
"dia bukan papaku! Dia papa Jinny! Aku gak sudi punya papa bajingan begitu!"
Haikal tertawa lalu memeluk gadis berbalut selimut itu dengan satu tangan yang menelusup masuk kedalamnya
"Kamu berani bayar berapa emang? Kok bisa ngelarang ayah?"
"Aku mau balas dendam ke dia, dia dan aku itu saudara, tapi kenapa nasib ku berbeda jauh dari dia. Padahal ini bukan salahku"
"Ini bukan salah Jinny sayang, inu salah mama kamu. Ayah kan udah ceritakan semuanya, apa perlu ayah ceritakan lagi yang kedua kalinya? Siapa tahu waktu itu kamu kurang jelas pendengarannya karena tertutup desahanmu?"
"Ga!"
"Kamu jadi pintar supaya balas dendammu lancar sayang, taklukkan Jihoon"
"Caranya?"
"Pake apa aja yang kamu punya. Body mulus kamu? Pengalaman yang ayah kasih ke kamu? Otak pintar kamu? Atau yang paling ampuh, Jinny?"
Plak!
Jimin memukul pelan lengan Haikal, tapi kemudian dia merasakan ada sesuatu yang bergerak di dipangkal pahanya
"Tapi menurut ayah.. hmm.. siapa pelakunya? Jinny itu ga bodoh yah.. aww.. masa iya dia.. ga ada bahan untuk perlawanan?"
"Kamu tahu sesuatu?"
"Coba.. arghh.. ayah periksahh... I-watch Jinny?"
"kenapa I-watch?"
"Jinny sering nyimpan rekaman suara dairy disana"
"Hmm.. nanti! Ayah mau periksa ini dulu"
"Ahh.. ayah!"
Bukan Haikal namanya kalau mudah puas, dia kembali menggempur Jimin sambil menanyakan beberapa pertanyaan yang harus dijawab Jimin. Itu cara paling ampuh yang Haikal punya untuk memperalat putrinya
...
Pipi Xavier kini merasa panas setelah mendapat beberapa tamparan dari mama Kim. Setelah Arkan membawa Jinny keluar dari kamar, mereka menemui Mama Kim dan Xavier di ruang belajar yang ternyata sudah ada papanya juga disana
Jinny menceritakan semuanya yang terjadi hari itu secara detail kepada semua orang yang ada disana
"Mama, udah ma, Jinny mau bicara dulu"
Jinny menghentikan tangan mama Kim yang hampir saja memberi tamparan lagi ke pipi Xavier
"Kak Vier, aku tau Windy mungkin sebenarnya ga sejahat itu, jadi aku minta tolong, bersihkan aja namaku. Aku cuma minta itu kak"
"Ga bisa gitu dong Jin! Mereka udah buat image kamu jelek!"
Mama Kim menaikkan suaranya saat mendengar permintaan putrinya
"Kak Vier! Tolong banget ya kak, buat semuanya seolah olah hanya hoax belaka. Aku beneran gamau berurusan dengan Windy tentang apapun itu"
"Dan kalau kakak memang ga bisa ngelakuin permintaanku, aku sendiri yang turun tangan dan ngebuat keluarga kakak hancur. Ingat!"
"Ini bukan permintaan kak, ini peringatan"
"Kamu mengancam keluarga saya? Jinny?"
"Iya! Kalau kakak mau tau jawabannya, ada 2 pilihan. Jalankan peringatanku dan aku akan beritahu ke kakak secara pribadi. Atau langgar peringatanku dan semuanya akan terungkap ke publik"
"Apa yang kamu punya sampai berani memerintah saya?"
"Bukti pembunuhan Geisha, Bella, dan Dinar. Gadis malang korban mutilasi nyonya Atmaqueto. Aku punya rekamannya, diruang bawah tanah rumah kalian kan?"
Tak hanya Xavier, tapi Arkan, Jihoon, dan juga Minji ikut menganga dengan penuturan Jinny. Kini Jihoon sendiri sedang berfikir keras darimana Jinny tahu fakta mengerikan ini yang dia sendiri tidak tahu menahu?
"Ka-kamu!"
Jinny mendekat dan berkata sedikit pelan tepat dihadapan wajah Xavier dengan sedikit smirk jahat dibibirnya
"Kalau namaku belum bersih dalam jangka waktu 3x24 jam, aku bakal ekspos semuanya. Wajah tuan dan nyonya Atmaqueto terlihat dengan jelas kok disana, jadi aku yakin kita bisa jatuh bersama"
"Jadi gimana? Deal?"
