
11 Januari 2020
"Ibu Sum, setelah seleksi Aku akan pulang cepat."
Sumirna hanya bisa menjawab dengan menganggukan kepalanya karena Sumirna terkena flu dan batuk hingga sulit bernafas, sering batuk juga menghilangkan suaranya.
Pukul dua sore saat tiba di Sekolah, Chrysant sudah duduk menunggu para peserta lomba. Sendirian merasakan hembusan angin membuat hatinya menjadi gugup. Saat pukul setengah tiga para peserta dari berbagai bidang mulai berdatangan.
Dari kejauhan Chrysant melihat Richy datang mendekatinya. Richy yang datang dengat koper yang di penuhi dengan alat melukis yang sangat lengkap berbanding terbalik dengan Chrysant yang hanya membawa alat dan bahan secukupnya.
"Hai.. baru Kita berdua yah ?" Richy duduk di sebelah Chrysant.
"Iya.." Chrysant semakin tidak percaya diri karena semakin lama menunggu tidak ada tambahan peserta dalam seni melukis.
"Chrysant.."
"Iya.."
"Jangan merasa minder denganku, lakukan yang terbaik seperti yang kamu lakukan di bangku Sekolah Dasar."
"Keren."
"Apa katamu ?" Mata Richy membesar mendengar perkataan Chrysant.
"Tidak, Aku hanya merasa Kamu sangat tenang dan mengetahui banyak hal. Bagiku itu hal yang keren."
Wajah Richy memerah karena Ia sangat jarang mendapatkan pujian tulus dari seorang gadis. "Oh terimakasih.."
Tetapi Richy mencoba untuk tidak menyukai Chrysant karena Ia tahu Chrysant akan terluka jika tahu bahwa Richy adalah kandidat tanpa harus berusaha dan seleksi ini hanya formalitas.
Ketidak hadiran banyak peserta yang mengikuti salah satu bidang adalah sudah menjadi pertanda bahwa adanya kehadiran seorang murid yang berkuasa.
"Maaf Bapak terlambat.. kita seleksi di alam terbuka saja yah di teras kelas saja." Setelah Chrysant dan Richy menunggu tanpa banyak bicara, akhirnya Rahman datang. "Baiklah kita mulai dengan hanya dua peserta yah.. silahkan siapkan alat dan bahan. Untuk kali ini saya hanya ingin kalian mengeluarkan pensil dan buku gambar.."
Chrysant dan Richy mulai mempersiapkan diri dengan memegang buku gambar dan pensil.
"Ok baiklah tema dari saya sederhana yaitu pose sketsa. Kalian pasti sudah tahu kan dan untuk sudutnya saya hanya minta depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah. Saya tidak perlu sudut berputar segala arah. Silahkan dimulai."
"Maaf Pak, hewan atau manusia ?" Tanya Chrysant.
"Ah iya maaf, sketsa manusia tanpa perbedaan gender dan rambut yah.. buat saja seperti patung dasar.."
"Baik Pak."
Chrysant dan Richy dengan tenang mulai mengusap pensil mereka di atas kertas sedangkan Rahman menjauh dari mereka berdua dan menghubungi Moand Luca, ibu kandung Richy.
Moand marah karena ada anak lancang dari kelas A yang berani mengikuti seleksi lomba dan bersaing dengan anak dari kelas J. Moand juga menganggap Chrysant tidak tahu diri tentang latar belakangnya.
Moand memerintahkan Rahman untuk tidak menaruh perhatian kepada Chrysant. Rahman yang mampu mengantar anaknya hingga ke perguruan tinggi dengan pelicin dari orang tua murid hanya bisa mengiyakan permintaan Moand.
Setelah selesai menggambar Rahman terkejut dengan hasil gambar Chrysant yang sangat realistis walaupun Rahman hanya memberikan arahan yang sederhana.
Rahman kembali mengingat Zagas yang memiliki ciri khas yang mirip dengan Chrysant yaitu tidak menekan pensil hingga memberikan efek blur dan sedikit bayangan.
"Bapak akan memberikan pengumumanya pada hari senin.."
