
Diruangan rumah sakit, Windy tertawa puas saat melihat hate komen yang dilontarkan fansnya ke Jinny, Laura dan Uchi.
Windy tidak terluka parah, dia hanya menggores sedikit kulit lehernya, selebihnya itu adalah darah Jinny yang dia raup dari kepala Jinny waktu itu. Namun dia berpura pura pingsan dan seolah terluka dalam karena ingin mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan Jinny
Bahkan Windy menyuap dokter untuk membuat laporan palsu tentang lehernya, dia juga memakai gips di leher
"Ini belom apa apa, tunggu gue speak up, lo bakal mampus Jin!"
Pintu kamar Windy terbuka, ada manager disana yang sedang membawakan beberapa makanan untuk Windy
"Lo yakin berani sama keluarga Kim? Mereka bukan sembarangan orang Win"
"Tenang aja, kekuatan fans itu jauh lebih berpengaruh daripada keluarga Kim"
Cklek!
Pintu ruangan Windy terbuka, terlihat lelaki berumur 40'an menghampiri ranjang Windy, dia adalah CEO dari D&N Entertaiment. Walau sudah termasuk berumur, namun wajah nya masih sangat tampan, 'look like sugar daddy'?
Windy berpura pura memasang wajah sakitnya saat lelaki itu masuk, dan duduk disampingnya lalu meletakkan buah yang dibawa diatas nakas
"Bagaimana keadaan kamu Windy?"
"Cukup buruk pak, kayanya saya belum bisa ikut perform bareng yang lain deh pak"
Lee hyun so menganggukkan kepalanya
"Cukup perhatikan kondisi mu dan pulih dengan cepat, kalian akan segera ada jadwal untuk comeback pertama setelah debut"
"Baik pak"
"Dan saya mau menanyakan soal Jinny, apa benar dia pelakunya?"
"Hanya dia satu satunya orang yang ada bersama saya ditoilet pak, mana mungkin saya melukai diri sendiri"
"Apalagi ini leher pak, tempat pita suara saya disini. Bapak menuduh saya ya?!"
Windy memulai aksi playing victimnya agar bisa meyakinkan Pak CEO satu ini, sedangkan managernya terlihat jengah ingin menumpahkan seluruh sup panas ditangannya ke wajah Jinny
"Tapi di cctv sekolah kamu yang menarik Jinny ke toilet"
"Karena dia mengganggu saya saat dikelas pak"
Lee hyun so sebenarnya tidak percaya dengan ucapan Windy, tapi melihat bukti bahwa Windy terluka membuat dia ingin menyelidiki ini sendiri tanpa melibatkan Windy. Terlebih lagi yang terlibat adalah Jinny yang merupakan harta karun perusahaan
"Baiklah itu saja, saya permisi dulu"
...
Jihoon marah besar saat Hyun So lebih mempercayai ucapan Windy daripada bukti yang telah diberikan pihak sekolah dan saksi yang menyatakan bahwa Jinny adalah korban.
"Saya akan menyelidiki ini secara diam diam, untuk sementara jadwal Jinny akan ditunda sampai cederanya kembali pulih"
"Saya mau nama putri saya bersih! Kalau sampai ada yang melibatkan kembali nama Jinny dengan Windy, akan saya ratakan perusahaan ini!"
"Bapak juga tidak bisa gegabah seperti ini! Kita juga sedang mencari solusi yang terbaik, saya bisa rugi besar jika mengambil langkah yang salah"
"Berapa kerugian kamu? Katakan nominalnya biar saya kasih sekarang juga!"
"Ini bukan tentang nominal! Tapi citra perusahaan! Anda juga pebisnis, pasti tahu aturannya! Tolong pak kerjasamanya!"
"Saya tidak mau tahu!"
