SMP X

SMP X
24. Hari Terakhir II



Setelah membicarakan perjalanan Chrysant hingga menjadi jura pertama di tingkat Internasional, akhirnya mereka sampai di pertanyaan terakhir.


"Baiklah pertanyaan terakhir untuk Chrysant Amon. Apa yang ingin Kamu katakan untuk Anak bangsa Kita yang saat ini sedang berjuang untuk menggapai cita-cita mereka, silahkan."


"Hm.." Chrysant sudah berada di puncak rasa sakitnya, tetapi Ia berusaha fokus dan melakukan yang terbaik. "Terimakasih." Chrysant menarik nafas panjang. "Halo semua teman-teman yang menonton siaran langsung ini, apa kabar ? Nama saya Chrysant.. Saya hanyalah siswi SMP biasa yang tidak perlu Kalian jadikan beban.. Maksud Saya.. teman-teman Semuanya bebas memiliki tujuan hidup yang Kalian pilih.. Apa yang Saya telah gapai sebenarnya hanyalah untuk seseorang yang sangat saya sayangi.. jadi Saya tidak ingin menuntut Kalian untuk bisa seperti Saya.. Tolong lakukanlah apa yang kalian inginkan.. selama itu tidak menyakiti siapapun, terimakasih."


"Wah sepertinya belum lenkap.. kalau boleh saya tahu, Apakah seseorang yang Adik Chrysant ingin banggakan bahagia melihat pencapaian Adik ?"


Chrysant tersenyum dan mengalihkan pandanganya, rasanya Ia ingin menangis. "Saya belum tahu, karena Kita bahkan belum bertemu sejak lama."


"Kalau begitu karena saat ini sedang siaran langsung. Silahkan Adik Chrysant beritahukan isi hati Adik untuk Seseorang yang sangat berharga itu."


"Ng, Bagaimana yah." Chrysant menggaruk kepalanya merasa sangat canggung. "Hai Kak Zagas.."


Beberapa Guru dan murid yang mengetahui masa lalu Chrysant satu-persatu mulai meneteskan air mata mereka.


"Ini Chrysant" Chrysant melambaikan tanganya. "Aku sudah berhasil melakukanya, Kakak banggakan ? Chrysant berharap bisa mengatakan ini juga saat Kita bertemu nanti. Aku hanya ingin mengatakan bagaimana rasanya bisa mengejar mimpi hingga berhasil mendapatkan hasilnya.. yah walaupun Aku tidak mengikuti jejakmu dalam bidang melukis. Hm.. rasanya.. Aku sangat sangat bahagia. Aku bersyukur tidak mencuri mimpi siapapun hingga saat ini.. Terimakasih sudah melarangku untuk tidak melakukan hal bodoh itu. Iya itu saja !"


"Maaf kalau pertanyaan ini menyinggung Adik Chrysant. Adik bisa untuk tidak menjawabnya, Siapa Zagas dan dimana Ia berada sekarang ?"


"Zagas itu Kakak laki-laki saya satu-satunya."


"Kakak kandung ?"


"Iya, Dia sudah bersistirahat dengan tenang sekarang."


Jawaban Chrysant membuat semua orang yang tidak tahu menjadi terdiam.


"Maafkan Saya, waktu kita telah habis.. Baiklah terimaksih telah mengikuti siaran langsung Berita pagi. Semoga wawancara singkat Kami bisa menjadi inspirasi bagi semua pemirsa yang menyaksikan siaran langsung Berita pagi hari ini dan akan memulai aktivitas, Saya Rosa.. Sampai jumpa dalam Berita pagi." Wartawan yang mendapat kode dari staff dengan cepat mengakhiri siaran langsung.


Setelah selesai beberapa guru dan murid SMP X mendatangi Chrysant yang memberikan beberapa ucapan penyemangat kepadanya termasuk Nur Rahma.


Saat semuanya telah bubar Aisyah yang dari tadi menunggu Chrysant sendirian langsung mendatanginya dan merangkul lengan Chrysant. "Chrysant tangan Kamu panas sekali !"


