
9 Maret 2020
Ini adalah hari kelima Ruby tinggal bersama Sumirna dan Chrysant. Hari juga adalah hari terakhir Chrysant latihan karena lomba akan di laksanakan pada tanggal dua belas maret.
Malam telah tiba dan malam ini Sumirna dan Ruby sedang memasak makan malam dan Chrysant yang mencuci piring juga merapikan meja makan.
Saat makanan telah siap, Mereka bertiga makan seperti biasanya dengan menu sederhana yaitu prekedel kentang buatan Ruby dan sayur sup buatan Sumirna.
"Ibu Ruby ini enak sekali.. Seperti buatan rumah makan Padang.. dan sayur sup buatan Ibu Sum selalu membuatku merasa sehat.. Ibu pakai jahe yah ?"
". . ." Sumirna mengangguk.
"Wah memang Ibu Sum selalu tahu kalau Aku sangat suka jahe."
Sumirna merasa sangat senang dengan Chrysant yang banyak bicara, Ia terlihat seperti anak remaja pada biasanya.
"Iya Ibu Sum.. Saya akan pindah di tanggal tiga belas karena untuk lomba selanjutnya belum di putuskan kapan dan Kita tentunya belum tahu akan mendapat juara berapa nantinya.."
"Memangnya kapan Chrysant lomba Bu Ruby ?"
"Tanggal dua belas maret Bu Sum."
"Baiklah kalau begitu."
Mendengarkan percakapan Mereka membuat gerakan sendok Chrysant menjadi lambat.
"Ibu Ruby, kapan Kita rapat untuk tema ?"
"Hm.. Iya juga ! Ibu tidak mendapat pemberitahuan sama sekali.. yang Ibu tahu kita akan di beritahukan oleh panitia entah peserta atau pembimbing, itulah kenapa mereka meminta nomor para pembimbing dan peserta.. Kalau memang tidak ada rapat berarti Kita hanya perlu mempersiapkan diri juga alat dan bahan."
"Siap Bu !"
12 Maret 2020
Pagi yang cerah untuk memulai lomba. Ruby dan Chrysant yang tidak mengetahui waktu dan tempat pelaksanaan akhirnya pergi ke Dinas dan menanyakanya kepada beberapa panitia.
Ternyata pelaksanaan lomba berada di salah satu ruangan serbaguna yang masih berada di lingkungan Dinas Pendidikan.
Waktu menunjukan pukul delapan dan saat Sumirna dan Chrysant tiba rupanya lomba telah dimulai.
"Astaga ! Nak cepat Nak !" Chrysant dan Ruby langsung mempercepat langkah mereka.
Tetapi ada yang aneh, saat langkah kaki mereka semakin dekat semua peserta sedang memulai mengerjakan sebuah kapal.
"Ibu.. Sepertinya mereka semua membuat kapal !"
Ruby sangat terkejut melihat bahwa mereka adalah satu-satunya yang tidak mengetahui tema bahkan tempat dan waktu pelaksanaan lomba.
Ruby langsung pergi ke Panitia dan dengan tenang menanyakanya.
Setelah membicarakanya dengan Panitia, rupanya mereka memberikan surat edaran kepada masing-masing Kepala Sekolah untuk di serahkan ke pada para peserta.
Dengan senyuman Ruby mendatangi Chrysant yang sedang duduk dengan mata berkaca-kaca. "Chrysant ? Nak ?" Ruby mengusap kepala Chrysant dengan lembut. "Ayo kita hadapi dan selesaikan hari ini.. Tidak apa-apa.. Ibu akan berada di sisi Chrysant dan menghadapi perlombaan ini bersama-sama.. Ibu tidak ingin menjadi pengecut dan Ibu harap Kamu juga menjadi pemberani Oke !"
"Tapi dengan satu syarat Bu Ruby."
"Iya Nak ?"
"Setelah lomba Aku tidak ingin berada disini."
". . ." Ruby dengan senyuman hangatnya mengangguk mengaminkan permintaan Chrysant.
