SMP X

SMP X
10. Pesta Akhir Tahun III



Amelaty yang ketakutan sudah tidak merasakan beratnya tas yang Ia bawa dan menghubungi Renal untuk mengantarnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Chrysant, Amelaty terus menangis hingga matanya bengkak.


Amelaty mengingat dirinya yang tidak membela Chrysant saat di marahi Richy membuat hatinya semakin terluka.


Saat sampai di rumah Chrysant, Amelaty melihat bahwa warung tutup dan menyimpulkan di pikiranya bahwa memang terjadi hal serius dengan Chrysant.


"Selamat siang.. Chrysant.. ini Amel.. Chri.."


"Eh Amelaty.." Sumirna membukakan pintu.


"Aku membawa tasnya.."


"Kenapa wajamu basah sekali Nak.. masuklah.."


Amelaty langsung melemparkan sepatunya dan berlari ke kamar Chrysant.


"Aloha.." Chrysant menyambut Amelaty dengan wajah yang tertutup masker.


Amelaty menjatuhkan semua tas yang Ia bawa karena merasa lega bisa melihat wajah Chrysant. Semua hal mengerikan yang Ia pikirkan seketika sirna.


"Kenapa kamu memakai sarung ? Apa Riendly menyakitimu ?"


"Hehe.. Aku tertusuk jarum di sini dan pingsan" Chrysant menunjuk ke selangkanganya.


"Ah.. Dasar Anak malang.." Amelaty mendekat dan memeluk Chrysant.


"Eh.." Saat sedang berpelukan, Amelaty sadar wajah Chrysant yang di lapisi masker menempel di jaket kesayanganya. "AAAAAH !" Amelaty langsung membuka jaket dan menyekanya dengan tissue.


Chrysant kemudian menjelaskan segalanya pada Amelaty. "Aku tidak tahu siapa yang melakukanya, Aku hanya kasihan pada diriku yang memiliki musuh.."


"Bukanya kelas 7A sering kosong saat istirahat ?" Kelas A sering sepi karena masing-masing murid punya lebih dari satu ekstrakulikuler.


"Jika ini kebetulan misalnya, seseorang tidak sengaja menjatuhkanya, tidak mungkin jarum itu bisa berdiri tegak.." Amelaty mulai menyimpulkan.


Tentu saja, disisi lain, di sekolah, Rahman sedang mengamati kursi Chrysant dan memang ada bekas jarum yang sengaja di tancapkan.


"Tenang saja orang yang melakukan kejahatan karena rasa iri adalah orang bodoh.."


Tiba-tiba suara perut Amelaty berbunyi.


" AH ! apa itu.."


"Aku belum makan.." Amelaty menundukan kepalanya merasa malu.


Chrysant tersenyum. "Ayo kita makan.."


Dengan mata berkaca-kaca Amelaty mengangguk. Amelaty sangat senang Chrysant tidak malu lagi terhadap dirinya.


"Hahaha.. Kamu seperti orang yang di sunat.. apalagi dengan sarung itu.." Amelaty menertawakan cara berjalan Chrysant yang berjalan seperti kepiting sedang berjalan di hadapanya.


Saat sampai di meja makan Chrysant dengan pelan membuka tudung saji. "Jangan jijik yah.."


Di atas meja ada sayur bayam kuah jagung dan prekedel jagung.


"Karena di kulkas banyak jagung, Aku dan Bu Sum memasak ini tadi pagi.."


Amelaty langsung duduk. "Wah.. pasti enak.."


"Mel.. kamu ambil piring sendiri yah.. kalau sudah selesai tinggalkan saja di situ.. Aku tidak bisa duduk lama dan tidak bisa berdiri lama, Aku akan kembali ke kamar."


"Iya.." Amelaty merasa sangat bahagia menikmati makanan dengan porsi kecil seperti ini. "Ibu Dokter lihatlah Anakmu memakan gorengan hahaha.."


Amelaty yang memiliki banyak makanan sehat di tempat tinggalnya seketika menjadi rakus dengan prekedel goreng.


Hingga saat malampun tiba, yaitu saatnya makan malam martabak telur asin. Amelaty makan dengan lahap seperti tidak pernah merasakan rasa kriuk dari makanan yang di goreng.


"Chrysant, sampai lukamu sembuh, Kamu tidak perlu bekerja.. Ibu akan menggantikanmu.. ini pakailah bantal." Sumirna mengalas kursi Chrysant dengan bantal.


"Terimakasih Bu Sum tapi, Bu Sum kan bekerja.."


"Tidak, tenang saja Kami libur sampai tanggal tiga dan tanggal empat sampai lima adalah sabtu minggu.. Ibu akan masuk tanggal enam.."


"Sama dengan sekolah kami.. tanggal enam baru masuk sekolah.."


"Kan Mel.." Chrysant menggelengkan kepalanya melihat Amelaty hanya sibuk makan martabak. "Biasa Bu.. orang kaya baru belajar.."


"Amelaty.."


Amelaty langsung terdiam karena mengira Sumirna marah karena Ia banyak makan. "Maaf.."


"Ibu mau bertanya Nak.. boleh ?"


Amelaty mengangguk.


"Apa alasan Dik Amel.. berteman dengan Chrysant ?"


"Karena Chrysant sangat apa adanya dengan saya Bu.. Dia tidak terlalu meninggikan Aku maupun merendahkan Aku.."


"Bu Sum.. maaf hehe.. ini seperti lamaran.." Sambung Chrysant.


Amelaty langsung tersenyum menahan tawa.


