Starting From Saturday Night

Starting From Saturday Night
18 - i'll beside you



"Jadi orangtua kamu dan amel pergi ke Bandung?" Tanya Genando memastikan sembari menaruh satu gelas air putih diatas meja.


Setelahnya sampai dirumah Keynara, dirinya semakin dirunduk rasa khawatir. Pasalnya lelaki itu mendapati mata kekasihnya yang sembab, bahkan terlihat seperti orang yang tengah takut akan sesuatu.


Perlahan Genando menarik tangan keynara, membawanya kedalam dekapannya dengan lembut. Tanganya terulur untuk mengurai surai lembut kekasihnya, membuat Keynara tahu bahwa Genando sangat khawatir dengan dirinya meskipun hanya dia salurkan lewat gestur lembutnya. "are you okay? hm?" Tanyanya lembut.


Keynara mengurai dekapan Genando, memberikan jarak diantara mereka agar Keynara dapat melihat wajah kekasihnya itu. "aku, — aku tadi bertemu dengan Samuel."


"Samuel?" Ujarnya mengernyit bingung. Ada apa dengan Samuel dan Keynara. Pikirnya


Sejenak Keynara menghembuskan nafasnya, mencoba berpikir tenang agar dapat menata kalimat dengan benar. Setelah dirasa dirinya siap, ia mulai menjlaskan satu persatu kepada Genando, menjelaskan status dirinya dengan Samuel dahulu yang hampir saja menikah namun gagal karena Samuel mengkhianatinya.


"dia,— dia tidur sama teman satu kantornya dulu." Ujarnya lirih. Genando masih setia mengamati Keynara, mendengarkan setiap detail penjelasannya dengan seksama tanpa berniat menyela ucapannya sedikitpun. "aku mutusin hubungan saat itu juga dan batalin semua rencana pernikahan aku sama dia. Tapi dia gak terima, karena dia bilang dia dijebak. Aku gak percaya itu, karena sebelumnya banyak gosip tentang dia dan teman kantornya itu. Dia terus ganggu aku sampai akhirnya aku pindah ke kantor kamu, dan ayah juga mengancam akan melaporkan dia ke polisi kalau masih ngeganggu aku. Jadi saat itu dia sudah gak ada kabar lagi dan gak ganggu aku."


"Dan sekarang dia coba ngusik kamu lagi?" Tanyanya setelah dirinya bertahan dalam diamnya.


Keynara mengangguk, membenarkan apa yang Genando tanyakan. "Aku takut Ge." Ujarnya sungguh-sungguh.


"Ada aku, kamu gak usah takut ya."


"maaf aku baru cerita ke kamu tentang Samuel."


"it's okay Key, aku ngerti posisi kamu." Balasnya dan Keynara beruntung memiliki kekasih yang sangat mengerti dirinya.


"Key??" panggilnya lembut. "should i stay with u tonite?"


Keynara tercengang dengan apa yang Genando ucapkan, setelahnya dia berpikir sejenak lalu mengangguk yakin. Tidak apa kan jika Genando bermalam dirumahnya?, toh mereka tidak melakukan apa-apa. Lagi pula dirinya masih merasa sedikit takut karena kejadian yang menimpanya di kafe.


"yasudah, sekarang kamu mandi dulu aku buatkan makan malam untuk kita."


"harusnya aku yang buatkan makanan untuk kita, bukan kamu." Tutur Keynara merasa tak enak. Bagaimana tamu dirumahnya justru yang menyiapkan makanan untuk tuan rumahnya??


Genando mengacak gemas rambut Keynara, lalu dengan sigap menarik gadis itu untuk segera beranjak membersihkan diri, membuat Keynara mau tak mau menuruti Genando.


Setelah Keynara menghilang dari penglihatannya, Sejenak Genando terdiam. Berpikir jeras tentang pertemuannya dengan Samuel sewaktu dipesta Shela, dimana saat dirinya hanya berbicara berdua dan Samuel banyak menanyakan tentang Keynara padanya.


aku akan melindungi kamu Key. Ujarnya dalam hati


***


Setelah selesai menyantap makan malam yang dibuat oleh Genando, kini giliran Keynara yang sigap membersihkan piring kotor yang sudah mereka gunakan untuk makan malam. Dirinya dengan telalen mencuci piring, sedangkan Genando sedang menerima telpon dan berbincang serius diluar sana.


Keynara tersentak kaget saat ada dua lengan melingkar di perutnya, siapa lagi kalau bukan Genando. Bahkan lelaki itu kini sudah mendaratkan kepalanya dibahu kekasihnya itu.


