
Februari 2021
Tema lomba kali ini sekali lagi bebas, dikarenakan keadaan yang membuat hasil rapat hanya melalui surat-menyurat maka semua tema lomba di buat sesedrhana mungkin.
15 Februari 2021
Hari ini adalah lomba untuk seni Kriya. Pagi yang cerah untuk memulai perlombaan. Kali ini peserta lomba telah memiliki peminat yaitu menjadi empat orang.
Perlombaanpun dimulai, para Peserta mulai tidak percaya diri dengan alat dan bahan yang dimiliki oleh Chrysant.
Peserta lainya hanya membuat seni Kriya yang sangat sederhana dengan beberapa bahan yang ada di dalam buku pelajaran Seni yaitu seperti kardus maupun gabus sintetis.
Kerajinan yang di buat juga merupakan karya yang bisa di buat dalam waktu singkat seperti kapal dan origami.
Sedangkan Chrysant masih setia dengan guci dari buah Maja kering, pelepah Pisang, serbuk Cengkeh dan buah Cengkeh kering.
"Pak Saya gugup." Suara manja Christin menarik pandangan Chrysant.
Rupanya Chrysant yang sedang melaksanakan lomba seni Kriya di lapangan Dinas Pendidikan berada tidak jauh dari panggung yang didirikan untuk lomba menyanyi dan tarian tradisional.
Christin merupakan salah satu dari Peserta tarian tradisional yang beranggotakan gadis-gadis cantik yang dipilih langsung oleh Rahman.
Walaupun bukan Rahman yang membimbing mereka tetapi Rahman turut ambil bagian dalam penyediaan pakaian dan make up yang tentu saja mendapatkan sponsor dari orang tua murid peserta termasuk orang tua Christin.
Saat sedang mengerjakan karyanya, Chrysant sesekali melihat Rahman memberikan begitu banyak perhatian kepada tim penari SMP X.
Rahman memberikan semangat dengan tutur kata yang lembut, membantu merapikan hiasan rambut dan menepuk pundak untuk menjadi penyemangat tim penari.
Berbeda dari tahun sebelumnya, untuk perlombaan akan di umumkan hari itu juga bersamaan dengan pelaksanaan lomba.
Tentu saja Chrysant menjadi juara satu dan untuk piala juga penghargaan akan di berikan saat penutupan FLS2N tingkat daerah dan hanya Pembimbing yang boleh mengambilnya.
Masih di tanggal 15 Februari 2021 Chrysant pulang ke rumah dengan tubuh yang sangat lelah dan mata yang sangat mengantuk.
Rupanya Chrysant tidak tidur semalaman karena merindukan beberapa kenangan termasuk orang-orang di dalamnya.
Pandanganya terarah kepada paket yang berada di atas mejanya. Itu adalak kotak berwarna merah muda dengan tanda pengirim yang tertera di atasnya.
"Hm.. Riendly Mahkota ? Semoga bukan sesuatu yang menjijikan.. Aku sedang dalam keadaan tidak ingin bercanda saat ini."
Saat Chrysant membuka paket tersebut, matanya langsung berkaca-kaca. Isinya adalah semua gambarnya bersama Richy, Amelaty dan Aisyah.
Chrysant juga menemukan beberapa gambarnya yang sedang sendirian. Sebenarnya sejak awal kedatangan Chrysant di SMP X, Riendly sudah menyukai Chrysant.
Tetapi saat mengetahui bahwa Chrysant memiliki karakter yang dingin dan berambisi, Riendly memilih untuk tidak terlalu mengganggunya karena Riendly tidak ingin di benci oleh Chrysant.
Riendly yang melihat Chrysant yang hanya memiliki sedikit teman meyakinkanya bahwa Chrysant akan sangat mudah membencinya jika Ia terlalu mengusik kehidupan Chrysant.
Riendly juga meninggalkan pesan yang Ia tulis di secarik kertas mungil. "Kemarin adalah hari kasih sayang, Aku iri melihat banyak para anak laki-laki di tempatku mengirimkan hadiah kepada gadis yang mereka sukai.. Bahkan ada yang sampai memanjat pagar Asrama hanya untuk bertemu.. Jangan menganggap ini sebuah gangguan untukmu Chrysant.. Anggaplah Kamu sedang membantuku agar terlihat normal Oke !"
