Sorry, I Did

Sorry, I Did
eps 3 - Saingan(?)



Huang Chen-yi, anak dari orang paling berkuasa di Korean Art School International, kedua setelah Kim Jihoon papa Jinny. Biasa dipanggil Chen, made in China, sifatnya 11 12 sama Jinny.


Chen punya 1 temen yang selalu nempel kemana mana, Osaki namanya, made in Japan. Osaki satu kampung sama Uchinaga temen Jinny, jadi ya wajar kalo mereka agak deket


"Kok lo tau?"


"Lah? Lo gatau? Dia itu calon idol, belum debut resmi sih, tapi udah di publish sama agensinya", jawab Chen sedikit berbisik


Laura, Uchi, dan Jimin terkejut dan mendekat dengan Chen


"Serius lo?"


"Ga heran sih, liat aja mukanya, spek bidadari turun dari surga"


"Wah saingan Jinny berat"


Ketiga gadis itu sedikit mengangguk anggukan kepalanya meratapi nasib sahabatnya


"Si Windy tu bulan depan debut resmi", kini Osaki mulai bersuara setelah mencari tahu tentang Windy melalui handphonenya


"Oh udah ada tanggalnya ya? Gue belom update soalnya", jawab Chen yang ikut melirik handphone Osaki


"Tapi ke-"


Kringg!!! Kring!!!


Suara bel istirahat memotong ucapan Jimin yang hendak bertanya lebih lanjut soal Windy


"Lu kalo mau tau soal Windy kabari gue ya, gue penasaran juga", ucap Chen kepada 3 ciwi dihadapannya lalu pergi keluar bersama Osaki


"Kita kantin kuy, sekalian cari Jinny"


"Kuy lah, kemana coba tu bocah"


Laura dan Jimin sudah bangkit dari kursinya


"Woy Chi, ayo elah"


"O-oh iya"


Uchi tersadar dari lamunannya dan ikut bangkit untuk mengisi perutnya, kini tujuannya ingin mencari Jinny yang sejak tadi belum kembali ke kelas


...


"Duh kak sakit.. pelan dong!"


"Iya ini pelan Jin.. tahan dikit"


Jinny terus merengek saat Arkan mengobati luka di lututnya, kali ini rasa sakitnya ga bisa di cover pake pesona Arkan. Ini beneran sakit


'Duh kalo papa tau habis ni gue, bisa bisa jadi tahanan kamar'


Jinny banyak mengumpat dalam hati, padahal niatnya cuma cari sensasi tapi malah terealisasikan dengan baik. Tapi setidaknya usahanya membuahkan hasil


"Em.. kak, aku boleh nanya sesuatu ga?", Tanya Jinny ragu ragu


"Hm?"


Lelaki didepannya kemudian menatapnya sejenak lalu kembali melanjutkan aktifitas mengobati lutut Jinny


"Hm.. mau nanya apa?",


"Cewe yang tadi sama kakak tu.. siapa kak kalo boleh tau?",


Suara Jinny berangsur pelan,sungguh dia tau betul kalau dia sudah lancang menanyakan privasi orang lain yang baru bertemu 3x. Tapi rasa penasarannya lebih besar dari itu


Kepala Arkan terangkat menatap manik mata Jinny yang sedang menunduk, dia tersenyum tipis. Tapi Arkan tidak langsung menjawab, dia memilih menyelesaikan perban Jinny lebih dulu


Setelah perban selesai Arkan mengambil kursi lalu duduk dihadapan Jinny, gadis itu sepertinya sedikit gugup, bisa dilihat dari telinganya yang memerah seperti tomat matang


"Kenapa kamu pengen tau?"


"Cuma penasaran..", cicitnya


Arkan melihat itu, dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jinny dan mengangkat dagu Jinny dengan jari telunjuknya, mereka hanya berjarak 7 cm sekarang


'cantik juga' Arkan tersenyum dalam hati


Sedangkan Jinny udah ga karuan, rasanya jantungnya bakal terjun bebas dari tempatnya


"Dia crush kakak", jawab Arkan pelan


Deg.


'gapapa gapapa masih crush, belom jadi. Masih bisa ditikung Jin!'


