
Mobil sport merah Rey membela jalan tol jakarta hujan rintik-rintik seolah pertanda akan ada deruh air mata menghiasi malam itu.
“Sepertinya aku harus memberitahu Cantika secara langsung ke apartemennya” Rey semakin menambah kecepatan mobilnya tak hentinya ia tersenyum perasaan bahagia yang membuncah akan segera melamar pujaan hatinya kekasih tercintanya dan penyemangat hidupnya.
Sesampainya di apartemen Cantika
Tint
Tint
Tint
Rey langsung memasukkan kode apartemen Cantika karena Rey memang mengetahui kodenya, tampa kata permisis Rey masuk Rey berpikir Cantika akan senang atas kedatangannya secara tiba-tiba Rey tidak tahu kalau kedatangannya kali ini akan membuatnya mengetahui suatu kenyataan pedih.
“Cantika aku datang” sambil membuka pintu dan menyembulkan kepalanya kedalam.
“loh kok sunyi sekali biasanya juga dia nonton tumben banget, apa dia sedang keluar” pikirnya “coba ku cek kedalam dulu barangkali dia ada di dapur atau di kamar”
Rey berjalan kearah dapur namun tak menemukan keberadaan Cantika, mungkin dikamar pikirnya namun lagi-lagi Rey tidak menemukan keberadaan kekasihnya itu, ia segera beranjak keluar dari apartemen.
Saat berada diluar Rey tidak sengaja bertemu dengan tetangga apartemen Cantika.
“eh anda tuan Rey kan kok ada disini tuan tidak ke Hotel xxxx” tanya pria paruh baya tersebut.
“memangnya ada apa dihotel itu” jawabnya heran
Bukannya menjawab pria paruh baya itu malah bertanya kembali “memangnya nona Cantika tidak mengundang tuan ke acara pernikahannya” tanyanya tak kalah heran
Mendengar penuturan pria paruh baya itu membuat matanya melotot seketika, badannya menegang.
“apa yang bapak katakan, itu tidak mungkin aku kekasihnya dia tidak mungkin menikah”
sarkas Rey
“sebaiknya tuan kesana jika tidak percaya”
Tampa sepatah katapun Rey segera beranjak menuju hotel, melajukan mobil sport miliknya ke Hotel tersebut, dadanya naik turun ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
Sesampainya di hotel Rey segera memarkirkan mobilnya berjalan setengah berlari mengikuti rombongan tamu para tamu undangan.
Rey sedikit lagi sampai keruangan tersebut namun langkahnya seketika berhenti di depan pintu takkala kata SAH terdengar ditelinganya air matanya mengucur deras badanya sekitaka lunglai, lidahnya terasa kelu.
Dengan keberanian yang tersisa Rey berjalan masuk kedalam suara yang berisi dengan orang-orang besorak gembira dan suasana seketika hening saat melihat kedatangan Rey ruangan diruangan serasa mencekam tak ada yang berani berbicara mereka semua tahu Rey adalah kekasih Cantika.
“tika, ndra aku tak menyangka kalian melakukan ini padaku kalian berselingkuh dibelakangku dan menikah diam-diam, apa salahku Haaaa..” ucapnya lantang suaranya menggelegar memenuhi ruang gedung Rey memejamkan matanya yang terasa panas.
Cantika tak bergeming, dengan langkah gontai Hendra menghampiri Rey.
“aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kau lihat Rey” ucapnya berusaha memegang bahu Rey
“apa yang ingin kau jelaskan lagi, semuanya sudah jelas. Dasar menjijikkan!!” sarkasnya penuh emosi nafasnya sudah memburu.
Rey tak menyangka sahabat dan kekasih tercintanya menikah tanpa memberitahunya.
Rey menghapus air matanya dengan kasar lalu tersenyum sinis, dengan langkah tegapnya ia berjalan keluar namun langkahnya seketika berhenti saat mendengar suara pujaan hatinya.
“Rey ku harap kamu tidak salah paham maafkan aku, akan aku jelaskan nanti padamu ku harap kamu percaya padaku” lirih Cantika
“yaaah, semoga kamu bahagia ku anggap kamu telah mati, jika suatu saat kamu kesusahan jangan pernah menemuiku bahkan jika kamu menangis darah sekalipun aku tak akan sudi membantumu. Dan terimakasih telah membodohi ku selama ini, apapun alasannya semua tidak akan berubah cintaku padamu telah hilang yang ada sekarang hanya rasa benci yang memenuhi hatiku” ucap Rey tanpa menoleh
Hendra tak bergeming ia tak tahu harus bagaimana lagi.
...****************...
