SMP X

SMP X
16. FLS2N



12 Februari 2020


"Ibu Sum sedang apa ?"


"Hanya membuatkanmu bekal sederhana."


Sumirna yang tahu bahwa Chrysant akan mengikuti lomba, sudah bangun sejak pukul empat pagi untuk membersihkan rumah dan memasak agar Chrysant tidak perlu melakukanya lagi.


"Wah bekal telur mata sapi dan nasi goreng.. hm pasti enak." Chrysant yang sangat senang bersenandung tanpa Ia sadari.


"Chrysant."


"Iya ?"


"Jangan terbeban dengan lomba hari ini, yang Ibu tahu Kamu pergi ke sekolah dan anggaplah lomba ini adalah sebuah pelajaran tambahan."


"Siap boss !" Chrysant memberi hormat dengan senyuman manisnya.


Sekilas Ia melihat Jati dan Zagas juga tersenyum padanya. Setiap kali melihat Chrysant tersenyum padanya, Sumirna selalu merasa kerinduanya telah terbayarkan.


Chrysant yang sudah siap, melangkahkan kakinya pergi ke sekolah. Tentu saja seperti biasa Ia telah memesan ojek online.


Saat sampai di gerbang sekolah Rahman sedang menjaga para murid yang terlambat dan Ruby menunggu Chrysant untuk pergi bersama ke tempat perlombaan.


"Selamat pagi Bu Ruby !" Chrysant mendekati Ruby dan menyalim tanganya.


"Selamat pagi Nak."


"Ibu bawa dua helm dan perlengkapan lomba juga sudah Ibu bawa."


"Berikutnya serahkan saja padaku Bu, Aku akan membawanya."


"Kalau Kamu yang bawa, apa gunanya Ibu disisimu ? Ayo kita pergi." Ruby mengambil helm dan memakaikanya pada kepala Chrysant.


Chrysant dan Ruby pergi sambil berboncengan yang di ikuti dengan tatapan penyesalan Rahman.


Saat kematian Richy, banyak buah mulut beredar bahwa para murid di bawah bimbingan Rahman selalu memiliki akhir yang tragis. Zagas, Cinta dan Richy semuanya berakhir dengan kematian.


Bagaikan kutukan, gunjingan tersebut sampai hingga ke telinga orang tua murid. Para orang tua murid juga mulai ragu dan berama-ramai melarang anak mereka agar tidak terlalu akrab dengan Rahman.


Saat Chrysant sedang menunggu peserta lomba seni Kriya lainya, Ruby sangat sibuk mempersiapkan alat dan bahan untuk di letakan di atas meja.


Chrysant adalah peserta pertama yang datang. Panitia mempersiapkan tiga meja sesuai dengan jumlah peserta yang mendaftar.


Karena kedua peserta lainya tidak kunjung datang maka panitia meminta Chrysant untuk menunggu selama sepuluh menit lagi.


Setelah sepuluh menit berlalu, maka keputusan akhir adalah Chrysant harus mengikuti lomba sendirian dan tetap melaksanakan sesuai peraturan yaitu enam jam pelaksanaan.


Beberapa panitia menggoda Chrysant, menganggap Ia menang tanpa berjuang.


Chrysant menyayangkan para peserta yang mundur dari kompetisi, tetapi Chrysant yakin mereka memiliki alasan yang kuat untuk menyerah.


Dan walaupun Chrysant adalah peserta satu-satunya, sistem penilaian tetap di lakukan oleh juri yang berada di lapangan. Penentu final akhir berada di atas tangan Kepala Dinas kota Palu.


"Ah, selesai." Chrysant mengusap dahinya.


". . ." Dengan senyuman bangga Ruby menepuk pundak Chrysant dengan lembut.


Hasilnya adalah sebuah guci seperti yang sebelumnya Chrysant buat untuk membuktikan dirinya.


Tetapi kali ini Chrysant membuat sedikit perbedaan dengan membuat bentuk lingkaran unik dari pelepah pisang dan di tambahkan serbuk cengkeh di tengahnya.



Hasil akhirnya membuat para juri terpukau, bahkan beberapa panitia menyukai bau harum dari guci buatan Chrysant.


Setelah selesai lomba, hasil karya Chrysant di bawa oleh panitia.


"Chrysant.. Ayo Kita makan." Ruby mendekati Chrysant yang sedang terdiam.


Chrysant mendekati Ruby dan memeluknya. "Aku sangat lelah Bu."


"Chrysant sudah melakukan yang terbaik." Ruby mengusap kepala Chrysant. "Kamu harus makan.. Yah !"


Chrysant mengangguk dan Mereka berdua pergi makan di rumah makan yang tidak jauh dari SMP X.


Saat berada di rumah makan, Ruby dan Chrysant yang sedang menunggu pesanan mereka hanya duduk terdiam dengan wajah yang lesu.


"Chrysant, Kamu hanya pesan es buah ?"


Chrysant dengan perlahan mengambil bekal di dalam tasnya. "Ini."


"Ibu tinggal sendiri ?"


". . ." Ruby mengangguk.


"Pasti orang tua Ibu bahagia, karena Anaknya tumbuh menjadi Guru yang keren seperti Ibu." Chrysant yang tidak ingin terlalu ikut campur hanya bisa berbicara seadanya.