"Aisyah bisa temani Aku ke UKS ?"


"Tentu saja, ayo."


Aisyah mengantar Chrysant ke UKS dan membaringkan Chrysant di tempat tidur.


"Baju kamu penuh keringat." Aisyah meraba belakang Chrysant. "Lepaskan dulu jaket Kamu." Aisyah melepaskan jaket Chrysant.


"Ah rasanya lebih baik.. sejuk. Mungkin karena Aku sudah minum obat tadi jadi efeknya baru terasa."


"Chrysant.. Aku panggil guru yah ?"


"Hush ! Jangan terlalu dramatis.. lagipula Aku malu masuk ke UKS. Biasanya kan hanya anak-anak yang pura-pura sakit atau kemasukan yang masuk disini."


"Hei hei ! Chrysant bukankah wawancara tadi terlalu membosankan."


"Hehe iya, Aku merasa ingin muntah mengingat perkataanku tadi. Padahal Aku berusaha agar tidak terlalu terbuka. Rasanya Aku ingin memutar waktu."


"Tapi, apa Amelaty tidak ingin berhubungan dengan Kita lagi ? Kalau saja Kita masih seperti dulu mungkin Richy dan Amelaty akan mengajak Kita bolos juga membawamu pulang. Maafkan Aku.. Aku tidak bisa berbuat banyak seperti mereka. Tapi kalau Kamu mau Aku akan minta izin dan membawamu pulang."


"Tidak usah, Aku bisa pulang sendiri.. Aku kan naik ojek."


"Kalau begitu Aku akan ke kantin dan membelikanmu susu dan makanan."


"Ng."


"Tolong jangan di tolak ! Setidaknya Aku ingin melakukan sesuatu untuk sahabatku yang tinggal satu."


"Hei ! Memangnya Aku mau mati ?"


Aisyah langsung berbalik dan pergi ke kantin.


Sambil menunggu Aisyah, Chrysant membuka email dari Giano, seorang Produser film yang ingin menawarkan Chrysant untuk membuat karakter film layar lebar tiga dimensi.


Chrysant yang di banjiri dengan tawaran kerja sama dari berbagai kalangan sejak dirinya mendapat piala emas masih belum bisa menetapkan hatinya.


Chrysant berencana untuk memulai menentukan langkah baru saat Ia pindah. Saat sedang menjelajahi internet Chrysant menjadi pusing dan menutup matanya.


Tiba-tiba Chrysant mendengar suara langkah kaki masuk dan mengambil jaketnya. Perlahan Chrysant membuka matanya dan melihat bahwa itu Christin.


Tetapi saat Christin berbalik Chrysant merekam semuanya dengan ponsel.


"Chrysant ! Ini dia." Aisyah kembali dengan membawa sekantung penuh makanan dan minuman.


"Terimakasih, Kamu mau makan bersama ?"


"Maafkan Aku Chrysant.. Aku sudah janjian dengan Kakak kelas untuk makan bersama dan Aku harus kembali ke kantin."


"Boy atau Kakak kelas ?"


"Hush ! Hehehe semuanya yang menyukaiku. Baiklah kalau Kamu butuh Aku.. hubungi saja Oke ! Eh tadi Aku bertemu Kak Riendly.. hm.. katanya hari ini Dia akan kembali ke Surabaya dan Dia datang hanya mengecek, apa Kamu masuk sekolah. Karena Dia tahu Kamu ada dan Aku bilang Kamu sakit jadi katanya Dia mau pulang mengantar motornya.. sepertinya Kak Rin mau berangkat ke bandara dari sini.. Baiklah itu saja Aku pergi dulu."


"Terimakasih Aisyah !"


"Ya !"


Saat Aisyah pergi, Chrysant langsung makan makanan pemberian Aisyah dan mengabaikan apa yang baru saja Christin lakukan.


