
Aisyah mencebikkan bibirnya kesal, apa Rey sudah gila menyuruhnya menggigit daging yang ada di mulutnya dan juga daging itu terlihat tidak bisa di gigit karena Rey menyisakan hanya sedikit diujung.
Ragu-ragu Aisyah mendekatkan wajahnya, senyum Rey semakin mengembang melihat Aisyah semakin mendekat.
Aisyah memejamkan matanya lalu memiringkan wajahnya perlahan membuka mulutnya mencoba menggigit sisa daging yang terlihat dibibir Rey karena sisa daging yang sedikit membuat bibir Aisyah menyatu sempurnya dibibir Rey.
Rey sengaja memanfaatkan kesempatan dengan semakin menarik daging masuk kemulutnya dengan susah payah Aisyah semakin mendorong bibirnya membuat gigi Aisyah bersentuhan dengan gigi Rey.
Dengan cepat Rey menahan tengkuk Aisyah lalu ******* dan menghisap bibirnya, Rey menggigit kecil Bibir Aisyah agar membuka mulutnya saat mulut Aisyah terbuka Rey menggunakan lidahnya untuk mendorong seiris daging masuk kedalam mulut Aisyah, Rey ******* dengan lembut dan menyesap sebelum melepas tautan bibirnya.
“bagaimana lebih bukan” ucap Rey tersenyum menggoda setelah melepas tautan bibirnya.
Aisyah merona “enak apaan tidak ada enak-enaknya sama sekali” ucap Aisyah seraya memukul lengan Rey
“jangan malu katakan saja kalau daging itu lebih enak setelah dari mulut ku” ucap Rey mengkerlingkan matanya
Aisyah berdecih dengan serampangan menyumbat mulut Rey menggunakan daun selada, alhasil Rey tidak dapat berbicara apapun karena mulutnya penuh daun selada.
Aisyah terbahak memgangi perutnya melihat pipi Rey menggembung akibat perbuatannya, Aisyah merasa puas membalas perbuatan Rey dan membuatnya berhenti berbicara.
Rey terpesona senyumnya mengembang melihat Aisyah bisa tertawa sebahagia itu ia tak masalah jika harus memasukkan kembali lebih banyak daun selada demi melihat tawa Aisyah yang sangat cantiik pikirnya.
“cantik” ucap Rey
“haah?”
dengan mulut yaang terbuka
“kamu cantikk” ucap Rey memperjelas
Wajah aisyah merona Rey mengulum senyum saat melihat wajah malu-malu yang ditampakkan Aisyah.
****
Kring, kring, kring
Ponsel diatas nakas sedari tadi berdering namun tak dihiraukan oleh si empuhnya, ponsel itu terus berdering hingga akhirnya tak terdengar lagi bunyinya.
Diraihnya ponsel diatas nakas setelah Nadya selesai dengan urusannya di kamar mandi terkejut saat melihat ada lima panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal, Nadya mengerutkan keningnya berusaha menebak siapa kiranyanya pemilik nomor yang melakukan panggilan sebanyak ini, apakah begitu sangat penting? Pikir Nadya.
Karena tak juga menemukan titik temu tentang siapa gerangan yang menelponnya, ia berpikir untuk menelpon balik nomor tersebut, baru saja dirinya ingin mendial nomor tak diketahui siapa pemiliknya itu kembali menelpon dengan segera Nadya menyeret keatas tanda hijau yang tampil dilayar ponselnya ia khawatir jika keperluan orang itu sangat darurat.
“Halo, dengan siapa ini?” tanya Nadya membuka percakapan
David diseberang telpon mengulum senyum mendengar suara Nadya yang lembut ditelinganya.
“Halo dengan siapa ini?” Nadya kembali mengulangi pertanyaannya
“oh iya, saya David Nad.”
“oh kamu yah, ada vid?” tanya Nadya to the point
“kamu ada kegiatan gak malam ini? Kalau gak jalan yuk”
Hening sejenak Nadya berusaha mengingat-ngingat adakah jadwal untuk malam ini.
“oh iya maaf vid, malam ini aku ada janji dengan Rangga” ucap Nadya dengan suara melemah
“hey tidak apa kok, lain kali saja jika ada waktu” ucap David
“bagaimana kalau besok malam vid” tanya Nadya dengan cepat menutup mulutnya ia merutuki kebodohannya karena seolah-olah dirinya sangat ingin jalan berdua dengan david.
David mendengar tawaran dari Nadya langsung membuatnya bibirnya tertarik keatas.
“tentu saja” lagi-lagi Nadya mendoer-doer kepalanya karena selalu kelepasan bicara “kenapa mulut ini tidak ada remnya sih” batin Nadya mengeluh
“aku senang Nad, terimakasih. Sampai bertemu besok malam yah, kalau begitu saya tutup dulu. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
Menghela nafas berat Nadya meremas-remas bibirnya
“kau kenapa tak punya rem haa? Malu lah sedikit saat berbicara, dasar mulut bodoh” keluh Nadya sembari meras-remas bibirnya.
