Sorry, I Did

Sorry, I Did
eps 11 - Jinny's Model



Chen dan Osaki sebenarnya pergi menjenguk Jinny saat masih dirumah sakit, tapi ternyata ruangan Jinny dijaga ketat oleh para bawahan papa Jinny, dan berakhirlah mereka yang memilih putar balik daripada berurusan dengan Jihoon


Hari ntah hari yang keberapa, Jinny sudah mulai kembali masuk kesekolah. Adagetaran senang dihati Chen saat melihat gadis cantik itu sudah pulih sepenuhnya


Chen berlari menghampiri Jinny dan memeluknya, diikuti Osaki dari belakang yang juga memeluk Jinny


"Gue kemarin itu mau ngejengukin elu Jin, tapi dilarang sama papa lu"


"Iyaa, padahal kita udah bawa banyak buah Jin, gua sendiri yang milih buahnya malah"


Osaki mengadu pada Jinny dengan bibirnya yang dimaju majukan, terlihat menggemaskan memang


"Haha sorry ya, papa gue agak protectif gara gara kejadian kemarin itu"


"Gapapa Jin santay aja, kita juga udah tau kok"


"Ohiya btw, Jimin mana? Ga ikut masuk juga?",


Kali ini Sehun mengeluarkan suara baritonnya dari belakang Jinny, ntah sejak kapan dia disana


"Oh Jimin? Dia belum sembuh, harus pulih total dulu baru boleh sekolah", Jinny memberikan alasan yang logic agar tidak menimbulkan pertanyaan lain dari mereka mereka


Sementara dari dalam kelas, Windy melihat interaksi Chen, Osaki dan Jinny, dia kemudian mendekati Laura yang menatap dengan raut wajah aneh.


"Lo gapapa Ra?"


"Gue males banget liat muka dia"


"Yaudah ngobrol sama gue aja"


3 hari yang lalu Windy membocorkan informasi yang dia dapat dari managernya, bahwa debut Laura, Uchi dan Jimin ditunda lalu digantikan oleh Jinny. Awalnya Laura tidak percaya, sampai akhirnya manager dia sendiri yang mengatakan itu, namun manager tidak mengatakan bahwa Jinny adalah pengganti mereka


Laura sudah mencoba memberitahu Uchi, tapi justru saudaranya itu lebih mempercayai Jinny daripada Windy


"Kalo pun kita dipukul mundur karna Jinny, kita tinggal minta aja ke Jinny supaya bisa debut bareng, gue yakin Jinny pasti setuju"


"Lagian Jinny itu beneran nganggap kita sahabatnya, dia ga mungkin mau sahabatnya dijadiin tumbal papanya cuma demi dia, gue yakin Jinny gatau apa apa soal mundurnya debut kita"


"Gue percaya Jinny, Ra"


Itulah jawaban yang didapatkan Laura dari Uchi, memang benar bahwa dari mereka bertiga hanya Uchi lah yang paling dekat dan paling percaya dengan Jinny


Jinny terlihat berjalan memasumi kelas dan mencoba menyapa Laura, namun gadis yang dipanggilnya tidak menyahut dan justru memalingkan wajahnya


"Dia kenapa Chi?"


"Gatau, lagi datang bulan mungkin?"


"Oohh, its okey"


Bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai, guru memasuki kelas dengan buku dan juga laptop ditangannya. Itu pak Hasan, guru killer yang paling memuakkan bagi seluruh siswa termasuk Jinny


'males bngt gue dah, mana gada Jimin lagi'


Yup! Bangku sebelah Jinny kosong karena Jimin belum masuk sekolah, entah kemana perginya Jimin dia belum mengetahuinya


...


Saat dikantin handphone Jinny berdering, menandakan ada telfon masuk, itu dari papanya.


"Hallo pa?"


".."


Jinny langsung bangkit dari duduknya dan hampir tersedak susu yang baru saja masuk dimulutnya, hal ini membuat Chen dan Uchi yang ada disana ikut panik


"Lu kenapa Jin?"


"Pelan pelan Jin, elah!"


Jinny mengelap mulutnya dengan tissue dari Uchi, kemudian mengambil lagi telfonnya yang terlempar tadi


"Serius pa?"


".."


"Ngga pa, aku gapapa. Thanks pa. Nanti aku kekantor papa selesai sekolah"


".."


