Sorry, I Did

Sorry, I Did
Eps 16 - Fakta Jimin?



Tok! Tok! Tok!


Arkan mengetuk pintu kamar Jinny dengan membawa nampan berisi makanan, obat, dan juga beberapa snack yang dia bawa dari Chicago.


Tak ada jawaban terdengar dari dalam kamar, karena kamar itu kedap suara jadi memang Arkan diharuskan berdiri didepan pintu tanpa kepastian apakah makhluk didalamnya mendengar ketukannya atau tidak


Ceklek!


Pintu terbuka, menampilkan seorang Jinny dengan mata sembab berair. Arkan sangat terkejut, tangannya terulur membersihkan air mata itu dari pipi gembul Jinny.


Sedangkan Jinny juga tidak kalah terkejut, dia fikir itu Laura atau Uchi atau Chen dengan Osaki, tapi ternyata itu Arkan.


Jinny langsung memeluk Arkan dan kembali menangis, membuat isi nampan ditangan kanan Arkan hampir jatuh.


"Kakak boleh letak nampannya dulu ga? Nanti lanjut lagi pekuknya"


Jinny menoleh melihat nampannya, lalu melihat wajah Arkan, kemudian mengangguk lalu menarik Arkan masuk kedalam kamar dan mengunci pintu


Setelah selesai dengan nampan, Jinny benar benar memeluk kembali Arkan dan menangis sejadi jadinya


"Kakak yakin kamu kuat! Jinny yang kakak kenal kan ga bisa dikalahin, gapapa sekarang nangis. Tapi nantinya kamu harus ngelawan mereka ya"


"Kakak.. kakak percaya mereka? kalau.. aku.. pelakunya?"


Suara serak Jinny yang sesegukan karena menangis membuat Arkan menangkup wajahnya dan menatapnya lekat


"Kakak percaya kamu, kamu ga akan berbuat seperti itu kepada siapapun, apapun alasannya"


"Kakak.. beneran percaya aku kan? Ga bohong kan? Ga cuma ngehibur aku aja kan?"


Arkan menggeleng pelan dan memeluk erat Jinny


"Makan dulu yuk, biar ada tenaga"


"Kakak suapin!"


Jinny hampir menggeleng tapi kalimat terakhir Arkan membuatnya mengangguk


...


*Flashback beberapa bulan lalu*


Haikal dan Jimin turun dari mobil disebuah halaman mansion mewah ditengah hutan. Sungguh Jimin tidak tahu dia akan dibawa kemana, ayahnya berkata jika dia akan menerima perawatan lebih baik dari rumah sakit, tapi kok ke tengah hutan dipulau terpencil pula


"Ayah kok ga ada sinyal sih disini?",


"Sstt! Ayo masuk"


Haikal menggenggam tangan Jimin dan melangkah masuk kedalam mansion mewah itu, sungguh suara decit pintu besar itu membuat bulu kuduk Jimin meremang seketika, dia mengeratkan tautan tangannya dengan ayahnya, bahkan berjalan dibelakang ayahnya


Haikal sedikit terkekeh dengan reaksi anaknya, ah ralat, anak bos nya maksudnya


"Ayah bakal kasih tahu ke kamu segalanya disini"


Haikal membuka suara setelah mereka sampai diruang tengah dan mendudukan diri disofa empuk itu


"Maksud ayah?",


Haikal mendekatkan wajahnya, tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut di pipi Jimin


"Siapa kamu, asal usul kamu, rumah ini, dan segalanya tentang kamu. Bahkan jika kamu mau, kamu juga bisa tahu segalanya tentang Uchi dan Laura"


Suara berat Haikal yang mengucapkan kalimat panjang di dekat telinga Jimin membuat gadis itu semakin merinding


'firasatku buruk'


"Kalau gitu kasih tau sekarang yah"


Haikal tersenyum miring dan menggeleng pelan


"Semua ada bayarannya, sistem hidup didunia ini give and take sayang"


"Aku harus bayar pake apa?"


Deg!


Firasat Jimin benar, ini seperti bukan ayahnya, seorang Haikal yang dia kenal bukan seperti ini. Jimin pelan pelan bergeser mundur membuat Haikal juga terus bergerak maju


"Kenapa? Takut sama ayah?"


"A-ayah kenapa? K-kok jadi g-gini?"


