SMP X

SMP X
15. Mentari Senja



Chrysant yang baru pertama kali mengenal seni Kriya, tanpa pengalaman apapun dalam bidang ini memutuskan membuat guci dari buah maja yang telah mengeras dan memberikan beberapa tambahan.


Chrysant membuat pegangan pada sisi kanan dan kiri dengan ranting kayu yang kuat sebagai pegangan. Ia juga membuat hiasan abstrak pada bagian luarnya menggunakan pelepah pisang kering.


Untuk bagian penopang di bawah, Chrysant menggunakan buah maja lainya yang dipotong seperti cincin sebagai penyeimbang di bagian bawah.


Ruby yang telah yakin sejak awal, tidak kecewa sama sekali dengan hasil sentuhan tangan Chrysant. Ruby juga mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk persiapan lomba kali ini.


10 Februari 2020


Chrysant yang akan mengikuti lomba di perbolehkan libur karena pada hari ini la akan melakukan rapat untuk mengikuti perlombaan.


Chrysant duduk bersama Ruby sebagai perwakilan dari SMP X. Seperti rapat-rapat yang pernah di ikuti Chrysant, hal yang di bicarakan adalah dana, bahan dan tema.


Untuk tema kali ini adalah bebas dan untuk dana semuanya di serahkan ke masing-masing sekolah karena bahkan hari ini hanya dua peserta yang mengikuti rapat bersama.


Saat rapat selesai Chrysant pulang terpisah dengan Ruby karena la memesan ojek online. Chrysant yang memiliki janji bersama Amelaty dan Aisyah langsung menuju ke makam Richy.


Hal seperti ini sudah seperti kebiasaan sejak Richy tiada.


Mereka bertiga sering mengunjungi Richy dengan hanya sekedar duduk sambil bercengkrama, membersihkan makam atau hanya datang untuk menaruh bunga.


Saat tiba, Amelaty dan Aisyah sedang memasang payung raksasa di sisi makam Richy yang di bantu oleh Renal.


"HEI! Apa yang kalian berdua lakukan."


"Diamlah, hari ini sangat panas.. kita bertiga akan hangus terbakar matahari." Sahut Amelaty.


"Ya ampun, kalian juga bawa makanan.. banyak sekali ! dan kipas portable.. Ah ! kalau kipas tidak masalah."


"Hehe.. saat bersama Richy Aku biasanya makan cemilan bersamanya."


"Aisyah, ini kuburan tahu.. kalian bisa kualat nanti."


"Duduklah melihat wajahmu yang sudah seperti udang bakar membuatku semakin kepanasan."


"Diam Kamu Amelaty ! Aku serius.."


Setelah perdebatan panjang akhirnya Chrysant kalah dan ikut duduk bersama Amelaty dan Aisyah.


Amelaty yang tahu cara main telah membayar penjaga makam agar mengizinkan mereka untuk melakukan semua ini.


"Kapan Chrysant lomba ?" Tanya Amelaty.


"Lusa." Jawab Chrysant dengan ketus.


"Hm, Richy sering berkata bahwa la ingin kita pergi berlibur bersama. Pantas saja la selalu memaksa jika akan mendekati hari libur."


"Kamu sebagai sahabatnya pasti sering pergi berlibur dengan Richy ?"


"Ng, jarang.. Aku sering merasa Richy hanya menyombongkan kekayaanya, Aku tidak tahu kalau la serius dengan ajakan itu." Aisyah mulai menangis. "Lagipula siapa yang mau berteman dengan gadis jelek seperti Dia."


"Hei wajahmu seribu kali lipat lebih buruk di bandingkan Richy."


"Kenapa kamu menggretak Aku?"


"Hei.. hei.. Aisyah, Amelaty memang begitu. Itulah Dia saat sedang bercanda, jangan di ambil hati." Chrysant menepuk pundak Aisyah. "Aku adalah terburuk diatas segalanya, dengan mudahnya memberikan cincin pemberian Richy pada Guru yang menyebalkan itu.."


"Berarti untuk seni lukis tidak ada yang mewakili sekolah kita ?"


"Yah begitulah Mel.. karena waktu yang singkat maka sulit untuk mendapatkan pengganti mendiang Richy."


Apakah karena tempat yang nyaman atau makanan ringan yang enak. Waktu berjalan seolah mereka sedang bercanda gurau bersama seperti dulu. Empat orang gadis yang belum menemukan jati diri mereka.


"Ag! Sudah pukul lima lewat !" Aisyah terkejut saat melihat jam pada ponselnya. "Wah Aku harus menghubungi pacarku."