Jinny menutup telfonnya dan kemudian memeluk Uchi yang sedaritadi menatapnya panik


"GUE BAKALAN DEBUT MODEL CHI!!"


"Selamat ya Jin!"


Tak hanya memeluk Uchi, tapi Jinny juga memeluk Chen yang ada didepannya


"Wahh~ congrast Jin! Semoga debut lu lancar ya"


Uchi yang tadinya panik berusaha memaksakan diri untuk tersenyum dan membalas kembali pelukan Jinny. Ada rasa sedih yang mendalam dengan semua ini, tapi lebih baik dia menerima dengan ikhlas seperti yang dikatakan ayahnya


"Kamu harus terima ya sayang, lagipula nanti kamu dan saudara kamu yang lain pasti bakal debut kok, beberapa minggu setelah Jinny, tenang aja ya"


"Anggap aja ini sebagai rasa terimakasih kamu ke keluarga Jinny, kalo bukan karena mereka, kamu ga bakal bisa disini lagi sama ayah dan yang lain"


"Maaf sayang kalo ucapan ayah terkesan kejam, tapi ini yang sebenarnya, daddy kamu kemarin jemput kamu kesini buat ngejual kamu di Jepang, dan Pak Jihoon yang nyelamatin kamu"


"Laura pasti marah besar, tolong kamu kasih pengertian ke dia ya"


Ucapan ayahnya lah yang selalu diingat Uchi agar dia tetap tenang dan tidak terhasut oleh ucapan Windy yang selalu berusaha menjebak mereka untuk membenci Jinny


Sedangkan disisi kantin yang lain ada Laura dan Windy yang sejak tadi melihat adegan Jinny diseberang sana hingga membuat minuman kaleng ditangan Laura tak berbentuk lagi


"Cih.. seneng banget pasti dia"


Windy membuka suara setelah melihat kaleng ditangan laura


"Win, lu satu agensi sama Jinny kan?"


"Iya Ra, kenapa?"


"Bantu gue"


"Hm? Okey", smirk tersembunyi Windy rasakan dibibirnya


...


"Duh Jin! Temen gue ada salah apa sih sama lo? Sampe sampe jantung temen gue serasa mau lepas gini gara gara lo!"


Osaki mengunyah chips nya sambil mengomel pasca habis diintrogasi oleh orang tua Chen, karena Chen tiba tiba izin pulang dengan alasan sakit jantung, hingga membuat semua orang kalang kabut


"Gue beneran sehat? Tapi jantung gue berdebar debar banget! Mana dokternya?! Suruh cek lagi cepetan Ki"


"Diem lu setan! Lo ga bisa bedain jatuh cinta sama sakit jantung?! Lo yang buat mama papa lo jantungan bazeng!"


Tiba tiba Chen teringat saat kejadian dikantin tadi bersama Jinny, membuat wajah dan telinganga kembali memanas, memerah, dan jantungnya berdebar kencang. Lagi!


"Lo liat nih Ki!", Ucap Chen pelan sambil menunjuk wajahnya sendiri


Chen meraih tangan Osaki dan meletakkan diatas dada kirinya, tapi hanya beberapa detik sebelum Osaki kembali menarik lagi tangannya sambil geleng kepala


"Balik lagi yuk kesekolah? Otak lo masih ketinggalan dikantin deh keknya"


"Hebat banget Jinny bisa bikin temen gue jadi gila gini", ucap Osaki pelan tapi masih bisa didengar Chen


...


Jinny berlari kearah ruangan ayahnya, dia benar benar pergi kekantor ayahnya setelah pulang sekolah. Sementara Uchi dan Laura juga mengekor belakang, hanya saja langkah mereka sangat lambat hingga tertinggal jauh dari Jinny


Ayahnya menelfon untuk mengantarkan Jinny kekantor G&J Company, perusahaan raksasa milik Jihoon.


"Lu beneran ikhlas Chi? Kalo gue sih ngga"


Laura memasang wajah dinginnya sejak menginjakkan kaki disini, sungguh dia ingin pulang dan bermain dengan kucing kucingnya saja daripada disini melihat drama anak papa itu


"Gue punya alasan buat milih ini Ra, saran gue, lu jauhin Windy, dia busuk"


"Setidaknya ga munafik"


Uchi menghentikan langkahnya dan menghadap ke Laura


"ga munafik lo bilang? She's really really so BAD.. MORE THAN Jinny!"