
Nadya dan Rangga ditempatkan pada satu lokasi magang disebuah kantor swasta yang bergerak dibidang pertambangan, Nadya yang berasal dari jurusan hukum ditempatkan pada divisi yang mengurusu surat-surat perizinan perusahaan sedangkan Rangga berasal dari jurusan akuntansi ditempatkan pada divisi keuangan.
Nadya bekerja dengan sangat telaten, kemampuannya menangani surat-surat perizinan membuat pergerakan perusahaan semakin mudah dan lancar.
Kinerja Nadya diacungi jempol oleh pimpinan perusahaan statusnya sebagai peserta magang sangat jauh berbeda dengan keahliannya yang sudah memiliki level setara manager.
“kruuk kruuk,, Ahh aku lapar” ucap Nadya seraya melihat jam tangan yang melingkar ditangannya “pantas saja cacingku mendemo ini sudah masuk jam makan siang, sebaiknya aku makan dulu baru lanjut lagi”
Nadya membereskan dokumen yang berada dimejanya menyusun lalu menyimpannya di samping meja, tak lupa pula Nadya meng-sleep kan komputernya terlebih dahulu sebelum meninggalkannya, Nadya meraih Tas nya lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Nadya mengambil ponselnya didalam tas lalu menghubungi Rangga mengajaknya untuk makan siang bersama.
“Hallo Nga kamu udah makan siang belum” tanya Nadya
“belum Nad, emang kenapa” jawab Rangga diseberang telepon
“bareng yuukk, aku tunggu kamu dilobby kantor yahh”
“okee, 5 menit lagi aku tiba” Rangga langsung bergegas keluar ruangannya menuju lift untuk menuju lantai dasar.
Tak menunggu lama Rangga telah sampai dan bergegas menghampiri Nadya lalu berjalan menuju Resto yang berada disebelah kantor.
“laper banget nih Nga, kasian cacingku” ucap Nadya mengelus-ngelus perutnya
Rangga terkekeh “ini kan lagi mau makan Nad, bilangin cacing mu sabar dikit”
“cacingku kalau lapar gak bisa nunda lagi Nga lambung ku yang jadi sasaranya ntar, kalau lambung ku habis dimakan cacing gimana?, aku bakal BAB trus karena makanan ku gak punya tempat penampungan” cerocos Nadya
“kan bagus Nad pencernaanmu bisa lancar” balas Ranggah dengan kekehan
“kau yah ntar aku kurus gak ada asupan gizinya karena giziku keluar trus” ucap Nadya dengan mengerucutkan bibirnya
“kita duduk disudut sana yah” ucap Rangga menunjuk salah satu meja yang berada di sudut
“ayoo”
Nadya mendudukkan bokongnya di ikuti Rangga, dengan seorang pelayan yang juga ikut mengekor dibelakang mereka. Rangga meraih daftar menu makanan yang diberikan pelayan.
Drrrtt drrtt
Nadya menoleh ke ponselnya yang ada diatas meja dahinya berkerut dan alisnya saling bertautan
“bukan ponselku, lalu ponsel siapa” Nadya membatin
Setelah mencari sumber getaran mata Nadya menangkap sebuah ponsel yang berada di atas meja dekat dengan Rangga.
“Nga ponsel mu bergetar tuh, jawab ajah dulu biar aku yang pesan”
Rangga mengangguk patuh, Rangga meraih ponselnya lalu memberikan daftar menu ke Nadya.
“mbak aku pesan, nasi padang, sambal dabu-dabu dan 1 Es teh, kalau kamu mau apa Nga?”
“samain ajah dengan punya mu” jawab Rangga lalu kembali fokus ke seseorang yang berada di sebrang ponselnya.
“yah udah masing-masing dua porsi yah mbak” ucap Nadya dengan senyuman
“siapa Nga?” tanya Nadya setelah Rangga meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
“david, dia mau nyusul ke kantin sini untuk makan siang”
“Aaah david? Sih David Ramadhan sahabat mu?” tanya Nadya penasaran
“iya”
“kirain dia lanjut di amerika, kok bisa disini”
“iya, kemarin baru tiba, kalau soal kenapa dia disini aku juga gak tahu nanti akan ku tanyakan” jawab Rangga
Beberapa menit kemudia pesanan mereka tiba, Nadya sangat antusias tidak sabar ingin menyantap makanannya cacingnya semakin tibak bisa terkontrol saat melihat makanan tersaji diatas meja seakan melambai-lambai ingin segera dinikmati
“waaah kelihatan enak sekali masing anget lagi” ucap Nadya dengan mata yang berbinar
“yah udah makan cepet ntar lambung mu jadi sasaran kemarahan cacing mu” seloroh Rangga
Tanpa berkata-kata lagi Nadya segera meraih makanannya Nadya begitu sangat menikmati makanan miliknya Rangga hanya tersenyum melihat Nadya yang asik dengan makannya sendiri.
