
Dorr! Dorr! Dorr!
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara tembakan dan bogeman dari Haikal menggelengar disebuah ruangan, mengisi sunyinya malam.
Haikal kini tengah sibuk melampiaskan semua amarahnya kepada orang orang suruhan Tsugayo yang menyerang anak anaknya.
"Lo marah banget ya?"
Hamdan sejak tadi duduk manis sambil menikmati rokok dan pemandangan didepannya, melihat Haikal yang tengah mengamuk tentu saja. Kini dia bersuara setelah melihat abangnya hampir selesai menyiksa orang orang tersebut
Namun tidak ada jawaban keluar dari mulut Haikal yang masih melampiaskan amarahnya
"Marah karna anak anak lo diserang? Atau marah karena takut dijadikan pelampiasan bos lo?"
Kini Haikal menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap kearah Hamdan
"Sebelum gue dibakar idup idup, gue harus menuntaskan amarah gue sendiri"
Setelah jawaban yang keluar dari mulutHaikal, dia lanjut memukuli mereka mereka yang sudah tidak berdaya itu
"Anak gue disiksa mereka! Karena Jinny!"
"Bajingan!!"
Haikal kembali mengeluarkan amarahnya, sebelum memulai kegiatannya tadi, dia sempat mengecek cctv di kamar Jimin karena pihak rumah sakit memberi kabar kalau Jimin ditemukan pingsan penuh darah dilantai.
Tentu saja semua hal yang terjadi disana langsung diketahui Haikal tanpa terlewat sedikitpun. Rasanya hatinya seperti hancur lebur melihat anaknya tadi
"Lo udah ngerasa jadi orang tua ternyata Kal.. hahaha"
Suara tawa Hamdan membuat Haikal semakin brutal dan menghabisi nyawa orang orang tersebut tanpa tersisa satu pun
"Bukan.."
"Gue ga ngerasa jadi orang tua.."
Haikal melemparkan pistolnya, lalu duduk disamping hamdan dan menyesap rokok sejenak
"Maksud lo?!"
"Gue gamau calon mainan gue lecet"
Mulut Hamdan menganga tapi kemudian langsung menutupnya, wah siapa sangka otak Haikal ternyata tidak setulus yang dia lihat. Abangnya yang satu ini sangat diluar dugaan
"Wah.. si anying!"
"Gue kira lo beneran tulus"
Haikal tertawa kecil mendengar penuturan adiknya yang barusan
"Gue pengen ngerasain jadi sugar daddy. Ya hitung hitung bayaran karena selama ini gue yang udah ngebesarin mereka"
"Sug- wahh- wahh- kata kata gue habis bang"
"Apalagi body Uchi, tiap hari gue hampir gila kalo liat body dia"
"Montok?"
Haikal lalu membuka kepalan tangannya dan membentuk mangkok
"Agak besar dikit dari standart gue, jadi udah pasti puas"
"Udah pernah lo cicip emangnya?"
Haikal menggeleng pelan dan melemparkan rokoknya
"Bentar lagi..."
"Gue udah merelakan masa muda gue buat ngurusin 3 bocil yang cuma dijadikan bayangan sama bos gue, jadi gue harus ngambil reward masa tua gue sekarang"
"Reward apaan hahaha.. itu bukan reward, itu namanya investasi masa depan"
"Ya..bener.. investasi masa depan"
"Emang pak Jihoon bakal ngizinin?"
"Justru itu adalah syarat perjanjian kita"
Mulut Hamdan kembali menganga, dia sungguh kehabisan kata kata kali ini
...
Jihoon keluar dari gedung tempat dia membunuh Tsugayo tadi, lalu melihat Haikal yang sudah menunggu didepan mobil. Dia berjalan mendekati Haikal, membuat pria itu langsung menunduk
"Maafkan saya pak! Saya kecolongan!"
"Tidak masalah, kita kan ada ditempat yang sama tadi", ucap Jihoon lalu menepuk pundak Haikal beberapa kali dan membuat lelaki itu mengangguk
"Kita langsung pulang kerumah pak?", Tanya Hamdan
"Iyaa, istri saya sudah menunggu"
Mereka kemudian masuk kedalam mobil, Hamdan Haikal duduk di depan, sementara Jihoon duduk dibelakang
Jihoon merenggang kan dasinya, sungguh lelah dia hari ini, ditambah lagi istrinya yang memintanya untuk cepat pulang, kepalanya terasa sangat pusing sekarang
"Ada kabar terbaru Kal?"
Haikal mengangguk ragu
"Ada apa Kal?", Kali ini Jihoon memajukan tubuhnya mendekati kursi kemudi
"Ini pak", Hamdan kemudian memberikan tab yang berisikan rekaman cctv dikamar Jimin
Jihoon kembali memijit keningnya, kepalanya terasa berdenyut karena menahan amarah, sungguh dia pasti akan sangat lelah hari ini.
"Kamu mengizinkan anak anak itu mengikuti kelas model?"
"Jinny juga meminta.."
"Tapi saya tidak memberi izin"
"Saya menemukan informasi bahwa Jinny mengalami perdebatan panjang dengan Jimin, Laura dan Uchi karena sudah tahu kalau mereka bertiga akan debut model beberapa bulan lagi"
"Tunda debut mereka. Jinny akan debut terlebih dahulu.."
