Sorry, I Did

Sorry, I Did
Eps 15 - Perjuangan Mama Kim



Mata Jihoon kembali fokus kearah seorang gadis yang sedang duduk disofa sendirian, dari kejauhan terlihat kalau gadis itu sedang mabuk. Kaki jenjang Jihoon kemudian melangkah untuk mendekatinya, dia memiliki dugaan yang besar tentang gadis itu


Setelah sampai didekat gadis itu Jihoon tersenyum miring, ternyata dugaannya benar. Dia kemudian mengambil ponsel dan memotret gadis itu dari angle dekat, dan juga jauh.


"lumayan.. Menarik"


...


Minji menelfon suaminya dengan sedikit gelisah karena tidak pulang semalaman padahal kondisi mereka sedang buruk. Bahkan sekarang ini lebih buruk dari kemarin kemarin


Hari ini seseorang yang tak diketahui identitasnya memberikan pernyataan ke media bahwa pelaku percobaan pembunuhan yang dilakukan kepada salah satu anggota girlgrup D&N Entertaiment, Windy Atmaqueto, adalah Jinny.


Hal ini sontak membuat nama Jinny menjadi tercemar, haters yang sangat anti dengan Jinny sejak awal semakin gencar menyerang Jinny di media sosial. Banyak brand brand yang sudah memiliki kontrak dengan Jinny ikut mempertanyakan ini kepada agensi


Ujaran kebencian untuk Jinny kian meledak, bahkan beberapa wartawan sudah menunggu didepan rumah sakit untuk mewawancarai Jinny. Laura, Uchi dan Minji berusaha mengeluarkan Jinny dari rumah sakit tanpa ketahuan wartawan


Namun usaha mereka gagal dan alhasil wartawan mengikuti mobil mereka sampai dirumah pribadi Jihoon. Sedangkan Jinny sendiri tak memberikan reaksi apapun, dia hanya diam memikirkan semuanya, mengapa orang orang bisa begitu membenci dirinya hanya karena omong kosong yang belum jelas buktinya


Apakah benar semuanya bermula dari Arkan? Atau dari mimpinya yang ingin jadi model? Apa yang salah tentang dirinya? Mengapa semua orang membencinya? Bahkan fans yang kemarin memuja dia pun ikut melontarkan ujaran kebencian hari ini saat rumor busuk itu tersebar di internet


"Aku ke kamar dulu ya ma"


Jinny berjalan lemas kekamarnya sendirian, Laura dan Uchi tak berani menyusul Jinny jika bukan permintaan sang empu. Kamar pribadi Jinny sangat privasi bagi pemiliknya, tak boleh ada yang masuk tanpa izin sang pemilik


"Kalian berdua tau siapa pelaku sebenarnya?"


Minji membawa Uchi dan Laura ke ruang tamu untuk di introgasi, dia tidak bisa bertanya kepada siapapun, hanya Uchi dan Laura lah yang mungkin punya jawaban yang memuaskan. Tidak seperti Hamdan yang hanya menjawab 'masih diselidiki'


"Kalau firasat saya sih Windy tante, soalnya dia bener bener benci banget sama Jinny"


"Atas unsur apa dia benci ke anak saya?"


"Mungkin karena kalah populer tante, sejak Jinny debut, popularitas grupnya Windy sedikit menurun karena kehadiran Jinny, semua berpusat ke Jinny"


"Kalian tau jalan pintas untuk bertemu Windy?"


Laura dan Uchi menggelengkan kepala barengan, tapi kemudian kepala Laura terangkat saat mengingat sesuatu


"Kayanya saya tau tante"


Suara Laura sedikit pelan dan ragu mengucapkan kalimatnya barusan


"Katakan"


...


"Kok tiba tiba? Ada apa? Kenapa? Gue ga bakal di mutilasi idup idup sama mamanya Jinny kan?"


"Gue emang pengen ketemu sama calon mertua gue, tapi ga gini juga dong kondisinya!"


"Duh bisa mati beneran gue nih kalo salah ngomong!"


"Ki! Lo jawab gue dong jangan diem aja! Gue panik nih!"


Chen panik bukan main saat Osaki menjemputnya tadi dan mengatakan bahwa mamanya Jinny ingin bertemu dengannya terkait kasus yang menimpa Jinny.


...


"Ya? Gimana tan? Saya gitu?"


