Sorry, I Did

Sorry, I Did
Eps 18 - Atmaqueto Family's



"Gimana?"


Uchi menghampiri Laura yang baru saja keluar dari apartemen Windy, lalu memberikan air minum pesanan Laura tadj


"Tadi kak Xavier dateng, katanya dia bisa ngejamin Windy"


"Kak Xavier? Ah iya gue tadi liat dia masuk juga"


"Keknya dia takut banget deh sama abangnya, mukanya langsung pucat gitu"


"Ya bagus deh, biar abangnya yang ngasih pelajaran"


...


Plak!


"Bang.. maaf.."


Plak!


"Bang.. ampun bang!"


Xavier menyeret adiknya dari kamar ke kamar mandi dan langsung diguyur air dingin, dia juga beberapa kali memberikan tamparan ke Windy. Amarah Xavier sedang berada diatas ubun ubun kepala sekarang


"Lo tau? Gara gara perbuatan bodoh lo itu kasus gue juga ikut terbongkar! Sialan!"


Plak!


"Bang ampun.."


Xavier mengangkat dagu Windy dengan keras hingga memperlihatkan sudut bibir adiknya yang sudah berdarah.


"Gue sayang banget sama lo dek, tapi kalo gara gara kelakuan elo kasus yang bertahun tahun gue tutupin itu kebuka, lo bakal mati ditangan gue sendiri"


"Maaf bang.. maaf."


"Jangan pernah ganggu Jinny lagi kalo lu gamau keluarga kita musnah karena dia"


Windy mengangguk pelan, kemudian dia merasakan dirinya terhuyung kedalam bathtub. Xavier pergi meninggalkannya sendirian dikamar mandi


Windy menangis sesegukan, kini dia yakin kalau ini adalah kesalahan besar. Abangnya ga akan mungkin marah besar kalau bukan menyangkut sesuatu yang memang fatal.


"Jinny sialan!"


...


Beberapa tahun lalu, Hamdan sedang mencoba penemuan barunya dibawah tanah yang kebetulan lokasinya dekat dengan ruang bawah tanah milik keluarga Atmaqueto


Setelah berhari hari tikus robot mini milik Hamdan menggali sekeliling rumah, dia menemukan suatu tempat ruang bawah tanah yang penuh dengan tengkorak. Hamdan kemudian tertarik dan menanamkan kamera dan mic disetiap sudut ruangan bawah tanah itu dengan bantuan tikus robot mini miliknya.


Hampir seminggu Hamdan tidak memiliki nafsu makan setelah melihat adegan adegan keji yang dilakukan keluarga psikopat itu. Rata rata korban mereka adalah perempuan, 3 orang dari korban nyonya Atmaqueto itu berhasil diindetifikasi Hamdan


Haikal sendiri tidak mengetahui kejadian ini karena saat itu dia sedang sibuk dengan urusan diluar negeri


...


Plak!


"Kenapa kamu lamban sekali belakangan ini Kal? Saya mulai kecewa dengan kinerja kamu! Kalau saja Hamdan tidak bertindak cepat, sudah saya pastikan kalian tidak bernafas lagi hari ini"


Pipi Haikal memanas dan nyeri setelah mendapat tamparan dari bos nya, ah sungguh dia terlambat kali ini. Tapi memang benar, kalau saja tidak ada Hamdan yang menangani ini mungkin bukan tangan yang mengenai wajahnya, melainkan tongkat baseball.


"Maafkan saya pak!"


"Kamu baru dikasih mainan sebentar tapi sudah mulai lupa dengan tanggung jawab! Lihat ini! Sampai Jinny sendiri turun tangan karena kamu yang lamban!"


Tak ada jawaban dari Haikal, dia hanya bisa berdiri disana menerima hukuman dan mendengarkan segala ocehan amarah bosnya. Huh! Ini pertama kalinya dalam pengalamannya bekerja dengan Jihoon, biasanya dia tidak pernah dimarahi begini


...


"Sakit bang?"


"Geli!"


Hamdan mengolesi salep disudut bibir abangnya sambil geleng geleng kepala


"Lagian lu sih bang, ga pernah pernah begini, image lu turun tau bang"


"Thanks ya dek, kalo ga ada elu keknya gue udah jadi Haikal geprek"


"Cewe itu yang minta?"


Haikal mengangguk pelan sambil menyeringai


"Bego banget si lu!"


"Gapapa santai, lu istirahat aja. Gue bakal sikat habis kerjaan lu malam ini juga, gue pengen minum nih"


"Oke deh, thanks ya bang, pas banget gue juga lagi stress"


...


"Jiminnn!!!"


Jimin merentangkan tangannya dan berlari memeluk Jinny diruang tengah


"Lo kemana aja? Kenapa ga ngabarin gue? Lo gapapa kan? Lo udah sembuh kan? Mana yang sakit? Bilang ke gue biar kita berobat!"


"Ssttt! Satu satu dong Jin jangan keroyokan gitu, gue udah sembuh. Ayah ngerawat gue bener bener sampe di isolasi total"


"Ayo kekamar, cerita sama gue"


Jinny membawa Jimin kekamarnya dan berakhirlah mereka bertukar cerita hingga hari mulai gelap. Jinin menceritakan dongeng kepada Jinny tentang kemana dia selama ini, sedangkan Jinny menceritakan semua fakta yang dia tahu kepada Jimin dengan polosnya.


