
"Aku tidak apa-apa Bu Sum.. Hanya tidak enak badan.."
Itulah kebohongan yang keluar dari mulut Chrysant yang di antar pulang oleh Ruby.
Ruby menjelaskan semuanya kepada Sumirna dan meminta maaf karena membawa pulang Chrysant dalam keadaan tidak baik.
Sebenarnya sebelum nama Chrysant di panggil, Ia melihat wajah Christin berada di belakang panggung sedang melambaikan tanganya ke arah Chrysant.
Hal tersebut membuat pikiran Chrysant menjadi sangat kacau. Kejadian malam ini menambah mimpi buruk Chrysant.
Malamnya menjadi panjang, seperti Dunia tidak mengizinkanya untuk tidur nyenyak setiap malam.
Sambil mengusap kepalanya Chrysant sekali lagi menjadi cahaya untuk dirinya sendiri. "Jangan lemah Chrysant." Tetapi air matanya tidak bisa terbendungpun mengalir.
Setelah satu jam lebih terbaring lemah dan melamun dengan air mata yang mengering hingga membuat wajahnya bengkak, "Ah.." Chrysant bangun dari tempat tidurnya dan mulai merapikan kamarnya, walaupun tidak terlalu kotor, Ia menata dan membersihkanya kembali.
Chrysant juga melangkahkan kakinya ke warung dan merapikan jualan juga membersihkan lantai, meja dan semua bagian yang kotor.
Ia juga membersihkan ruang tamu dan dapur. Chrysant melihat makanan yang tinggal sedikit, Iapun menumis sedikit sayur dan menggoreng tempe jika mungkin Sumirna bangun untuk makan.
Setelah memasak Chrysant mencuci semua piring dan baju. Hal terakhir yang Ia lakukan adalah menyapu halaman dan membakar rumput.
Tidak terasa jam telah menunjukan pukul empat pagi. Chrysant masuk ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumah walaupun hari ini bukan hari pemeriksaan.
Seperti zombie Chrysant memulai hari dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Saat sampai di sekolah Chrysant mendapat beberapa ucapan selamat dari para murid maupun guru.
Amelaty dan Aisyah juga memberikan pelukan hangat untuk sahabat yang mereka banggakan.
Saat upacara tengah berlangsung, Chrysant yang tidak tidur semalaman menjadi pusing dan langsung jongkok karena tidak mampu berdiri.
Ruby yang melihat kejadian tersebut langsung keluar dari barisan Guru dan mendatangi Chrysant.
Amelaty dan Aisyah ingin melangkahkan kaki mereka ke barisan kelas 7A tetapi Rike yang sedang berdiri sambil menggendong anaknya di belakang barisan mereka membuat mereka tidak bisa bergerak.
Ruby langsung membawa Chrysant ke UKS dan membaringkanya.
"Bu ?" Panggil Chrysant dengan suara yang sangat lemah.
"Iya Nak ?"
". . ."
"Ibu hubungi orang tua Kamu yah.."
"Boleh saya izin pulang ?" Chrysant yang sudah demam merasa tidak mampu untuk Sekolah hari ini.
"Tentu ! Tentu ! Tapi Kamu harus menghubungi Orang tua kamu."
"Tidak perlu Bu.. Ibu Sum pasti sibuk sekarang.. Lagi pula saya mau langsung ke Dokter."
"Biar Ibu yang antar Kamu Oke !"
". . ." Chrysant menganggukan kepalanya.
Ruby dan Chrysant pergi ke Dokter Ahli Anak yang terkenal mahal dalam pelayananya karena pasien tidak perlu ke apotek untuk menebus obat, obat telah tersedia dan sangat banyak pilihan.
Setelah di periksa rupanya Chrysant hanya kelelahan dan Dokter memberikan vitamin juga permen kepada Chrysant.
Hal yang membuat Ruby sangat terkejut adalah menyaksikan Chrysant dengan sangat santai membayar dengan menggesekan kartu ATMnya, tentunya ATM khusus Anak.
Setelah selesai, Ruby mengantar Chrysant pulang. Saat sampai di depant pintu rumah Ruby memberikan beberapa nasehat kepada Chrysant.
"Terimakasih Bu, sudah mau mengantar saya ke Dokter dan pulang."
"Sama-sama Nak, jangan lupa kunci pintu Oke !"
Chrysant mengangguk.
Chrysant mengangguk.
"Tidak usah mandi hari ini karena kamu tidak tidur semalam."
Chrysant mengangguk.
