
Video flashback Ruby Ia kirimkan di beranda sosial medianya, walaupun memalukan tetapi Ia puas.
Karena berat baginya menanggung rasa malu dan di musuhi oleh para Purna PASKIBRAKA maupun senior karena telah lari dari pendidikan yang di hadiahkan oleh Pemerintah.
Di benci oleh Keluarga karena dipikiran mereka Ruby yang sudah mendapatkan pekerjaan malah berpaling dari mereka.
Ponsel Ruby terus berdering. Banyak pemberitahuan, pesan dan panggilan yang masuk pada ponselnya.
Ruby tidak memperdulikanya dan tidak ada hukum yang mengganggunya. Karena di dalam video, Ruby selalu berpegang pada fakta tanpa menjelek-jelekan satu pihak.
Videonya di banjiri komentar yang kebanyakan menghujatnya karena membeberkan cara berpacaran yang buruk mengingat dirinya adalah seorang guru.
Beberapa orang juga meminta agar Ruby di pecat dan ada juga yang mendukungnya. Video yang di bagikan Ruby bahkan mempengaruhi karir dan rumah tangga Kevin.
Kevin dan keluarga memutuskan untuk pergi ke Singapore karena di sana juga ada rumah sakit yang merupakan milik saudara mendiang Ayahnya.
Untuk sementara waktu, Kevin mengambil bagian di rumah sakit Singapore. Tentunya Amelaty juga akan pindah di sana.
Setelah beberapa pekan Kehebohan video Ruby seketika meredup. Media dan berita di buat heboh dengan adanya penyakit virus yang mematikan.
Di bulan April semua aktivitas sekolah di hentikan begitupula SMP X. Virus baru telah membuat dunia menjadi sunyi. Semua orang tidak di perbolehkan untuk beraktivitas termasuk aktivitas belajar mengajar.
Tetapi teknologi yang canggih membuatnya sedikit memiliki titik terang untuk tetap saling terhubung satu sama lain antar umat manusia.
Ruby yang melihat keadaan ini memutuskan untuk mengajak Chrysant belajar membuat berbagai bentuk dari cengkeh, Mulai dari bentuk kapal, burung Garuda hingga hiasan kecil seperti gantungngan kunci.
Di tahun yang baru di 2021
Setelah begitu lamanya tidak sekolah tatap muka, Pemerintah memberikan kesempatan bagi semua sekolah untuk melakukan proses belajar mengajar dengan pembagian sesi.
SMP X membaginya menjadi dua sesi yaitu untuk sesi pertama, mulai dari pukul 07:15-09:15 WITA untuk kelas tujuh dan delapan. Untuk sesi kedua dimulai pada pukul 10:00-12:00 WITA.
Di pertengahan bulan januari ini sangat berbeda untuk Chrysant entah mengapa Ia tidak tahu apa alasanya datang kesekolah selain belajar.
Kabar mengenai perlombaan sudah mulai menjadi buah bibir. Perlombaan dalam bidang apapun diizinkan dengan syarat tidak ada penonton.
Chrysant yang telah mendapat banyak ilmu dari Ruby saat ini sudah terbiasa latihan tanpa dibawah bimbingan Ruby.
Chrysant masih menjadi kandidat untuk lomba seni Kriya dan merupakan kesempatan terakhirnya mengingat tahun ini Ia akan naik kelas sembilan.
Sekolahpun dimulai dengan upacara seperti biasanya, Chrysant masih merasa aneh karena saat mengikuti upacara dirinya telah berdiri di tempat barisan kelas 8A.
Ia bahkan belum menikmati masa-masa di tingkat delapan tetapi harus menerima bahwa dirinya akan mendekati kelas sembilan di tahun ini.
Saat memasuki jam istirahat di SMP X, Chrysant menatap ke arah pintu. Tidak ada lagi wajah ceria Amelaty dan senyuman manis Richy yang mengajaknya untuk makan.
"TUNGGU ! JANGAN DULU KELUAR !"
Suara teriakan Ruby menghentikan langkah para murid kelas 8A yang beramai-ramai akan meninggalkan kelas untuk istirahat.
"Baiklah ! Bagi murid yang Saya sebutkan Namanya.. Tolong keluar dan dipersilahkan untuk latihan dalam persiapan FLS2N maupun O2SN.. Baiklah peserta pertama yaitu lomba seni Kriya.. Chrysant Amon.."
"HADIR BU !" Chrysant keluar dari kelas.
"Oke.. Berikutnya.." Ruby terus membaca nama murid hingga kelas semakin sepi. "Baiklah sekian.." Ruby baru menyadari bahwa kelas telah kosong.
"Wah.. Sepertinya ini Kelas para manusia super."
Ruby dan Chrysant melakukan latihan seperti biasanya di Laboratorium.
"Chrysant.. Ini " Ruby memberikan persediaan alat dan bahan yang baru.
"Terimakasih Ibu.. Hehe.."