“apa sebegitu laparnya kamu Nad” tanya Rangga karena merasa Nadya sperti tidak menganggapnya ada.
“sangat, tadi kan aku sudah bilang kalau aku sangat lapar” jawab Nadya tanpa menoleh
Rangga hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menikmati makanannya
“dav, disini” Rangga melambaikan tangannya pada david saat melihat pria itu berdiri dipintu mencari keberadaanya.
Nadya nampak tak peduli dengan kehadiran David karena sedang asik dengan makanannya.
David tersenyum melihat Nadya yang begitu serius menikmati makanannya tampa memperdulikan kehadirannya.
“siapa dia?” tanya David pada Rangga tanpa mengeluarkan suara, david menunjuk menggunakan dagunya kearah Nadya.
“kau tak mengenalinya” jawab Rangga heran
David hanya mengidikkan bahunya tanda tak tahu.
Mendengar ucapan Rangga Nadya mendongakkan wajahnya karena telah selesai makan meraih tissue lalu membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dibibirnya.
“aku Nadya Talissa, kau lupa padaku” ucap Nadya dengan sorot mata tajam ke arah david
Lagi-lagi dahi David mengkerut mencoba mengingat siapa gadis bernama Nadya Talissa
“Ya ampun kau kah itu Nad” ucap David melongo tak percaya
“apakah kau sudah ingat?, apa kepala mu habis terbentur batu sampai tak mengingatku? atau mata mu sudah katarak sekarang sampai tak mengenali wajahku?” cerca nadya mencebikkan bibirnya
David terkekeh melihat Nadya yang kesal “maafkan aku Nadya, bagaimana aku tak mengenalimu kau yang dulu dan sekarang adalah orang berbeda”
Mata Nadya memicing mendegar ucapan David
“apa maksud mu” tanya Nadya
“kau dulu tidak terlalu cantik, dan sekarang kau sungguh sangat cantik aku sampai tak mengenalimu saking cantiknya”
Nadya tersipu malu dengan cepat Nadya memegangi pipinya karena merasakan hawa panas pada pipinya dia tak mau sampai terlihat oleh Rangga dan David.
Lagi-lagi david tertawa, sedangkan Rangga hanya diam melihat interaksi mereka.
“bisa aku meminta nomor ponselmu Nad” ucap david setelah meredahkan tawanya
Mata Rangga memicing menatap David.
“boleh” jawab Nadya lalu menyodorkan ponselnya yang berisi nomornya
Tatapan Rangga beralih kearah Nadya karena melihat Nadya memberikan nomornya pada David, Rangga hanya mencebik.
“thanks Nad, bolehkan aku menelponmu” tanya david menatap Nadya
“yah silahkan jika aku tak sibuk aku akan menjawab telponmu”
“oke aku akan menelponmu untuk mengajak mu jalan-jalan” ucap david
“benarkah?, kalau begitu aku akan menunggu kau menelponku” ucap Nadya dengan mata yang berbinar
“apakah kalian tidak menanggap ku ada” Ucap Rangga kesal
David dan Nadya seketika terbahak mereka benar-benar lupa jika ada Rangga diantara mereka.
“sorry Nga aku benar-benar lupa jika kau juga ada disini” jawab Nadya diselingi kekehan
Rangga menatap Nadya malas.
“kau tidak pesan makan Dav” tanya Rangga
Belum sempat David menjawa, Nadya memotong perkataannya.
“kalau begitu aku pergi dulu yah masih ada dokumen yang harus ku selesaikan dan deadlinenya jam 5 sore nanti” Ucap Nadya
“oke, tunggu telpon ku yah Nad” jawab david dengan senyuman manisnya
Nadya mengangguk tanda setuju lalu matanya beralih ke Rangga
“aku pergi dulu yah Nga, kalian Lanjut ajah” Nadya bangkit dari duduknya baru saja Nadya ingin melangkah lengannya dicegat oleh Rangga
“kita bareng ajah, kita kan kesini bareng balik juga bareng” ucap Rangga
“lalu kau mau meninggalkan ku Nga” ucap David
tak terima
Rangga berdecak “kau sudah besar dav kau tak akan hilang hanya kerena makan sendiri dimeja ini”
“jangan gitu Nga david datang jauh-jauh kesini untuk bertemu dengan mu kenapa kau ingin meninggalkannya sendiri, temanilah dia makan, aku pergi dulu. Permisi”
Dengan terpaksa Rangga melepaskan tanngan Nadya dan membiarkannya pergi dan menatap David malas.
David hanya tersenyum manis.