SMP X

SMP X
8. Pesta Akhir Tahun



31 Desember 2019


"Pagi.. Masa depan.." Coco yang bertugas menjaga gerbang dan mengawasi murid yang terlambat melihat Amelaty yang sedang membawa tas yang hampir meledak karena penuh. "Wah.. habis merampok yah.."


"Lip tint Kamu terlalu merah hari ini.." Amelaty yang kesal menjadi tambah kesal karena melihat wajah Coco yang terlalu berlebihan.


"Ini lip balm sayang.."


"Idih.. " Amelaty memutar bola matanya.


"Kenapa Kamu suka yah.. HOI KAMU !"


Amelaty dan murid lainya terkejut mendengar teriakan Coco.


"JANGAN COBA.. COBA.. MENYELINAP MASUUUUK !"


Amelaty sangat terkejut melihat Coco yang memarahi beberapa murid kelas tujuh yang mencoba melewati gerbang saat Ia menyapa Amelaty.


Setelah apel pagi selesai Coco membagi tugas untuk murid yang terlambat dan Amelaty mendapat tugas termudah yaitu menyapu dan mengepel ruangan Kepala Sekolah.


"Hm.. Ku akui memang Pak Rahman Guru hebat, Ia mampu membawa beberapa murid ke tingkat Internasional." Amelaty sedang melihat foto yang di pajang dengan rapi di dinding.


"Tahun 2012.. wah sudah sepuluh tahun yang lalu.." Amelaty mengambil bingkai foto Rahman bersama Cinta. "Hah.. Ada dua foto ?" Amelaty perlahan membuka penutup bingkai foto dan melihatnya.


Ternyata foto yang kedua itu adalah foto Rahman bersama Zagas dalam rapat di tahun 2012. Amelaty dengan cepat mengambil foto tersebut dan menyembunyikanya.


Tetapi karena panik saat membuka tas, semua isi tas Amelaty meledak keluar. "Ah.. kenapa harus disaat seperti ini.." Amelaty dengan cepat mengisi kembali tasnya dan keluar dari ruangan Rahman.


Amelaty yang panik langsung berlari ke kantin dan memutuskan untuk bolos pada jam pelajaran pertama.


Amel kemudian duduk sambil menatap foto yang ada di tanganya. Amelaty menyadari lewat foto yang terlihat beberapa murid duduk berpasangan dengan pembimbing mereka.


Amelaty kemudian mengirim pesan kepada Chrysant untuk menemuinya di kantin.


"Bolos nih.." Ruby Menegur Amelaty yang langsung mengejutkanya.


"Maaf Bu.. Saya kelaparan sehabis membersihkan ruangan dan saya terlambat.." Amelaty yang telah basah kuyup dengan keringat meyakinkan Ruby.


"Hm.. baiklah silahkan makan setelah itu masuk ke kelas Paham ?"


"Iya Bu.."


Setelah menunggu hingga jam istirahat tiba, Chrysant tak kunjung menghampiri Amelaty.


"Menyebalkan.. Chrysant.. Dia pikir Aku sedang bercanda.." Amelaty langsung berdiri menuju ke kelas 7A.


Sesampainya di kelas, Ia menemukan bahwa Christin dan Chrysant sedang bersiap pergi.


"Tapi Aku tidak memakai jaket.."


"Tidak apa-apa Chrysant.. Kulitmu tidak akan hitam walaupun terkena mata hari.." Christin menarik lengan Chrysant. Amelaty yang tidak terima menyaksikanya dengan cepat memisahkan Chrysant dan Christin.


"Chrysant.. Aku mengirim pesan padamu !" Bisik Amelaty.


"Ah maaf, Aku tidak membawa ponsel.. hehe.."


"Chrysant, ayo.. nanti jam istirahat akan selesai.."


"Memangya Kak Christin mau kemana ?" Tanya Amelaty lembut.


"Guru memerintahkan Kami berdua membeli spidol.." Sebenarnya Guru hanya menyuruh Christin untuk pergi tetapi, Christin memiliki niat lain terhadap Chrysant.


"Benar juga.. kalian kelas A." Amelaty merasa kelas A sangat kuno karena masih menggunakan papan tulis.


"Sebentar kita bicara lagi yah.. Aku akan cepat kembali.." Chrysant meninggalkan Amelaty.


Saat berjalan keluar kelas seperti biasa Chrysant menjadi pusat perhatian dan para siswa yang melewatinya memanggil namanya dan hanya di balas senyuman tipis Chrysant.


Di dalam hati Christin, begini saja sudah cukup walaupun tidak cantik rupawan. Berada di sisi Chrysant dan merasakan tatapan orang-orang sudah memuaskan hatinya.


Christin adalah gadis yang genius dalam perhitungan dan sering mengikuti lomba matematika. Tetapi, ambisinya berubah sejak rasa iri memenuhi pikiranya.


Christin juga ingin memiliki banyak teman yang terkenal, jalan-jalan dengan dengan teman yang cantik maupun tampan dan menjadi pusat perhatian kemanapun Ia melangkah.


"Tu..nggu.." Amelaty yang kewalahan membawa tas besar memegang pundak Chrysant.