"Terimakasih Nak "


Saat sedang bercengkramah dengan Ruby, ponsel Chrysant mendapat panggilan dari Amelaty.


"Halo Guys !"


"Chrysant ! Bagaimana lombanya ? Sulit ?"


"Ah ! Terimakasih." Pesanan Chrysant dan Ruby telah tiba. "Maaf, Kamu tadi bilang apa ?"


"Kamu di mana memangnya ?"


"Aku sedang makan bersama Ibu Ruby.. Ah tadi sangat melelahkan tapi Aku bersyukur bisa selesai. Tanganku sampai mati rasa."


". . ."


"Halo Mel."


"Sebentar, Aku sedang masak telur.. nanti Aku hubungi lagi, dah !"


"Dah." Chrysant menatap ponselnya. "Dasar bohong !"


"Makan ! Makan ! buka bekal Kamu Nak dan makanlah." Ruby yang sudah makan terlebih dahulu sudah hampir menghabiskan makananya. "Kamu yang lomba, Ibu yang rakus. Maaf yah Chrysant."


"Kita berdua lelah Bu."


Setelah selesai, Ruby yang sudah mengantar Chrysant kembali ke rumah mungilnya yang memang Ia rancang sesuai rumah Impian semasa kecilnya yaitu rumah kayu dengan halaman yang luas.


"Selamat sore.. Ah !" Ruby langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya yang sangat kelelahan.


Sejenak Ia luangkan waktu untuk melihat pesan masuk dari keluarga yang sebagian besar hanya mencoba untuk meluluhkan hatinya. Tentu saja niat mereka untuk sebuah rupiah.


Ruby juga melihat beberapa pesan kutukan dari kedua orang tuanya yang telah mengusirnya dari rumah. Orang tua Ruby berkata bahwa Ia akan menyesal jika mereka telah tiada.


Ruby yang telah muak dengan semua sumpah dari anggota keluarganya hanya menghapus semua panggilan tak terjawab dan pesan masuk di ponselnya.


17 Februari 2020


Chrysang terbangun dan pandanganya langsung terarah ke jendela kamarnya. "Senin pagi yang mendung, cuaca kesukaanku."


Chrysant yang tenggelam dengan udara dingin lembut dan pemandangan yang menghipnotis dirinya ternyata membuatnya tidak peduli dengan waktu.


Saat seperti ini biasanya Chrysant dengan sengaja membuat dirinya terlambat ke sekolah. "Richy.. Pasti sangat dingin di sana saat ini."


Chrysant selalu percaya bahwa semua orang yang telah meninggal berada di langit dan mereka juga merasakan perubahan cuaca.


Ya, saat sampai di sekolah Chrysant memang terlambat dan hari ini Ia membawa dua bekal untuk diberikan kepada Ruby.


"Ah ! Sial !" Betapa terkejutnya Chrysant melihat Rike yang mengawasi Murid terlambat hari ini. "Dasi !" Saat menggaruk lehernya, Chrysant baru sadar bahwa Ia tidak memakasi dasi.


Saat sedang pasrah dengan keadaanya sebuah tangan memberikan dasi pada Chrysant. "Ini ! Baru Ibu beli." Ruby dengan senyuman manisnya memberikan dasi kepada Chrysant.


Sebenarnya seorang Ibu dari salah satu Murid yang terlambat menitipkan dasi kepada Ruby dan jumlahnya lebih.


Karena Ibu tersebut terburu-buru Ia dengan cepat mengatakan 'terserah' sehingga Ruby membagikan dasi yang kelebihan itu kepada Murid lainya.


"Chrysant malam ini adalah pengumuman lomba dan acaranya dimulai pukul tujuh malam di halaman Dinas Pendidikan."


"Siap Bu !"


Malam yang di nantikanpun tiba, Chrysant dan semua peserta lomba termasuk Ruby mengikuti acara penutupan FLS2N tingkat Daerah sekota Palu untuk menuju ke tingkat Provinsi.


Satu-persatu nama peserta lomba di bacakan dan bergantian naik ke atas panggung untuk menerima piala mereka. Tempuk tangan dan sorak-sorai memenuhi otmosfer acara.


Chrysant yang awalnya baik-baik saja mulai merasa aneh, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, berkeringat sangat banyak dan sakit perut yang hebat ketika semua orang meneriaki namanya.


Semua orang tahu, Chrysant sang primadona SMP X mengikuti lomba seni Kriya dan hanya satu-satunya peserta yang hadir.


"Baiklah untuk Lomba berikutnya, Hm.. Hanya satu nama peserta yang tertera.. BAIKLAH UNTUK JUARA SATU DAN SATU-SATUNYA PESERTA DALAM SENI KRIYA.. CHRYSANT AMON !"


Chrysant langsung muntah dan dengan cepat Ruby yang sedang berbicara dengan guru lainya langsung membawa Chrysant ke kamar mandi dan memberikan isyarat untuk melanjutkan acara.


Pembawa acara yang profesional langsung dengan tenang melanjutkan acara sehingga tidak banyak yang menyadari bahwa Chrysant muntah.