...


Laura dan Uchi yang sudah lelah dengan photoshoot hari ini memasuki apartemen dengan langkah pelan, mereka berjalan kedapur untuk mencari air minum. Tapi tiba tiba


Byurr!


"Anjir! Uchi!! Apa apaan lo! Basah ini woy!"


Uhuk uhuk!!


"Ra.. belakang..", ucap Uchi yang tersedak sambik menunjuk ke belakang Laura


"Hah?"


"Belakang lo!"


Laura menoleh kebelakang dan mendapati Jimin yang berdiri dengan senter dibawah wajahnya menghadap ke atas


"Setan!! Jimin setan!!"


Hahahaha!


"Haii guys! I comeback!"


"Lo darimana aja setan?! Gue kangen!!"


Dan malam itu diakhiri dengan 3 saudara yang berpelukan disana. Haikal sendiri tidak pulang malam itu, dia lebih memilih tidur diapartemen Hamdan, membiarkan gadis gadis itu memiliki space mereka sendiri


...


Arkan menyesap wine langsung dari botolnya, kini dia sedang ada dikamar bersama Xavier yang sejak tadi menangis karena sudah memukuli adik kesayangannya.


"ngapain lo pukul kalo emang lo nyesel, bego!"


"gue marah banget tadi Kan! Gue bisa gila gara gara kasus itu tercium!"


"sama sih! Gue juga! Ga nyangka tu cewe emang cerdik banget. Tapi lo tenang aja, gue bakal jinakin dia supaya tutup mulut"


"lo yakin bisa?"


"bisa, dia nurut banget sama gue"


Xavier membuka bajunya lalu merebut wine dari tangan Arkan dan menengguknya hingga habis


"gue bakal perhatiin Windy, jangan sampe gara gara dia kita masuk penjara"


"oke deal! Tugas kita balance!"


Arkan mengambil lagi wine yang baru, menyesapnya pelan dari gelas, muncul lagi diingatannya saat saat itu.


Keluarga Atmaqueto adalah keluarga psikopat tingkat atas, tuan dan nyonya Atmaqueto memiliki darah psikopat yang sudah ada sejak turun temurun dikeluarga Atmaqueto


Arkan dan Xavier pernah bertaruh untuk mendapatkan seorang gadis dan menghamilinya. Seorang gadis bernama Bella yang jatuh cinta dengan Arkan, mengikuti semua ucapannya tanpa ragu, bahkan memberikan mahkotanya kepada Arkan. Tapi Arkan sangat pencemburu, dia melarang Bella dekat dengan lelaki lain


Hingga suatu hari dia memergoki Bella sedang berduaan dengan Xavier dirumah Xavier, sebenarnya mereka mengerjakan tugas kelompok dan tidak sedang berdua, ada Geisha dan Dinar juga tapi mereka berdua sedang pergi mencari snack.


Karena cemburu buta Arkan memp..erkoas Bella disana, dirumah Xavier dan dihadapan Xavier juga untuk membuktikan bahwa gadis itu adalah miliknya. Awalnya Xavier mencoba menghentikannya, tapi gagal karena tenaga Arkan sangat kuat


Setelah melakukannya dengan keji, Arkan meninggalkan Bella yang sudah pingsan begitu saja disana. Sejak kejadian itu, Bella semakin menuruti kata kata Arkan, tapi Xavier yang sudah melihat tubuh Bella diam diam ambil kesempatan


Xavier sering melakukannya dengan Bella diam diam jika ada kesempatan, hingga akhirnya hamil. Tidak diketahui anak siapa itu, Bella meminta pertanggung jawaban kepada Arkan, tapi justru dia kembali digempur hingga pingsan


Tak menyerah, Bella datang kerumah Xavier, mereka berdebat diruang tengah dan berakhir digempur habis habisan oleh Xavier, bahkan lebih brutal daripada Arkan. Tapi nasib malang, Geshia dan Dinar datang kesana memergoki Bella yang sedang disiksa bahkan setelah pingsan


Karena sudah kepergok, Xavier menyeret dua gadis itu kekamarnya dan menyiksa mereka dikamar mandi. Geshia dan Dinar diguyur air dingin dari shower dan dikurung disana


Nyonya Atmaqueto pulang lebih cepat hari itu dan melihat semuanya dari kejauhan, hingga saat Xavier menyeret 2 gadis itu, nyonya Atmaqueto menyeret Bella keruang bawah tanah dan disiksa disana. Dia juga menyuruh Xavier membawa 2 gadis yang lain itu keruang bawah tanah untuk menjadi mainannya


Butuh waktu 2 minggu hingga akhirnya 3 gadis itu benar benar dinyatakan tidak bernyawa, tak hanya diperk.oas, mereka juga dipukuli, disiksa, hingga dimutilasi hidup hidup oleh keluarga psikopat itu


Arkan mengetahui ini semua langsung dari mulut Xavier, tapi dia memilih diam dan tidak ikut campur daripada harus masuk ke penjara. Bahkan orangtua Arkan pun tidak tahu-menahu soal ini