
11 Januari 2012.
"Zagas.. " Ericka menghampiri Zagas yang sedang berjalan sendirian.
"Iya.." Ericka mengalihkan tatapanya yang terpesona lagi dengan wajah tampan Zagas.
"Hm.. kata Pak Rahman, semua peserta lomba silahkan mengikuti rapat besok di kantor Dinas pukul tiga sore.."
"HAH ! baguslah Aku tidak sabar.. Terimakasih yah Ericka.." Zagas menggenggam kedua tangan Ericka.
"Eh.. itu.. Sama-sama." Ericka menunduk malu.
Setelah Zagas meninggalkan Ericka, Ericka hanya terdiam melihat telapak tanganya dengan wajah memerah.
Didalam hatinya sangat bahagia hingga butuh waktu beberapa menit bagi Ericka untuk beranjak dari tempatnya berdiri.
Saat Zagas pulang sekolah, Ia menyempatkan diri untuk membeli es goreng kesukaan Chrysant.
Saat Zagas sampai di rumah, Chrysant sedang menjaga warung bersama Sumirna yang tertidur di kursi panjang.
"Ini.." Zagas menempelkan plastik bungkusan es goreng ke pipi Chrysant.
Chrysant mengambil es goreng tersebut dan hanya memandanginya. Sejak kejadian Raja mencoba menculiknya, Chrysant menjadi sangat pendiam dan murung sepanjang waktu.
"Sini Kakak bukakan.." Zagas membukakan es goreng dan menyuapi Chrysant.
Chrysant memakan es goreng seperti robot yang mengunyah lilin, tanpa ekspresi. Zagas merasa terpukul menyaksikan Chrysant menjadi gadis yang murung.
Maka dari itu di dalam hatinya, Zagas bertekad mendapatkan juara satu sehingga bisa mengajak Chrysant pergi ke luar kota.
12 Januari 2012
Zagas dan Rahman mengikuti rapat untuk persiapan FLS2N tingkat daerah yang diikuti oleh seluruh sekolah se kota Palu.
Ruangan Dinas telah diisi oleh banyak murid dan Guru dari bermacam-macam sekolah yang bersaing untuk bisa ke tingkat Provinsi.
Rapat dimulai dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu Nasional. Kepala Dinas menyampaikan bahwa tema kali ini adalah 'Foto Hitam Putih'.
Di mana para murid yang memiliki bakat melukis menggunakan cat air sudah sering dilakukan maka dari itu, untuk menguji talenta murni seorang pelukis maka tema kali ini menjadi jawabanya.
Foto hitam putih bermaksud melukis dengan hanya menggunakan pensil, penghapus dan kanvas. Tema kali ini akan memperlihatkan kemampuan unik masing-masing peserta.
Persyaratan khusus lainya adalah hasil coretan masing-masing karya harus nyata seperti hasil saat seseorang sedang memotret menggunakan kamera.
Untuk ide setiap peserta bebas entah pemandangan, hewan ataupun potret ekspresi seseorang.
Setelah rapat selesai Rahman mengantar Zagas untuk pulang. Sesampai di rumah Zagas, Rahman memberikan sesuatu untuknya.
"Karena bapak sedang mengurus S2 Bapak.. tolong kamu.. Zagas latihan sendiri di rumah yah.. Bapak akan memberikan ini.." Rahman mengeluarkan dua kanvas berukuran A4 dari dalam tasnya.
Rahman memberikan kanvas yang Ia beli dengan gajinya sendiri. "Ini mahal.. jadi Saya harap Zagas tidak menyia-nyiakan pemberian Bapak.."
"Tentu Pak !" Jawab Zagas dengan semangat yang meledak.
"Bapak belum pernah membawa satu muridpun sampai ke tingkat Internasional, Saya harap kita berdua bisa menjadi team yang hebat.." Rahman mengangkat telapak tanganya, mereka berdua melakukan tos.
Zagas menambah keyakinan di hatinya bahwa latar belakangnya yang merupakan murid dari kelas A tidak akan menghalanginya mengejar masa depan yang cerah.
Saat malam tiba di kamar Zagas, Chrysant menyelinap masuk. "Kakak.." Chrysant tersenyum memeluk Zagas. "Terimakasih es gorengnya kemarin.."
Chrysant kecil sadar, bahwa Ia telah membuat hati kakaknya sedih dengan sikapnya yang cuek dan sedang berusaha untuk kembali ceria seperti dulu.
"Kakak sedang apa..?"
"Aku sedang membuat sketsa.."
"Bukanya ini yang Kakak lakukan setiap hari.."
"Maka dari itu Kakak bersyukur mendapat tema Foto Hitam Putih.. sepertinya ini adalah takdir Kakak."
Sementara itu di rumah Rahman, Ia menerima telfon dari orang tua Cinta Purnawan dan juga merupakan seorang Wakil Walikota Palu.
Cinta adalah senior Zagas yang berada di kelas 8J. Cinta adalah anak yang sering keluar-masuk rumah sakit karena memiliki tubuh yang lemah.
Maka dari itu Putera Purnawan sebagai orang tua yang sangat menyayangi anaknya membujuk Rahman untuk memasukan Cinta dalam lomba melukis.
23 Jaruari 2012
Hari-hari berlalu, Zagas yang mendapat tanggung jawab ditanganya terus belatih hari demi hari. Sumirna sering menggendong masuk Zagas yang tertidur di warung karena kelelahan.
