
"Hm.. ini hadiah.. dari Richy.."
"Coba Ibu lihat.." Rike melepas cincin dari tangan Chrysant dengan paksa.
"Ah.. sakit.." Chrysant merasa kesakitan karena tangan Rike yang sangat besar mencabut paksa cincinya.
"Ini pasnya sama Tia.." Rike langsung memakaikan cincin Chrysant pada anak perempuanya.
Chrysant yang sangat takut dengan badan besar Rike hanya bisa terdiam. Chrysant sangat terluka mendapat perlakuan seperti ini. Sikap Rike membuatnya ingin menangis.
"Nanti Kamu tanya lagi ke Richy.. kalau masih ada.. Kamu ambil saja dan ini untuk Tia.. yah.. sana.. pergi.."
Hingga saat jam istirahat tiba, Chrysant yang belum bisa merelakan cincin pemberian Richy di ambil begitu saja langsung berlari ke kelas 7J untuk membicarakanya bersama Richy dan lainya.
"Amel.."
"Iya Chrysant.." Amelaty berjalan menghampiri Chrysant. "Tidak biasanya Kamu bertamu di kelas Kami.. senang bisa melihat Kamu masuk sekolah lagi" Amelaty memeluk Chrysant.
"Hai Chrysant.." Aisyah yang melihat hal tersebut mendekat dan memeluk Chrysant dari belakang hingga membuat Chrysant merasa tidak nyaman.
"Lepaskan.. dasar gila.." Richy langsung memisahkan Chrysant dan Aisyah. "Jangan hiraukan gadis pubertas ini.. Dia sedang senang karena pacarnya menjanjikan cokelat satu meter dan pizza satu meter untuknya saat valentine bulan depan. "
"Bukanya masih lama ?" Sambung Amelaty.
"Pacarnya dari kelas yang sama dengan Mario, menjijikan. Kelas itu memang terkenal dengan anak-anak yang suka mencukur habis uang orang tua mereka.. dan pacar mereka.."
"Cincinku di ambil Ibu Rike.."
"HAH !" Mereka bertiga terkejut.
"Dasar gorila itu.. Dia pikir Aku membeli cincin itu di pasar.."
"Aku Akan memintanya.. Aku muak melihat orang seperti mereka tidak membayar perbuatan mereka.." Amelaty dengan tegas berjalan maju.
Chrysant, Richy dan Aisyah terkejut melihat Amelaty pergi sendirian ke ruang Guru, walaupun pada akhirnya mereka pergi berempat. Tetapi sialnya Rike telah pulang mengantarkan Anaknya ke rumah.
Mereka terus mengecek kedatangan Rike hingga mereka menemukanya. Tetapi Rike masih mengajar. Hingga akhirnya saat yang tepat, Rike sedang makan di kantin.
"Lemaaaak." Bisik Richy dan Amelaty.
"Hehe.." Chrysant tersenyum merasa lucu melihat kesamaan Richy dan Amelaty yang jujur menilai seseorang.
Tetapi hanya Aisyah yang mereka dorong untuk berbicara.
"Permisi Bu.." Dengan langkah yang sangat terpaksa Aisyah mencoba yang terbaik.
"APA !" Suara besar Rike mengejutkan Aisyah.
"Anu.. Aku datang untuk mengambil cincin Chrysant.. itu adalah cincin persahabatan kami.."
"HILANG !" Suara Rike yang sangat berat seketika seperti tembakan yang menghancurkan keberanian Aisyah.
Aisyah langsung berbalik dan kembali menghampiri Chrysant dan Kawan lainya yang menunggu di bawah pohon.
"Hahaha.. kenapa muka Kamu Aisyah ?" Richy langsung memeluk Aisyah yang sudah bercucuran air mata.
"Dia bilang hilang.."
"Sudahlah.. biarkan Dia memakanya.." Richy melepaskan cincinya. "Aku membeli ini satu paket empat pasang. Jika hilang satu apa masih bisa dibilang satu paket ? Seperti Kita berempat, jika hilang satu, apakah akan menyenangkan ?"
Amelaty dan Aisyah juga mengikuti Richy.
Mereka bertiga tetap menyimpan cincin itu tetapi tidak memakainya.
"Bagaimana Mel ?" Tanya Chrysant. "Mel.. ?"
Amelaty seketika terdiam menyaksikan Ayahnya, Kevin sedang berbicara sambil memegang tangan Ruby.
"Hei Mel.. Hei !" Chrysant terus memanggil Amelaty yang terus melangkah pergi.
