Starting From Saturday Night

Starting From Saturday Night
1 - Rutinitas karyawan



Pagi ini jalanan terlihat sangat macet, tidak seperti biasanya. Entah apa yang sedang terjadi di jl. sukma itu. Keynara, wanita berumur 24 tahun itu bergegas lari setelah keluar dari taksi yang di tumpanginya.


"mba ongkosnya". teriak supir taksi lantang.


**astaga kenapa dia bisa lupa. malunya !. **


keynara kembali menghampiri supir taksi itu dan mengucapkan kata maaf ketika hendak pergi begitu saja. "Maaf pa saya lupa. buru-buru soalnya." ujarnya tak enak


keynara berkali kali menatap arlojinya dengan berlarian kecil, untung saja dia tidak harus menunggu lama sampai lift tiba. "Sial. Gue telat 10 menit." Umpatnya.


Setelah sampai dikantor dan berhasil mencapai lantai 3, beberapa karyawan lainnya yang satu divisi dengan Keynara langsung memberitahukan sesuatu dengan wajah gusar.


"Key buruan keruangan bos, nyariin lo dari tadi tuh. Nanyain revisi design yang kemarin


" Ujar Tita yang merupakan sahabat keynara sejak mereka SMP.


Keynara mengangguk pelan, dia gugup setengah mati, tasnya ia taruh disembarang tempat, kemudian mengambil map berisikan beberapa design yang dimaksud si bos kemudian berlari kecil untuk keruangannya. untung saja Keynara sudah menyiapkannya dari kemarin, jadi disaaat genting seperti ini, ia tidak perlu repot repot mencari berkas yang dibutuhkan.


Setibanya didepan ruangan direktur, keynara menghela nafasnya pelan, membaca beberapa potongan ayat, berharap bosnya itu tidak mengomelinya habis habisan seperti yang pernah dilakukannya kepada Keynara beberapa hari yang lalu. "Permisi pa." Ujarnya sedikit takut.


"Maaf pa saya-"


"Telat 15 menit. Hm?" Katanya to the point. "again and again keynara, selalu saja kamu telat. dua hari yang lalu kamu kesiangan, kemarin mobil kamu mogok dan masuk bengkel. Sekarang?"


"Macet pa. Tapi sumpah pa tumben banget hari ini macet, saya aja gatau kenapa bi-" Belum sempat melanjutkan pembicaraanya, Genando Ansel Abraham selaku direktur perusahan G group ini memotong pembicaraannya. Keynara pun juga tersadar bahwa saat ini bukan saatnya curhat tentang kemacetan, apalagi dengan Genando yang terkenal devil ******. dia bos kamu bukan temanmu.


"Saya tidak mau tau". Ujaranya menekankan. "saya bisa saja menyuruh bagian HRD untuk kasih kamu SP satu karena selalu telat." lanjutnya dengan wajah datar namun menatap tajam ke arah keynara.


Menunduk lesu. "Maaf pa."


"Mana designya?"


"Ah Iya, ini pa". Ujarnya kemudian memberikan map nya.


Genando mengamatinya dengan seksama, kemudian melirik sekilas kearah keynara. Dia yang melihat itu semakin deg degan, bukan karena kena serangan cinta ,tapi deg degan takut kena serangan jatung. Bisa jadi bos nya saat ini akan mengomel tidak jelas dan memintanya untuk merevisi lagi.


Melempar pelan mapnya diatas meja. "oke ini sudah cukup". Ujarnya membuat keynara lega. "beruntung revisi kali ini saya suka."


"Bagaimana soal tempat, dan sponsor?" tanyanya lagi


"Untuk tempat semuanya sudah oke. Dan menurut bagian GA Kita juga dapat pengurangan harga pa. Dan untuk sponsor semuanya sudah oke. Semuanya sudah setuju untuk mensponsori event kita pak". Paparnya


"Oke kalau gitu kamu boleh keluar."


"Baik. Saya permisi." Pamitnya kemudian keluar dari ruangan genando.


Keynara menghempaskan tubuhnya dikursi. Menghela nafas lega. Dan setidaknya bosnya hari ini tidak se devil seperti hari hari sebelumnya.


"Diomelin gak?" Tanya tita penasaran


Awalnya menunjukkan wajah sedih, tapi sesaat berubah cengengesan. "Gak dong, cuma kena semprot dikit gara gara telat."


"Semprul." Ujar Tita menjitak kepala keynara.


"Ra. Nih." Tita memberika coklat silverqueen dengan pita berwarna pink.


keynara benci warna pink.


"Idih. Gue masih normal ya." Katanya bergidik.