Saat mulai mengerjakan guci dari buah maja beberapa orang bertanya apakah mereka tidak memgetahui tema dan atau mereka dari daerah yang sangat jauh sehingga tidak tahu apa-apa.
Ruby hanya terus berbicara dengan Chrysant agar Chrysant tidak perlu mendengar kritikan yang terus mereka dapatkan hingga Chrysant menyelesaikan karyanya.
Saat selesai Ruby langsung memajang karya Chrysant yang merupakan peserta pertama yang selesai, walaupun banyak tatapan memandang rendah mereka. Ruby tetap memasang senyuman pemberaninya.
Mereka berdua langsung meninggalkan lokasi perlombaan sesuai dengan aturan dan juga pamit kepada Juri maupun Panitia.
13 Maret 2020
Saat waktu istirahat pertama di SMP X, Ruby langsung mendatangi Chrysant di kelas dan mengajaknya untuk makan bersama di kantin.
Ruby yang sejak tadi memasang ekspresi cemas sama sekali belum menyentuh makanan yang telah mereka pesan.
"Hm.. Tumben Amelaty tidak mencariku !"
"Nak.." Ruby menarik nafas panjang.
"Sebenarnya Ibu sudah membicarakan masalah perlombaan kemarin dengan Pak Rahman."
"Iya ?"
"Wah Ibu Rike." Chrysant juga melihat Rike yang semakin mendekat ke arah mereka.
Rike datang dan langsung duduk di sebelah Chrysant. "Ini !" Rike memberikan amplop yang di tujukan untuk Pembimbing FLS2N Tingkat Provinsi Ruby. Isi amplop itu adalah semua keputusan rapat untuk perlombaan seni Kriya.
Karena padatnya persiapan kegiatan perlombaan seni maupun olahraga, maka panitia hanya memberikan hasil rapat tertutup mereka dalam bentuk tulisan.
Chrysant terdiam melihat amplop yang sudah sobek dan kotor itu. Rasanya Ia ingin sekali memukul wajah Rike.
"Saya tidak yakin apa ini benar tetapi Anak Saya Tia memainkan amplop ini dan setelah saya tanya siapa yang merobek kertas ini, Tia menunjuk Amelaty yang saat itu kebetulan sedang berjalan melewati lapangan upacara.. Hati Saya entah kenapa sangat ingin memberikan amplop ini pada Ibu Ruby.. Mengingat Ibu Ruby yang selalu peduli dengan Saya yang seorang Janda.. Barangkali Saya bisa sedikit membantu Ibu.. Dan berikutnya kalau Ibu butuh bantuan selama Saya mampu.. akan Saya lakukan."
"Terimakasih Bu Rike.. Ini sudah lebih dari cukup."
Dengan sikap yang sangat merendah diri, Rike pergi meninggalkan Chrysant dan Ruby.
Rike yang Seorang Janda sering meminjam uang kepada Ruby untuk kebutuhan hidupnya, tetapi Ruby bahkan menolak jika Rike mencoba untuk mengembalikanya.
"Inilah yang Ibu ingin jelaskan kepada Kamu Chrysant. Pak Rahman mengatakan bahwa Ia telah memberikan amplop ini kepada Amelaty untuk di serahkan kepada Ibu.. Ibu rasa Amelaty hanya fokus kepada Nama Ibu tanpa melihat bahwa Ibu hanyalah seorang pembimbing dan Kamu adalah pesertanya."
Chrysant yang terbakar amarah langsung berdiri, mengambil amplop dan berjalan dengan cepat untuk mencari Amelaty. Chrysant akhirnya menemukan Amelaty yang sedang berdiri di depan kelas 7A.
Amelaty dengan polosnya tersenyum menyambut kedatangan Chrysant. "Ini.." Memberikan kotak bekal. "Martabak dan risol.. Aku tunggu Kamu dari tadi."
"Tega Kamu Mel.." Chrysant memperlihatkan bagian amplop yang telah sobek. "Kamu tahu betapa berharganya isi amplop ini ?"
"Itukan bukan untuk Kamu ! Reaksi Kamu terlalu berlebihan !"
