SMP X

SMP X
14. Apa Kabar dan Selamat Tinggal



Richy yang sebelumnya terluka parah harus di rawat di rumah sakit hingga pulih. Moand telah meninggalkan rumah dan Adam juga telah menyelesaikan kisahnya bersama beberapa wanita.


Moand yang memiliki kekuasaan mendapatkan hukuman penjara tetapi memalsukan hukumanya dengan berlibur ke luar kota.


Chrysant yang akhirnya mendapatkan posisi untuk seni melukis selalu datang untuk latihan tepat waktu seperti biasanya. Tetapi Rahman yang masih dalam pengaruh Moand tidak memberi perhatian sama sekali terhadap Chrysant.


20 Januari 2020


Sore hari di SMP X. Chrysant yang sangat sedih dengan sikap Rahman selama ini mencoba bertahan. Ia berpikir untuk melihat sampai di mana Ia sanggup menahan rasa malu ini.


Sudah dua jam Chrysant menunggu tetapi sekali lagi Rahman tak kunjung datang. Setelah di hitung hanya empat kali Chrysant berhasil latihan bersama Rahman walaupun Ia harus mengemis dengan mengingatkan Rahman sepulang sekolah untuk datang melatihnya.


Chrysant yang merasa bosan berjalan melewati kelas dan lapangan. Sampai kakinya terhenti mendengar suara tawa Rahman.


Chrysant melihat dengan jelas bahwa Rahman sedang bercanda gurau dengan beberapa Guru sambil menyeruput kopi hitam dan beberapa kue basah.


Sekali lagi, dengan penuh rasa malu Chrysant bersuara. "Selamat sore Pak.."


Rahman menatap Chrysant dengan tatapan muak. Chrysant yang melihat tatapan menyeramkan Rahman membuat jantungnya berdebar kencang.


"Tunggu Bapak masih bercerita dengan para Guru.. Tunggulah sebentar.." Rahman langsung mengalihkan pandanganya dan tersenyuk kepada rekan Guru di sisinya.


Chrysant dengan pundak yang lemah berjalan meninggalka ruang Guru. Perlahan air matanya jatuh dan saat melewati kamar mandi laki-laki Ia mengingat kejadian tempo hari.


Mengingat kejadian itu kepalanya menjadi pusing. Chrysant perlahan berjalan menuju gudang dan masuk kedalam untuk menangis.


Chrysant merasa sangat bodoh dan malu. Ia tahu bahwa Ia telah di campakan sejak awal dan terus bersikap seolah-olah niatnya akan berjalan lancar di SMP X yang selalu mengandalkan kekuasaan.


"Hai.." Tegur Rika. Rika adalah siswi seangkatan dengan Chrysant. Rika merupakan teman sekelas Chrysant dari kela 7A.


"Hai.." Chrysant menjawab sambil mengusap pipinya.


"Wah tempat ini benar-benar populer yah.. banyak anak-anak yang datang ke sini untuk menyendiri.."


". . ."


"Aku tahu Kamu pemilik akun Kartu_Az kan ?"


"Memangnya kenapa kalau Kamu tahu.. kalau Kamu mau sebarkan kepada orang-orang silahkan.. Aku tidak peduli." Chrysant langsung berdiri dan Rika langsung menarik tanganya.


Saat Chrysant memalingkan pandanganya Ia langsung terkejut melihat Rika yang memakai topeng monyet di wajahnya. "Hahaha apa itu.."


"Aku mengikuti lomba puisi dan Aku akan memakai topeng ini sebagai pemanis."


Dengan tersenyum Chrysant menanggapi percakapan bersama Rika. "Pasti Kamu sangat menyukai puisi."


"Sangat.. Aku sangat menyukai puisi sejak masih di TK.. Tetapi Aku akan pindah jika tidak mendapatkan juara satu.. sebenarnya Kami akan pindah beberapa hari yang lalu tetapi karena Aku bertekad untuk bertahan maka dari itu Ayah memberikan Aku kesempatan."


Rupanya Rika yang telah selesai latihan puisi sedang merasa sedih karena selama latihan Ia selalu mendapat kritikan padahal Ia sama dengan Chrysant yang sudah memiliki banyak prestasi sebelum masuk SMP X.


