
“sudahlah, aku setuju” jawabnya lalu berlalu keluar Rey merutuki kebodohannya yang terlihat seperti orang tak profesional dalam bekerja.
“Ahh Shiitt” umpatnya
Kini Rey dan ian kembali menyusuri koridor gedung Rektorak melihat sudah tidak ada yang berani angkat bicara walau hanya sekedar memuji ketampanan Big Bossnya itu membuat Rey tersenyum sinis.
“kamu memang bisa diandalankan ian” ucapnya bangga masih dengan langkah gontainya menuju sang mobil sport mewah yang sedari tadi menunggu di depan gedung.
Saat tangannya hendak meraih hendle pintu mobil Rey berhenti sejenak memperhatikan tempat menghilangnya punggung sang gadis tadi yang mengobrak abrik habis fokusnya, Rey mengeleng-geleng tak percaya dengan apa yang di alaminya, tapi tak bisa Rey pungkiri gadis itu cantik dan menarik dia berbeda dari gadis yang lain dan itu membuat Rey semakin penasaran ingin mengenal gadis itu. Rey bahkan heran kenapa saat menatap mata gadis itu rasanya benar-benar berbeda jauh saat menatap mata Cantika dihari dimana Rey menyatakan Cinta pada Cantika.
“cari informasi gadis mungil berkaki picang tadi” ucap Rey memecah keheningan dalam mobil
“anda menyuruh saya tuan” tanya ian
“bukan, aku lagi menyuruh cicak yang lagi merayap di setir mobil ini” jawabnya kesal
Chiiittt tiba-tiba ian menginjak rem “cicak mana cicak tuan” ucapnya dengan wajah tegang sambil loncat ke kursi samping yang kosong
Tawa Rey pecah memenuhi ruang mobil hingga ke cela terkecil sekalipun, Rey memegang perutnya karena rasa sakit yang ditimbulkan akibat tertawa berlebihan Rey seperti habis menyaksikan pertunjukan badut, Rey yang tadinya ingin marah diurungkan melihat tingkah konyol sekertarisnya itu. Dia tahu betul kalau Adrian sangat takut dengan cicak itulah kelemahannya melihat dari tubuhnya yang besar dan wajah yang menyeramkan tidak ada yang bisa menyangka kalau seorang Adrian takut dengan seekor cicak yang suka memproduksi seragam hitam putih (kotorannya)
“sama cicak saja takut, badan doang yang besar tapi nyali sungguh cemen lagian mana ada cicak didalam mobil” ejek Rey
Ian menggerutu sambil mencebikkan bibirnya.
“bos sialan” umpatnya dalam hati tentu hanya bisa mengekspresikan amarahnya dalam diam karena untuk melawan seorang Reyhan ia tak mampu.
Setelah tertawa puas Rey kembali pada ekspresi dinginnya
“aku bilang cari informasi mengenai gadis mungil yang berkaki pincang tadi” ucapnya tegas memperjelas keinginannya.
“wadidaww kayak bunglon ajah nih bos tiba-tiba berubah” batinnya
“siap laksanakan tuan” jawab ian.
“tunggu dulu ada apa dengan tuan tiba-tiba memintaku mencari tau tentang gadis itu, apa jangan-jangan Aahh mana mungkin gak masuk akal baru sekali ketemu sudah suka lagian tdi tuan gak pernah ngomong, mungkin perasaanku saja” batin ian
“kita kemana tuan”
“kantor”
“baik tuan”
Ddrrtt ddrrtt
Rey mengernyit setelah melihat nomor siapa yang menghubunginya tidak biasanya nomor rumah menelponnya Rey segera mengangkatnya pasti ada hal yang penting kenapa nomor rumah sampai menelponnya.
“Halo” ucap Rey
“......”
“apaaaa” Rey tersentak tubuhnya lemas seketika
“......”
“aku kesana sekarang” tutup Rey “ian putar balik, kita ke mansion sekarang juga, cepaat” ucap Rey keras
Ian tersentak kaget mendengar suara yang cukup memekakkan telinganya, apa yang terjadi pikirnya ia segera mengubah haluan mobil membelah jalan dengan kecepatan penuh.
Rey tak bergeming, Rey hanya terus gelisah duduknya tidak pernah tenang, ian yang melihatnya ikutan cemas apa yang telah terjadi dengan tuannya ini namun ian tak merani mengangkat suaranya.
