Sorry, I Did

Sorry, I Did
eps 5 - Haikal dan anak-anaknya



Haikal memijat keningnya pelan, dia sulit untuk fokus dengan komputernya sejak tadi, sejak tangisan Jimin di meja makan sebenarnya.


Haikal melepas kacamatanya dan berjalan keluar dari ruang kerja, menuju kamar Jimin tentu saja.


Dibuka perlahan pintu kamar anaknya, ruangan gelap dengan pencahayaan hanya lampu tidur didekat ranjang. Dia berjalan menuju ranjang dan duduk disisinya, mengelus rambut hitam legam milik Jimin


Wajah bengkak akibat menangis terlalu lama hingga ketiduran membuat Jimin masih sedikit sesegukan didalam tidurnya. Haikal mengecup singkat dahi anaknya kemudian naik dan berbaring disisi Jimin yang kosong


Membawa anaknya kedalam pelukan, menepuk nepuk kepalanya pelan, dan bersenandung merdu membuat gadis didalam pelukannya menjadi tenang. Tak ada lagi suara sesegukan Jimin, sudah berganti dengan dengkuran kecil yang sangat halus


Haikal melihat wajah Jimin dari dekat, dia meringis sedikit


"Papa kamu itu bodoh sayang, anak secantik kamu gini malah disia-siakan",


Haikal berucap pelan, sangat pelan seperti jari jemarinya yang mulai mengelus wajah Jimin. Haikal adalah orang yang paling tahu semuanya tentang Jimin, termasuk siapa itu Jimin dan asal usulnya


"Ayah.."


Ada yang berbisik pelan memanggilnya saat sang ayah sudah terpejam. Haikal membuka mata, melihat Uchi diambang pintu


"Hm? Belum tidur sayang?"


Uchi menggeleng dan bibir mengerucut, dia lalu berjalan jinjit menuju ranjang. Biasanya dia akan naik ranjang Jimin dengan cara yang brutal, tapi kali ini tidak. Uchi berbaring dibelakang ayahnya, menelusupkan wajahnya di sela sela leher ayahnya dan memeluknya


Haikal membalikkan badannya, saat merasakan ada air mengalir di lehernya, anak anaknya sedang sensitif hari ini


"Maafin om Jihoon ya? Maafin ayah juga ga bisa berbuat apa apa"


Bisik Haikal sambil memeluk Uchi, tapi kemudian gadis didekapannya menggeleng pelan dan mengangkat wajahnya


"Bukan ituu yah..." cicitnya


"Hm? Terus apa?"


Haikal berjalan mengikuti Uchi kekamarnya, dibukanya pintu kamar dan..


Banyak botol botol skincare milik Uchi berserakan dilantai kamar, lebih tepatnya botol botol itu pecah karena lemari skincarenya roboh.


Ada satu gadis lagi diatas tempat tidur yang sedang duduk menundukkan kepalanya, tentu saja dia pelakunya


huhh...


Helaan nafas Haikal terdengar


"Laura jangan gerak dulu ya, dibawah banyak kaca"


"Ayah.. maaff..", suara Laura pelan menahan tangisnya


'dia yang berbuat, dia pula yang nangis'


Haikal melangkah masuk kekamar, kakinya menorobos pecahan beling dilantai dan menggendong putrinya keluar dari kamar. Kaki Haikal masih aman karena dia pake sendal rumah yang cukup tebal


"Turunin dia dong yah.. udah gede dia tu bukan bayi lagi.."


Uchi merengek tidak terima ketika melihat ayahnya tetap menggendong Laura kekamar Jimin. Padahal harusnya dia yang ditenangkan karena semua skincare tadi itu miliknya


Sedangkan Laura, air matanya menghilang berganti senyuman mengejek kearah Uchi lalu mengeratkan pelukannya ke ayahnya


Haikal menurunkan Laura diranjang Jimin dengan perlahan


"Ayah.. aku juga mau.."


Uchi masih berusaha merengek, cemburu buta dengan Laura yang masih mengejeknya dari ranjang


"Yaudah ayo tapi keliling rumah bentar aja ya?"


Sahutan Haikal disambut dengan senyuman sumringah dan anggukan semangat dari Uchi


"Laura tidur disini ya temenin Jimin, kalo ada apa apa panggil ayah dikamar"


Haikal mengecup singkat anak gadisnya diranjang lalu membawa yang lainnya keluar dari kamar Jimin, tangan Uchi terulur menutup pintu lalu kembali memeluk ayahnya yang berjalan kearah kamar, kamar ayahnya maksudnya


"Kata ayah mau keliling rumah?"


Haikal tertawa pelan, membuka pintu kamarnya dan menutupnya menggunakan kaki, meletakkan anaknya diranjang lalu membelai rambutnya


"Ayah agak cape hari ini, besok besok ya?"


Cup!


"Tidur duluan ya, ayah mandi dulu"


Cup!


