Sorry, I Did

Sorry, I Did
eps 8 - Mainan Jihoon



Bugh! Bugh! Bugh!


"Bajingan!!"


Jihoon memukuli dinding rumah sakit hingga terlihat darah mengalir di jari jarinya, kabar bahwa anaknya mengalami kecelakaan membuat darahnya mendidih


Disampingnya ada Haikal yang juga tak kalah seramnya, dia terus meremas tangannya sendiri karena gagal melindungi anak anaknya. Kalau saja jalanan tidak macet, mungkin dia tidak akan terlambat


Dokter yang keluar dari ruang IGD segera dihampiri oleh Haikal dan Jihoon


"Dua orang mengalami luka ringan dibagian kepala, tidak serius, hanya butuh sedikit istirahat kemudian bisa kembali beraktifitas seperti biasa"


"Dua yang lainnya mengalami luka cukup parah dibagian kepala dan leher, mereka harus memakai gips leher agar bisa pulih dengan baik dan satu diantara mereka dinyatakan... kritis"


"Siapa yang kritis?",


Suara Jihoon terdengar lemas kali ini, dia tau betul kalau putrinya yang terluka paling parah diantara anak anak itu


"Anak bernama Kim Jinny"


Deg!


Lutut terasa Jihoon lemas, tubuhnya berungsut pelan kelantai, jika saja tidak ditahan Hamdan mungkin dia sudah jatuh begitu saja


Haikal sendiri sudah tidak karuan, air mata mengalir deras membasahi pipinya, dadanya seperti dipukul batu besar


"Mereka semua akan segera dipindahkan ke ruang intensif"


"Terima kasih dok", ucap Hamdan


...


Suara dentuman mobil menembus kesunyian jalanan kota, Haikal melajukan mobilnya sangat cepat dengan amarah yang menggebu-gebu. Dia dapat kabar kalau pelaku dari kecelakaan anak anaknya hari ini sudah ditemukan


Pelaku merupakan orang yang sama dengan dia yang dicari cari Haikal beberapa hari ini, sungguh dia ingin menguliti hidup hidup mangsanya. Tapi itu tidak bisa dilakukan karena ada bosnya yang mengambil perannya kali ini, jadi dia hanya akan melampiaskan amarahnya kepada mereka yang menjadi bawahan pelaku


Sementara dibelakang mobil Haikal ada mobil yang berisi Jihoon dan Hamdan, kali ini Jihoon sendiri yang akan turun tangannya sendiri. Tak ada kata ampun jika Jihoon sudah bertindak, bahkan melihat wajahnya saja sudah membuat orang lain melarikan diri


Mobil mereka berhenti disebuah pabrik terbengkalai yang jauh dari pelosok kota, hanya ada hutan disekitar sana. Ada banyak anak buah suruhan Haikal yang sudah menjaga mangsa mereka disana


"Buka pintunya"


Jihoon masuk kedalam gudang dengan sebuah pistol ditangannya. Sedangkan Haikal pergi ke gudang disebelahnya, dimana terdapat mangsa yang dikhususkan hanya untuknya


...


Mama Kim sudah berada dirumah sakit menemani anak anak, menemani Jimin lebih tepatnya. Karena ruangan Jinny di ICU, mama Kim menunggu dikamar Jimin. Laura dan Uchi sudah dipulangkan kerumah supaya beristirahat, sedangkan Jimin masih harus menerima perawatan lagi


Kim melirik kearah ranjang Jimin dari sofa, terlihat gadis itu sedang memalingkan wajahnya kearah jendela, ada beberapa hal yang membuat Jimin gelisah saat ini. Kim berjalan kearah Jimin perlahan, lalu mengelus lembut tangan gadis itu


"Kamu ada masalah Min?"


Suara lembut Kim membuat Jimin langsung menoleh kearahnya, seseorang yang sangat dia hindari


"Tidak tante"


"Tante ingin menanyakan sesuatu ke kamu, bisa jawab kan?"


Jimin diam berfikir, cukup lama menatap Kim lalu kemudian mengangguk


"Kamu sudah jadi trainee untuk debut model kan?"


Deg!


Firasat Jimin memang tidak salah, sungguh dia ingin keluar dari sini sekrang juga


"Tante sudah tau, bukan hanya kamu, tapi Laura dan Uchi juga kan?"


Deg!


Lagi!


"I-itu tant-"


"Mundur"


"Hah? Gimana tan?"


