
Saat pulang bersama dengan Sumirna, Chrysant menatap Zagas dengan aneh. Chrysant melihat wajah Zagas yang hangus terbakar matahari dan kakinya yang lecet.
"Kakak apa tidak sakit ?"
"Apanya ?"
"Tumit Kakak berdarah.."
Zagas yang terlanjur patah hati sudah tidak merasakan lelah dan luka di tubuhnya.
"Maafkan Aku Bu Sum.." Zagas minta maaf pada Sumirna yang langsung mencari obat.
"Aku sangat mengantuk Zagas.. maaf Bu Sum kurang memperhatikan kalian.." Sumirna duduk disebelah Zagas dan mulai mengolesi obat merah sampai tertidur karena sangat kelelahan.
"Aku juga pernah terluka waktu melarikan diri saat di pukuli pengurus panti.. karena tidak memakan makanan basi yang di sediakan.." Sumirna berguman.
"Bu Sum.. tidurlah di dalam.. Ibu juga harus mengganti baju Ibu.. Aku sudah melipat baju Ibu.."
"Aku bersyukur karena kalian berdua menyayangiku.." Sumirna berjalan masuk ke kamarnya seperti zombie.
"Sini biar aku yang oles.." Chrysant dengan tangan kecilnya mengambil obat merah, kapas dan mulai mengolesi luka pada tumit Zagas yang iritasi karena berjalan terlalu jauh.
"Chrysant.."
"Iya ?"
"Apapun yang terjadi, jangan pernah mencuri mimpi orang lain.. oke.."
"Mencuri ? bukanya semua orang bebas punya cita-cita.."
"Kakak hanya ingin kamu mengingatnya hingga kamu mengerti.. bisakah Chrysant mengingatnya ?"
"Siap Bos ! Tapi tadi bagaimana lombanya.."
"Hm.. " Mata Zagas mulai memerah.
"Tidak usah di jawab.." Chrysant mengelus lutut Zagas. "Tidak Apa-apa nanti coba lagi yah.." Chrysant yang peka tahu jika usaha Zagas mungkin tidak berjalan dengan baik hari ini.
Sementara Zagas dan Chrysant menjaga warung, Chrysant tertidur dan Zagas memindahkan Chrysant kekamar dan membaringkanya di samping Sumirna.
Saat keluar dari kamar Zagas melihat seorang anak laki-laki sedang buang air kecil di kamar mandi yang tak terkunci.
Zagas yang ketakutan langsung mengunci pintu kamar di belakangnya dan berjalan perlahan mendekati anak itu.
"Siapa kamu.." Zagas menegur dengan suara yang pelan.
"Dimana Chrysant, gadis sial itu.." Agung, yang merupakan anak laki-laki Raja berniat membalaskan dendam Ayahnya, karena putus sekolah semenjak Ayahnya di penjara, Ia harus menjadi tulang punggung keluarga.
"Tidak ada.. tidak ada yang bernama Chrysant di sini." Zagas memasukan kunci di dalam kantong celananya.
Dengan cepat Agung melayangkan batu di kepala Zagas. Zagas yang terkejut hanya bisa membeku dan langsung terjatuh dilantai dengan darah yang membasahi wajahnya.
Sumirna yang mendengar suara pukulan yang sangat keras langsung terbangun dan mencoba keluar dari kamar.
"SIAPA ! SIAPA ITU ! BUKA PINTU ! BUKA PINTU !" Sumirna lompat dari tempat tidur dan mendobrak pintu yang terkunci.
Agung yang mendengar ada suara dari dalam kamar langsung melarikan diri.
"AAAAAAH" Chrysant yang tidak tahu apa-apa, terbangun dan langsung berteriak karena terkejut mendengar teriakan Sumirna.
Tetangga yang mendengar keributan dari rumah Sumirna langsung membanjiri rumah Sumirna dan membantunya keluar dengan mendobrak pintu kamar.
Sumirna hanya bisa terdiam dengan air mata yang berjatuhan di pipinya, Sumirna sangat terkejut menyaksikan tubuh Zagas yang tidak bergerak bersimbah darah di depan matanya.