"Halo, iya pak jemput sekarang." Amelaty juga langsung menghubungi Renal. "Kalian berdua ikut Aku saja."


"Tidak usah, aku harus pulang bersama ayah.."


"Oh hahaha.. memangnya orang tua kamu tahu kalian pacaran ?" Chrysant mulai mencolek Amelaty yang sama-sama merasa geli.


Hanya beberapa menit kemudian seorang anak laki-laki mengenakan seragam merah putih tiba.


"Ah itu dia.. Wah Ayah cepat sekali datangnya."


Seketika Chrysant dan Amelaty membeku melihat pemandangan mengejutkan didepan mata mereka.


"Apa itu anak SD ?" Bisik Chrysant.


"Iya seratus buat Kamu !" Bisik Amelaty.


Boy, datang dengan mobil lengkap dengan sopirnya. "Halo Bunda sayang."


"Iya Ayah, kenapa belum ganti baju ?"


"Habis main game tadi di rumah teman dekat dari sini juga, jadi lupa pulang."


"Guys perkenalkan ini Boy pacar Aku."


"Halo semua." Boy dengan senyuman mautnya.


"Oh hehe bukankah Dia terlalu muda untukmu ?" Tanya Amelaty sambil tersenyum kaku.


"Kalian salah sangka, Boy lebih tua dua tahun dari kita.."


"Oh.. Stupid but rich."


"Amelaty.. ini bukan saatnya bicara seperti itu." Bisik Chrysant.


"Apa itu artinya ?" Tanya Boy.


"Iya apa ?" Sambung Aisyah.


"Wah.. Are you two very stupid right?"


"..." Aisyah dan Boy terdiam terpesona dengan accent British Amelaty.


"Amelaty Kamu keren sekali, Apa artinya ?" Tanya Aisyah.


Wajah Chrysant hampir meledak karena menahan tawa.


"Kalian berdua memang di takdirkan bersatu."


"Ah romantis." Aisyah sangat girang mendengar perkataan Amelaty.


"Bunda ayo pulang." Aisyah dan Boy berjalan ke arah mobil sambil bergandengan tangan.


"Wah sore-sore begini melihat pemandangan seperti itu, sebaikanya kita minum banyak vitamin untuk mata agar tidak terkena rabun senja."


"Hahahahahahahahaha.. Ah Aku tidak tahan tadi. Ya ampun bisa-bisanya Kamu membuat lelucon tepat di sampingku."


"Gadis gila itu, memangnya berapa laki-laki yang bersamanya, pantas Coco sering menggoda Dia."


"Hm.. bukankah semua orang akan berubah. Dia tidak akan selamanya seperti itu."


"Tenang saja, Aku akan menyimpan aib ini untuk membuatnya sakit kepala di masa depan."


"Hei itu Pak Renal." Tunjuk Chrysant ke arah Renal yang sudah terlihat dari jauh.


"Kamu yakin tidak mau Aku antar ?"


"Iya tidak usah."


"Dasar pelit !"


"Hehehe, Aku paham. Sebenarnya Aku ingin menyendiri sebelum lomba di mulai. Rasanya banyak bersenang-senang menambah rasa gugup ini."


"Iya iya, karena kamu seharian tidak masuk sekolah." Amelaty mengambil sesuatu di dalam tasnya. "Ini!"


"Coba baca ?"


Gadis Vampire


Aku tahu siapa namamu


Aku tahu dimana rumahmu


Aku tahu makanan kesukaanmu


Aku sangat mengenalmu tanpa kamu sadari


Karena begitu bersinar


Kamu seperti melayang saat berjalan


Atau karena saat melihatmu


Seakan waktu berhenti untuku


Hidup yang indah ini sepertinya sudah berusaha


Membuatmu menjadi manusia biasa


Apakah Aku harus meminta bantuan matahari ?


Atau mataharipun tidak bisa menghangatkanmu


Wajahmu yang dingin


Menghentikan langkahku


Orang-orang hebat di sisimu


Menciutkanku


Chrysant, gadis cantik itu


Bersinar dengan jari kecilnya


Aku sadar Dia hidup saat la tersenyum


Menangis tanpa ada yang tahu


Gadis Vampire, maaf


Aku tahu itu nama yang buruk


Bukankah kita lebih baik berteman


Tapi waktuku telah habis karena diam


Jika bertemu lagi


Jika berbicara denganmu lagi


Jika benar terjadi


Mungkin Akulah yang akan menjadi Vampire


"Itu dari Rika, wah anak itu romantis juga. Aku tidak tahu kalau kalian dekat. Kamu tidak pernah cerita tentang dia."