"Kalau bapak terus terusan seperti ini saya bisa laporkan bapak atas tuntutan penyerangan"
Jihoon mulai jengah dan keluar dari ruangan Hyun So, dia sedikit berfikir untuk tidak memperkeruh kondisi. Benar ucapan Hyun so, lebih baik menyelidiki secara diam diam dari kedua belah pihak
"Begini jadinya kalau Haikal pergi, harusnya Hamdan saja yang kukirim bukan dia"
"Kenapa Hamdan? Dia juga punya skill dan posisi yang sama pentingnya dengan Haikal Hoon, kamu terlalu gegabah"
"Setidaknya wajah Haikal itu menyeramkan, berbeda dengan Hamdan yang masih seperti remaja puber"
Jung Do Hae tertawa mendengar ocehan dari sahabatnya itu, mereka sekarang ada disebuah bar & clun untuk minum bersama dan melepas stress yang melanda seharian ini
Disisi lain Minji terlihat begitu gelisah saat putrinya menangis karena membaca hate komen yang ditujukan kepadanya, padahal putrinya adalah korban. Dia sudah berusaha agar tidak memperkeruh kondisi, padahal rasanya ingin sekali dia membakar habis seluruh keluarga Atmaqueto yang terlibat dalam kasus ini
...
Kabar terlukanya Windy juga sudah terdengar sampai telinga Xavier, yakni abang Windy. Dia langsung mengambil jadwal penerbangan untuk menemui adik tersayangnya
Tak hanya Xavier, bahkan Arkan dan Hyun Jae juga ikut serta menemani perjalanan sahabatnya itu.
Hyun Jae mendapat kabar dari ayahnya, Jung Do Hae bahwa Windy adalah pelaku sebenarnya yang masih melakukan aksi playing victim demi kesenangan pribadi. Jujur saja awalnya Hyun Jae tidak percaya, tapi setelah melihat rekaman cctv dan juga kondisi korban, Hyun Jae percaya
Arkan dan Xavier sendiri ikut terkejut dengan penuturan ayah Hyun Jae, mereka ada disamping Hyunjae saat Dohae menelfon dan menunjukkan bukti bukti itu
Lebih terkejut lagi saat tahu salah satu alasan Windy melakukan ini karena Arkan
"Ga ga Vier, ini salah! Ga mungkin karena gue kan? Gue udah pernah nembak adek lo, tapi dia nolak gue mentah mentah"
"Arkan bener, masa iya tiba tiba Windy ngelakuin ini karena Arkan? Apalagi ke Jinny yang notebane nya gada hubungan apapun ke Arkan"
"Ini bukan cuma murni karena Arkan tapi juga karena Windy iri sama Jinny, awalnya emang karena Arkan tapi lama kelamaan ada faktor lain dan jadilah begini"
Xavier mengacak rambutnya, sungguh dia tidak percaya dengan kelakukan adiknya. Dia merasa sangat malu menghadapi Arkan dan Hyunjae saat ini
"Lo tenang aja Vier, kita pihak netral, kita cari bareng bareng siapa the real villain"
Arkan menepuk nepuk pundak Xavier pelan untuk memberi sedikit suntikan semangat
'Jinny ga mungkin ngelakuin ini ke Windy, tapi kalo sebaliknya, gue bisa yakin'
...
Setelah perjalanan yang memakan waktu lama, Arkan, Xavier dan Hyunjae tiba di Korea, Incheon Airport. Mobil jemputan untuk Xavier sudah menunggu digate dan langsung membawa Xavier pulang kerumahnya. Sementara 2 mahkluk yang lainnya pulang naik taksi kerumah mereka masing masing
...
Dohae langsung bergegas keluar dari club saat anaknya mengirimkan pesan bahwa mereka sudah mendarat di Korea.
"mampus gue mampus..."
Dohae kelabakan mencari kemana kunci mobilnya, padahal seingatnya dia meletakkan kunci itu di kantong celana, tapi tiba tiba menghilang begitu saja
"lu takut keciduk Hyunjae lagi? Elah, bapak takut anak"
Jihoon tertawa melihat Dohae yang masih sibuk mencari kunci mobilnya, tapi kemudian manik matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan
"sstt.. Do"
Dohae akhirnya mendapatnya kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Jihoon yang masih kacau di club, sungguh dia lebih takut amukan anaknya daripada amukan Jihoon
"Setan tu orang main kabur aja"
Kemudian mata Jihoon kembali fokus kearah seorang gadis yang sedang duduk disofa sendirian, dari kejauhan terlihat kalau gadis itu sedang mabuk. Kaki jenjang Jihoon kemudian melangkah untuk mendekatinya, dia memiliki dugaan yang besar tentang gadis itu
Setelah sampai didekat gadis itu Jihoon tersenyum miring, ternyata dugaannya benar. Dia kemudian mengambil ponsel dan memotret gadis itu dari angle dekat, dan juga jauh.
"lumayan.. Menarik"