"Ini mimpi.." Sumirna menampar pipinya. "Aku hanya teridur..tadi Zagas masih di warung." Sumirna berjalan ke arah warung dan jatuh pingsan.
Warga juga mencoba menenangkan Chrysant yang histeris sambil memeluk tubuh Zagas. Zagas kemudian di bawah ke rumah sakit, tetapi Zagas tidak bangun dan terus menutup matanya.
Warga yang melihat Agung keluar dari rumah Sumirna menjadi saksi dan membantu penangkapan Agung di rumahnya.
Agung yang berusia enam belas tahun dijatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara karena melakukan pembunuhan berencana terhadap Chrysant yang di gantikan oleh Zagas.
Hukumanya lebih ringan daripada orang dewasa karena Agung masih anak dibawah umur dan mendapatkan beberapa keringanan.
Saat waktu menjelang malam Zagas sedang di mandikan di rumah sakit, Sumirna berniat memberitahukan kabar duka ini kepada Kyoko.
Sumirna yang sedang linglung sudah melupakan ponselnya, hanya membawa baju di badanya saat ke rumah sakit dan meminjam ponsel Polisi yang menemaninya.
"Ah.. semoga Aku tidak salah nomor.." Sumirna yang sudah pasrah hanya menekan sesuai dengan ingatanya.
"Yo..byo.." Sumirna terkejut dengan suara anak yang Ia dengar. Sumirna yang memiliki firasat buruk berpikir mungkin saat ini Kyoko sedang menjaga anak seseorang.
Hati Sumirna benar-benar mati rasa saat ini. Jika firasatnya benar maka hidupnya benar-benar hancur saat ini. Seolah langit sedang runtuh di atas kepalanya.
Hatinya berkata 'Semoga ini bukan yang Aku pikirkan'. Berkali-kali hatinya menyebut kalimat itu. Sumirna yang tidak sanggup hanya mengirimkan kabar duka melalui pesan.
Suasana sunyi dan dingin di kamar jenazah membuat lutut Sumirna semakin lemah dengan air mata yang terus mengalir, tanganya tidak berhenti memukul dadanya.
Zagas bayi yang pertama kali hadir dalam hidupnya seperti baru kemarin saja Sumirna menidurkanya dalam pangkuan.
Zagas berhati lembut, ceria dan tidak pernah merepotkanya membuat Sumirna semakin merasa bersalah karena Zagas selalu memperlakukanya dengan baik.
Keesokan harinya Zagas di makamkan. SMP X gempar dengan kabar meninggalnya Zagas, karena Zagas adalah anak yang populer dan baik kepada semua orang.
"Permisi Pak.. boleh saya bertanya ?" Sumirna berjalan mendekati Rahman.
"Iya silahkan.." Jantung Rahman berdetak dengan cepat, ketakutan membuat tanganya bergetar karena sebelumnya telah menyakiti hati Zagas.
"Bukanya Zagas kemarin ikut lomba melukis ? Saya lupa menanyakanya pada Zagas, karena saya sangat lelah sepulang kantor kemarin.."
"Maaf sebelumnya Bu.. kemarin saya menunggu Zagas di lokasi lomba tapi Ia tak kunjung datang.. akhirnya saya memutuskan mengganti Zagas.."
"Iya benar juga soalnya kemarin Zagas pulang ke rumah sebelum jam pulang sekolah.. tapi sebelumnya Aku melihatnya berlatih dengan sangat giat.."
"Begitulah anak-anak Bu.. mereka masih labil.."
"Tapi pak kemarin Aku bertemu dengan Zagas.." Sambung Ericka yang sejak tadi menyaksikan pembicaraan mereka. "Dia menunggu Bapak dan katanya Zagas mau menyusul Bapak.."
"Maaf Ericka tapi Bapak tidak bertemu Zagas.. Bapak juga putus asa menunggunya tetapi apa daya Zagas tak kunjung datang.."
"Oh begitu.." Ericka sangat menyesal karena tidak bersama dengan Zagas lebih lama kemarin, karena itu adalah kesempatan terakhirnya melihat wajah Zagas.
Chrysant yang memperhatikan pembicaraan mereka bertanya-tanya kenapa Zagas menyerah dengan mimpinya.
