
Senyum Jinny tak kunjung luntur sejak pertemuannya dengan Arkan tadi, pasalnya karena Arkan mengajaknya untuk ngedate nanti malam. Ini pertama kalinya bagi Jinny untuk dating, jadi dia harus tampil oke
"Lu mau kemana emang Jin?"
"Tau nih, tumbenan banget nyari baju"
Uchi dan Laura masih duduk manis di sofa sambil melihat Jinny yang sejak tadi berusaha mencari outfit yang pas, padahal kalau untuk Jinny apapun itu bakal terlihat cantik
"Arkan ngajak ngedate"
"WHAT!!?"
Susu di mulut Laura menyembur mendengar jawaban Jinny, dia sampai tersedak dan memukul dada nya pelan
"Setelah sekian lama, ada hilal juga"
...
"Lu yakin ngajak Jinny ngedate?"
Xavier menghentikan aktifitas gamenya dan menatap Arkan yang juga ikut meletakkan stik PS nya
"Iyaa, lagian gue beneran suka kok sama Jinny, jadi ga ada salahnya kan kalo gue ajak ngedate?"
"Biarin ajalah Vier, toh bentar lagi kita balik ke Chicago, waktu 7 hari cukuplah untuk Arkan ngasih harapan ke Jinny"
Xavier mengangguk paham dengan penuturan Hyunjae tadi, ada benarnya juga. Karena Xavier tahu betul seorang Arkan ga akan semudah itu jatuh cinta, apalagi memberi kepastian dalam hubungan, itu sedikit mustahil.
"Jadi sebenernya lo serius ga sama Jinny?", Xavier menatap Arkan yang masih menyesap rokoknya dipinggir jendela
"Iya Ar, masalahnya papanya Jinny tuh bukan orang yang bisa lu ajak maen maen, bisa dipenggal idup idup lu sama dia", Hyunjae ikut menyahuti pertanyaan Xavier tadi
"Si Jae bener, lu liat aja gimana cara dia ngancem gue waktu itu"
Hyunjae langsung menoleh cepat kearah Xavier, dia ga tahu menahu soal yang satu ini
"Lu diancam? Sama siapa gile?"
"Jinny. Masalahnya si Windy kemarin"
"Wahh..."
Lalu Xavier menceritakan kejadiannya dari A sampai Z kepada Hyunjae. Soal pembunuhan itu tentu sama Hyunjae tau, dia sendiri yang menenangkan 2 sahabatnya itu dari depresi karena membunuh 3 orang teman sekolahnya
"Wahh Ar, ini lebih bahaya dari yang gue kira. Dia tau darimana coba? Trus dia tau ga kalo kalian berdua pelakunya?"
"Keknya dia gatau yang versi paling lengkap deh Jae, kalo dia tau ga mungkin dia mau aja gue ajak ngedate"
"Kalo dia mau ngedate cuma karena penasaran dan pengen tau informasi lain dari lo? Gimana?"
Arkan ada benarnya juga, tapi Hyunjae juga benar, sungguh Arkan pusing dengan kenyataan dan hati yang bertentangan
"Jawabannya cuma satu"
Xavier membuka mulut membuat 2 yang lainnya ikut menoleh
"Cari tau soal Jinny. Dia ga sebego yang kita kira"
"Dia ga bego Vier, dia tuh pinter banget, bahkan dia dapat lompatan kelas dan punya kesempatan lulus SMA dalam waktu 2 tahun"
Hyunjae dan Xavier kembali menganga
"Serius lu Ar? Kok bisa?"
"Semester 2 ini, si Jinny udah masuk kelas 11 bareng temen dia yang tadi lu samperin, siapa namanya?"
"JIMIN?"