Richy langsung mengkerutkan alisnya. Seharusnya Rahman memberikan pengumuman saat ini juga. Richy merasa ada yang aneh dengan raut wajah Rahman.
Sebenarnya Rahman ingin memberontak untuk kali ini. "Pulanglah ini sudah sangat sore.." Rahman dengan menghembuskan nafas panjang berdiri meninggalkan mereka berdua.
Chrysant langsung berlari karena mengingat Sumirna yang sedang sendirian di rumah dan Richy mengejar Chrysant, menangkap tanganya. "Tunggu.. kenapa wajah Pak Rahman sangat aneh tadi.. Aku melihat matanya memerah.."
"Hm.. mungkin Dia mengantuk.."
"Baiklah.." Richy melepaskan tangan Chrysant.
"Dah Richy.." Chrysant langsung berlari meninggalkan Richy.
"JANGAN NAIK OJEK SEMBARANGAN !" Teriak Richy.
Chrysant membalas dengan mengangkat jempolnya.
Saat berada di dalam mobil, Richy memgangkat panggilan dari Moand. Moand menjelaskan bahwa Kakak Christin meninggal beberapa jam setelah menyerah dalam lomba melukis.
Moand juga berkata bahwa apa yang Ia lakukan sekarang sama seperti yang di lakukan Cinta di masa lalu dan rahasia Rahman juga pelicin dari Moand yang membuat Rahman bisa Ia kendalikan.
Moand sangat berambisi untuk membuat Richy menjadi pelukis terkenal karena semua lukisan di hotel Mahkota berasal dari selingkuhan suaminya yang seorang pelukis.
Adam Mahkota Ayah kandung Richy sengaja melakukanya untuk menghancurkan hati Moand yang begitu angkuh dan selalu mengendalikanya.
Richy yang sangat mencintai Moand dan hanya bisa tunduk dengan perintah Moand karena Moand adalah pribadi yang sering melampiaskan amarahnya terhadap Richy.
Fisik Richy yang hampir mirip denganya membuat Moand merasa puas dengan menyiksa dirinya dalam wujud Richy kecil.
Moand sering memukuli Richy dan mengancamnya tanpa sepengetahuan Adam dan Riendly karena setiap kali terjadi pertengkaran antara Adam dan Moand, Richy akan di bawa oleh Moand.
Riendly tidak pernah menjadi pilihan Moand karena Riendly lebih sulit di jinakan juga kebiasaanya di rumah menghabiskan waktu bersama Adam.
Richy kecil yang sering melakukan perundungan saat di bangku Sekolah Dasar pernah hampir merenggut nyawa korbanya dan Moandlah yang menyelamatkanya dari hukuman, tentunya dengan uang.
Tetapi Moand yang sering menyelamatkan Richy dari berbagai macam masalah menginginkan bayaran yang mengerikan yaitu Richy akan menjadi pelampiasan kemarahanya di saat Ia kesal terhadap sesuatu.
Salah satu kekejaman Moand Luca menyuruh Richy berdiri dengan kedua tanganya dan Moand akan meninju bokong Richy beberapa kali. Saat Adam melakukan perjalanan hingga berbulan-bulan disitulah Neraka untuk Richy.
Mengetahui fakta tentang Chrysant tidak menimbulkan rasa iba sedikitpun di hati Richy. Permasalahan Chrysant membuat Richy sedikit lega karena mengetahui semua gadis hebat memiliki beberapa hal pahit dalam hidup mereka.
Richy juga merasa beruntung mengetahui bahwa Chrysant yang selalu di puji banyak orang juga memiliki masalah yang berat dalam hidupnya.
Saat berada di rumah, Rahman telah memutuskan untuk menjadikan Chrysant sebagai perwakilan dalam bidang melukis. Sesaat pikiranya menjadi bersih dan hati nuraninya tergerak.
Tetapi mendengar isterinya meminta uang untuk membayar uang semester dan kos dua anaknya yang sedang kuliah di luar kota membuat cahaya dimatanya sirna.