"Chrysant.."
"Iya ?"
"Apapun yang terjadi, jangan pernah mencuri mimpi orang lain.. oke.."
"Mencuri ? bukanya semua orang bebas punya cita-cita.."
"Kakak hanya ingin kamu mengingatnya hingga kamu mengerti.. bisakah Chrysant mengingatnya ?"
"Siap Bos !" Hanya itulah pembicaraan terakhir mereka yang semakin mebuat Chrysant bingung. Siapa yang mencuri mimpi Zagas ?.
Ponsel Sumirna berbunyi saat melihat layar, ternyata itu berasal dari Kyoko. "Maaf Pak saya angkat telfon dulu.." Sumirna meninggalkan Rahman yang langsung pergi meninggalkan rumah duka.
"Bu Sum.. Bu Sum.." Kyoko yang terbata-bata tidak sanggup berbicara.
"Aku ingin menanyakan sesuatu. Demi nama mendiang Zagas.. Kamu harus jujur.."
Kyoko hanya terisak.
"Kamu sudah punya Anak ?"
Kyoko yang mendengarnya langsung terkejut dan merinding ketakutan. Sebenarnya Kyoko telah menikah kembali dan pernikahanya baru berjalan satu tahun lebih.
Sumirna terus menunggu jawaban Kyoko tapi setelah lewat satu menit Kyoko terdiam, Kyoko menutup panggilan mereka dan menjadi jawaban untuk segalanya.
Sumirna juga langsung menghubungi Rina Dita, sahabatnya yang memiliki pabrik tempe tempat Kyoko bekerja di Jepang.
"Halo Rina, apa kabar ?" Rina yang merupakan sahabat Sumirna semenjak di panti Asuhan sudah seperti saudari kandung Sumirna.
"Baik.. baik.. Kamu Sum ?"
"Aku sedang berduka.."
"Siapa meninggal Sum.. tumben Kamu berduka.. kita kan tidak punya keluarga.."
"Zagas, anak Kyoko meninggal.."
"HAAAAAAH ZAGAS ! Sakit apa.. ya ampun.."
"Memangnya kamu tidak melihat Kyoko menangis tadi.."
"Oh.. Kyoko sedang mengantar pesanan tempe di cafe vegetarian." Mendengar Rina yang tidak membahas pernikahan Kyoko meyakinkan Sumirna bahwa Rina tidak tahu apa-apa."
"Waktu Jati meninggal Kamu memberikan apa kepada Kyoko ?"
"Tidak ada.."
"Jangan bohong Rina, Aku tahu sifat Kamu.."
"Hm.. sepuluh juta sih.."
"Kamu tahu Rin.. Dia bahkan tidak mengirimkan kepada anaknya.. Ia bahkan hanya mengirim uang mungkin tidak sampai dua ratus ribu dalam satu bulan.."
"Hah.. padahal saat Jati meninggal semua gaji suaminya Dia yang pegang dan uang kecelakaan kerja Jati kuberikan padanya dan gajinya sekarang sudah naik.."
"Memangnya berapa ?"
"Dulu kan masih tujuh jutaan kalau di tahun 2012 ini sudah sembilan jutaan perbulan."
"Aku mau kamu pecat dia.. Dia sudah punya Anak.. Rin !"
"IH ! Gila.. tapi kapan lahirnya Dia kan tidak pernah.." Pikiran Rina langsung mengingat di akhir tahun 2010. " Ia Aku pernah mengirim Kyoko untuk mengurus Ibu mertuaku yang sudah janda di Hokkaido selama sebelas bulan karena stroke.. mertuaku yang pikun tidak memberitahu Aku apa-apa wah Dia memang profesional.."
"Aku bukanya menutup pintu rejekinya.. tetapi Aku benar-benar ingin memutus hubungan denganya.
"Ok besok Aku akan langsung menendang Dia dari sini.. Bagaimana kalu Dia mengambil Chrysant.."
"Dia bukan Ibu seperti itu tenang saja.."
Sumirna tidak peduli lagi dengan Kyoko dan memilih memutuskan kontak denganya. Sumirna menyayangkan Jati, Zagas dan Chrysant yang menjadi korban kemunafikan Kyoko.