"Amelaty kamu ini.. kan Chrysant bilang sebentar baru bicaranya.." Christin menjadi kesal terhadap Amelaty yang terus mengganggu mereka.


"Aku ingin bertanya.. Kenapa Kak Christin membawa Chrysant ? Bukanya Chrysant kelas tujuh.. Tidak mungkin Guru menyuruh 'Eh Christin kamu beli spidol bersama Chrysant yah..' Tidak ada alasan Guru melakukan itu karena yang paling banyak menghabiskan waktu bersama Chrysant adalah Aku.."


"Ayo Chrysant.." Christin menarik lengan Chrysant dan Chrysant terdiam. "Maaf Kak, Aku tidak bisa melewati martabak telur bebek.." Chrysant berjalan meninggalkan mereka.


"KALAU KAMU TIDAK PERGI AKU AKAN MELAPORKANMU PADA GURU !" Teriakan Christin mengejutkan semua orang.


"Wow.. siapa kamu ?" Richy mendekati Christin dengan memegang rambut Christin. "Ah kasar ! Kamu mulai banyak tingkah yah senior ? Malas ah panggil Kakak.. badan Kamu sajab lebih "


Amelaty mengangguk mengiyakan perkataan Richy.


"Bukanya memalukan Kakak kelas bergaul dengan adik kelas.. apalagi sampai bentak bentak begitu.. Tidak punya teman yah ?."


Christin mulai menangis. Di hatinya penuh amarah dan dendam. Christin merasa mereka juga harus merasakan apa yang Ia rasakan.


"Ayo tinggalkan Dia.." Ucap Richy sambil berjalan kembali ke kantin di ikuti yang lainya.


Saat berada di kantin Amelaty sangat ingin memperlihatkan foto yang Ia dapatkan. Tetapi belum menemukan waktu yang tepat.


"Bu.." Amelaty menghentikan Ruby yang sedang berjalan melewati mereka.


"Iya.."


"Boleh saya bertanya.."


"Cepatlah, Ibu yang cantik ini lapar.."


"Apa Ibu mengenal gadis yang ikut lomba seni lukis.. Dia memiliki ciri-ciri wajah yang mengerikan"


"Hei Amel ini bukan waktunya bercanda.." Chrysant mencolek Amelaty mengira Amelaty mencoba melucu lagi.


"Ah Cinta kan ?" Amelaty dan Chrysant terkejut mendengar jawaban Ruby.


"Dia adalah murid pertama yang di bawa oleh Pak Rahman ke tingkat Internasional.. tetapi seperti yang sudah-sudah tidak pernah ada yang mendapat juara satu saat di tingkat Internasional.. Kalian tahu kan bagaimana hebatnya anak-anak di seluruh dunia.. ini. Olimpiade ada untuk mempermalukan Negara Berkembang.."


"Baiklah, terimakasih Bu.." Ruby tersenyum dan meninggalkan mereka berempat.


"Hei.. Martabak telurnya habis.." Richy menunjuk para murid yang sedang membeli dan Richy terkejut melihat mereka berdua yang tidak tertarik.


Amelaty langsung mengambil ponselnya dan mencari di kolom pencarian 'Cinta, perwakilan Indonesia lomba melukis tahun 2012'.


"Chrysant lihat.."


Chrysant dan Amelaty melihat bahwa Cinta telah meninggal satu bulan yang lalu. Kematian Cinta membuat mereka terdiam.


"Chrysant.. bagaimana kita mewancarai hantu ?"


"Bagaimana kalau kita ke rumahnya ?"


Amelaty mengangguk setuju dengan usulan Chrysant.


"Hei ada apa ini ? Kalian seperti perampok." Richy memukul tas Amelaty. "AAAH !" Teriak Richy dan isinya keluar lagi. Amelaty yang sangat emosi menarik nafas panjang hingga tulang rusuknya membesar.


Chrysant dan Richy yang melihat wajah Amelaty memerah langsung merapikan isi tasnya.


"Maafkan Aku.. hehehe baiklah Aisyah sepertinya Aku ingin beli kerupuk.. ayo.. temani Aku.." Richy menarik Aisyah pergi.


"Tapi Richy, Kamu kan tidak makan jajanan murah.."


"Diam !" Bisik Richy.


"Ini tas Kamu, jangan meledak duluan !" Chrysant memijat pundak Amelaty yang sangat emosi.


"Ini!" Amelaty mengeluarkan foto yang Ia simpan di dalam bajunya.


"Oh ini.. Aku sudah tahu.. ini foto yang di ambil sebelum lomba.. biasanya sebelum lomba melukis, seorang murid akan melakukan rapat bersama pembimbingnya.. biasanya penentuan tema, jam dan durasi.."


Chrysant memegang foto Zagas di tanganya. "Tetapi kenapa Kakak menyerah..?"


"Ayo kita bolos.." Ucap Amelaty dengan tegas.


"Kita mau naik apa ?"


Amelaty berpikir keras. "AHA !"


"Kamu mengagetkanku.."


"Kita pinjam pada Riendly saja.."


"Kenapa harus Dia..?"