Bibir Uchi mengerucut lagi, ekspetasinya terlalu tinggi untuk seorang ayah yang jahil seperti ayahnya. Uchi menarik selimut dan memeluk bantal lalu pergi ke alam mimpi


Dikamar mandi, Haikal melucuti tubuhnya sendiri lalu masuk ke bathtub berisi air hangat, sungguh hari yang melelahkan


Menggoyangkan gelas berisi wine sambil menatap kearah luar, dinding kamar mandinya terbuat dari kaca yang bisa melihat kearah luar gedung dengan jelas


"Gimana reaksi Jinny kalo dia tau siapa Jimin?"


...


Jinny terbangun karena suhu dingin dikamarnya, dia ketiduran dari kemarin pulang sekolah sampai pagi


Belum pagi, ini masih subuh


"Jam 3? Kok jam 3? Perasaan gue tadi pulang kerumah jam 5 deh"


Jinny bermonolog ketika melihat jam di dinding kamarnya, kepalanya bergerak melihat kearah jendela, suasana gelap diluar seperti malam padahal masih jam 3


Tapi kemudian dia langsung terduduk dan menepuk jidatnya ketika tau ini jam 3 pagi bukan jam 3 sore


"Gilaa! Gue ketiduran apa simulasi meninggoy?"


Jinny kemudian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kini dirinya menatap layar komputer yang sedang memberikan informasi mengenai Windy, crush dari crushnya


"Oh belum debut ya?"


Jinny tidak merasa bingung lagi kenapa Windy menolak Arkan. Jinny sendiri sebenarnya juga ingin jadi Idol, tapi papanya melarang dia melakukan itu. Hanya diperbolehkan menjadi model jika usianya sudah menginjak 17 tahun nanti, 1 tahun lagi tentu saja


Jinny sendiri sudah mengikuti kelas modeling sejak setahun lalu, dan merasa bisa siap menjadi model setahun kemudian


Jinny memakai seragam dan membawa tas sekolahnya keluar, dia sudah menghubungi Hamdan tadi, tujuannya sekarang rumah Haikal.


...


Haikal bangun dengan terburu buru dan mencari bajunya, dia kemarin ketiduran di sofa hanya memakai handuk mandi.


Kenapa Haikal tidur disofa? Karna ranjangnya sudah dikuasai 2 gadis yang tidurnya tidak berbentuk manusia. Laura datang kekamar Haikal, katanya diusir Jimin, ya gimana ga diusir kalo tidurnya kek main pencak silat


Haikal membuka pintu apartnya, terlihat seorang gadis yang sudah lengkap dengan seragam dan sekolahnya, sementara manusia dibelakang gadis itu terlihat berantakan dengan piyama tidur


"Om, Jimin udah bangun?"


"Belum, masuk Jin, bangunin si Jimin ya, Uchi sama Laura biar om aja"


Jinny mengangkat tangannya berbentuk ok lalu masuk dan berlari kearah kamar Jimin


"Lu gada baju lain selain piyama sanrio? Mana warna pink lagi"


Haikal mengangkat kerah piyama Hamdan seperti sedangkan memegang sampah, tapi kemudian tangannya ditepis


"Diem lu setan! Gue ngantuk"


Hamdan berjalan kearah kamar tamu berniat ingin istirahat, dia sudah lelah bergadang semalaman. Baru tidur jam 3 pagi, tapi beberapa menit kemudian ditelfon anak bosnya yang minta ditemani keluar


Haikal masuk kekamarnya untuk membangun anak anaknya yang lain, memberitahukan bahwa Jinny ada dirumah. Itu ampuh, Uchi yang biasanya sulit membuka mata bisa langsung lari keluar kamar dan mencari Jinny, sedangkan Laura menyusul dari belakangnya


"Jinn- eh?!"


Teriak Uchi yang terhenti saat masuk kekamar Jimin, terlihat dua manusia sedang tidur berpelukan, yang satu masih pake piyama, yang satunya udah lengkap pake baju sekolah


"Berisik Chi!"


"Lu kesambet apaan Jin?"


"Masih jam 4 pagi woi! Udah pake seragam ae lu!"


Jinny bangkit lalu kembali merapikan seragamnya yang kusut karena tiduran tadi


"Gue punya berita deh buat kalian"


"..."


"Wah serius ni?!"


"Emangnya ayah bakal kasih izin?"


"Gue sih mau aja Jin"


Beragam reaksi dari Laura, Uchi dan Jimin saat Jinny memberikan formulir pendaftaran kelas modeling. Namun kali ini ditambah dengan formulir audisi agensi yang sedang mencari Idol


"Kita semua cantik cantik, gue yakin kita pasti bisa debut"


"Tapi kan mesti trainee dulu dan belom tentu kita semua bisa debut"


"Ya kita jalani dong, kita masih 16 tahun, kalo trainee dari sekarang pasti bisa debut diumur yang udah legal nantinya"


Ketiganya mengangguk anggukkan kepala


"Gue mau deh, ntar gue ngomong ke ayah", Jimin terlihat bersemangat


"Tenang aja kita pasti bakal debut, lo lupa gue siapa?"


Ucapan Jinny yang disambut tawa dari yang lainnya, iya mereka hampir lupa siapa Jinny. Manusia yang selalu mendapatkan apa yang dia mau