Rika merasa sekuat apapun Ia berusaha jalanya selalu di beri paku yang menusuk hingga melukai hati dan harga dirinya. Rika yang berencana menangis di gudang malahan bertemu dengan Chrysant.


Chrysant perlahan memeluk Rika dengan kedua tanganya. "Ayo kita berusaha sekuat tenaga.. untuk hal yang paling berharga."


"Apa itu ?"


"Kebahagiaan."


23 Januari 2020


Chrysant yang telah membulatkan tekadnya hari ini Ia bersiap untuk menyerah. Hatinya yang bimbang membutuhkan kekuatan tambahan dan akhirya Ia memutuskan bertanya kepada Sumirna, Amelaty dan Richy.


Setelah membicarakanya dengan Sumirna, Amelaty dan Richy, mereka sama-sama menjawab pertanyaan Chrysant dengan kalimat 'Iya tidak apa-apa'.


Chrysant yang pergi setelah bel istirahat berbunyi melangkahkan kakinya tanpa rasa takut menuju ruang Guru hingga sekali lagi Rahman berpura-pura tidak melihatnya.


"Permisi, selamat siang Pak !"


"Hm.." Senyum paksa tergaris dipipi Rahman.


"Saya berhenti Pak." Dengan tegas Chrysant menatap mata Rahman tanpa rasa takut. "Terimakasih untuk bimbinganya selama ini saya masih banyak kekurangan makanya saya tahu diri.."


". . ." Rahman hanya bisa diam karena ini adalah rencana yang di perintahkan Moand kepada Rahman dan Mereka berhasil.


Tetapi jauh di dalam hati Rahman kembali menimbulkan kenangan masa lalu bersama Zagas. Mengingat senyuman dan kekecewaan Zagas kembali mengacaukan hati dan pikiranya.


"Pak.. Pak.. Saya permisi.. hm.. tidak di dengar yah.."


Chrysant langsung berlari menelusuri lorong dan langsung menuju ke kelas 7J. "AMEEEEEEEEEEL !"


"AH ! HEI KAMU MENGAGETKAN AKU " Amelaty yang sedang berdiri di pintu kelas rupanya memang sedang menunggu Chrysant. "Ada apa ?" Chrysant terkejut melihat air mata yang membasahi pipi Chrysant.


Chrysant langsung memeluk erat Amelaty. "Aku senang.. senang sekali.. Aku sudah berhenti.. semuanya selesai.."


"Gadis cerdas.. Chrysant memang anak yang hebat.." Amelaty mengusap kepala Chrysant dengan lembut.


"Chrysant.." Suara kecil dari arah belakang Chrysant memanggil namanya.


"Eh Ibu Ruby.."


"Eh kenapa menangis nak ?"


"Ah tidak kenapa-kenapa Bu.."


"Chrysant Aku lapar.. Aku duluan ke kantin yah.." Amelaty memandang sinis Ruby dan meninggalkan mereka.


Chrysant tahu bahwa Amelaty berbohong karena Ia tahu Amelaty sangat membenci Ruby dan Chrysant tidak tahu penyebabnya.


"Tadi Ibu lihat Kamu mengundurkan diri dari seni melukis yah.. boleh Ibu tanya kenapa ?"


"Hm.." Mata Chrysant mulai memerah.


"Ah tidak perlu di jawab.. maaf Ibu sudah lancang bertanya masalah pribadi Kamu nak." Ruby mengusap pipi Chrysant. "Bagaimana kalau Chrysant Ikut Ibu."


". . ."


"Seni Kriya."


"Kriya ?" Baru pertama kali Aku mendengar istilah itu."


"Hm.. bagaimana yah agar Kamu langsung paham.. Hm.. Begini Seni Kriya itu seni yang di bentuk menggunakan tangan dari bahan mentah hingga menjadi sebuah kerajinan."


"Hm.. keramik.. guci.. seperti itu Bu ?"


"Ah iya itulah salah satu contohnya."


". . ."


"Kamu harus menjawabnya sekarang karena lomba akan di selenggarakan pada tanggal dua belas februari."


"Bagaimana dengan peserta yang lain ?"


"Mereka gagal semua dan Ibu kehabisan peserta sekarang. Tidak ada murid yang berpengalaman dalam sebuah keindahan karya seni. Kebanyakan mereka hanya menduplikat apa yang Ibu contohkan. Hm.. Aku perlu jiwa seniman.. Ibu menginginkan Kamu."