"Iya. Semester 3 nya nanti langsung ke kelas 12, terus tamat deh. Setelah itu dia bakal fokus ke pekerjaannya, jadi gue juga harus selesaikan kuliah gue supaya gue bisa balik ke Korea secepatnya"
"Lu harus bisa ngendalikan Jinny Ar, kita gatau apa aja yang bakal dilakuin Jinny"
"Gue bakal urus Windy, gue pastiin dia ga akan ganggu hubungan lu dan Jinny, lu tenang aja Ar"
Xavier berusaha ikut meyakinkan Arkan, bagaimana pun juga hidup dia bisa aja tiba tiba hancur karena adiknya
"Eh tapi btw.. menurut lu lu pada, si Jimin gimana?"
Arkan dan Xavier menatap satu sama lain, lalu mengangkat alis nya sebelah. Pertanyaan yang keluar dari mulut Hyunjae tadi adalah sesuatu yang langka
"Lumayan"
"Ambil aja Jae, diluar sama belum tentu lu dapat spek begitu"
...
Arkan memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Jinny, ini sudah pukul 7 malam seperti yang dijanjikannya tadi ke Jinny kalau mereka akan jalan bareng
Arkan melangkahkan kaki kedalam rumah besar itu, dia melihat Jihoon disana, sedang duduk di sofa ruang tengah.
'duh mampus, mana papa nya galak lagi'
Arkan datang menghampiri Jihoon, lalu berusaha menyapanya dengan baik. Sebuah wawancara singkat didapatkan Arkan malam ini, tapi kemudian dia diberi izin untuk membawa Jinny keluar
"Pamit dulu om"
"Jaga anak saya, kalau kamu macam macam saya juga akan macam macam'in kamu"
"Baik om"
Jinny sedikit tertawa melihat papanya yang sedang memasang wajah seram untuk menakuti Arkan
"Papa jangan gitu ih, Jinny pergi dulu ya, byee"
Jinny mencium sejenak papanya lalu pergi darisana, suasana hatinya sedang campur aduk sekarang, antara gugup dan senang
Arkan membukakan pintu mobil untuk Jinny, lalu melindungi kepala Jinny agar tidak terbentur atap mobil
Arkan membalas senyum Jinny yang begitu manis dipadukan dengan outfit Jinny yang sangat sesuai dengan stylenya
Mobil Arkan keluar dari kompleks rumah Jinny dan masuk ke jalan raya, menuju restoran untuk mereka makan malam.
"Tenang aja, aku ga gigit kok", ucap Arkan saat melihat kaki Jinny yang tidak bisa diam sejak tadi
"Cuma agak.. gugup"
"Iya kan makanya aku konfirmasi, aku ga gigit"
Jinny tertawa, rasa gugupnya sedikit berkurang sekarang dan mulai berani melihat Arkan yang semakin bertambah ketampanannya karena sedang menyetir
"Kamu cantik banget ternyata, aku sampe bingung"
"Bingung kenapa?"
"Iya bingung, mau pacaran dulu atau langsung ke KUA"
Jinny tertawa lagi, kini rasa gugupnya benar benar hilang, Arkan kembali melontarkan kata kata manis sampai tak sadar kalau mereka sudah berada di perkiran restoran
...
Makan malam dan nightdrive bersama crush berjalan lancar, Jinny sekarang sedang berguling guling diatas ranjangnya, masih terbayang bayang kejadian beberapa menit lalu dimobil yang membuat degup jantungnya tak karuan
*Flashback*
Sesudah makan malam direstoran, Arkan membawa Jinny untuk berkeliling kota sambil menikmati angin malam. Mereka berhenti sejenak disungai Han sambil menikmati beberapa snack yang dibeli di supermarket tadi
Setelah obrolan panjang akhirnya Arkan memutuskan untuk memulangkan Jinny karena hari sudah mulai larut, dia ga akan mau dicincang hidup hidup oleh papa Jinny
Arkan memajukan tubuhnya menghadap Jinny karena melihat gadis disampingnya kesulitan menarik seatbelt, tapi kemudian disaat yang bersamaan wajah Jinny juga menoleh dan membuat bibir mereka bertemu.
