanya diam, sejenak berpikir sesuatu yang pasti kemudian setelahnya ikut membuka suara. "Key apa kamu mau aku pergi, agar kalian berdua bisa menyelesaikan masalah kalian?"
Keynara langsung menatap Genando, tangannya yang sedari tadi ia letakkan diatas pahanya kini beralih menyentuh tangan Genando, lalu menggenggamnya erat, seakan berkata 'kamu disini saja, aku takut.'
Genando paham akan tatapan Keynara lalu kembali beralih melihat Samuel yang masih setia memandangi wajah kekasihnya, membuat Keynara tak nyaman. "Katakan saja apa yang mau anda bicarakan dengan Keynara. Tapi saya akan tetap disini."
"kita hanya kenal sebagai partner kerja, itupun dulu. Jadi saya rasa kita tidak sedekat itu untuk membiarkan anda ikut andil dalam permasalahan ini."
"tentu saja saya harua. Keynara calon istri saya." Ujarnya telak. Jujur saja itu adalah pernyataan yang mampu meruntuhkan segala keyakinan Samuel untuk mendapatkan Keynara kembali.
lelaki itu kemudian menghela nafasnya kasar, dengan yakin kembali menatap Genando. "Saya perlu bicara berdua dengan Keynara. Kalau yang anda takutkan adalah saya menyakiti Keynara, jawabannya dalah tidak. Saya hanya perlu meluruskan semuanya, saya hanya ingin mengangkat beban yang selama ini masih setia bertengker." Paparnya menjelaskan. Dia berharap baik Genando maupun Keynara mau memberikkan kepercayaan kepada dirinya untuk meluruskan segala permasalahan hang ada, meskipun semuanya sejujurnya terasa terlambat.
Sejenak Genando memandang wajah pucat Keynara, dia menoleh kesamping lalu menggenggam tangannya kekasihnya itu erat. Meyakinkannya jika semuanya akan baik-baik saja. "Key, aku rasa kalian perlu menyelesaikan berdua."
"Tapi Ge." lirihnya pelan
"it's oke Key, aku tunggu di luar ya." Ujarnya lalu bernajak berdiri, membiarkan mereka berdua memiliki waktu yang sebenarnya Genando tidak ingin membaginya. Tapi bagaimanapun, mereka tetap harus menyelesaikan masalah mereka, Genando tak ingin Samuel terus menganggu hubungannya, dia juga tifak mau Keynara terus mereasa terganggu oleh tindakkan Samuel yang selalu menuntuk waktu untuk berbicara. Toh, Genando semalam sudah memberitahunya agar bisa tegas dan menjelaskan perihal hubungannya dengan ya saat ini.
"Nara." Panggil Samuel
"Don't call me like that." Ucapnya Tegas, Keynara bisa mendengar helaan nafas dari lelaki dihadapannya itu. Bahkan tangan Samuel kini perlahan bergerak untuk meraih kedua tangan Keynara yang ia tautkan diatas meja, namun pergerakkan itu tak tercapai, sebab Keynara dengan sadar menjauhkannya dari jangkauan Samuel. Dan lagi-lagi lelaki itu menghela nafas.
"Waktu itu aku mabuk ra, aku dijebak."
Keynara tak bergeming tak mau berusaha kaget atau memunculkan reaksi lainnya yang bisa membuat Samuel beranggapan bahwa dirinya tertarik dengan oembicaraan ini. Ini sudah terlalu lama, bertahun-tahun sehingga radanya hati dan perasaan Keynara sudah hambar, meskipun nantinya lelaki itu akan menjelaskan secara detail kebenaran atau mungkin kebohongan.
"Mora kasih aku minuman dengan kadar alkohol tinggi. Dia marah sama aku gara-gara aku putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengannya. Karena aku tahu aku salah."
Gotcha!!! Entah sadar atau tidak, secara tidak langsung dia mengakui perselingkuhannya.
Keynara hanya tersenyum sinis, lalu menatap lelaki itu tanpa ragu lagi. "Jadi anda mengakui kalau anda selingkuh waktu itu?"
Dia bungkam, sepertinya dia sadar telah mengakui kebusukkannya pada masa itu. "Ra—"
"berapa lama ?"
"dua bulan." Cicitnya pelan, tidak bisa dia sembunyikan lagi, kini waktunya Keynara mengetahui semuanya meskipun sudah amat sangat terlambat. Dan dia sadar itu.
"Kamu tahu?? Betapa bodohnya aku enggak percaya kata-kata temen aku yanh bilang kalau kamu selingkuh sama Mora. Aku percaya kamu, aku ngebela kamu meskipun aku tahu temen aku gak mungkin bohongin aku ataupun mau ngehancurin hubungan aku sama kamu. Tapi apa yang kamu lakui buat aku? selingkuh? Dua bulan? dan kamu pernah bilang sayang sama aku bahkan enggak ada wanita yang bisa gantiin losisi aku di hati kami? Bulshiit!!! Kamu enggak ada bedanya dengan lelaki diluar sana yang hanya bermodal omongan manis, kamu enggak ada bedanya sama lelaki brengsek diluar sana yang tidak pernah cukuo dengan satu wanita!!"