"Baiklah sepulang sekolah silahkan ke laboratorium IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Saya akan memberikan Kamu bahanya."


Saat jam pelajaran terakhir selesai Chrysant langsung menuju ke laboratorium MIPA.


"Chrysant !" Suara Amelaty memanggil Chrysant dari arah belakang.


"Ah.. Aku sedang sibuk Amel.. Aku pergi dulu yah.." Chrysant langsung meninggalkan Amelaty sendirian.


Amelaty mengkerutkan dagunya, merasa kesal karena Chrysant mulai dekat dengan Ruby.


Saat sampai di laboratorium Chrysant langsung menutup mulut dan hidung dengan kedua tanganya. Chrysant mencium bau pahit seperti obat.


"Hahahaha itu ambilah masker." Tangan Ruby menunjuk masker steril yang berada di samping tasnya.


"Apa itu Ibu Ruby ?" Chrysant perlahan mendekati Ruby yang sedang membelah dua kulit buah maja yang telah kering dengan gergaji.


"Ah ini namanya buah maja. Biasanya isi buah ini di gunakan untuk mengobati diare."


"Aku lebih baik membeli obat sirup rasa buah di apotik."


"Baiklah Ibu akan memberikan buah yang telah terbelah dua ini, ranting kayu hitam yang belum di asah dan beberapa pelepah pisang kering. Silahkan Chrysant membuat sebuah kerajinan yang bisa menjadi nilai jual atau memiliki kegunaan bahkan sebuah pajangan."


Cahaya di bola mata Chrysant menjadi hidup kembali. Seperti menemukan tantangan baru yang membuat tanganya tidak sabar untuk memulainya.


"Wah buah apa ini ? Seperti tidak asing." Rahman tiba-tiba muncul.


". . ." Chrysant dan Ruby hanya diam dan sedikit menyesal karena bahan utama mereka yang masih rahasia telah di ketahui.


"Hm.. Ibu Ruby, mohon maaf sebelumnya.. sekolah tidak mendanai seni Kriya karena ini adalah cabang kesenian yang bahkan tidak ada murid yang mau mengikutinya dalam tingkat Kabupaten atau Kota. Tidakah ini sebuah beban tersendiri bagi pembimbingnya ?"


Ruby tersenyum. "Saya memang tidak datang untuk menang atau kalah Pak. Saya hanya sedang memperjuangkan sebuah talenta yang harus di lihat seluruh dunia."


Rahman yang mulai cemburu karena Chrysant yang mengabaikanya. "Bagus ! Saya hanya bisa mendoakan semoga seni Kriya tahun ini masuk dalam lomba Internasional. Kalau begitu Saya permisi." Rahman mengelus kepala Chrysant dan berjalan pergi.


"Apa maksud perkataan Pak Rahman Bu ?"


"Hm.. setiap tahun tidak selamanya sebuah cabang seni dan olahraga bisa di selenggarakan hingga tingkat Internasional. Kita hanya bisa menunggu yang di imbangi dengan Doa dan usaha."


". . ."


"Tidak perlu sedih, Aku akan memperjuangkan semuanya tanpa bantuan dana dari sekolah ini."


Mendengar perkataan Ruby malahan menambah ketakutan dan kebimbangan di hati Chrysant yang baru saja mengenal seni Kriya. Baginya Ia sedang melihat dirinya sendiri yang berapi-api di masa lalu.


24 Januari 2020 Pukul empat pagi.


Ponsel Chrysant terus berbunyi hingga membangunkan Chrysant dari tidur lelapnya.


"Ng.." Chrysant yang belum sepenuhnya sadar masih menutup kedua matanya.


"Kamu sudah bangun ?"


"Ada apa ? Kamu mimpi buruk Rich ?"


"Mimpi buruk yang menjadi kenyataan."


"Ada apa !" Sekejap, mata Chrysant menjadi segar.


"Ibu dan Ayah rujuk kembali."


"Ah.." Chrysant langsung menangis mendengar perkataan Richy. Dadanya terasa sangat sesak hingga sulit menghembuskan nafas.


"Aku berharap Chrysant menjadi gadis yang sukses dan bahagia sampai Kamu lupa bagaimana rasanya terluka."


"Hentikan pembicaraan dramatis ini.. bicaralah seperti Richy yang tangguh. Caramu berbicara seperti bukan Richy Mahkota saja."