"aku lagi cuci piring ge." Ujarnya yang dalam artian menuruh Genando untuk melepaskan pelukannya. Namun bukannya melepaskan, justru pelukan itu semakin erat, bahkan kini wajahnya sudah terbenam di curuk leher Keynara. Memainkan hidungnya disana sehingga memberikan sensani aneh pada diri Keynara.


"Ge, Stop it." Intrupsinya ketika Lelaki itu mengendus leher Keynara dengan hidung bangirnya.


"kamu wangi." Ujaranya membuat Keynara malu.


Seketika Keynara bernafas lega ketika selesai membersihkan piring kotornya, lalu dengan sigap dia membalikkan badan untuk menghadap Genando. Meskipun begitu, kedua tengan Genando masih setia melingkar dipinggang Keynara. Sepertinya dia tidak berniat melepaskannya barang sedetikpun.


"Nikah yuk Key." Ajakanya, dia berniat menggoda Keynara, tapi juga serius dalam mengucapkannya. Jujur saja Genando merasa khawatir setelah Keynara memberitahu tentang Samuel, membuat dirinya semakin ingin mengikat Keynara dalam status yang serius secepat mungkin.


"kamu ajak aku nikah kayak ngajak aku main tau gak?!"


"aku serius, nikah yuk."


Keynara meneliti setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh Genando, mencari sorot candaan dimatanya namun nihil. Yang Keynara dapatkan adalah sorot keseriusan pada wajah kekasihnya itu.


"Ge, kamu tahu kan kalau ak—."


"aku tahu kalau kamu takut kejadian dulu akan terulang kan?" Dan Keynara mengangguk.


"lihat aku Key." Pintanya saat Keynara menundukkan wajahnya. "kamu percaya sama aku?" Dan lagi-lagi Keynara mengangguk. "aku cinta dan sayang sama kamu, gak ada secuipul niat buat lergi ataupun nyakitin kamu Key. Aku mau ngikat kamu ke jenjang yang mebih serius, aku mau lindungin kamu, aku mau kamu terus disisi aku." Ujarnya tulus, membuat Keynara justru menitihkan airmata karena rasa bersalahnya.


Dengan sigap Keynara memeluk erat tubuh Genando, membenamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. "aku sayang sama kamu, aku juga mau disisi kamu terus."


Genando tersenyum, mengelus lembut surai rambut Keynara dengan sayang lalu mendaratkan kecupab di kepala Keynara.


"maaf ge, maaf karena aku sempat takut, maaf karena masalaluku jutru menghambat niat tulus kamu. Aku—aku mau ge nikah sama kamu." Ungkapnya membuat Genando sedikit tercengang dengan perkataan yang terlontar dari mulut Keynara.


"kamu??"


Keynara mengangguk, memberikkan senyum terbaiknya saat kembali mengadahkan wajahnya untuk menatap Genando. "aku percaya sama kamu Ge."


Dengan kebahagian yang membuncah dalam hati Genando, lelaki itu kembali memeluk Keynara dan kali ini jauh lebih erat, bahkan tidak ada jarak sedikitpun bagi dua insan itu.


"aku manusia biasa Key, suatu saat nanti aku pasti bakalan lakuin kesalahan yang disengaja ataupun tidak, tapi aku akan selalu berusaha untuk membuat kamu bahagia dan selalu ada disisi kamu. Terimakasih sudah percaya sama aku."


***


Perlahan Keynara mengerjapkan matanya, dan saat matanya sudah terbuka lebar, satu senyuman mengembang indah diwajahnya. Menatap dalam wajah Genando yang masih terlelap bahkan tak terusik sama sekali ketika Keynara memberanikan diri untuk menelurusi lekuk wajah kekasihnya dengan jarinya.


Tidur berdua bukanlah bagian dari rencana Keynara, semalam saat dirinya mengijinkan Genando menemaninya, dia berniat untuk menyuruh Genando tidur di kamar Tamu, bukan di kamarnua. Tapi entah apa yang membuat dirinya berubah pikiran, dan entah apa yang membuat dirinya senekat itu, dirinya justru menahan Genando saat hendak keluar dari kamarnya, lantas menyuruh genando menemaninya.


"kamu mau kan temenin aku tidur disini?." ajaknya pada malam itu.


Keynara larut dalam ingatannya semalam, dan mengingat itu, membuat Keynara malu sendiri, hingga tanpa sadar pergerakkannya justru membuat Genando terbangun.


"pagi." Sapanya serak, suara khas bangun tidur yang cukup terdengar indah ditelingan Keynara.


"pagi." Balasnya lembut, tidak lupa memberikan seulas senyum yang mengembang diwajah cantiknya.


Dengan satu tarikan, Genando berhasil merengkuh tubuh Keynara. Memeluknya erat hinga menenggelamkan wajah kekasihnya itu didada bidang. "ini hari sabtu, haruskah kita menghabiskan waktu seharian dirumah?" Saran Genando pada Keynara.