Mendengus kesal. "Hadeh, ini tuh dari Marko. Tadi dia kesini, tapi belum dateng lo nya..jadi di titipin ke gue."


"Buat lo aja." Tolak keynara


"Ck. Belagu amat lo mbak. Jomblo udah 1,5 tahun tuh gak usah muna. Syukur syukur masih ada yang naksir. Gak kayak gue." Ujarnya sedih diakhir kalimat


"Yaudah kalo gitu lo gebet aja tuh marko." Perintah keynara


Tita menggerakan jari telunjuknya. "Saya sih no ya. Mendingan gue jinakin pak genando." Ungkapnya tanpa malu. Padahal diruangan ini masih ada 3 orang lagi, mas eko, pak rafid dan mba vira. Tapi mereka sudah tidak heran dengan kelemesan tita, bahkan mas eko yang sekarang namanya diganti menjadi eka, suka ikut meng halu dengan tita jika sudah membicarakan genando. Sebenarnya diruangan divisi kreatif ini ada 6 personil yaitu keynara, tita, vira, eko, rafid dan tama. Namun saat ini tama sedang cuti.


"Kenapa lo? Gak seneng banget deh kalau gue ngomongin my prince ganando."


Mendesah pelan. "Bukannya gak suka. Gak mungkin banget gitu seorang genando tertarik sama lo yang petakilan gini, lagian kenapa sih karyawan disini tuh meng agung agungkan banget."


"Heh." Sela mas eko. "My devil prince eke itu tampangnya memang garang tapi baik ,hatinya lembut selembut kain sutra. Ya kan cyiin? Tanyanya ke tita.


"Ember cyiiin." Balas tita dengan ala melambai.


"eko sama tita udah gila ra, gak usah diladenin." Celetuk vira


"Ye panggil eke apa tadi? Eko? Siapa eko? Panggil eke eka. Oke!"


Keynara dan vira hanya memandang jengah, sedangkan tita dan eko malah melanjutkan membicarakan genando.


Gue berharap genando datang keruangan ini. Skakmat mereka ke gep ngrumpi. Gumam kinara yang di angguki vira.


 


Keynara bersenandung pelan. Saat ini dia sedang membuat coklat panas kesukaannya dan mochacino titipan mba jadi jadian. Mas eko


"Hey ra". Sapa marko yang sedang membawa gelas kotor ditangannya.


"Oh hai". Jawabnya seperlunya


"Emm.. udah terima coklat dari gue?"


Mampuss coklatnya tadikan di abisin sama mas eko. "Em.. ya.udah habis malahan. Thx ya."


"Memangnya kenapa?" Tanyanya ragu. Jangan bilang dia mau ngajakin jalan


"Suka marvel?" Tanyanya membuat keynara bingung


"Ya. suka banget malahan."


Marko menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. "aku. Ekhm. Gue maksudnya, udah beli 2 tiket nonton spiderman jam 7. Gimana bisa kan?"


******!. "Emm gimana yah." Keynara tidak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa? gak bisa ya?" Sela marko, namun memasang tampang melas.


Sebenarnya keynara sudah sangat ingin nonton film itu. bahkan tidak punya teman untuk diajak nonton karena sepulang kerja tita sibuk untuk menemani ayahnya yang sedang dirawat dirumah sakit.


Tapi tidak ada salahnya bukan menerima ajakan marko. Gratis pula. Jadi keynara tidak perlu mengeluarkan uang jajannya. "Oke jam 7." Ujarnya meng iyakan.


"Oke gue tunggu di lobby sepulang kerja". Katanya sumringah. "Bye." Ujarnya lagi


"Ya. Bye."


Keynara menaruh segelas mochacino hangat. "silahkan pesanannya tante." Ujarnya membuat mas eko senang


"Makasih dede cantik. Tante doain kamu bentar lagi dapat jodoh kaya raya, ganteng, hot. Bikin kamu maunya didalam kamar terus. Arghh." Ucapnya membuat geli keynara


"Duh. Aku mah gak mau doa itu. Doain akutuh biar cepet kaya, tajir melintir, duit gak habis sepuluh turunan..lebih sultan dari anak sultan." Protesnya


"Lah itu kan udah eke doain dapet yang kaya."


"Tapi tetep aja beda dong tante. Kalau aku yang kaya, aku bisa gaet siapapun yang aku mau. Termasuk yang hot dan ganteng. Ya kan mba vir?" Tanyanya ke vira yang sedang serius membuat konten promosi untuk produk baru G Group.


"Ember, jangan kayak gue, dapat laki blangsak banget. Tiap hari pulang kerjaannya ngeluh. Dikira dia doang yang capek apa. Lah gue bininya juga cape. Yakan tit?" Kini kembali bertanya kepada tita.