Amelaty langsung berlari menuju ke arah Kevin yang telah melepaskan kembali tangan Ruby.
"Pak Dokter sedang apa ?"
"Oh.. Amelaty adalah Anak Pak Kevin ! " Ruby menatap Amelaty dengan tatapan dingin. "Maaf Saya permisi dulu.. Saya sedang sibuk"
"Amelaty.. Kamu tidak sopan bahkan dengan Guru Kamu sendiri. Saya tidak suka cara Kamu memotong pembicaraan Kami."
"Dasar monster.." Amelaty yang tidak terima karena merasa tidak melakukan kesalahan apapun menatap Kevin dengan tajam.
Kevin terdiam mendengar perkataan Chrysant, dimana setiap Kevin memarahinya Amelaty akan menyebut Ia dengan kata 'Monster'.
Tanpa membalas perkataan Amelaty, Kevin hanya meninggalkan Amelaty tanpa membujuknya ataupun menatapnya.
"Amel.." Chrysant mendekati Amelaty dan Amelaty langsung berlari meninggalkan Chrysant dan yang lainya di belakang.
Amelaty yang tidak ingin terlihat menyedihkan hanya bisa bersembunyi di gudang dan menangisi keadaanya.
Amelaty adalah Anak yang selalu terlihat tenang dan lembut, tetapi di depan sahabatnya Chrysant, Ia adalah Anak biasa yang memiliki beberapa kenakalan dan banyak bicara.
Sebenarnya Amelaty adalah Anak yang di latih oleh kedua orang tuanya untuk menjadi Anak yang mandiri dan berhati besar. Merasakan cinta dari kedua orang tuanya adalah hal yang langkah.
Tetapi cara kedua orang tuanya yang mengkesampingkan isi hati Amelaty malah membuatnya tumbuh menjadi Anak yang mengubur jati dirinya sendiri dan lebih memperlihatkan sisi yang lebih di sukai orang tuanya.
Di dalam gudang yang sepi, gelap dan kotor, Amelaty merasa nyaman dan tenang. Air mata yang mengering di pipinya malah membuatnya menjadi mengantuk.
Beberapa menit setelah teridur perlahan mata Amelaty terbuka. Amelaty terbangun karena mendengar suara ponsel, seseorang sedang bermain game.
Amelaty yang masih belum sadar sepenuhnya sedang memgelus punggung yang begitu lembut dan harum. Tubuh Amelaty sedang memeluk punggung Coco.
Coco yang sebelumnya sedang mengambil sapu lidi melihat Amelati yang sedang menahan kantuk dan memberikan punggungnya sebagai bantal untuk Amelaty.
Perlahan Amelaty tahu bahwa itu adalah Coco Amber. Amelaty yang tidak peduli kembali menangis dan memeluk punggung Coco dengan erat.
Coco yang ikut sedih mendengar Amelaty menangis tidak bicara dan hanya membiarkan Amelaty memakai punggungnya.
Entah apa yang terjadi pada Amelaty dan kenapa Ia menangis, Coco tidak peduli. Coco merasa senang karena melihat sisi lain dari Amelaty, gadis yang di sukainya sejak lama.
Sementara itu Chrysant, Richy dan Aisyah tidak fokus dengan pelajaran di kelas dan hanya memikirkan Amelaty.
Setelah pulang sekolah Chrysant menerima pesan dari Amelaty untuk membawakan tasnya karena Amelaty telah pulang dan langsung ke rumah Chrysant.
Saat Chrysant sampai di rumah. Ia menemukan Amelaty yang tertidur di kursi depan rumahnya dan di jaga oleh Renal.
Chrysant langsung membukakan pintu dan Renal menggendong Amelaty sampai di kamar Chrysant untuk dibaringkan di atas tempat tidur.
Renal meminta dengan sangat kepada Chrysant untuk menjaga Amelaty. Karena Amelaty akan menjadi sangat lemah saat hatinya terluka bahkan hingga jatuh sakit.
Amelaty selalu di didik untuk tidak memperlihatkan kelemahanya pada siapapun. Didikan keras sejak Amelaty kecil membuatnya sering terkena serangan panik.
Tetapi Amelaty sudah terbiasa menyembunyikan gangguan yang di alaminya dari Kevin dan Puji Cahaya, Ayah dan Ibunya.
Maka dari itu akan lebih baik bagi Amelaty untuk menenangkan hatinya bersama Chrysant. Karena Amelaty yang meminta untuk Renal membawanya ke rumah Chrysant.