"Mundur, itu posisi Jinny, bukan kamu"


Inilah kenapa Jimin dan 2 saudaranya yang lain melakukannya dengan sembunyi sembunyi, karena jika ketahuan mereka harus memberikan segalanya untuk Jinny


Jimin menunduk, dia mengusap air matanya yang hampir jatuh


"Saya dan saudara yang lain sudah menjadi trainee sejak lama tante, ga mungkin saya mundur gitu aja cuma karna Jinny"


Plak!


Pipi Jimin terasa panas, oh ayolah dia harus kuat jangan lemah begini


"Harusnya kamu berterima kasih dengan saya dan Jinny! Kalau tidak karena saya yang memberi izin, kamu tidak akan hidup sampai sekarang!"


"Tugas kalian bertiga adalah melindungi anak saya! Tidak ada satupun dari kalian yang boleh mendahului anak saya!!"


Kim bangkit dari kursi dan hendak melangkah keluar, tapi kemudian langkahnya terhenti karena kalimat yang dilontarkan Jimin


"Saya dan saudara saya bukan boneka Jinny!"


"Kami juga punya hak untuk memiliki masa depan!"


"Dasar anak pelacur!"


Deg!


Jantung Jimin seperti tertusuk ribuan anak panah saat kalimat itu keluar dari mulut Kim


"Kamu memang tidak tau malu! Tidak pernah bersalah bersalah! Sama seperti ****** itu!"


Mata Kim menggelap, dia melangkah cepat kearah Jimin dan menjambak rambut anak itu sampai terseret jatuh dari ranjang


"Arghh!!"


"Kalau bukan pelacur apa namanya?!"


"Arghhh!! Sakit tantee!!"


"Kamu tahu siapa mama kamu?! ****** itu sudah merusak rumah tangga saya!!"


"Arghh! Hiks!"


"Dia merusak segalanya! Dan sekarang kamu?! Kamu juga mau merusak masa depan anak saya?!!"


"Arghh tante!!"


"Jangan harap kamu bisa hidup tenang jika anak saya sampai menangis! Apalagi karena kamu! ******!"


Kim menghempaskan anak itu hingga tersungkur dilantai dan terbentur ujung meja, hidungnya mengeluarkan darah segar. Kim melangkah keluar, tidak peduli sedetikpun bahkan jika nyawa gadis itu melayang


"A-aku... S-salah apa?"


Kalimat terakhir Jimin sebelum akhirnya kembali pingsan


...


Tok! Tok! Tok!


Suara langkah kaki yang terdengar menggema disebuah ruangan berisikan 1 orang lelaki yang sudah diikat kaki dan tangannya, bahkan mata dan mulutnya juga ditutup.


Seorang lelaki yang baru saja datang membuka mata dan mulut lelaki yang diikat


"Lo berani juga ya nyentuh anak gue, bajingan.."


"Lo serahin Uchi, gue ga akan sentuh anak lo"


"Ga akan, anak gue sahabatan sama dia, anak gue bakal sakit kalo ga ada sahabatnya"


Lelaki yang masih dalam keadaan terikat itu pun tertawa lantang


"Sahabat? Keknya lo mesti ngajarin anak lo arti sahabat yang sebenarnya deh. Gimana reaksi anak lo kalo tau masa lalu papanya?"


Bugh!


Satu bogeman mentah mendarat diwajah lelaki itu


"Cih.. masih tempramental ternyata"


Lelaki itu berdecih lalu menyeringai


"Serahin anak itu, gue ga akan menginjakkan kaki lagi di Korea"


"Kenapa? Mau lo jadiin ****** juga?"


"Bukan urusan lo!"


Hahaha!!


Suara tawa menggelegar di ruangan tersebut, kali ini dari lelaki yang sedang memegang pistol ditangannya


"Sorry tapi, gua gabisa"


Kemudian dia mendekat kearah lelaki yang diikat dan menodongkan pistol kearah kepalanya


"Lo udah ngerebut mainan gue Tsu.. ga akan gue biarin lo rebut lagi mainan anak gue"


"Bajingan!"


Dorr!! Dorr!! Dorr!!


Tiga peluru langsung bersarang dikepala lelaki yang diikat itu membuatnya langsung merenggang nyawa


Lelaki itu melemparkan pistolnya dan mengangkat dagu mangsanya yang sudah tidak bernyawa lagi


"Kalo lo dulu nurut sama gue, lo pasti bakal tetap jadi sahabat gue Tsu.."


"Tapi sayang banget, lo ternyata tertarik dengan segala yang gue punya"


"But, thankyou, udah ngasih mainan baru buat anak gue"


Dia lalu melemparkan wajah mayat itu dan kembali memungut pistolnya


"Dan mainan untuk gue juga of course..", lanjutnya sambil menyeringai dan melangkah pergi


...