Chen menunjukkan dirinya sendiri saat mama Jinny menyuruhnya melakukan sesuatu setelah introgasi panjang tentang kejadian hari itu di toilet.


"Laura bilang kamu kenal sama dia, bawa dia kesini, saya mau bicara langsung"


"Saya ga bisa janji kalo dia mau datang tan"


"Gapapa, yang penting kamu sudah menunjukkan usahamu, saya dengar kamu ada perasaan ke anak saya, tunjukkan dong usahanya"


Minji mencoba meyakinkan anak muda didepannya untuk melakukan perintahnya, dia mendapatkan banyak bocoran dari Laura soal Chen.


"Baik tan"


Chen mengangguk tanda menyanggupi permintaan mama Jinny untuk membawa Xavier kerumah Jihoon. Iya Xavier Atmaqueto, orang yang akan dibawa Chen untuk rencana liburannya, abang dari Windy Atmaqueto, pelaku dari kasus yang sedang dihadapi Jinny sekarang


...


Jihoon terbangun dipagi hari saat sinar mentari menembus jendela kamar hotel. Iya! Tadi malam Jihoon menghabiskan malam dihotel bersama dengan seorang gadis dibawah umur, ini bisa jadi scandal besar untuk dirinya jika tertangkap basah


Tapi disisi lain, Jihoon mencari kesempatan untuk masalah yang sedang dihadapi dirinya dan juga putrinya.


Awalnya Jihoon hanya ingin mengambil beberapa foto dam juga vidio, tapi ternyata dia lupa kalau imannya hanya setipis tisu yang dibagi 1000 dan berakhirlah dia menghabiskan malamnya disana


Jihoon mengambil baju bajunya yang tercecer dilantai, membiarkan gadis itu yang masih tidur kelelahan dengan tubuh yang penuh bercak nafsu.


"Duh mampus gue!"


Jihoon menepuk jidatnya saat melihat handphonenya yang berisi banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan pesan yang dikirimkan istri dan anaknya, dia baru ingat kalau putrinya akan pulang kerumah hari ini.


Dia langsung bergegas kekamar mandi untuk bebersih, setelah itu langsung mengambil semua benda benda yang merupakan miliknya agar tidak meninggalkan jejak disana. Setelah memastijan semuanya, dia langsung pergi meninggalkan kamar hotel sebelum gadis itu bangun


...


Disisi lain ada Xavier yang saat ini sedang bersama Arkan, Hyunjae dan juga Chen yang tiba tiba datang keapartemennya membawa sebuah permintaan yang berat untuk dikabulkan


"Bang, Jinny beneran ga bersalah bang, gue sendiri yang jadi saksi mata"


"Lu yakin Windy begini? Lu aja ga kenal sama adek gue sebelum kalian satu sekolah"


Xavier dengan ragu mendengarkan pernyataan dari Chen tentang kejadian hari itu di toilet dan segalanya yang sudah dilakukan adiknya


"Gue berani sumpah kalo Jinny ga pernah sekalipun ganggu si Windy bang. Lo tau bang? Sekarang Jinny mentalnya jadi berantakan, dia depresi bang, tolong bantu dia bang"


"Jinny depresi?"


Bukan Xavier, itu suara Arkan yang akhirnya membuka mulut setelah sekian menit hanya menyimak pembicaraan mereka


"Dia udah 3 hari ga makan, dia kepikiran terus sama komentar komentar jahat itu bang"


"Yaudah gue kesana, biar gue yang ngomong ke tante Minji, gue bakal minta maaf atas nama adek gue"


...


Xavier, Arkan, Hyunjae, Chen dan Osaki sudah tiba di rumah Jinny, meskipun Chen sangat menyukai Jinny, tapi dia tahu bahwa hati Jinny berada pada Arkan.


Jadi Chen memustuskan untuk membawa Arkan agar Jinny mau dibujuk untuk makan dan minum obat, meskipun jauh dari dalam hatinya dia merasa sangat tidak rela


Tok! Tok! Tok!


Arkan mengetuk pintu kamar Jinny dengan membawa nampan berisi makanan, obat, dan juga beberapa snack yang dia bawa dari Chicago.


Tak ada jawaban terdengar dari dalam kamar, karena kamar itu kedap suara jadi memang Arkan diharuskan berdiri didepan pintu tanpa kepastian apakah makhluk didalamnya mendengar ketukannya atau tidak


Ceklek!