Ralat, itu menempel.
Keduanya mematung, tapi kemudian Arkan mengambil kendali. Dia menarik tengkuk Jinny dan ******* perlahan bibir mungil itu.
Arkan segera menyadarkan diri dan melepas ciuman itu, manik mata mereka bertemu, rasanya dia hampir mendengar suara detak jantung Jinny yang hampir keluar
"Maaf..", Arkan mengelus lembut bekas saliva dibibir Jinny
"Kenapa minta maaf?",
"Aku... Tadi... Tiba tiba... Aku ga-"
Arkan tercengang karena tiba tiba bibirnya dibungkam oleh bibir Jinny, ini sedikit lebih panas dari aksinya tadi. Melihat respon Jinny, akhirnya Arkan melanjutkan ciuman mereka dengan sedikit panas ditengah cuaca dingin kota Seoul
Momen beberapa menit ini membuat hawa mobil menjadi sangat panas, wajah Jinny sudah seperti kepiting rebus, dia juga sempat melihat keringat mengalir diwajah Arkan.
"This your first kiss beib?", Arkan menatap mata Jinny sangat dalam, sudah bisa dipastikan dia benar benar jatuh cinta dengan pesona gadis dideoannya inj
"Hah? Hm..iya",
"Manis", Jinny tersenyum lalu menggigit bibir bawahnya yang terasa sedikit bervolume
Arkan menyudahi ciuman itu dan kembali ke posisi semula setelah memasang seatbelt Jinny, ada sesuatu yang hampir tidak bisa dia kendalikan. Sebelum dia menerkam Jinny disini, lebih baik dia mengembalikan kesadarannya
Arkan sesekali menoleh kearah Jinny yang sedang salah tingkah, mungkin gugup? Dia lalu menggenggam tangan Jinny dan mengecupnya perlahan
"Do you wanna to be my girlfriend?"
Jinny langsung menoleh kearah Arkan untuk memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik
"Huh?"
"I love you.. Jinny"
"I love you too, kak Ar"
Jinny merasa ada beberapa kupukupu terbang diperutnya sekarang, mimpi apa dia kemarin sampai tiba tiba ditembak Arkan begini?
"Jadi.. kamu mau kan? Jadi pacar kakak?"
"Emangnya kakak kuat LDR?"
"Kuat, apasih yang ngga buat kamu"
"Oke"
Arkan mengeryit? Apa maksudnya 'oke'? Dia bahkan belum memulai hubungannya, tapi kode kode dari Jinny tidak bisa dipahaminya dengan baik
"Oke? Apanya? Yang lengkap dong sayang"
"Oke aku mau jadi pacar kakak"
Tak bisa disembunyikan lagi, Arkan tersenyum sumringah dan hampir memeluk Jinny. Iya hampir, kalau saja dia ingat melepas seatbeltnya.
"Tapi aku cuma punya waktu 7 hari sebelum balik ke Chicago, jadi aku harus full'in waktu ku buat kamu"
Arkan mengelus wajah Jinny perlahan, dia melihat Jinny tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Gapapa, kita juga sama sama sibuk, kakak kuliah ngejar mimpi, aku kerja dan sekolah ngejar mimpi juga, aku yakin kita bisa saling memaklumi"
"Makasih sayang", satu lagi kecupan terakhir dari Arkan sebelum akhirnya mereka melanjutkan perjalanan pulangnya
*Flashback off*
Drtt! Drtt!
Handphone Jinny bergetar menandakan notifikasi masuk, ada nama Arkan disana membuat Jinny langsung terduduk diranjangnya
Percakapan panjang diroom chat disambung dengan telfon dari Arkan dan berakhir sleepcall sampai dua insan itu ketiduran
Kalau sedang kasmaran memang kadang buat lupa waktu, bahkan Jinny sama sekali tidak ganti baju sampai dia bangun dipagi hari karena terik mentari dari jendela kamarnya