"kamu lupa kalau mamah kamu nyuruh aku main hari ini??"


Genando menghela nafasnya pelan dengan semakin mengeratkan pelukannya. "masih mau sama kamu."


"jangan aneh-aneh deh, lagian kan kamu juga ikut kerumah."


Genando melepaskan pelukannya pada Keynara, lalu sigap menatap kedua netra kekasihnya itu. "kalau dirumah kamu pasti asik ngobrol sama mamah. Aku dilupain." Gerutunya manja.


Keynara hanya terkekeh geli melihat tingkah lelaki itu. Memang kalau sudah berkunjung ke Tante Maira, dia suka lupa dengan Genando. Apalagi Tante Maira selalu saja ada bahan obrolan dan juga suka mengajak Keynara untuk belajar berbagai menu masakan baru.


"Udah ah, Aku mau mandi, habis itu buat sarapan." Ujaranya mwngakhiri kegiatan yang ada. Kalau Keynara tidak bergerak duluan, sudah pasti sampai siangpun posisi mereka masih sama.


***


Genando dan Keynara menyelesaikan sarapannya dengan tenang, setelah itu Keynara beranjak untuk membersihkan piring kotor terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan pergi. Dan Genando? laki-laki itu kini sudah beralih menyibukkan diri dengan ponselnya sembari menunggu Keynara, bahkan kini dia terlihat sedang menerima panggilan dari seseorang.


Keynara sempat menoleh saat mendengar Genando bebrbicara dengan seseorang yang ada disebrang sana, tapi tak lama dia kembali fokus dengan cucian piringnya, tanpa terlalu memperdulikkan Genando yang sedang meneeima telpon.


Mungkin urusan pekerjaan. Begitu pikirnya.


"Kau yakin?" Tanya Genando pada orang yang tengan berbicara dengannya melalui telpon.


"Saya yakin pa. Dia bahkan sudah merencanakan itu setelah pertemuannya denganya." Jawab lelaki disebrang sana.


Genando menghela nafasnya kasar, lalu berniat melontarkan pertanyaan yang muncul dikepalanya. "apa ada kemungkinan dia datang??" Tanyanya lagi memastikan.


"Dia bisa datang kapanpun Pak, dia bahkan sudah memegang semua informasi dan tahu betul dengan jadwal kegiatannya." Papar lelaki itu. "Bapak jangan sampai lengah. Dia lebih buruk dari sebelumnya, sekarang dia justru semakin terobsesi." lanjutnya lagi dan berhasil membuat rasa khawatir itu tumbuh di dalam diri Genando.


Genando mengusap wajahnya kasar, lalu pandangannya beralih pada Keynara yang sudah selesai mencuci piringnya.


"akan aku hubungi lagi." Putusnya lalu mengakhiri telponnya.


"Urusan pekerjaan?"


"Hmm, progres exhibition di Surabaya." bohongnya. "Kita jalan sekarang?"


"iya, Eh sebentar." Selanya ketika sadar jika ponselnya tidak ada. "kayaknya ponsel aku ketinggalan dikamar, sebentar ya." Ujarnya lalu beranjak pergi menuju kamarnya.


Hanya selang beberapa menit saja untuk Senna mengambil ponselnya. "yuk." Ajaknya lalu melangkah terlebih dahulu dan diikuti oleh Genando yang ada di belakangnya.


Mereka bersiap untuk menepati janjinya yaitu pergi kerumah Maira. Seseorang yang sudah seperti ibu kedua bagi Keynara.


Keynara menundukkan wajahnya untuk merogoh tasnya, mencari keberadaan kunci rumahnya yang sempat ia taruh didalam tasnya. Setelah merasa tangannya mendapatkan apa yanh dia cari, wajahnya kembali terangkat untuk menatap kedepan, namun saat dirinya mengarahkan wajah dan pandangannya kedepan, langkahnya terhenti, membuat Keynara terpaku diam tak melanjutkan langkahnya.


Genando mengernyitkan dahinya ketika melihat oergerakkan langkah kekasihnya itu terhenti, arah pandang Genandopun menjuru kedepan, membuat dirinya ikut terpaku dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dia bisa melihat sosok orang yang membuat kekasinya itu membeku ditempatnya.


Samuel!


"Hai Nara." Sapanya tanpa merasa canggung.


Dengan sigap Genando melangkah kedepan, berdiri sejajar dengan Keynara lalu menggenggam tangannya erat.


"oh, hai Do. Kita bertemu lagi disini." Lanjut sapanya.


______________________


to be continue ~


aku gantung dulu biar penasaran heheh