SMP X

SMP X
11. Hari Berarti



6 Januari 2020


"Selamat memasuki tahun yang baru di tahun 2020 ini, Saya berharap kita semua di beri kesehatan dan kelancararan dalam menjalankan visi dan misi sekolah tercinta kita SMP X.."


Upacara pertama di tahun 2020 ini seperti biasa Rahman akan membuka upacara dengan sambutan yang panjang.


Pidato yang panjang membuat matahari sangat terang menyiksa peserta upacara hingga banyak anak murid yang pingsan.


"Pagi ini saya ingin bertanya kepada para Guru.. untuk tanggal 31 Desember 2019, Saat itu pelajaran kesenian di kelas delapan kan ! Karena banyaknya murid, pelajaran kesenian dalam satu angkatan memiliki jam berbeda.. dan hari yang sama.. saya ingin bertanya.. karena saat saya mengajar kesenian semua orang memiliki alat dan bahan yang lengkap.. siapa yang tidak tidak memiliki alat lengkap untuk kesenian menyulam dengan benang wol.. ? Karena saya akan memberikan hadiah peralatan menyulam dan tambahan cat melukis lengkap dengan uang saku dua ratus ribu.. ini adalah hadiah tahun baru dari saya.."


Tetapi, para guru hanya diam karena tidak mengingat dengan jelas kejadian minggu lalu.


"Hah ! Itu ada yang angkat tangan.."


Anak yang mengangkat tanganya dan keluar dari barisan itu adalah Christin.


Amelaty dan Riendly yang menyaksikan kembali mengingat perkataaan Chrysant bahwa rasa iri membuat seseorang menjadi bodoh dan melakukan kejahatan.


"Sini nak.." Panggil Rahman dengan lembut.


Christin menjadi tinggi hati karena beberapa murid terus menyebut-nyebut namanya. Inilah yang selalu Ia inginkan, yaitu mendapat perhatian dari banyak orang.


"Terimakasih banyak Pak.." Christin menerima sekatung hadiah yang di siapkan oleh Rahman.


"Saya pernah mendengar cerita lucu.. suatu hari seorang gadis kecil berkata pada Ayahnya. 'Ayah Aku bermimpi.. Ayah membelikan Aku boneka dan gaun yang cantik..' Ayahnya menjawab. 'Baiklah nak saat pulang sekolah kamu akan tahu. Nah saat saat pulang sekolah gadis ini melihat Ayahnya bersama sahabatnya.. dan Ayahnya bilang.. 'Ini teman Ayah yang pintar mengartikan mimpi.. sekarang Kamu akan tahu..' hahaha.."


Beberapa Guru dan murid tersenyum dan tertawa mendengar lelucon Rahman begitupun Christin menjadi sangat terbawa suasana.


"Ini punya Kamu kan !" Dengan cepat Rahman menanyakan jarum yang sebelumnya telah melukai Chrysant.


Bodohnya Christin mengangguk dengan senyumam lebarnya karena keadaan masih di penuhi tawa.


"Baiklah.. gunakan peralatan itu untuk menghabiskan waktu skorsing Kamu di rumah.." Bisik Rahman. "Turun dari sini dan setelah ini ke ruangan saya ambil surat pemanggilan orang tua.."


"Wah selamat Christin.." Beberapa murid memberikan selamat kepadanya. Tetapi Christin yang ketakutan langsung pulang setelah upacara selesai.


Rahman memberi tanggung jawab kepada Guru lainya untuk mendatangi rumah Christin dengan perintah memberikan surat skorsing dan menceritakan perilaku buruk Christin kepada orang tuanya.


Satu hari yang membosankan berlalu tanpa Chrysant. Amelaty yang tahu Chrysant belum bisa hadir hanya membawa bekal karena enggan makan di kantin.


"Hei.." Richy menghampiri Amelaty. "Bisa-bisanya kamu membawa bekal gorengan.. leherku terasa sakit dengan hanya melihatnya.."


"Kamu tidak lihat ini risoles.. isinya ada sayuran.. bergizi dan enak.." Amelaty memakan risoles sayur keju dengan nikmat.


"Katakan pada sahabatmu dari kelas A itu, tanggal sebelas Januari adalah seleksi semua cabang lomba seni dan olahraga. Pukul tiga sore, Aku tidak ingin terlihat sengaja tidak memberitahukan seleksi itu.."