Tak mendapatkan jawaban sama sekali dari Xavier, Jinny merasa sedikit geram dan mencoba mencari ide lain
"Papa.. telfon Haikal.. bakal aku kirim reka-"
"Deal!"
Xavier berlutut dihadapan Jinny dan menggenggam tangan Jinny
"Saya janji akan bersihkan nama kamu dengan segala cara sebelum 3x24 jam"
Jihoon kemudian bergerak dari duduknya, mengambil kertas dan pena beserta materai
Setelah selesai menulis dan menandatangi surat perjanjian beralaskan materai, Xavier pun pergi dari rumah terkutuk itu bersama Arkan
...
Bugh!!
Arkan memukul kemudi mobilnya dengan kuat, wajahnya memerah memendam amarah. Kasus bertahun tahun lalu berhasil tercium karena kesalahan adik semata wayangnya
"Kok Jinny bisa tau kasus itu Vier?"
"Bukan lo kan?"
"Jelas bukanlah! Gila kali lo! Ga mungkin gue ngebongkar aib sendiri!"
"Bener! Dari siapa dia tau? Aishh! Windy Sialan!"
...
Sesuai janji Xavier, dalam jangka waktu 2x24 jam dia berhasil membersihkan nama Jinny dengan mengkambinghitamkan gadis lain yang juga memiliki nama yang sama dengan Jinny. Membuat segala bukti rekayasa untuk membersihkan nama seorang Kim Jinny, demi nyawa keluarganya
Gadis lain yang bernama Hwang Jinny menerima penawaran Xavier, dia menerima uang dalam jumlah besar untuk ditukar dengan namanya yang akan menjadi kambing hitam kasus Windy-Jinny
"Deal!"
Tak hanya membersihkan nama, Xavier juga menyingkirkan banyak pelaku pelaku komentar jahat yang menyerang Jinny. Tapi yang ini atas permintaan Arkan, manusia sialan yang bukannya membantu malah menambah bebannya
"Tinggal satu lagi, Windy. Kemana dia?"
...
Brakk!!
Windy melemparkan semua benda benda dimeja riasnya setelah membaca berita terbaru tentang perkembangan kasus antara dia dan Jinny.
Artikel artikel yang menyatakan bahwa bukan Kim Jinny yang menyerang dirinya, melainkan seorang Hwang Jinny yang dia tidak tahu siapa itu.
"Jinny sialan! Bisa bisa nya dia lolos!"
"Tunggu aja lu Jin! Gue ga akan nyerah!"
Brughh!
Windy merah besar dan menghancurkan barang barang di apartemennya, kalimat kalimat diartikel yang menyatakan bahwa Jinny tidak terlibat, masih terngiang ngiang dikepalanya. Bahkan artikel tersebut sudah dikonfirmasi oleh agensinya
"Harusnya lu bersyukur bukan nama lo yang naik ke hotline sebagai pelaku!"
Suara seorang gadis yang berdiri diambang pintu kamar membuat Windy menghentikan aktifitasnya
"Mau apa lo kesini?! Mau pamer kalo lo udah debut?! Lo itu munafik Ra! Lo itu sama busuknya kek gue!"
Laura yang tidak terima dengan penuturan Windy, langsung menampar wajah Windy hingga tersungkur
"Hati hati aja sekarang Win! Gue bisa ngejatuhin lo dalam hitungan detik"
Laura lalu menunjukkan rekaman diponselnya saat Windy sedang mengamuk tadi hingga menyebutkan nama Jinny
"Jadi gimana? Masih mau ganggu Jinny?!"
"Sialan!!"
Windy hendak mengambil ponsel itu, tapi tangan dicekal seseorang hingga dia tersungkur. Laura ikut terkejut dengan kemunculan seorang lelaki yang entah darimana masuknya
"Pergi! Saya ada urusan dengan adik saya!"
"Iya"
"Dan rekaman itu, jangan disebar. Saya percaya kamu"
"Kalau anda bisa menjamin saudari anda, maka saya bisa menjamin ini juga"
"Saya jamin"
"Okey"
Laura pergi darisana lalu melambaikan tangannya ke Windy yang sudah pucat pasi itu.
"Gimana?"
Uchi menghampiri Laura yang baru saja keluar dari apartemen Windy, lalu memberikan air minum pesanan Laura tadj
"Tadi kak Xavier dateng, katanya dia bisa ngejamin Windy"
"Kak Xavier? Ah iya gue tadi liat dia masuk juga"
"Keknya dia takut banget deh sama abangnya, mukanya langsung pucat gitu"
"Ya bagus deh, biar abangnya yang ngasih pelajaran"