Bagi Chrysant yang akan pindah sekolah perilaku Christin sangat membuang waktunya untuk di pedulikan.


Chrysant juga sudah muak dengan Christin yang begitu berambisi mengganggu hidupnya. Baginya tidak melakukan apapun mempermudah dirinya melupakan SMP X.


"Ah ! Martabak telur." Saat mengeluarkan beberapa makanan Chrysant melihat ada martabak mini. Hal sekecil ini sangat membuatnya senang.


Waktupun berlalu, Chrysant yang mulai merasa dingin kembali belum berani untuk keluar dari UKS. "Bagaimana ini, rasanya udara terasa dingin lagi."


Chrysant yang merasa sakitnya kambuh lagi mulai meringkup di atas tempat tidur dan Aisyah yang telah kembali, mendekat dan menaruh tanganya di dahi Chrysant.


"Hei.." Aisyah menggoyangkan tubuh Chrysant.


"Iya sudah ! Demam Kamu lebih tinggi di bandingkan tadi. Mungkin karena tadi berkeringat dan Kamu tidak ganti baju. Pakai jaket lagi kalau begitu." Aisyah melihat jaket yang sudah menghilang. "Mana jaket tadi ? Yang biru !"


Chrysant membuka ponselnya dan memperlihatkan rekaman Christin yang mencuri jaketnya.


Aisyah menarik nafas panjang. "Maafkan Aku Chrysant.. Aku tidak bisa mencari masalah lagi denganya. Kamu tahu kan Ayah barunya.. semenjak Ia masuk di kelas sembilan J Aku tidak ingin berurusan sama sekali dengan Dia. Sebenarnya semenjak Dia meniru Kamu.. rasanya Aku ingin menendang wajahnya." Aisyah menundukan kepalanya.


"Sudahlah lagipula Aku akan segera pulang."


"Ah iya !" Aisyah langsung pergi meninggalkan Chrysant.


Saat kembali Aisyah membawa Mario bersamanya. "Tada !"


"Kamu sakit ?" Tanya Mario.


"Sedikit."


"Hei Mario ! Mantan Kamu si Christin itu, Dia mengambil jaket Chrysant." Bisik Aisyah.


Christin dan Mario hanya berpacaran kurang dari seminggu karena Mario memutuskan untuk berhenti menjadi kacung.


"Baiklah." Mario melepas jaketnya. "Setidaknya kali ini Aku juga ingin dimanfaatkan. Biasanya kan Aku yang menjadi parasit."


Chrysant tersenyum. "Harusnya Kamu bangga ! Gadis secantik Aku memanfaatkan Kamu !"


"Tentu saja Aku bangga.. Apalagi gadis luar biasa sepertimu."


Aisyah mengambil jaket dari tangan Mario dan memakaikanya di tubuh Chrysant.


"Jangan lupa masker, pakai yang baru yah." Aisyah memberikan masker baru kepada Chrysant dan Mario. "Kak Mario juga."


Chrysant yang sangat tersentuh langsung memeluk Aisyah. "Terimakasih.. terimakasih banyak."


Chrysant menjadi sangat sedih karena baru memulai hubungan yang erat dengan Aisyah juga Mario di hari-hari terakhirnya sebelum pindah.


"Maaf karena Aku tidak bisa melindungi Kamu seperti yang dilakukan Richy dan Amelaty." Aisyah juga memeluk Chrysant dengan kedua tanganya.


"Haha memangnya Aku siapa, sampai Kamu harus merasa bersalah. Kamu mau dekat dengan es berjalan sepertiku saja Aku sudah bersyukur."


Chrysant yang sudah tidak tahan memutuskan untuk pulang. Mario dan Aisyah juga menemani Chrysant menunggu ojek di gerbang sekolah.


Mereka bertiga duduk pada bangku yang terletak di samping sekolah. Saat mereka menunggu ojek, pandangan Chrysant melihat Riendly dan Christin yang berdiri bersama di sisi jalan lainya.