"O-oh gitu..", jawab Jinny pelan lalu memundurkan kepalanya


"Tapi dia nolak kakak",


Lanjut Arkan lagi lalu ikut memundurkan wajah dan tubuhnya dari Jinny,


"Serius kakak ditolak?!", Tanya Jinny sambil memajukan wajahnya ke Arkan dengan sangat cepat. Sangat cepat sampai sampai bibir mereka hampir meet and greet


Arkan menelan ludah, sepertinya AC Uks sedang rusak. Tubuhnya sedikit..panas


"S-serius.. t-tapi kenapa kamu kok begitu reaksinya?"


"Seneng, biar ga ada saingan lagi", jawab Jinny jujur dengan senyuman mengembang di bibirnya


"Lah? Crush kakak itu juga bocil loh", sahut Jinny ga terima


Arkam tertawa lalu mengacak acak rambut hitam panjang milik Jinny


Kringg!!! Kringg!!!


Bel istirahat berbunyi, Arkan menghentikan tangannya yang mengacak rambut Jinny. Dia lalu kembali teringat dengan tujuan awalnya datang ke sekolah ini


"Em.. Jin, kakak pergi dulu ya, kan tadi kesini niatnya mau ambil ijazah"


"Eh? Udah mau pergi aja kak?"


"Iyaa, kakak ga bisa lama, soalnya malam ini kakak harus berangkat ke Chicago"


"Kakak kuliah disana?"


"Iya.. kamu yang pinter ya sekolahnya, ntar susul kakak disana", jawab Arkan sambil mencubit gemas pipi gembul Jinny


"Yah..berarti ini terakhir aku ketemu kakak dong?"


"Hehe iya.. kamu bisa jalan ga? Mau kakak anter ke kelas?"


Semangat Jinny yang tadinya terbakar, perlahan redup


"Gausah kak, ntar aku bisa telfon temenku"


"Yaudah kakak pergi dulu ya, byee.."


Arkan berpamitan dengan senyuman, tapi kemudian langkahnya terhenti saat tangannya dicekal dari belakang. Jinny pelakunya


"Hm?"


"Aku bakal susul kakak nanti, aku bakal kuliah disana"


"Haha.. oke oke, kakak tunggu ya"


Arkan tertawa melihat Jinny yang berbicara sambil menunduk dan mengerucutkan bibirnya


'wah ini terlalu manis untuk ditinggalkan. Tapi sayang banget gue harus pergi'


Cup!


Arkan tiba tiba mengecup singkat bibir Jinny. Gimana reaksi lawan? Hampir pingsan!


"Hadiah, biar semangat", ucap Arkan tersenyum sambil ngedipin sebelah matanya lalu pergi dari sana meninggalkan Jinny yang masih loading


'duh harus banget gue nikah sama dia ntar! Andai aja kita ketemu lebih cepat, gue ga akan ambil kuliah jauh jauh ke Chicago Jin!'


Arkan terus bergumam sepanjang jalan sambil merutuki hal terakhir yang dia lakukan pada Jinny tadi


...


Jinny masuk ke dalam kelas saat bel masuk berbunyi, pertanda waktu istirahat sudah habis. Dia disambut oleh suara heboh Uchi dan Laura yang terus menanyakan kemana saja dirinya sejak tadi, sedangkan Jimin? Manusia es itu cuma Ngeliatin doang karna dia nya emang irit bicara


Byurr!!!


"Bngst Chi! Jorok bngt!"


Uchi menyemburkan minumannya, dia tersedak karena mendengar Jinny menceritakan semua hal tadi, termasuk tentang 'kiss' nya


"Dia cium lo, trus pergi gitu aja?!!"


"Terus kok lo mau bego?!!"


Uchi dan Laura sedikit emosi dengan Jinny, walaupun itu bukan pertemuan pertama mereka, tapi tetep aja mereka berdua tu gada hubungan sama sekali


"Tapi gue yakin, hati lo pasti lagi berbunga bunga banget", sahut Jimin sambil menyeringai


Jinny mendekatkan wajahnya ke Jimin


"Bibirnya manis", bisik Jinny


"Bentuk love pula", sahut Jimin


Jinny dan Jimin tuh udah kaya anak kembar, tingkah, sifat dan banyak lagi dari mereka yang sama, jadi ga heran kalo mereka sefrekuensi


Kemudian mereka berdua berteriak senang seperti baru menang lotre. Hampir lompat dari kursi kalau aja ga ada guru yang masuk ke kelas buat ngajar


'gue harus susul kak Arkan!' tekad Jinny dalam hati


✓New Character Unlocked



Huang Chen-Yi





Osaki Kato