"Pasti bahan kamu sudah hampir habis atau memang sudah habis !"
"Sudah habis Bu."
"Dan peralatan kamu pasti sudah bengkok-bengkok.. Apalagi gergaji kamu."
"Hehe Ibu peka."
Setelah latihan Chrysant memutuskan untuk tidak makan di kantin dan pergi membeli makanan ringan di koperasi sekolah.
Chrysant juga melihat Mario dan Coco sedang melakukan perekrutan calon PKS yang baru, tentu saja semuanya merupakas Siswa kelas tujuh.
Mario dan Coco telah naik menjadi kelas sembilan sekarang dan sejak kepindahan Riendly mereka cukup kesulitan menghadapi tanggung jawab mereka.
Chrysant merasa entah sudah berapa lama tidak menyapa mereka, rasanya Ia sedikit bahagia melihat Coco dan Mario.
Chrysant melanjutkan langkahnya, saat sampai di koperasi Chrysant membeli beberapa cemilan dan minuman juga untuk istirahat kedua karena Ia tidak ingin keluar kelas.
Saat keluar dari koperasi, Chrysant duduk di bangku yang berada di belakang koperasi untuk menghitung uang kembalian.
"Hai.."
Mata Chrysant tidak berkedip melihat gadis yang berdiri di hadapanya. Christin dengan rambutnya yang lebih panjang dari sebelumnya, kulitnya sudah menjadi sangat cerah dan bersih.
Christin bahkan mengikuti semua cara berpakaian Chrysant. Christin melakukan olahraga dan makan yang sehat hingga tubuhnya menjadi ideal.
Christin juga meluruskan rambutnya di salon, Ia memakai sedikit riasan wajah dan di buat setipis mungkin agar terlihat alami.
Christin memakai produk kecantikan yang dapat mempercepat kulitnya menjadi cerah. Semua hal ini dapat Ia lakukan karena sekarang Christin bukan gadis miskin lagi.
Ayahnya menikah lagi dengan seorang Pengusaha tas bermerek, walaupun Ia dan Ayahnya harus berpindah keyakinan Christin yang masih haus akan ketenaran tidak memperdulikanya.
Hari ini Christin dengan bangga menggunakan tas, jam tangan bahkan jepit rambut yang berharga hingga jutaan rupiah.
"Bicara apa Kalian ?" Coco datang menghampiri mereka berdua.
"Oh hai teman sekelas !"
". . ." Coco tidak menanggapi Christin dan langsung meraih tangan Chrysant. "Sedang apa Kamu berbicara sendirian."
"Apa ? Sejak Amelaty pindah.. Kamu jadi sering main bulu tangkis yah !"
"Kampungan.. Baru punya uang sedikit saja sudah rajin menghambur-hamburkan uang."
Coco memang sering pergi bermain bulu tangkis bersama sopirnya sejak Riendly dan disusul Amelaty pindah.
Badcoint adalah tempat bermain bulu tangkis yang cukup mahal. Fasilitas didalamnya juga memberikan satu lapangan per satu orang, makanan bahkan pelanggan bisa memilih teman bermain.
Dengan mudahnya Christin menghamburkan uangnya untuk menyewa pebulu tangkis terkenal dan membagikan foto mereka di sosial media yang menjadikanya populer saat ini.
Coco tidak menyangka gadis yang selalu Ia temui adalah Christin. Coco awalnya tidak yakin tetapi memang wajah itu sangat familiar untuknya dan benar gadis itu Christin.
". . ." Christin sangat kesal terhadap Coco tetapi Ia tidak mau terlalu mengusik Coco karena Ia tahu level mereka masih sangat jauh.
Chrysant yang tidak ingin akhirnya tetap duduk makan di kantin.
"Chrysant berikan aku roti kamu satu !"
"Oh ini" Chrysant menaruh semua makananya di atas meja. "Maaf tidak menawarkan."
"Uek.. Roti apa ini.. harganya berapa ?"
"Seribu !"
"Pantas.. Rasanya seperti kaos kaki basah."
". . ." Chrysant memutar bola matanya. "Kalo tidak suka jangan di hina ! Ini makanan tahu !"
"Coba ulangi."
"?"
"Cara kamu memutar mata dan ekspresi itu.. Membuatku merindukan Amelaty.. Memang benar.. Semakin lama Kita menghabiskan waktu bersama seseorang.. maka semakin mirip wajah dan kebiasaan Kita." Tanpa Ia sadari Coco sudah membuka semua makanan dan minuman Chrysant.
"Kak Coco ! Lihat apa yang Kamu lakukan !" Chrysant merengek dan menyilangkan tanganya. "Sudahlah Aku mau masuk kelas !" Chrysant berdiri dan meninggalkan Coco sendirian.
Saat sampai di kelas Chrysant dengan mata berkaca-kaca duduk dan meringkukan kepalanya sambil menutup kepala dengan kedua tangan.
"Aku cuma bawa uang sepuluh ribu.. Huh menyebalkan.."