Pukul 19.00 WIB Nadya berdiri ditepi jalan depan kostnya menunggu Rangga yang mengatakan bahwa posisinya sudah tak jauh dari kost Nadya berada membuat Nadya sangat terburu-buru bersiap.
“Rangga mana sih katanya sudah dekat dan sudah 10 menit belum juga sampai kalau tahu begini saya akan kembali membenahi jilbabku aku tidak sempat memperhatikan penampilanku tadi karena aku tak mau membuatnya menunggu tapi malah aku yang menunggu” Nadya terus menggerutu sembari menghentakkan kakinya seolah menendang batu yang tak ad.
Tin, tin, tin
Mendengar suara klakson Nadya menengadah dan melihat Rangga yang sudah tersenyum kearahnya, Nadya segera masuk ke mobil tak lupa memasang wajah cemberut dengan bibir yang sudah maju lima senti.
Rangga terkekeh melihat wajah Nadya yang cemberut dan bibir yang dimonyongkan.
“jangan tertawa, aku lagi kesel sama kamu” ucap Nadya mencebikkan bibirnya
“jangan memasang wajah seperti itu kamu malah terlihat lebih manis” ucap Rangga menyentil pipi Nadya
“Aawww, kamu yah sudah tau telat menertawakan ku lalu menyentil pipi ku, apa kau tak mengerti bahasa wajah kalu aku sedang jengkel padamu, karena kamu mengatakan jika posisimu sudah tak jauh dari kost ku ini aku tidak akan terburu-buru dan akan menyempatkan diri untuk bercermin sejenak” cerca Nadya sembari bersedekap dan kembali cemberut
Rangga kembali terkekeh sikap Nadya memang sangat polos apapun yang ada dikepalanya akan di ucapkannya secara langsung namun itu hanya sebatas ucapan saja Nadya tak pernah benar-benar marah seperti apa yang diucapkannya, tapi kodrat sebagai manusia biasa meskipun tak mudah marah ada kalanya akan marah jika kesalahan yang sama selalu dilakukan tampa penjelasan karena semua orang butuh penjelasan yang masuk akal
Sama seperti Nadya ia cukup mendengar alasannya mengapa itu bisa terjadi
“maafkan aku yah Nad, tadi aku terjebak macet karena tak jauh dari sini telah terjadi kecelakan akutak mungkin menerobos kerumunan orang dengan mobil karena akan menabrak mereka”
Nadya membulatkan matanya “Astaghfirullah, aku Nga aku sudah memarahimu panjang kali lebar” memasang raut wajah menyesal
“tak masalah” ucap Rangga mengulum senyum seraya mengelus-elus pucuk kepala Nadya
Rangga segera menginjak pedal gas karena sejak sampai ia tak mematikan mesin mobilnya.
“kita akan kemana?” tanya Nadya
“rahasia”
“iiss ayolah katakan kita kan kemana aku penasaran” desak Nadya seraya menggoyang-goyangkan lengan kiri Rangga.
Ide jail muncul begitu saja di benak Rangga dengan sengaja Rangga membanting setir ke kanan membuat tubuh Nadya juga ikut tertarik ke samping kanan dan sekarang Nadya tak sengaja mencium pipi Rangga karena posisi Nadya yang tadinya beringsut dari duduknya mencondongkan tubuhnya ke Rangga ditambah lagi ia tak memasang seatbealt sehingga membuat dirinya tak dapat mengimbangi tubuhnya saat menerima gerakan cepat.
Masih dalam posisi bibir Nadya yang menempel sempurna di pipi Rangga mata Rangga dan Nadya membulat sempurna bersamaan bunyi decitan ban saat Rangga menginjak rem secara spontan, Nadya yang tak memakai seatbelt kembali hampir membentur dashboard jika saja Rangga tidak segera menarik tubuh Nadya.
Kini Rangga dan Nadya saling bertatap tangan Rangga bertengger sempurna di pinggul ramping milik Nadya dan kedua tangan Nadya berada dikedua bahu Rangga, jantung Nadya dan Rangga berdebar sangat kencang sudah pasti mereka berdua tidak dapat mendengar suara debaran jantung lawannya karena masing-masing fokus dengan suara debaran jantung miliknya sendiri.
“ekheem” rangga berdehem untuk menetralkan debaran jantungnya
Nadya segera menarik diri dari rangkulan Rangga, karena merasa canggung Nadya membuang wajahnya memandang keluar jendela mobil.
“maaf dan terimakasih” ucap Nadya padat dan jelas
“ekheem, iya” jawab Rangga tak kalah padat, Rangga kembali melajukan mobilnya.
Suasana hening dan canggung tercipta didalam mobil menyelimuti kedua insan tersebut, keduanya masing-masing sibuk dengan pikirannya tentang kejadian tak tertuga beberapa menit yang lalu menimpa keduanya.