Tetapi satu hal yang janggal yaitu Rahman mulai mengurangi perhatianya terhadap Zagas. Rahman juga berusaha agar tidak bertemu maupun berbicara dengan Zagas.
Setiap kali Zagas akan menghampiri Rahman, Rahman akan selalu menghilang. Saat-saat itupun berlanjut hingga hari perlombaan.
"Zagas, hari ini Ibu antar yah ?"
Karena sepedanya yang tidak bisa dipakai, Sumirna menawarkan tumpangan untuk Zagas. Tetapi Zagas tidak ingin merepotkan Sumirna dan memilih untuk jalan kaki.
Sesampainya di sekolah Zagas sampai tepat waktu dan menunggu Rahman dengan hati berdebar-debar karena gugup. Tetapi hingga rasa gugupnya hilang Rahman tak kunjung datang.
"Zagas.. sedang apa kamu disini ?" Ericka yang sedang bersiap untuk pergi melaksanakan lomba bulu tangkis pada Pagi hari berjalan melewati Zagas yang sedang duduk di depan ruang Guru.
"Apa Kamu melihat Pak Rahman ? Aku tidak melihatnya sejak pagi.."
"Apa kalian tidak membuat janji untuk bertemu.."
"Pak Rahman sangat sulit di temui atau di hubungi beberapa hari sebelum perlombaan.. Dia juga tidak mencariku."
"Hm.. bagaimana kalau Kamu langsung ke tempat lomba.. lagipula tidak ada salahnya kan !"
"Kamu benar ! Ericka selalu ada di saat Aku membutuhkan bantuan.. Terimakasih !" Zagas menepuk pundak Ericka dan pergi.
Ericka yang terkejut terdiam dan wajahnya memerah. Zagas langsung berlari ke gerbang dan meminta izin pada satpam dengan penuh tenaga Ia berjalan kaki.
Tetapi jarak antara sekolah dan Dinas Pendidikan sangatlah jauh jika hanya mengandalkan kaki.
Uang yang dibawanya juga tidak cukup untuk menyewa ojek, karena Zagas sangat hemat dalam membawa uang jajan ke sekolah.
Sesekali Zagas berhenti karena kelelahan. Zagas melihat jam tanganya, waktu menunjukan pukul sembilan pagi dan perjalanan masih sangatlah jauh.
Zagas mengambil ponsel disakunya dan melihat bahwa Rahman telah menghubunginya tetapi saat di hubungi kembali ternyata Zagas tidak memiliki pulsa.
Zagas juga sudah membeli air saat dalam perjalanan sehingga sisa uang sudah tidak cukup untuk mengisi pulsa.
Saat waktu menunjukan pukul sebelas barulah Zagas sampai ke tempat perlombaan. Zagas yang sampai dengan nafas yang terengah-engah melihat motor Rahman di parkiran.
Dengan senyum pengharapan Zagas melangkah. Saat sampai di ruangan lomba, panitia sedang memberikan pemberitahuan dengan pengeras suara.
"Bagi para Peserta waktunya tinggal dua jam lagi, tidak perlu tergesa-gesa.."
Zagas dengan senyuman lebarnnya berjalan mendekati ruangan. "Aku bisa.. masih ada kesempatan."
"Zagas.." Rahman menahan pundak Zagas. "Bapak sudah mencari kamu di Sekolah kenapa kamu menghilang.."
Zagas mulai menangis "Saya menunggu Bapak.. sampai jam setengah sembilan, tapi Bapak tidak kunjung datang sedangkan saat rapat lomba dimulai pukul tujuh pagi.."
Zagas berjalan lagi menuju pintu ruangan lomba. "Lagi pula masih dua jam lagi kan ?"
Tubuh Zagas langsung membeku melihat kursinya dengan tulisan SMP X telah di isi oleh Seorang gadis.
"Maafkan Bapak.. Bapak hanya melakukan yang terbaik.. Bapak sudah menghubungi para guru di sekolah dan beberapa guru menyarankan untuk mengganti Kamu Nak.."
"Tidak perlu berbohong Pak.." Zagas yang sangat peka langsung paham situasi saat ini. Zagas memang jarang melihat gadis yang duduk dibangkunya saat di sekolah.
Tetapi Dia tahu bahwa gadis itu adalah anak dari Wakil Walikota Palu karena Zagas pernah melihatnya di beberapa kiriman sosial media.
Kejadian ini menyadarkanya bahwa betapa bodoh dan polosnya Dia beberapa hari sebelum lomba, padahal Rahman telah memberi isyarat bahwa Ia telah di campakan.
Zagas menyayangkan dirinya yang menaruh seluruh harapanya diatas tangan Rahman yang sudah jelas-jelas memberikan isyarat bahwa Ia akan menghianati Zagas.
Rahman hanya diam sambil mengalihkan pandanganya dan Zagas langsung meninggalkan tempat perlombaan dengan keringat yang membasahi bajunya.
Zagas memilih untuk bolos dan pulang kerumah. Sepanjang jalan Ia tidak peduli lagi dengan rasa lelah dan haus.
Zagas terus melangkah di atas aspal panas yang menyakiti kakinya, meski mendapat ejekan dari beberapa orang yang melihat seluruh tubuhnya basah seperti terkena hujan.
Sambil berjalan, Zagas terus memukul dadanya dan menampar pipinya sendiri jika saja air matanya akan mengalir.
Sesampai di rumah Zagas berperilaku seperti biasanya. Mandi, bersih-bersih dan membuka warung.