"Ibu sangat bangga dengan Kamu nak.. Di usia semuda ini.. Kamu bahkan bisa pergi ke dokter sendirian.. Kamu kelas satu SMP.." Ruby menangis terharu dengan kemandirian Chrysant.
". . ." Chrysant tersenyum dan memeluk Ruby.
"Iya dan ini." Ruby mengeluarkan amplop dari dalam tasnya dan memberikanya kepada Chrysant. "Ini hadiah kamu, selamat untuk juara satu dalam lomba seni Kriya.. Chrysant Amon."
"Terimakasih Bu Ruby."
Maret 2020
Bagi peserta yang telah memenangkan perlombaan dalam bidang seni maupun olahraga selanjutnya akan melanjutkan ke tingkat Provinsi.
Semua peserta se Sulawesi Tengah berkumpul di Palu dan di tempatkan pada Mess Pemda masing-masing Daerah Kontingen.
Tidak dengan peserta dari Kota Palu. Karena berada di dalam kota sehingga panitia perlombaan tidak menyediakan tempat tinggal.
Ruby yang sangat khawatir dengan Chrysant memutuskan untuk tinggal bersamanya sampai Chrysant menyelesaikan lombanya.
"Selamat malam.."
"Selamat malam Bu Ruby silahkan masuk." Sumirna dengan senyuman hangatnya menyambut kedatangan Ruby. "Tunggu sebentar Saya buatkan teh.. maaf Kami hanya punya teh dan sirup karena Saya dan Chrysant tidak suka kopi."
"Tidak apa-apa Bu.. Maaf merepotkan."
Ruby yang sedang duduk di ruang tamu rumah Sumirna merasa sangat damai dengan suasana rumah yang sangat familiar.
"Ini tehnya, saya juga buatkaan pisang goreng. Maaf kalau hanya ini yang ada."
Ruby dengan penuh suka cita di hatinya menikmati hidangan sederhana jamuan Sumirna. "Saya suka suasana rumah Ibu.. Lampunya tidak terlalu terang, halamanya luas dan ada warung di depan.. Saya sangat suka suasana seperti ini."
"Terimakasih Bu Ruby.. Jadi bagaimana persiapan lombanya ? Sudah sampai tingkat Provinsi kan ?"
"Iya Bu.. Saya bersyukur Anak Ibu Sum memiliki kreativitas yang tinggi, Saya bahkan tidak pernah mengajarinya membuat pola dalam membuat kerajinan dan Chrysant tanpa Sayapun Ia mampu untuk melalui semuanya."
"Itulah yang Saya khawatirkan.. Dia selalu merasa bisa mengatasi semuanya sendiri."
"Kenapa Ibu khawatir ? Harusnya Ibu senang."
"Saya sangat senang dengan kepribadianya yang mandiri hanya saja Saya takut di masa depan Ia tidak memiliki teman."
"Semoga tidak seperti itu yang Bu Sum.."
"Amin."
"Begini Ibu Sum.. Apa saya boleh menginap di rumah Ibu sampai Chrysant selesai melaksanakan semua perlombaan, karena saya khawatir kalo Chrysant kelelahan karena tidak mengatur waktunya dengan baik. Ibu tidak perlu repot.. Saya akan makan di luar dan baju saya tidak akan saya cuci di sini.. Intinya Saya hanya memastikan Chrysant dapan melaksanakan semuanya sesuai jadwal.. Anggaplah saya managernya."
"Silahkan lakukan yang Ibu Ruby ingin lakukan. Saya berharap Ibu Ruby menerima keadaan kami dan rumah Kami. Saya menerima kedatangan Ibu Ruby dengan sepenuh hati."
"Terimakasih Ibu Sum.. Saya sangat menghargai kebaikan Ibu."
Sumirna, Ruby dan Chrysant, kisah tiga orang yang tinggal seatap tanpa ada hubungan darahpun di mulai. Sumirna akan tidur bersama Ruby, mengingat tempat tidur Chrysant yang tidak terlalu besar.
Kehadiran Ruby juga sangat membantu Sumirna yang sangat sibuk di kantor. Sumirna yang sering kelelahan biasanya hanya mampu menghabiskan sedikit waktu bersama Chrysant.
Ruby sudah seperti Kakak perempuan Chrysant yang mengingatkanya untuk mengatur waktu belajar, tidur maupun makan.
Chrysant juga mulai sering tersenyum dan tertawa dibandingkan biasanya. Sumirna sangat bersyukur Ruby bisa meretakkan dinding beku di hati Chrysant yang membuatnya sulit memiliki teman.