"Haha.. Normal ? Memangnya disana ada yang tidak normal ?"
Chrysant yang ingin membalas kebaikan Riendly yang telah mengabadikan kenangan indahnya bersama Amelaty, Richy dan Aisyah mengirimkan sketsa wajah Riendly dan membingkainya dengan rapi.
Chrysant juga membuatkan kue kering dengan bahan sederhana yaitu kue Beng-beng. Chrysant mengirimkan sesuai dengan alamat Asrama tempat tinggal Riendly.
Setelah satu minggu, Riendly menerima paket pemberian dari Chrysant. Beberapa teman sekamar Riendly langsung menggodanya karena mendapat paket dari seorang gadis.
Kue pemberian dari Chrysant juga Ia jaga baik-baik dan Riendly meletakan toples kue buatan Chrysant tepat di samping bantalnya.
18 Februari 2021
"Ini untuk Kamu Aisyah."
Saat jam istirahat tiba Chrysant yang membuat kue cukup banyak memutuskan membaginya di sekolah. Chrysant juga membungkusnya satu-persatu dengan kemasan mungil.
"AH ! Kue coklat.. Um.. Pasti enak."
"Aku sedang bosan jadi membuat kue.. Aisyah temani Aku memberikan kue kepada Kak Mario dan Kak Coco.."
"Hah kenapa tidak berikan semuanya kepadaku ?"
"Ayolah.. Pasti saat ini mereka di kantin."
Saat Chrysant dan Aisyah tiba di kantin, benar mereka menemukan Coco yang sedang makan sendirian sambil memainkan ponselnya.
"Kak Coco ini kue."
"Wah terimakasih banyak ! Coba lihat ini siapa ?" Coco yang sedang melakukan panggilan video bersama Riendly membalikan kamera yang memperlihatkan wajah Chrysant.
"Sudahku duga.. Chrysant bukan tipe seperti itu.. Aku pikir kue itu hanya untuku saja.. AH ! Sudahlah !" Riendly menutup panggilan mereka.
"Ah ? Ada apa Kak Coco ?" Keadaan kantin yang ramai membuat Chrysant tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Coco. "Kak dimana.. Kak Mario ? Aku ingin memberikan kue juga padanya."
"Hm di lorong cinta !"
"Ok terimakasih.."
Chrysant dan Aisyah melanjutkan perjalanan mereka dan mereka sangat terkejut mendapati Mario bersama Christin sedang melakukan selfie bersama.
"A.. Chrysant !"
"Dasar parasit !" Bisik Aisyah.
"Shut ! Kita berikan saja kue ini dan pergi." Bisik Chrysant.
"Kak Mario maaf.. Ini ada kue dan Aku ingin berbagi.."
Saat Mario akan mendekat ke Chrysant, Christin menahan tanganya. "Tidak usah kan kita sudah makan tadi !"
"Memangnya Makanan ringan yang Aku belikan kemarin kurang banyak ?"
"Apa Kamu harus menjelaskan semuanya seperti itu ? Bahkan di depan Chrysant dan Aisyah !" Mario yang kesal langsung pergi meninggalkan Christin.
". . ." Christin hanya terdiam dan memandangi Chrysant dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan dan pergi meninggalkan Chrysant dan Aisyah tanpa bicara.
"Iih ! Inginku sobek mulutnya dan mencungkil bola matanya !" Aisyah merasa sangat di permalukan dengan sikap Christin.
Chrysant tersenyum "Hm.. Polosnya."
"Polos apanya ? Angkuh begitu, polos ?"
"Bukanya semua mantan Mario berakhir tragis ?"
"Ah !" Bola mata Aisyah membesar "Seram !" Aisyah langsung memeluk Chrysant. "Iya dasar ! Apa Dia tidak tahu Pak Rahman dan Mario itu memiliki aura kesialan !"
16 Maret 2021
Ini adalah pertama kalinya Chrysant merasakan atmosfer tingkat Provinsi untuk bangku Sekolah Menegah Pertama.
Untuk tempat penyelenggaraanya adalah di lapangan terbesar di kota Palu dikarenakan adanya larangan untuk melakukan aktivitas keramaian di dalam ruangan.
"Sedang apa Anak itu disini ?"
Perhatian Chrysant tertuju pada Seorang Anak laki-laki bernama Sian. Sian adalah Peserta seni melukis yang telah sampai ke tingkat Internasional tahun 2020.