"HEI ! SIAPA YANG BERNAMA AYU DISINI !"


Amelaty tersedak dan Richy terkejut mendengar teriakan Riendly yang datang bersama Mario.


"Dasar vampire gila.."


"Hei Richy yang mana di kelas ini bernama Ayu ?"


"Tuh.." Richy menunjuk gadis yang duduk paling belakang. "Kalau mau teriak di kelasnya orang itu harus minta ijin !"


"PKS tidak butuh ijin.."


"Ada apa Mario ?"


Mario menjawab dengan mengangkat pundaknya.


"Kalian balikan ?" Bisik Amelaty.


"Memangnya kalau kami putus dunia akan kiamat ? santai saja Mel.. kita masih bocah.. Aku mungkin tidak akan pernah bertemu Dia lagi di masa depan mungkin denganmu juga."


"Hati-hati Kak Rin.."


"Eh.. kalian sudah akrab yah.. Kak Rin menanyakan kesukaan Chrysant sebelumnya padaku.. memangnya si Chrysant itu punya masalah apa dengan Christin ?"


"Entahlah.. mungkin karena kita memisahkan Ia dan Chrysant tempo hari.."


"Bukanya memang si Christin itu harus tahu diri yah.. Diakan kelas delapan ! Apa pantas bergaul dengan adik kelas ? Sampai berteriak.. Kita dari kelas J saja tidak sekejam itu, dasar idiot.."


"Ngomong-ngomong kenapa Ayu ?"


"Biasa, kalau dapat panggilan seperti itu pastilan Anak bermasalah, tidak perlu ikut campur.. hanya mengotori reputasi baik kita.."


"Richy.."


"Hm.."


"Kenapa kamu selalu mendekati kami ? Aku dan Chrysant."


"Tidak ada alasan licik.. tenang saja.. Aku hanya suka berteman dengan Anak populer.. karena tidak akan ada rasa iri di antara kita.. oh iya.. Aku membawakan hadiah.."


Richy memberikan cincin untuk jari kelingking.


"Waktu Aku ke Bali.. Aku pergi sendirian.. Aisyah juga tidak bisa pergi karena keluarganya memiliki rencana liburan mereka.. ini adalah cincin persahabatan.. Aku sudah sering melihat jari kalian, Aku pikir ukuran kelingking kita tak jauh berbeda.."


"Terimakasih Richy.." Amelaty tersenyum hangat menatap hadiah lucu dari Richy.


"Tidak perlu terharu.. Aku hanya kebetulan menemukan cincin emas diskon.. Aku sudah memberikan punya Aisyah.. Itu punyamu dan Chrysant."


"Terimakasih.." Amelaty menggenggam tangan Richy.


"Hentikan.." Sekejap juga Richy melepaskan genggaman Amelaty. "Itu hanya dua gram.. bukan hal besar.. hehe Aku keren kan.."


"Hm.. kamu keren.."


"Itulah yang Aku suka dari kalian.. pujian tulus dari hati.. Aku menyukainya.."


"Tulus ?"


"Sudahlah.. Aku mau pergi mencari Aisyah si kasmaran itu.. pasti Dia sedang pacaran sekarang."


8 Januari 2020


Saat hari pertama masuk sekolah untuk Chrysant, Ia telah pulih dan bisa berjalan dengan normal.


Chrysant juga datang ke sekolah dengan perasaan bahagia karena memakai cincin baru pemberian Richy.


Amelaty yang sebelumnya datang memberikan cincin pada Chrysant dan meceritakan tentang Christin juga, membuat perasaan Chrysant lebih ringan.


Tetapi karena menghabiskan waktu dengan perasaan lega, Akhirnya Chrysant terlambat karena terlalu santai.


Saat sampai di sekolah yang menjaga gerbang adalah guru yang sedang menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Rike, adalah Guru yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di kelas tujuh.


"Baiklah, karena apel pagi telah selesai bagi yang laki-laki membersihkan kamar mandi dan perempuan menyapu ruang Guru.."


"Hei.. sini kamu Chrysant.."


Chrysant yang sedang berjalan masuk langsung berbelok mendekat. "Iya Bu.."


"Kamu pakai cincin, itu emas ?" Menatap Chrysant dengan mengangkat satu alisnya.


Kebiasaan Rike yang sering merendahkan murid dari kelas A membuat matanya sangat liar menatap penampilan siapapun yang memiliki barang mewah jika itu bukanlah murid berada.