
"Dia menyukaimu.."
"Hah Aku ?"
"Wah kamu benar-benar gadis yang bodoh.."
"Dia sering mengawasimu.."
Hati Chrysant sama sekali tidak tersentuh, karena baginya orang kaya lebih cocok bersama dengan sejenis mereka. Chrysant sama sekali tidak tersentuh setiap kali mendengar isi hati dari anak laki-laki dari kalangan atas.
Mereka berdua akhirnya memberanikan diri untuk melangkah ke kelas 8J.
"Amelaty.. Kamu bilang mau meminjam.. kenapa Kita hanya mengintip ? Benar kata Richy kita berdua seperti perampok."
"Mereka tidak ada " Bisik Amelaty.
Tiba-tiba bel istirahat selesai.
"Wah gagal nih.." Sahut Chrysant.
"Hm.. baiklah kita berpisah dulu.. saat jam istirahat kedua berbunyi tunggu Aku di parkiran."
Saat kembali ke kelas, Chrysant sekilas melihat Christin sedang berdiri di atas kursi. Terlihat jelas bahwa Christin sedang di hukum.
Saat Chrysant kembali ke kelas ternyata jam pelajaran belum di mulai dan Chrysantpun duduk dan tiba-tiba Chrysant merasa seperti tertusuk hingga sekujur tubuhnya merinding.
Chrysant langsung berdiri kembali dan melihat di bangkunya tidak ada apa-apa. "Aneh.. Aku merasa sangat sakit.."
Chrysant yang merasa aneh langsung berlari ke kamar mandi. Tetapi karena kamar mandi perempuan terlalu jauh, Chrysant terpaksa memasuki kamar mandi laki-laki.
Saat Chrysant membuka roknya ternyata ada jarum khusus benang wol yang menancap di sekitar selangkanganya dan saat Chrysant mencabutnya, darah langsung memancar keluar dan mengalir seperti air.
Penglihatan Chrysant langsung gelap dan jatuh pingsan. Kebetulah di depan pintu ada Riendly yang kebetulan lewat untuk merokok.
Riendly yang mendengar suara orang jatuh langsung mendobrak pintu dan terkejut melihat Chrysant dan roknya yang basah dengan darah.
"CHRYSANT ! Sial, kenapa Aku yang menemukanya.."
Riendly yang ketakutan langsung membawa Chrysant ke ruang guru.
"Hei.. hei.. bawa anak itu ke UKS.." Rahman yang baru saja selesai makan langsung muntah melihat darah di kaki dan rok Chrysant.
"Bapak lemah.." Riendly langsung membaringkan Chrysant di meja Guru. Beberapa Guru yang berada di dalam ruangan panik menyaksikan keadaan Chrysant dan langsung menghubungi ambulans.
Saat ambulans datang dan membawa Chrysant tidak ada murid yang mengetahuinya karena saat jam pelajaran setelah istirahat dimulai sangat jarang seorang murid keluar ruangan.
Riendly dan Rahman juga mengikuti di dalam ambulans untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, karena Rahman telah menghubungi Sumirna sebagai wali Chrysant.
Saat semua orang terkumpul termasuk Sumirna, dokter menjelaskan bahwa Chrysant tertusuk benda tajam yaitu jarum yang digunakan untuk benang wol di sekitar kemaluanya dan tepat mengenai pembuluh darah.
Chrysant tidak harus di rawat dan tidak perlu jahitan. Chrysant hanya perlu minum obat dan rutin mengganti perbanya. Dokter menjelaskan bahwa semua bisa dilakukan di rumah.
"Sebenarnya Aku hanya menemukan Chrysant di penuhi darah, Aku tidak tahu apa yang terjadi." Riendly mempertegas bahwa bukan Dialah yang menyakiti Chrysant.
"Chrysant, apa yang sebenarnya terjadi nak ?" Rahman mendekati Chrysant.
"Aku hanya kembali ke kelas saat jam istirahat selesai dan saat duduk Aku merasa seperti tertancap sesuatu yang menyakitkan.."
"Baiklah besok Bapak akan menanyakan kejadian ini di kelas 7A."
"Terimakasih Pak.." Chrysant langsung berpaling ke Sumirna. "Bu Sum.. kapan Aku bisa pulang ?"
"Ibu akan membawa Chrysant setelah membayar.. Chrysant tunggu disini yah.."
Sumirna yang pergi menuju tempat pembayaran diikuti Rahman di belakangnya.
"Chrysant.." Riendly mendekat. "Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi hari ini padaku.."