"Tidak adil ! Bukanya ini terlalu jelas ! Dia adalah pemenangnya !"
"Ada apa Chrysant ?" Ruby yang merasa ada yang aneh dengan Chrysant mendekatinya perlahan.
"Ada Sian di sini Bu."
"Iya Ibu sudah lihat tadi saat Anak itu pertama kali masuk, Ia langsung menjadi pusat perhatian."
"Menyebalkan."
"Iya Ibu juga kesal.. Tapi Ayo kita lakukan seperti biasa.. Ini minumlah." Chrysant membuka mulutnya dan menghisap sendotan dari botol minuman. "Ini rotinya.. A.." Walaupun tanganya sibuk menyiapkan alat dan bahan Chrysant tetap tidak kelaparan dan kehausan.
Untuk makan dan minum Ruby selalu menyuapi Chrysant karena akan sangat membuang waktu jika Chrysant harus meninggalkan pekerjaanya hanya untuk makan.
Sian adalah si genius yang telah membanggakan Negara maka dari itu kehadiranya telah menjadi tamparan untuk semua Peserta.
Sian adalah seorang remaja yang telah muncul di televisi untuk iklan karena ketampanan juga tinggi badanya.
Semuanya Ia dapatkan karena prestasinya hingga ke tingkat Internasional. Banyak orang menginginkanya menjadi seorang Aktor karena wajahnya yang mewah.
Lomba pun berlangsung dan Chrysant selesai tepat lima jam lewat tiga puluh menit sedangkan Sian belum juga selesai.
Chrysant yang penasaran berjalan mendekati Sian. Sejak awal Chrysant melihat Sian menyusun kayu-kayu kecil dan dari kejauhan terlihat seperti sebuah rumah.
Mata Chrysant berbinar melihat karya dari Sian yang merupakan rumah adat panggung yang di beri dekorasi tambahan seperti manusia dan hewan juga tumbuhan.
"Wah cantiknya ."
"Terimakasih."
Tetapi semakin di lihat, Chrysant menemukan keanehan yaitu jumlah tiang yang menopang kurang satu tiang.
"Hm.. Kakinya kurang !"
"Sengaja." Bisik Sian.
"Kenapa ?"
Sian tersenyum "Aku lelah."
"Kita semua yang berada disini merasakan hal yang sama."
"Aku sangat lelah disini" Sian menunjuk pelipisnya."Dan disini." Sian menunjuk dadanya.
Waktupun berakhir dan semua peserta kembali ke meja mereka. Seorang wanita berbadan besar, memakai banyak emas dengan pakaian mewah datan mendekati Sian.
"Anaku.. Ibu yakin Kamu pasti menang.. Kamu capek kan ?"
Tidak ada yang menghentikan tindakanya mengusap keringat Sian, padahal peraturan mengatakan bahwa penonton di tiadakan untuk semua cabang perlombaan.
Pengumumanpun keluar dari Panitia. "BAIKLAH UNTUK JUARA SATU ADALAH SIAN !"
Sian langsung memasang wajah kecewa dan tidak bisa membela dirinya karena Ia tidak ingin orang tahu bahwa Dia sengaja melakukanya.
"SAYA PROTES !" Chrysant mengangkat tanganya. Sian sangat terkejut dengan tindakan Chrysant.
"Silahkan keluarkan pendapat Adik !"
"Terimakasih ! Kaki dari miniatur rumah adatnya kurang satu !"
Semua pembimbing langsung menatap karya Sian dan langsung menemukan kesalahanya. Panitia juga langsung membicarakan hasilnya kembali.
"Baiklah, Kami minta maaf untuk kesalahan karena tidak teliti dalam melakukan penilaian.. Kami ulangi bahwa JUARA SATU UNTUK BIDANG SENI KRIYA TINGKAT PROVINSI ADALAH CHRYSANT AMON."
Sian langsung berlari dan memeluk Chrysant, semua orang sangat terkejut mengingat Sian dan Chrysant adalah saingan.
"Terimakasih Chrysant.. Aku akan mengingat ini sampai Aku mati.." Bisik Sian.
Setelah semua sesi selesai, Wanita mewah tadi menghilang dan pembimbing Sian menepuk pundaknya sekedar menyemangati sebab mengira Sian bersedih karena tidak mendapatkan juara satu.