"Tapi agensi dan mereka bertiga sudah menandatangi kontrak pak"
"Jinny akan debut lebih dulu.. bulan depan. Atur semuanya Haikal, Jinny akan sangat senang mendengar ini"
"Baik pak"
Hening beberapa saat setelah pembicaraan terakhir mereka, kemudian Jihoon kembali bersuara
"Uchi.."
Haikal dan Hamdan memasang telinga masing masing saat mendengar nama Uchi disebutkan Jihoon
"Setelah dia sembuh, antarkan dia pada saya ke mansion lama"
'bakalan kalah start gue! Anj*ng emang!'
"Baik pak", Haikal menjawab cukup lama membuat Jihoon tertawa
"Perjanjian untuk kamu hanya satu dari tiga anak itu Kal, sisanya itu milik saya. Termasuk Jimin.."
Haikal menganggukkan kepalanya tanda mengerti
"Sudah kamu sentuh?"
"Belum pak, tapi mereka sering tidur dikamar saya. Benar benar hanya tidur"
"Kenapa belum?"
"Nunggu 17 tahun pak"
Jihoon kembali tertawa geli
"Kalau begitu.. Jimin untuk kamu saja, biar Uchi untuk saya. Saya cuma mengambil yang pertama, setelahnya bisa kamu pakai sepuasnya"
"Terima kasih pak", Haikal tersenyum senang dengan pandangan lurusnya
Sementara Hamdan menelan ludah mendengarkan percakapan ambigu ini, ternyata ada seorang ayah yang memberikan anaknya kepada orang lain seperti barang
"Hamdan kalau mau cicip harus kamu kasih Kal"
"Kalau dia berani pak", jawab Haikal menyeringai sambil menoleh kearah adiknya
...
Jihoon turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju rumahnya, sangat sepi. Biasanya akan ada Jinny yang berteriak menyambutnya pulang lalu berlari memeluknya, kini gadis itu masih dirumah sakit
Jihoon melangkah masuk kekamar, dia mendengar suara gaduh dari dalamnya. Jihoon membuka pintu kamar, terlihat berantakan, banyak barang pecah dimana mana, dan istrinya yang sedang mengamuk melemparkan semua barang yang ada
Jihoon memeluk dan melempaskan vas bunga dari tangan istrinya
"Ini semua juga karna kamu! Kalau kamu ga selingkuh! Kalau kamu ga jajan diluar sana! Gadis itu ga akan pernah ada didunia ini!"
Minji meluapkan semua amarahnya didalam pelukan suaminya, dia terus memukuli dada Jihoon sambil menangis
Jihoon menarik tengkuk Minji dan ******* bibir istrinya yang sudah bengkak karena menangis itu, awalnya memang memberontak, tapi semakin lama semakin lemah gerakan Minji dan akhirnya tenang lalu memeluknya
"Maafkan aku sayang... Kita kan udah bicarain ini, udah ada perjanjiannya juga kan, kamu ga perlu takut, aku ga bakal ngulangi itu lagi"
"Dia mau ngambil posisi Jinny! Kamu ga kasih Jinny izin untuk debut menjadi model! Tapi kamu izinin anak ****** itu untuk debut!"
Jihoon menggeleng saat Minji mengatakan semua itu dan melepaskan pelukan mereka
"Ngga apanya?! Kamu beneran sayang ga sama Jinny sih mas?!"
"Aku udah atur debut model untuk Jinny, bulan depan"
Minji terdiam menatap suaminya yang barusan mengatakan kalimat yang sudah ditunggunya dan Jinny sejak lama
"Beneran sayang, semua bakal diatur Haikal dan Hamdan, kamu tenang aja"
Minji masih belum bergerak sama sekali, sulit baginya untuk percaya kepada siapa pun saat ini
"Debut Jimin, Laura dan Uchi bakal ditunda, digantikan Jinny, percaya sama aku sayang", ucap Jihoon memelas
"Beneran? Ga cuma karna nenangin aku kan?"
"Beneran sayangku", Jihoon membawa kembali istrinya kedalam pelukannya
"Aku gamau Jinny dilangkahi sama anak haram seperti mereka"
Tidak ada jawaban dari Jihoon, dia menggendong istrinya ke kamar tamu karna sangat sangat tidak memungkinkan tidur dikamar mereka sendiri yang sudah tidak berbentuk kamar
Jihoon meletakkan istrinya diranjang dan mengukungnya, dia menciumi bibir dan leher Minji
"Aku sangat lelah hari ini sayang.. Tolong berikan aku energi kamu", Suara berat Jihoon menjadi kalimat terakhir yang terucap malam itu sebelum mereka melaksanakan malam yang panjang
...
Haikal masuk ke apartemennya dengan baju penuh darah dan tangan penuh luka.
"Sudah jam 2 pagi?",
Suara berat Haikal terdengar melewati ruang tengah menuju dapur, dia sedikit minum wine tadi diluar bersama Hamdan. Haikal membuka kulkas dan menenggak wine langsung dari botolnya, 'sudah pukul 2 pagi, anak anak pasti udah pada tidur' begitulah pikirnya
"Arghh.. badanku.."
Haikal memutar tengkuknya merasakan tubuhnya seperti remuk, dia membuka 3 kancing kemejanya dan kembali menengguk wine hingga kesadarannya mengambang dan duduk dibelakang sofa ruang tengah
"Ayah?"