Emosinya yang selama ini menggunung mendesak keluar, menumoahkan segala sumpah serapah yang tertahan selama bertahun-tahun. Dia sudah tidak mengharapkan lelaki didepannya itu. Hanya saja dia ingin lelaki itu tahu bahwa yang dia lakukan untuknya dulu sangat berharga dan betapa dia menyesal melakukan itu.
"enggak ada laki laki yang mau mencabangkan hatinya, rela membagi hatinya untuk orang lain bahkan mau menyakiti orang yang dia sayang."
"Nara, aku mau kita kembali lagi, memulainya dari awal." mohonnya dengan airmata yang kini keluar dari kedua netranya.
Keynara menghembuskan nafasnya kasar, lalu kembali menatap tajam pada Samuel. "kalau kamu datang kesini untuk menjelaskan dan meminta maaf, maka aku akan maafin kamu. Tapi kalau kamu datang kesini untuk memintaku kembali sama kamu. Maaf, aku gak bisa, hati aku udah mati rasa sama kamu, ini bahkan sudah bertahun-tahun, dan kamu masih ngeharepin aku? kamu egois! Kamu cuman mentingin perasaan kamu doang, tapi gak pernah sekalipun memetingkan perasaan orang lain!!"
Diluar sana, Genando menunggu dengan perasaan khawatir, dia masih bisa mendengar suara Keynara yang memekik kencang. Rasanya dia ingin menghampiri kekasihnya itu, membawanya pergi dari hadapan Samuel sejauh mungkin. Dia tidak ingin Keynaranya terluka pada orang yang sama.
"Pergi!" Usirnya dengan nada datar namun tajam.
"Nara."
"Stop call me like that. I'm warning you!" Kesalnya, dia benci Samuel memanggilnya dengan nama itu. "Just Go. Please!"
Samuel menghela nafasnya kasar, kemudian bangkit berdiri dari posisi semula. "oke, aku pergi. Maaf sudah buat kamu terluka untuk kesekian kalinya." Ujarnya lalu berlalu begitu saja. Keynara bahkan tidak menoleh sedikitpun, dia memalingkan wajahnya, menolak untuk menatap kepergian Samuel. "Tapi aku harap kita bisa memiliki waktu untuk menyelesaikan ini semua Ra."
"Semuanya sudah selesai. tidak ada hal yang harus kita bicarakan lagi."
Samuel menghembuskan nafasnya lelah, dia sebenarnya juga sadar bahwa dirinya salah, apa yang dia minta pada Keynara adalah salah satu tindakan yang salah, tapi lagi dan lagi ego nya mengalahkan kewarasaannya.
Selang beberapa menit Samuel benar-benar menghilang dari sana, kemudian disusul oleh Keynara, perlahan dia mengunci rumahnya lalu menghampiri Genando yang kini sudah duduk di bangku kemudinya.
Genando menoleh pada Keynara yang tengah berjalan lemah kearahnya, perempuan itu lantas membuka pintu penumpang lalu mendudukkan dirinya disamping Genando. Tanpa banyak bertanya, Genando menarik pelan tangan Keynara, membawa kekasihnya masuk kedalam pelukannya, memeberikan ketenangan dan berharap keadaan Keynara baik-baik saja.
Dan tanpa bisa dibendung lagi, Keynara benar-benar menumpahkan segala kekesalahnnya melalui sebuah isak tangis. Genando hanya tetap terus memeluk kekasihnya itu, memberikkan waktu padanya agar menumpahkan segala bebanya.
Keynara, dia hanya benci kenapa Samuel muncul lagi dihadapannya setelah bertahun-tahun enyah dari kehidupannya, dia hanya kesal kenapa disaat dirinya sudah menata diri dengan baik, justru lelaki itu kembali. Bukan karena Keynara masih menyukainya, tidak. Bahkan dia sudah tidak merasakan apapun saat berada dihadapan Samuel.
"Mau tetap ke mama atau kamu mau istirahat aja di apartemen?" Tanya Genando lembut saat Keynara berhasil menghentikkan tangisnya.
"kerumah mama kamu aja ya." Jawabnya dengan suara seraknya. Tangan Genando terulur untuk menghapus sisa air mata di pipi Keynara, kemudian mengecup kening kekasihnya lama.
"beneran gak apa-apa?" Tanya Genando memastikan.
Keynara mengangguk yakin. "Ge."
"hm?" Gumamnya masih menatap lekat Keynara.
"kamu enggak mau nanya apa-apa soal aku dan dia?"
"biarkan kamu tennag dulu, aku siap menunggu untuk kamu cerita ke aku." Jawabnya tulus. Keynara memang belum siap untuk menceritakan perdebatan antar dirinya dan Samuel. Dia perlu menenangkan dirinya terlebih dahulu, dan begitu beruntungnya dia karena memiliki Genando yang sangat mengerti akan dirinya.
"makasih ya. Aku sayang kamu Ge." Jujurnya lalu menghamburkan dirinya untuk memeluk Genando terlebih dahulu.
"aku lebih sayang sama kamu." Balasnya tulus
___________________
TBC ~