"Sudahlah.. mungkin sudah saatnya Aku mengalami hal seperti ini.. Aku bahkan pernah di racuni oleh temanku sendiri saat masih di Sekolah Dasar.."
"Bisa-bisanya ada monster seperti itu.."
"Orang kaya tidak akan mengalami hal mengerikan saat di bangku sekolah.. orang-orang takut mencelakai kalian.."
"Kenapa kamu bisa menerimanya ?"
"Oh.. Aku ingat.. biasanya kita makan seperti ini.." Riendly mempraktekan cara memakan makanan ringan berbentuk cincin.
"Tetapi punyaku yang paling besar, dua kali lipat dari mereka. Bodohnya, karena punya mereka telah habis mereka lupa kalau mereka sedang mengerjaiku dengan memberikan bagian yang telah jatuh tempo. Akhirnya mereka juga meminta punyaku dan kami keracunan bersama.."
"Bocah bodoh.." Riendly merenggangkan alisnya. Merasa aneh Ia menikmati pembicaraan ini.
"Iya.. memang yang Aku tahu.. rasa iri membuat kita melakukan hal buruk.."
"Iri ?"
"Padahal hahaha.. hanya karena Aku sering di berikan makanan ringan oleh anak laki-laki mereka juga ikut-ikutan melakukanya.."
Riendly tersenyum melihat Chrysant yang banyak bicara. "Jadi setelah ini Kamu akan pulang ?"
"Iya Aku akan menghubungi Amelaty dan menjelaskan semua kepadanya.." Guman Chrysant.
"Maksud Kamu ?"
"Tidak.. Aku hanya asal bicara."
Saat Sumirna dan Rahman kembali Chrysant langsung di bawa pulang oleh Sumirna dan Rahman bersama Riedly kembali bersama ke Sekolah.
"Riendly.. saya ingin Kamu langsung pulang. Karena jika pelakunya mengetahui kita sedang mencarinya. Saya yakin minggu depan Ia tidak akan hadir.. bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa dan biarkan pelakunya melupakan kejadian ini sementara waktu.. Saya juga sudah bicara dengan wali Chrysant untuk tidak melaporkan hal ini di kantor Polisi.. Karena jumlah murid yang banyak hanya akan menimbulkan keributan dan memicu ketakutan berlebihan.. Apalagi di baju kamu ada.."
Rahman mencoba menahan rasa mual melihat darah di baju Riendly dengan menutup mulut menggunakan tanganya.
Di dalam hatinya Rahman benar-benar ingin mengetahui siapa pelakunya karena saat mendapatkan nomor wali Chrysant yaitu Sumirna barulah Ia tahu bahwa Chrysant adalah adik dari Zagas.
"Bagaimana tas Saya dan Chrysant Pak..?"
"Kamu mau Saya titipkan atau Saya simpan..?"
"Titip ke Amelaty saja Pak.."
"Baiklah.."
Saat kembali ke sekolah, Riendly hanya mengambil motor besarnya dan langsung pulang sementara Rahman langsung ke kelas 7J untuk mencari Amelaty.
"Siapa disini yang bernama Amelaty..?"
Tidak ada murid yang mengaku. Ternyata Amelaty telah mencari Chrysant di kelas 7A. Rahman yang langsung pergi ke kelas Chrysant langsung berpapasan dengan Amelaty.
"Hei.. Nak.. Amelaty.."
"Iya Pak.." Amelaty langsung memutar tubuhnya terkejut mendengar suara Rahman. Amelaty yang tidak tahu apa-apa ingin tertawa melihat penampilan Rahman yang berantakan.
"Bapak ingin minta tolong untuk ambilkan tas Chrysant dan Riendly."
"Siap Pak.."
"Tolong kamu antarkan ke rumah mereka. Kamu pulangnya naik apa..?"
"Mobil Pak.."
"Baiklah.. Saya minta tolong yah.."
"Siap Pak.."
"Saya mau ke kamar mandi dulu.."
"Silahkan Pak.."
Amelaty yang di penuhi tanda tanya hanya bisa melakukan perintah Rahman. Tetapi saat sampai di kelas 8J, Amelaty mendengar para murid berbicara tentang Riendly yang pulang dengan darah di bajunya.
Amelaty yang ketakutan langsung berlari menuju gerbang sekolah.
"Eh.. mau kemana Dik..?" Tanya Dody. "Eh.. kenapa mukanya.." Dody terkejut melihat wajah Amelaty yang di penuhi air mata.
"Teman saya paaaaaak.."
"Oh iya silahkan.." Mengira ada murid yang meninggal Dody langsung membukakan gerbang.