“aku bilang cepat bodoh” bentak Rey tak sabar sampai mansion
“ini sudah Full tuan kecepatan sudah mentok” jawab ian tenang “bahkan polisi sudah mengejar kita sedari tadi” lanjutnya
Rey baru tersadar setelah mendengar sirene mobil polisi yang mengejar mereka mobil mereka memang melaju begitu cepat tapi Rey tidak memperdulikannya pikirannya sekarang bagaimanapun caranya Rey harus sampai ke mansion secepat mungkin.
“momi baru tiba dari turkey hari ini dan tiba-tiba pingsan” ucap Rey lirih
Ian yang mendengar bahwa momi tuannya yang pingsan langsung mengerti kenapa Rey bisa tidak terkontrol seperti ini ian tahu betul betapa besarnya rasa sayang Rey kepada mominya, ian melihat mata Rey sudah berkaca-kaca ian tau Rey sangat takut terjadi sesuatu kepada mominya.
“nyonya pasti baik-baik saja tuan, jangan khawatir” ucap ian berusaha menenangkan Rey
“aku takut” lirih Rey
Tak menunggu waktu lama mobil Rey sudah sampai di pagar mansion yang menjulang tinggi luas pekarangan hampir mencapai 1 hektar, jarak pintu gerbang dengan pintu utama lumayan jauh sehingga harus menggunakan kendaraan untuk bisa sampai kepintu utama mansion, halaman mansion dipenuhi tanaman yang tertata rapi kolam ikan yang sangat luas dengan berbagai jenis ikan hias bernilai ratusan juta, sisi kanan mansion tersedia lapangan golf mini karena dadynya sangat hobby bermain golf, bunga dan pepohonan unik berjejer rapi disepanjang jalan menuju pintu utama mansion sisi kiri dan depan mansion terhampar bunga tulip dan bunga mawar dan puluhan jenis bunga lainnya.
kurang lebih begini penampakan mansion Rey disiang hari
dan seperti ini penampakannya pada malam hari.
(hasil nge-halu author😁)
Kini mobil sport terparkir tepat didepan pintu utama mansion, Rey segera turun dari mobil pengawal yang tadinya bergegas ingin membukakan kini diam membisu seraya menunduk hormat tubuhnya bergetar hebat baru saja ia ingin membukakannya pintu tapi Rey sudah membuka pintu mobil terlebih dahulu, ia sungguh takut dengan amarah Rey nantinya karena telat membukakan pintu mobilnya ia terus diam membisu ditempatnya sambil meremas-remas kedua tangannya yang saling bertautan keringan bercucuran tiba-tiba saja pundaknya ditepuk oleh ian
“gak usah takut kamu gak salah, tuan Rey memang lagi buru-buru sehingga tidak memperhatikan pelayananmu dan saya jamin dia gak akan memarahimu” ucap ian berusaha menenangkan pengawal itu.
Pengawal itu mengangguk mengerti namun masih dalam posisi yang sama, ketakutannya sudah menggerogoti tubuhnya rasanya ia ingin mati saja sekarang dari pada menyaksikan amukan Rey yang nantinya membuat orang berani membuatnya emosi hidup segan mati tak mau"
“baiklah aku masuk dulu”
Lagi-lagi pengawal itu hanya mengangguk patuh dengan suara bergetar ia berusaha menjawab “iya tuan”
Ian yang melihat reaksi pengawal itu hanya geleng-geleng kepala mengerti seperti apa perasaan pengawal itu sekarang.
“momi..” teriak Rey saat tiba didalam mansion yang memekakkan telingan.
Rey melihat bibi yan wanita paruh baya penanggung jawab mansion yang sudah mengabdikan dirinya di keluarga Mahendra sejak Rey masih dikandung sedang tergesah-gesah menghampirinya melihat tuannya yang sedang kacau, tampa menunda-nunda Rey segera melontarkan pertanyaan
“bi yan momi dimana” tanya Rey tak sabaran
“nyonya ada diruang TV tuan” jawab bi yan
Rey menautkan alisnya Rey merasaadayang janggal
“Ruang TV, sedang apa disana” tanyanya memastikan apa yang didengarnya barusan
“nyonya dan tuan besar sedang menonton TV sambil menikmati chocolate lava cake tuan” jawabnya menunduk hormat