Ia juga mengingat bahwa harus menabung untuk masa depan tiga anaknya yang masih kecil. Rahman tersenyum dan mengeluarkan uang yang Ia dapatkan dari beberapa orang tua murid untuk di berikan kepada Isterinya.
Rahman berpikir mungkin nasib Chrysant memang tidak beruntung dan hatinya kembali membusuk seperti sebelumnya.
12 Januari 2020
"Halo.." Bisik Amelaty.
". . ."
"Halo.. Halo.."
"Chrysant.." Amelaty berbicara dengan dangat pelan.
"Iya ada apa ? Kenapa sangat ribut ? Kamu di mana ?"
". . ."
Amelaty mematikan panggilan dan mengirimkan gambar dan lokasi mereka. Amelaty meminta Chrysant untuk segera datang.
"Apa ? Tatura ?" Chrysant terkejut melihat alamat yang di kirimkan Amelaty karena setelah bencana alam yang melanda kota Palu 2018, Mall Tatura hanya tinggal sebuah puing bangunan dan belum ada tindakan nyata yang dilakukan untuk memperbaikinya.
Chrysant datang dengan menggunakan ojek online. "Dik mau apa kesini ?" Driver ojek sangat bingung, tengah malam ada seorang anak gadis yang ingin berkunjung ke tempat yang menyeramkan seperti ini.
"Hehe Aku sedang.. menunggu teman.."
"Untuk apa malam-malam begini Dik !"
"Kami mau makan.." Chrysant langsung melihat penjual burger. " Burger.. iya burger.."
"Oh.. iya.. Dik oke.. Bapak permisi.."
Saat sampai di tempat Chrysant langsung berkeliling dan menemukan Amelaty bersama Richy di bagian belakang Mall.
Keadaan yang sangat sepi membuat kebanyakan orang tidak berani memasuki kawasan mall mengingat banyaknya korban yang berjatuhan di sekitar Mall.
Richy telah lemas hampir pingsan dipangkuan Amelaty dan babak belur dengan bibir bawahnya yang terbelah hingga bajunya dipenuhi darah.
"Ah.." Chrysant sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tanganya. "Richy." Chrysant langsung membuka jaket dan memakaikanya kepada Richy yang hanya menggunakan baju tidur.
Richy dan Moand
"Aku tadi sedang makan dan Richy melakukan panggilan video, Aku yang terkejut langsung datang kesini."
"Dimana Pak Renal ?"
"Aku.. naik ojek.. dan Aku bilang mau makan burger dengan Richy makanya Aku lolos.."
"Di sini berbahaya.. Hubungi Pak Renal.. setidaknya kita harus merawat Richy terlebih dahulu.."
"Kamu gila.. Richy tidak ingin pulang.."
"Apa ?"
"Ibunya.. Moand Luca menyiksanya. Tadi saat Aku menemukan Richy, Aku bertanya ini ulah siapa ? Dan jawabanya adalah 'Ibu'. Kalau kita membawanya ke rumah sakit, Orang tuaku akan melarangku untuk bersahabat denganmu lagi.."
Richy yang sedang menginap di hotel dekat Mall bersama Moand terluka parah setelah melakukan permintaan Moand untuk membungkus dirinya dengan selimut tebal.
Moand dengan menggunakan sapu ijuk terus memukuli Richy yang di tutupi selimut. Moand yang sudah puas segera berganti pakaian untuk pergi berbelanja.
Richy mencoba bangun dengan tubuh yang sangat lemah dan mata yang sayup menatap wajah Chrysant. "Chrysant.. sekarang Kamu bisa mengambil posisiku.. Amelaty tolong hubungi Kak Rin.."
Amelaty langsung menghubungi Riendly. Riendly yang terkejut mendengar penjelasan Amelaty dengan cepat datang dengan hanya menggunakan kaos, celana pendek dan sendal rumah mengendarai motor matic lamanya.
Richy yang sangat lega bahwa aibnya telah diketahui langsung menyambut Riendly dengan senyuman lebarnya.
Akhirnya semua pertanyaan dalam pikiran Riendly terjawab. Riendly selalu heran karena setiap melakukan perjalanan bersama Moand, Richy akan kembali dengan demam tinggi dan tidak mau di bawa ke rumah sakit.