Bukan hal yang biasa kalau vira curhat tentang suaminya yang katanya blangsak itu.


"Alah ,blangsak blangsak. Gitu gitu juga cinta mati. Mba vir lupa pas diputusin nangisnya sampe 40 hari. Kayak memperingati hari kematian". Kini eko dan keynara tertawa terbahak bahak.


"Ya kan gitu gitu orang yang gue sayang, kadang suka kasian dia kerja sampe larut buat nyenengin istri,biar bisa belanja barang branded. Makanya gue paksa buat nikahin gue, kalau gak, nanti putus lagi nyambung lagi nanti putus lagi, bubar kan berabe. Yeekan." papar Vira, dan untungnya saat ini rafid tidak ada di ruangan, karena kalau ada, bisa bisa vira diceramahi. perlu diketahui, rafid adalah seorang suami ber anak 2 ber istri 1 yang sangat agamais.


"Drama banget ya kisah cintanya. Kayak eke dong langgeng sama jodoh". Bangga eko.


Keynara mencolek pipi eko dengan genit. "Iya setia ya. Setiap tikungan ada. Buktinya pak genando,marko, tama,renald, hampir semua cowo cuco dikantor ini di godain."


"Itu cuma sampingan aja beb. Biar hidup itu penuh warna. Gak black and white kayak you".


"Idih". Kesal keynara kemudian duduk dikursinya. "Udah ah, mari kita kembali kuli lagi. Cari duit yang buat jalan jalan".


"Yuk mari kuli". Jawab eko,tita, dan vira sevara bersamaan. Deadline minggu ini benar benar membuat divisi kreatif merasa pusing.


Lobby Kantor


"Udah lama ya nungguin?" Tanya marko ketika menghampiri keynara yang tengah duduk di lobby menunggu marko.


Tersenyum singkat. "Gak. Baru 5 menit".


"Yuk." Ajak marko


Suasana hening menyelimuti keynara dan marko. Keynara tidak tau apa yang mau dibicarakan. Keynara hanya asik mendengarkan lagu dari radio mobil kemudian sedikit bernyanyi pelan ketika beberapa lagu yang disukanya diputar.


"Suka lagu lagunya Adele?" Tanya marko membuka pembivaraan


"Ya." Jawa keynara singkat.


"Ra?" Panggilnya lagi


"Hm." Jawabnya kemudian menoleh menatap marko


Menggeleng pelan. "Gak. Gajadi, nanti aja."


Keynara hanya mengguk pelan. Tak begitu memperdulikkan ataupun penasaran dengan apa yang ingin marko sampaikan.


Setelah sampai, tidak banyak juga yang mereka bicarakan. Keynara dan marko langsung menuju bioskop. Marko memberikan tiketnya kepada keynara, sementara itu dia pergi untuk membeli minum dan popcorn. Namun saat itu dia juga melihat bos devilnya bersama perempuan.


"Yuk. Udah buka bioskopnya". Ajak marko membuyarkan pikiran keynara.


Baik marko maupun keynara sama sama hening, menikmati film yang sedang tayang. Sebenernya ada beberapa saat ketika keynara sadar jika marko memperhatikannya dari samping. Namun keynara pura pura untuk cuek saja meskipun sebenarnya sedikit risih.


"Ra." Panggilnya pelan


Keynara menoleh, dan saat menoleh, keynara mendapati wajah marko yang sudah dekat. Mereka duduk dikursi barisan A. Dimana diatas tidak begitu penuh.


Keynara merasa gugup. "Ada apa?" Tanya berbisik


Menggenggam tangan keynara. "Aku suka kamu ra." Dengan spontan marko mengungkapkan perasannya


Sial. Gue gak berpikir ini bakalan kejadian. Batin keynara


"tapi ko." Jawabnya ragu. Ini bahkan lebih sulit menjawab pertanyaannya dari pada bos devil mencecarnya dengan berbagai pertanyaan pekerjaan.


"Kamu gak usah jawab sekarang." Ujarnya lembut. "Aku kasih kamu waktu. Meskipun aku berharap kamu jawab sekarang dan bilang iya. Tapi aku gak akan maksa kamu."


"Ekhm..sorry ya gue gak bisa jawab sekarang." Marko mengangguk tersenyum, melepaskan genggamannya dan melanjutkan menonton.


Keynara saat ini justru sudah tidak fokus menonton. Karena pikirannya sudah kacau karena pernyataan marko. keynara hanya berharap ini cepat selesai.


Oh.. god bagaimana aku ngejalanin beberapa jam kedepan bersama marko? Batik keynara berteriak.