1 Bulan Kemudian
Aisyah dan sahabatnya telah sampai di kota Jakarta dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas xxx, tepatnya di Bandara Soekarno Hatta mereka berjalan menuju lobby Bandara dengan langkah gontai ketiga gadis tersebut bejalan sambil menarik koper berukuran sedang dengan niat mencari taksi untuk mereka tumpangi.
“ayo, aku sudah menemukan kost yang cocok buat kita letaknya tak jauh dari kampus jadi kita bisa jalan kaki saat kekampus untuk mengurangi biaya” ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah taksi
“apasih yang tidak mungkin dizaman sekarang” ucapnya sambil menguncang guncang Hpnya Aisyah mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya yang sejak tadi memperhatikannya dengan penuh tanda tanya.
“oh” ucapnya serentak.
“waaah jakarta penuh dengan gedung pencakar langit sangat indah sekali” ucap Nadya mulutnya menganga melihat gedung-gedung yang dilewatinya.
“dasar kampungan” cebik nisa.
Aisyah terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang lucu.
Taksi yang ditumpangi ketiga gadis tersebut berhenti di pekarangan sebuah rumah kost persegi panjang bercat cream dan coklat tua menambah kesan manis terlihat sederhana namun cukup menampung 3 orang perkamar setiap kamar tersedia dapur dengan perabotan yang lengkap dan ruang belajar serta sebuah ruangan khusus kamar berisi ranjang dan juga kamar mandi, lingkungan yang bersih dan dikelilingi pepohonan sehingga nampak rindang nan asri membuat udara disekitarnya terasa fresh.
Senyum ketiga gadis tersebut mengembang saat memasuki kamar kost mereka, sangat sesuai dengan keinginannya.
“ini sangat lebih dari cukup” ucap Aisyah dengan senyum manisnya
“benar sekali, ini kost terindah yang pernah aku temui selama hidupku” ucap nadya dengan nada yang dibuat selebay mungkin.
Aisyah terkekeh geli melihat ekspresi Nadya.
“emangnya kamu hidup sudah berapa lama, melihat kost saja ini adalah pertama kalinya” celetuk nisa sambil mencebikkan bibir.
“ais, nisa suka sekali menghinaku” ucap Nadya mendrama
“fakta!” tegas nisa
“sudah, kalian ini bertengkar mulu kerjaannya sudah sana beresin pakaian kalian, lalu mandi dan istirahat” perintah Aisyah
Nadya mencebikkan bibir karena kesal, nisa yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
Selesai membereskan pakaian dan membersihkan diri Aisyah segera melaksanakan shalat jama’ karena shalatnya harus ketinggalan shalat akibat perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh.
Tak lupa ia membangunkan kedua sahabatnya yang sedang berkelana di negeri mimpinya.
“nis, Nad bangun shalat dulu baru lanjut tidurnya sebentar lagi masuk waktu magrib” ucapnya seraya mengoncang tubuh kedua sahabatnya.
“iya iya aku bangun” ucap nisa
“nad bangun” ucap Ais namun Nadya tak bergeming.
“Kebakaraaaaan” teriak nisa di telinga Nadya, nadya yang sedang bermimpi terperanjat dari tidurnya karena kaget
Nadya langsung loncat dari atas ranjang dan berlari tanpa memperhatikan pintu yang masih tertutup saking paniknya
“aduuh, sakit” keluh Nadya sambil mengusap-usap jidatnya
Aisyah dan nisa tertawa terbahak bahak.
“makanya jangan tidur kayak kebo jadi kena prank kan” ucap nisa sambil memegangi perutnya karena sakit akibat tertawa.
Baru saja nadya mau membuka suara akhirnya diurungkan karena Aisyah sudah lebih dulu berbicara
“stop jangan bertengkar, waktu sudah hampir magrib tidak ada waktu untuk kalian berdebat cepatlah berwudhu baru shalat” ucap Aisyah lalu beranjak keatas tempat tidur membaca Al-qur’an sambil menunggu waktu magrib tiba.
Setengah jam kemudian adzan magrib berkumandang dengan merdunya ia pun berajak untuk melaksanakan shalat lalu ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.
“Alhamdulillah syukurlah tidak sia sia aku membawa bekal, ini sudah cukup untuk kami bertiga besok baru kami berbelanja” ucapnya dengan senyuman
Aisyah bergegas memanaskan makan yang ada didalam rantang miliknya yang sedari siang sudah dingin setelah 30 menit akhirnya ia selesai, cukup lama hanya untuk sekedar mencari alat masak yang diperlukannya.
Ia pun langsung menata di atas meja makan, lalu beranjank untuk mengambil wudhu dilihatnya jam sudah memasuki waktu isya, setelah shalat Aisyah dan sahabatnya makan malam bersama mereka ingin segera beristirahat karena badan mereka sangatlah kelelahan.