Riendly yang terluka melihat keadaan adiknya memeluk Richy dengan erat. Chrysant dan Amelaty juga berpelukan melihat Richy dan Riendly yang saling menyayangi.
"Sakit.."
"Ah maaf.." Riendly melepaskan pelukanya.
"Mulut Kak Rin bau.."
"Hahaha.."
Kemudian Riendly menghubungi sopir pribadinya untuk membawa Richy ke rumah sakit. Karena permintaan Amelaty, mereka tidak membawa Richy ke rumah sakit Treasure ataupun rumah sakit besar lainya dan memutuskan hanya membawa Richy ke PUSKESMAS.
Pihak PUSKESMAS meminta mereka menghubungi orang tua Wali mereka. Riendly memutuskan menghubungi Ayahnya.
Adam yang mendengar hal mengejutkan tersebut langsung menghubungi Moand dan berbicara dengan tenang.
Adam menanyakan keberadaan Richy. Moand yang ketakutan hanya berkata bahwa Richy sedang tidur. Jawaban singkat dari Moand telah menjelaskan segalanya.
Adam yang datang terlambat karena menyelesaikan pekerjaanya terlebih dahulu hanya menemukan Richy yang tertidur bersama Amelaty duduk di sampingnya.
Chrysant sedang menemani Riendly untuk menarik uang di ATM dan membeli baju baru untuk Richy juga makanan untuk mereka.
Adam yang datang bersama pengacaranya langsung memotret keadaan Richy untuk di bawa ke pengadilan.
Tetapi perjuangan Amelaty sia-sia karena Adam berniat untuk tetap membawa Richy ke rumah sakit Treasure.
Riendly yang telah tiba langsung melemparkan belanjaanya ke wajah Adam. Riendly sangat kecewa karena sikap Riendly yang masa bodoh dan hanya menghabiskan waktunya bersama wanita lain.
"ASAL KAMU TAHU ! ADAM ! IBU MELAKUKAN SEMUA INI KARENA KAMU TERLALU MENGABAIKAN KELUARGA INI ! Ayah selalu protes dengan sikap Ibu yang angkuh.. tetapi kenapa nanti sekarang.. setelah Ayah sudah berada di puncak ? Kenapa semua yang Ibu lakukan menjadi salah di mata Ayah ? Ibu juga berubah, dulu Ibu tidak haus akan perhatian.. tetapi kenapa setelah keuangan kita lancar dan hidup kita membaik Ibu seperti selalu tidak puas dengan segalanya ? Kalian berdua ini kenapa ?"
Riendly kembali merindukan hidup mereka dulu. Usaha keluarga Mahkota adalah usaha yang di bangun dari nol oleh Kakeknya. Tetapi karena memilih menikah muda dan bersenang-senang, Adam tidak di lirik untuk memegang usaha Mahkota.
Hidup dalam serba kekurangan membuat Richy dan Riendly yang berusia empat dan lima tahun harus merasakan berbagai macam penyakit karena kekurangan gizi.
Tetapi hari-hari mereka banyak di penuhi tawa dan kasih sayang hingga semuanya berubah saat Adam mendapat panggilan untuk menjalankan usaha keluarga.
Tidak ada lagi kelaparan, pakaian lusu dan rumah bocor melainkan makanan enak, baju mewah dan rumah besar. Tetapi kesusahan yang mereka rasakan di masa lalu hilang bersama kenangan manis itu.
Adam yang sadar akan dirinya yang tidak berguna tidak sanggup melihat luka di tubuh Richy dan air mata di pipi Riendly.
"Aku salah.. Aku mengaku salah.." Adam memeluk Riendly. Adam yang terlanjur tenggelam dalam kenikmatan duniawi seketikan kembali menemukan dirinya yang hilang.
Chrysant, Amelaty dan Richy juga menangis menyaksikanya. Tetapi saat mata mereka bertemu satu sama lain ada sedikit tawa di pipi mereka.
Akhirnya Adam membawa kedua Anaknya dan Riendly menyuruh sopirnya untuk mengantar Chrysant dan Amelaty pulang.