"Kami kalah telak kemarin karena tidak mendapatkan informasi dari amplop yang Kamu sudah hancurkan ini !"
". . ." Amelaty baru menyadari bahwa amplop itu di tujukan untuk Chrysant dan Ruby.
"Sudah Chrysant hentikan.." Ruby datang dan memeluk Chrysant.
"MUNAFIK !"
"Jaga bicara Kamu Amelaty !" Ruby langsung mengarahkan telunjuknya pada Amelaty.
"Chrysant yang malang dan polos.. Kamu tidak tahun kan kalau Guru yang Kamu banggakan ini adalah pelakor ! Dia pernah tidur dengan Ayah Aku.. Pak Dokter ! Ibu Saya dan Saya bahkan baru tahu belakangan ini kalau mereka berdua sudah punya Anak !"
"Anak ?"
"Iyakan Ibu Ruby yang terhormat ! JAWAB !"
Ruby hanya terdiam dan merasa sangat malu karena begitu banyak murid yang menyaksikan mereka.
"Lihat Dia.. Mati Kutu dengan masa lalunya yang kotor."
"Masa bodoh dengan itu semua ! MASALAH KALIAN BERDUA BUKAN MASALAH AKU ! JANGAN PERNAH LIBATKAN AKU DALAM MASALAH KALIAN ! Amelaty.. Memang benar kata Ayah Kamu.. Kamu Anak yang tidak sopan kepada Guru Kamu sendiri.."
"Coba kamu berada di posisi Aku Chrysant.. Apa Kamu masih bisa bicara seperti itu ?"
"Coba kamu berada di posisi Aku.. Apa Kamu masih bisa bicara seperti itu ? HIDUP DALAM BAYANG-BAYANG KEMATIAN KAKAK.. AYAH DAN RICHY.. JANGAN SELALU MERASA KAMU YANG PALING MENDERITA DI DUNIA INI.. SAMPAI KAMU BERHAK MENGHAKIMI SESEORANG !"
". . ."Amelaty menjadi gemetar dengan perkataan Chrysant.
Hal yang sangat Chrysant tidak ingin tunjukanpun terjadi, Air mata mengalir di pipi Chrysant "Apa harus dengan ini.." Chrysant menunjuk wajahnya. "Apa harus dengan air mata ini agar Kamu paham kalau Aku tidak baik-baik saja ?"
Para Guru yang menyadari kejadian ini menghampiri mereka dan membubarkan murid yang berkumpul.
Ruby, Chrysant juga Amelaty berakhir di kantor Kepala Sekolah untuk menyesalikan permasalahan mereka.
"Ada apa ini ?" Tanya Rahman.
"Ini semua kesalahan Saya Pak sehingga terjadi kesalahpahaman antara Chrysant dan Amelaty."
"Baiklah.. Saya serahkan penyelesaian masalah ini kepada Ibu Ruby."
"Terimakasih Pak."
Sebelumnya Ruby telah membicarakan mengenai dirinya yang tidak mendapatkan surat pelaksanaan lomba dan Rahman mengatakan bahwa Ia telah menyerahkanya kepada Amelaty.
Karena saat ingin menyerahkan surat tersebut, Rahman sedang mengajar di kelas 7J dan memutuskan meminta pertolongan Amelaty karena Ia tahu Amelaty selalu bersama Chrysant.
Rahman sejak awal menyadari penyebab permasalahan mereka bertiga hanya saja Ia tidak ada kemauan untuk tahu lebih jauh.
Rahman yang ikut mendukung anak dari rekanya yang sedang mengikuti lomba seni Kriya sebenarnya bersyukur dengan kejadian ini sehingga Ia tidak perlu banyak usaha untuk menggagalkan Chrysant.
Rahman tahu bahwa Chrysant adalah peserta yang bersih dan berbakat sehingga saat Ia mendapat permintaan untuk mempermudah seorang peserta Ia tidak langsung menjanjikan sebuah kemenangan.
Tetapi berkat kekalahan Chrysant semuanya menjadi mudah.