"Ibu serius.. Ibu bosan melihat Chrysant dicelakai teman-temanya.. sejak Chrysant kecil, karena Ia cantik anak-anak nakal sering mencuri barang yang Ia kenakan dan memakainya. Saat Ibu meminta barang tersebut, Ibu malah dimarahi orang tua mereka karena menuduh anak-anaknya mencuri.. minggu depan jika Pak Rahman tidak menemukan pelaku yang menjahili Chrysant.. Ibu yang akan turun tangan.."


"Selamat malam.." Seseorang memotong pembicaraan mereka.


"Siapa itu.." Sumirna langsung berdiri menghampiri tamu yang datang.


"Maaf mengganggu Bu saya teman Chrysant dan Amelaty.. Saya mau ambil tas saya yang di bawa Amelaty."


"Ah itu Riendly.. Aku lupa menghubunginya.." Amelaty langsung mengambil tas di kamar Chrysant.


"APA ! Tadi kamu mau meminjam motor itu !" Chrysant terkejut melihat betapa besarnya motor yang di bawa oleh Riendly.


"Chrysant ! Kamu mengagetkanku ! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu !"


"Jika Kak Rin meminjamkan motor itu, Kamu rok kita berdua sobek !"


"Aku putus asa tahu.."


Riendly tersenyum melihat Amelaty dan Chrysant yang sangat imut. "Kalian tidak mengajak Aku masuk.. Aku membawa martabak telur asin." Riendly telah bertanya sebelumnya kepada Richy tentang kesukaan Chrysant.


"Wah.. ada amunisi tambahan.." Mata Amelaty langsung membesar. "masuklah.."


"Hei memangnya ini rumahmu.."


"Chrysant sebaiknya kalian makan martabak di kamar, Ibu akan merapikan meja.. silahkan masuk nak.. Apa tidak apa-apa kamu belum pulang.."


"Tapi kan.. Aku belum selesai makan.." Guman Amelaty.


"Terimakasih banyak.. Bu.. lagi pula ini malam tahun baru, semua orang sedang keluar sekarang.."


"Oh iya.. yah.. Chrysant ini minumlah.." Sumirna memberikan obat dari Dokter dan Chrysant meminumnya dengan sekali teguk.


"Ayo Mel.. Kak Rin.. silahkan masuk.."


Riendly yang merasa aneh dengan cara berjalan Chrysant berbisik pada Amelaty. "Kenapa Dia berjalan seperti kepiting.. ?"


"Coba Kak Rin yang berada di posisinya !" Bisik Amelaty memarahi Riendly.


Saat berada di kamar, Chrysant tidur di atas kasur sementara Riendly dan Amelaty duduk di sebelah Chrysant. Sementara waktu telah menunjukan pukul 23.55.


"Ah ! Iya.." Amelaty mengambil lilin di dalam tasnya.


"Kak Rin pinjam pematik.."


Amelati membuat kue ulang tahun dari martabak dan menaruh foto Zagas yang mereka temukan di atasnya.


"Terimakasih Amel.. Kamu ingat.."


"Memangnya siapa anak ini ? Dia boleh juga."


"Kak Rin perkenalkan ini saudara kandungku satu-satunya."


"Apa Dia sekolah di luar kota ?"


"Aku berharap begitu, tapi Dia telah tiada.."


"Baiklah Chrysant sudah saatnya.. ayo buat permintaan.." Sahut Amelaty.


Saat melihat Chrysant memejamkan matanya jantung Riendly berdetak kencang dan wajahnya terasa panas.


Riendly yang tidak pernah merasa gugup kepada gadis miskin sebelumnya menyadarkan dirinya bahwa ini hanya sebuah rasa kasihan.


Riendly berkali-kali berkata di dalam pikiranya bahwa Chrysant tidak lebih dari gadis cantik biasa yang bisa Ia jadikan budak.


Ia sudah sering melihat gadis yang lebih cantik dan lebih kaya raya dibandingkan Chrysant, baginya Ia hanya sedikit terbawa suasana.


"Apa yang kamu inginkan ?" Tanya Riendly.


"Aku berharap bisa menyelesaikan impian yang tidak bisa di lakukan Kak Zagas."


"Melukis.." Bisik Amelaty.


"Aku tidak berpikir hari ini akan berakhir seperti ini.. Mimpi apa Aku semalam ? Aku sangat kaget melihat Chrysant yang berada di kamar mandi Kami.."


"Iya sebenarnya hari ini banyak yang ingin Kami lakukan tetapi semuanya hancur karena jarum sial itu."


"Selamat tahun baru.." Sumirna seketika muncul dan memberikan amplop tahun baru untuk mereka.


"Ini untuk Chrysant.."


"Terimakasih Bu Sum.."


"Ini untuk Amelaty dan ?"


"Hehe.. Riendly Bu.."


"Oh iya Ibu lupa.."


"Terimakasih banyak Bu.." Ucap Amelaty.


"Karena Chrysant sakit Aku tidak akan kemana-mana maka dari itu amplop ini untuk kalian saja.."


"Kak Rin punyamu berapa ?"


"Hm.. lima puluh.. punyamu ?"


"Sama.. Haha.. Kak Rin awas saja Ka Rin memandang rendah uang itu.."


"Tidak, aku hanya akan melaminatingnya.." Bisik Riendly.


"Sama Aku juga.. hihi.. bagaimana A.."


"Husssh.." Sumirna menghentikan pembicaraan mereka.


Perlahan Chrysant sudah tertidur. Amelaty dan Sumirna sangat kasihan melihat Chrysant sedangkan Riendly perlahan jatuh hati.


Riendly dan Amelaty tidak menyadari Chrysant yang sejak tadi menahan kantuk. Riendly yang tidak ingin mengganggu Chrysant, beranjak pulang dan Amelaty tidur disamping Chrysant.


Tetapi Amelaty yang susah payah membawa tas yang berisi baju yang sangat banyak malahan tak kunjung mengganti bajunya hingga tertidur.