"Entah kenapa di saat ini Aku hanya ingin mendengar suara Kamu Chrysant."


"Hehe.. Apa suaraku sebagus itu ?"


"Kalau kita bertemu Aku ingin Kamu membuatkan Aku martabak telur asin. Saat mendengar cerita Kak Rin rasanya Aku sangat iri karena seandainya saat malam tahun baru Aku bersama Kalian mungkin Aku bisa bebas untuk saat itu."


"Memangnya Kamu belum pernah makan martabak ?"


"Bukanya belum pernah, Aku hanya lupa. Rasanya sudah lama sekali."


"Baiklah kapan Kita bisa bertemu ?"


"Secepatnya."


"Baiklah.. secepatnya yah."


Itulah pembicaraan terakhir Chrysant bersama Richy. Richy Mahkota berusia tiga belas tahun meninggal akibat gantung diri di gudang rumah yang berjarak sangat jauh dari rumah utama Keluarga Mahkota Luca.


Sebenarnya Richy tengah menikmati hari-harinya tanpa harus melihat wajah Moand dengan tenang dan bahagia.


Hingga suatu malam Ia terkejut melihat kedua orang tuanya sedang makan bersama dan Ia melihat map yang berisi surat perceraian telah di sobek menjadi beberapa bagian.


Moand yang melihat Richy langsung menghampirinya untuk berdamai tetapi Riendly yang melihatnya langsung menarik tangan Richy dan membawanya pergi.


Mereka berdua menghabiskan waktu di kamar Riendly untuk bersembunyi dari Ibu kandung mereka sendiri.


Sebelum meninggal Richy menghabiskan waktunya mengelilingi rumah besar mereka. Ia juga menyempatkan diri untuk berbicara dengan satpam di pintu gerbang.


Richy pergi ke kebun buah-buahan yang Ia tanam bersama Moand saat pertama kali menginjakan kaki di rumah ini.


Richy dan Moand berencana menjadikan halaman rumah mereka yang sangat luas menjadi kebun buah dan sayur jika mereka bangkrut.


Mereka berdua menghabiskan waktu berhari-hari untuk membuat kebun kecil mereka. Riendly dan Adam juga membantu membuat atap dari kayu dan plastik.


Richy berjalan menelusuri kebun kecil yang di penuhi dengan tanaman buah dalam pot. Richy menyerahkan kebun ini untuk di urus oleh ARTnya karena secara tidak langsung Richy juga telah mengabaikan kebun ini.


Hingga kakinya terhenti pada pohon pepaya yang sudah tua. Inilah pohon yang Ia dan Moand ingin coba buahnya bersama dulu hingga rencana hanya berakhir menjadi rencana.


Richy membenci dirinya yang tidak bisa menerima kehadiran Moand lagi di dalam hidupnya. Entah mengapa Richy tidak memiliki perasaan apapun terhadap Moand bahkan jika Ia berusaha membangkitkanya.


Richy yang telah kehilangan akal sehatnya berjalan menuju gudang dan mengambil keputusan yang tepat menurut kata hatinya.


Saat seisi rumah kebingungan dengan keberadaan Richy. Adam langsung memutar rekaman CCTV dan melihat bahwan anak perempuan satu-satunya telah tergantung di gudang rumah mereka.


Riendly yang berlari kencang menuju ke gudang langsung mengambil tangga untuk menggapai adiknya dan memeluk erat Richy.


Adam yang tiba segera naik di tangga dari sisi berlawanan. Dengan cepat Adam memotong tali yang mengikat leher putri kesayanganya itu dengan pisau.


Saat membawa turun Richy, Moand segera mendekat. Tetapi Riendly langsung mengambil pisau dari tangan Adam dan berjanji di depan mayat Richy bahwa sampai Richy di kuburkan Moand tidak akan bisa menyentuh Richy sedikitpun.


Moand yang tidak perduli dengan perkataan Riendly tetap memaksa untuk mendekat. Riendly yang tahu sifat Moand langsung menyayat pundaknya sendiri.


Riendly memperingatkan Moand jika masih memaksa menyentuh Richy makan Moand dan Adam akan kehilangan Ia juga.


Moand merasa hancur melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Melihat pepaya kecil yang terlihat dari saku baju Richy yang transparan membuat lututnya gemetar hingga membuatnya pingsan.