"Ayah memang begini sayang"


"A-ayah mau ngapain? J-jangan macam macam yah"


Haikal tidak tahan lagi, dia langsung membawa Jimin kekamar utama dilantai atas, menggendongnya seperti membawa karung beras dipundak. Hanya aja yang ini sangat memberontak


Haikal menghempaskan tubuh Jimin keatas ranjang besar miliknya lalu menindihnya dari atas


"A-yah ma-mau apa?"


"Mau kamu sayang"


Suara berat Haikal menghantui telinganya dan membuatnya merinding. Telunjuk Haikal bergerak menyentuh bibir love Jimin,


"Kamu harus menyicil tagihan biaya hidup kamu selama bersama ayah"


Sreett!!


Baju atas Jimin dirobek paksa oleh Haikal dan menampilkan pemandangan indah didepan matanya langsung, sesuatu yang sangat dia tunggu tunggu selama ini


"Ayah jangan.. hiks"


"Kamu pake kesempatan ini untuk bertanya apa aja, ayah bakal jawab semua pertanyaan kamu hanya selama kita bersama"


Haikal memulai aksinya dengan lembut, dia tidak memiliki niat untuk membuat anaknya trauma saat melakukan ini untuk pertama kali, sungguh kini dia sangat bersorak gembira karena mendapatkan seorang 'gadis' setelah penantian sekian tahun


*Flashback off*


Haikal sedang tersenyum gembira diatas ranjang setelah aksi panas bersama Jimin sejak tadi siang, gadis yang awalnya pemalu dan selalu berontak berhasil ia taklukkan dalam kurun waktu beberapa bulan


Kini dia sedang menatap layar laptopnya untuk memeriksa kasus Jinny, bos nya menyuruhnya turun tangan untuk kasus ini.


"Ayah.."


"Hm?"


Gadis yang berada didalam selimut itu menyembulkan kepalanya dan memanggilnya dengan suara berat


"Jangan urus kasus itu!"


Suara ketus Jimin membuat Haikal tergelak pelan, dia sungguh tahu betapa besar dendam yang dimiliki Jimin untuk Jinny, setelah mengetahui bahwa mereka adalah saudara. Jinny dan Jimin memiliki ayah yang sama, namun ibu mereka berbeda. Mereka masih satu ayah, jadi bisa disebut sebagai saudara kandung


Jihoon yang selingkuh dan bermalam dengan seorang gadis di club saat istrinya sedang hamil muda, berhasil membuahkan Jimin. Bukannya bertanggung jawab, Jihoon justru memisahkan ibu dan anak itu dengan membuang Jimin ke panti asuhan. Sedangkan gadis itu dikirim kejepang untuk dijadikan budak se* oleh sahabatnya sendiri, Tsugayo Fujimara


Tak hanya itu, Jimin juga mengetahui bahwa Uchi juga merupakan saudara tirinya karena mereka lahir dari rahim yang sama. Dan alasan mengapa waktu itu Uchi akan dibawa pergi sampai mereka mengalami kecelakaan, karena Uchi juga akan dijadikan budak, sama seperti alm. Mamanya


Uchi bahkan melihat bagaimana kejinya Tsugayo menyiksa mama mereka hingga berakhir bunuh diri.


Oleh karena itu, Uchi memiliki trauma berat saat melihat Tsugayo waktu itu. Dan pelaku dari semua kejadian ini berasal dari Jihoon


Namun perjuangan untuk mengetahui semua fakta harus Jimin bayar dengan memberikan tubuhnya kepada Haikal, ayah angkatnya. Bahkan Jimin juga baru ingat kalau mereka bertiga sudah menandatangani surat perjanjian kepada Haikal saat baru baru diadopsi dulu


Surat perjanjian yang menyatakan bahwa mereka bersedia memberikan segalanya kepada Haikal, saat usia mereka sudah lebih dari 15 tahun. Dan kini memang sudah waktunya untuk membayar semuanya, mau tidak mau perjanjian itu harus dipenuhi


Tak jarang juga Haikal melakukannya dengan kasar saat dia sedang lelah dan stress karena pekerjaan, membuat Jimin tidak bisa berjalan dengan baik selama berhari hari


Tapi hingga kini masih Jimin yang tersentuh oleh Haikal, sementara dua yang lainnya masih belum terjamah, Haikal sangat lembut dalam mengambil langkah. Dia ingin mencicipi satu persatu tanpa harus gegabah


"Papa kamu yang nyuruh ayah ngurus kasus ini sayang, mana mungkin bisa ayah tolak"


"Dia bukan papaku"