Chrysant sendiri yang menyadari dan melihat hal tersebut hanya tersenyum dalam masker sedangkan Christin menatapnya dengan tatapan merendahkan.


"Kak Rin coba lihat." Christin merangkul lengan Riendly. "Bukanya itu jaket Mario dan bahkan Mario menemani Chrysant sampai pulang. Pantas Chrysant membuang jaket ini, untung saja Aku pungut."


Sebelumnya Riendly datang kedua kalinya ke SMP X untuk melihat Chrysant tetapi Ia malah menemukan Christin yang sedang memakai jaket pemberianya.


Riendly mengejar Christin dan menggapai tanganya. Riendly yang awalnya kebingungan malahan mendapat penjelasan yang salah dari Christin.


Christin menjadi sangat senang dan memberinya semangat untuk membuat Riendly percaya bahwa Chrysant telah menyia-nyiakan jaket pemberianya.


Riendly yang melihat hal tersebut langsung menatap mata Chrysant. Chrysant yang bosan dengan drama hanya memutar bola matanya dan menaruh tanganya di pundak Mario.


"Hei Aisyah coba lihat !" Mario menunjuk rangkulan Chrysant.


"Wah sepertinya Chrysant harus cepat di beri obat. Anak ini sudah hilang kesadaran."


Aisyah dan Mario hanya menganggap perilaku Chrysant sebagai lelucon.


Christin sangat dipenuhi amarah merasa Chrysant sedang membalasnya dengan merangkul Mario mantanya.


"Aisyah ?"


"Iya ?"


Chrysant mengeluarkan jari tengahnya untuk menggoda Christin


"HAHAHAHAHAHA." Aisyah dan Mario langsung tertawa hingga perut mereka sakit.


Mereka merasa Chrysant sudah benar-benar sakit hingga melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan sifat asli Chrysant.


Christin yang merasa sedang ditertawakan sangat ingin menjambak rambut Chrysant Hingga membuatnya meninggalkan Riendly.


Kakinya dengan cepat melangkah dan saat menyebrangi jalan datang mobil yang melaju dengan sangat cepat hingga langsung membuat tubuh Christin terlempar jauh.


Raja yang menandai jaket Chrysant sejak Dia memasuki sekolah hari ini telah salah paham dengan Christin.


Keyakinan Raja menjadi-jadi bukan hanya karena jaket tetapi karena memang Christin sangat menirukan fisik dan cara berpakaian Chrysant.


Karena melaju di tengah kota mobil Raja yang melaju kencang mengakibatkan terjadinya kecelakaan beruntun hingga membuat tubuh Raja terlempar keluar mobil dan terjepit pada mobil yang berada di depanya.


Banyak orang yang berkumpul untuk membantu membebaskan tubuh Raja yang hampir terpisah dan beberapa orang juga berkumpul di sekitar Christin tetapi tidak berani menyentuhnya.


Rahman yang mendengar keributan langsung menghampiri tempat kejadian dan berlari menuju tubuh Christin yang telah berlumuran darah.


Rahman langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Polisi. "Tunggu Nak ! Sabar.. Bantuan akan datang."


Christin yang menyadari dirinya tidak akan tertolong saat Ia melihat dengan samar-samar kaki dan tanganya yang tidak berbentuk hanya pasrah.


"Pak ?"


Rahman mendekat "IYA NAK IYA ?"


"Aku penari yang cantik kan ?" Sebenarnya saat perlombaan tarian tradisional berlangsung, Rahman tak hentinya bersorak dan mengatakan bahwa tim SMP X sangat cantik dan akan mendapatkan juara satu.


Pujian Rahman sangat berarti untuk Christin dan membuatnya memiliki mimpi untuk menjadi seorang Penari yang sukses hingga ke tingkat dunia.


"Iya ! Christin adalah Penari yang cantik dan Bapak akan selalu bangga dengan Kamu Nak !"


". . ." Christin telah terdiam, walaupun wajahnya di penuhi darah tetapi senyuman manisnya begitu indah.