". . ."


"Dia sudah pindah besok, tadi Dia pamitan di kelas 7A."


"Jadi Rika menyerah." Guman Chrysant.


"Apa ?"


"Tidak apa-apa."


"Yang Aku tahu ayahnya sering membuat buah tangan untuk pesta pernikahan atau lamaran, karena beberapa guru pernah berbicara denganya di depan kelas kami, yah sepertinya minta diskon."


"Hm.. begitu.. Terimakasih telah menyampaikanya Mel.."


"Sama-sama.. Baiklah Aku pulang yah.. Dah." Sambil melambai, Amelaty meninggalkan Chrysant.


"HATI-HATI DI JALAN !" Teriak Chrysant.


Saat semuanya telah pulang, Chrysant kembali membersihkan makam. "Kenapa kami tidak kepikiran merapikan sisa sampah makanan dan tikar ini. Aku memang terlalu rajin. Hm.. Stupid but rich.. hehehe."


Chrysant mengambil tissue basah di dalam tasnya dan membersihkan debu pada keramik makam Richy. "Hm.. bagaimana dengan payung ini?"


"Biarkan saja."


Chrysant langsung terkejut mendengar suara Riendly yang sedang berjalan mendekatinya. Chrysant yang baru beberapa hari tidak melihatnya merasa Riendly bertambah tinggi.


"Kamu sedang apa sendirian."


Chrysant terdiam dengan gulungan tikar di pelukanya.


"Sudah lama yah tidak bertemu ?" Riendly mendekat sambil mengusap pipi Chrysant. Seperti biasa detak jantungnya tidak bereaksi.


Melihat wajah Riendly yang begitu jauh meyakinkanya bahwa Riendly semakin tinggi dan membuatnya heran, kenapa Riendly bisa tumbuh secepat ini.


"Terimakasih karena sering mengunjungi Richy."


"Pulanglah sudah hampir malam, sekarang giliran Aku menghabiskan waktu bersamanya."


Tanpa suara Chrysant mengambil ponselnya dan memesan ojek online.


"Kamu sedang apa ?"


Chrysant memperlihatkan layar ponselnya.


"Oh.. Kamu naik ojek.."


Chrysant hanya mengangguk.


"Sesekali mintalah seseorang mengantarmu."


". . ."


"Misalkan Aku ?" Pertanyaan Riendly menambah rasa canggung di antara mereka.


Selanjutnya Chrysant terus diam dan tidak menanggapi pembicaraan bersama Riendly.


"Ah, itu dia !" Ojek yang masih berjarak begitu jauh langsung tertangkap oleh mata Chrysant. "Kak Rin Aku pamit." Chrysant bergegas pergi tanpa menatap wajah Riendly.


Riendly tersenyum merasa sifat angkuh Chrysant sangat menggemaskan, seperti itulah memang Chrysant.


Riendly bisa mengetahui bahwa Chrysant bukan dengan sengaja bersikap sangat tertutup. Jika memang Chrysant memiliki sisi murahan pasti Adiknya tidak akan mau berteman denganya.


Riendly juga tahu bahwa Richy adalah gadis yang akan menyebut seseorang dengan sebutan 'sahabat' jika Ia sudah menyukai orang tersebut walaupun Richy tahu segalanya tentang mereka.


Saat berbicara bersama Riendly, Richy berkata bahwa Ia hanya memiliki empat orang sahabat di dunia ini yaitu Chrysant, Aisyah, Amelaty dan Kakak kesayanganya, Riendly Mahkota.


Riendly tidak berhenti melihat kepergian Chrysant yang terlihat begitu cantiknya seolah la melengkapi indahnya langit mentari senja. Remaja tampan ini perlahan sedang jatuh hati padanya.


Sepanjang perjalanan Chrysant terus menghela nafas panjang karena merasa sangat angkuh dan sombong. Padahal sebenarya la hanya canggung dan terkejut melihat kemunculan Riendly.


Sejak kepergian Richy, Riendly memutuskan pindah ke Surabaya untuk masuk sekolah asrama khusus anak laki-laki.


Hal ini Riendly lakukan untuk menghindar dari kedua orang tuanya yang sedang menunggu kehadiran anak ketiga mereka.


Riendly tidak pernah berbicara pada kedua orang tuanya lagi. Ia sadar bahwa itu salah, tetapi hati dan pikiranya menjadi lebih tenang saat tidak menjalin keakraban dengan Adam dan Moand.