
1 tahun kemudian
Di kampus
Tampak terlihat para calon mahasiswa baru berbondong-bondong mendaftarkan dirinya untuk menjadi salah satu kandidat mahasiswa sah di universitas terfavorit tersebut.
Sejak kejadian pertemuan Aisyah dan Rangga setahun yang lalu hubungan mereka semakin dekat mereka sering pergi bersama kadang berempat dan kadang mereka hanya berdua, berjalan-jalan di taman hiburan ketika merasa penat dan suntuk sehabis menyelesaikan tumpukan tugas yang diberikan para dosen padanya.
Rumah jamur yang dulunya hanya di isi oleh tiga gadis tersebut sekarang bertambah satu orang yaitu Rangga
“ohya bentar malam kita nonton yuuk ada film terbaru loh, itung-itung refreshing” ucap Nadya
“boleh juga tuh, Ais kamu ikut kan” tanya nisa
“gak tau nih ntar dilihat yah, aku lagi agak males jalan” jawab Aisyah
“yaaah kok gitu sih, ikut yah please gak seruh nih kalau Cuma berdua” bujuk Nadya memelas berharap Aisyah akan luluh
Belum sempat Aisyah menjawab Rangga tiba-tiba muncul
“Hai lagi bahas apa nih” tanya Rangga seraya duduk
“eh Rangga kebutulan banget, bentar malam ada janji gak kita ke bioskop yukk butuh piknik nih” ajak Nadya memohon
“Ah Rangga mah pasti mau gak boleh nolak” sela Nisa menatap Rangga
“kamu yaah maksa banget, yah udah ntar malam kita nonton semuanya ikut kan kita langsung ketemu di tempat tujuan yah” tanya rangga memastikan
“tuh sih Aisyah masih belum jelas” timpal Nadya cemberut
“tau tuh Aisyah” balas Nisa ikut-ikutan muram
“iyah aku ikut deh dari pada gak di ajak ngomong sama mereka berdua” jawab Aisyah patuh
“yeeeyh” sorak Nadya tersenyum
Rangga tersenyum bahagia mengetahui Aisyah akan ikut bersama mereka, rasanya Rangga hanya ingin menciptakan waktu yang lebih banyak bersama Aisyah meskipun kenangan itu tidak tercipta oleh mereka berdua tapi berempat setidaknya itu sudah lebih dari cukup melihat Aisyah tersenyum dan berada didekatnya sudah cukup membuatnya bahagia.
Mereka tertawa dan sesekali terlihat Nisa menepuk lengan Nadya ketika tertawa, Rangga hanya diam-diam mencuri pandang ke Aisyah tanpa mereka sadari ada sepasang mata pria yang memperhatikannya dari jauh dengan sorot mata tajam pria itu melihat jelas jika Rangga selalu mencuri pandang ke Aisyah.
“Aisyah” panggil seseorang dari arah belakang
Aisyah seketika membeku mendengar suara yang tak asing ditelinganya, Aisyah mencoba memasang baik-baik pendengarannya takut dia hanya salah mendengar.
“Ais” ucap orang tersebut mengulang panggilannya seraya berjalan mendekat meraih pundak Aisyah
Aisyah tak bergeming, antara kaget dan tak percaya bahwa suara itu benar adanya, sementara kedua sahabat Aisya dan juga Rangga sedari tadi membulatkan matanya tak percaya.
Perlahan Aisyah memutar tubuhnya melihat siapa pemilik suara dan tangan yang sedang berada di pundaknya saat ini.
“Fajar” ucap Aisyah
Fajar tersenyum manis menanggapi, “kamu disini” lanjut Aisyah bertanya.
“Aku sudah mengatakannya padamu bukan bahwa aku akan menyusulmu kesini” jawab Fajar tersenyum manis, “kamu tidak mempersilahkan aku duduk, setelah setahun kita tidak bertemu kamu memperlakukan ku begini” tambahnya masih dengan senyuman menghiasi bibirnya.
“oh iya silahkan duduk jar, gimana kabar mu? Kamu kesini ngapai? Kamu daftar disini juga?” Aisyah langsung menyerbu Fajar dengan pertanyaan.
Fajar terkekeh geli mendengar pertanyaan Aisyah yang tidak hanya satu.
Rangga yang melihat Fajar mengambil posisi duduk dekat Aisyah langsung memasag wajah masamnya, sedangkan kedua sahabat Aisyah masih menatap Fajar dengan ekspresi tak percaya.
“tutup mulut mu Nis Nad, kenapa ekspresi kalian seperti itu melihat ku apa setelah tidak bertemu setahun aku terlihat semakin tampan” seru Fajar diselingi kekehan
“iiss narsis banget, kita cuma masih gak nyangka kalau yang ada didepan kami ini benar Fajar Aditama” ucap Nisa dengan kesal
“iya jar, kami gak nyangka kalau kamu bakal kesini juga” Nadya menimpali
“aku kesini karena Aisyah juga ada disini”seru Fajar tegas sembari menatap Aisyah, sedangkan Aisyah buru-buru mengalihkan pandangannya.
“tadi laki-laki itu dan sekarang huuh nambah lagi siapa laki-laki itu kenapa dia menatap Aisyah dengan tatapan seperti itu” geram seorang pria yang sedari tadi menatap mereka dari jauh dan sialnya dia tidak dapat melihat wajah pria yang duduk disebelah Aisyah sekarang karena posisi pria itu yang membelakanginya.
“Aaah sial” umpatnya mengusap wajahnya kasar seraya berlalu pergi
Flashback on
Dikantor Rey bekerja tak tenang sedari tadi dia hanya embolak balikkan berkas yang dipegangnya pikirannya tertuju dilain tempat, Rey sangat ingin melihat gadis itu dengan mata kepalanya sendiri, ini benar gila kenapa gadis yang hanya numpang bertanya jalan keluar dari kampus menyita semua fokusnya, bahkan untuk mengingat cantika saja dia sudah tak pernah semenjak pertemuan tak terduga itu. Rey benar-benar telah melupakan cantika.
“aku harus ke kampus melihatnya sendiri aku benar-benar bisa jadi gila kalau begini terus” batinnya, meraih benda pipih yang ada disaku celanya.
“ke ruangan ku segera kita ke universitas sekarang juga” ucapnya dan langsung menutup telponnya
Ian disebrang sana mendengus kesal bahkan dirinya belum sempat mengatakan bahwa dirinya sedang berada dikantin kantor menikmati secangkir kopi.
Mau tidak mau ian harus memenuhi perintah atasanya, beranjak dari duduknya ian menyempatkan meneguk sampai habis kopinya sayang kalau dibuang pikirnya.
“kenapa kau lama sekali” ucap Rey setelah kemunculan ian
“maaf tuan tadi saya berada di kantin meminum kopi” balas ian
“bukan urusanku, ayo cepat aku sudah terlalu lama menunggu” ucapnya dan berlalu didepan ian
“apa katanya sudah lama menunggu bahkan 5 menit saja tidak cukup karena aku berlari, kalau saja bukan bos sudah ku jitak palanya” maki ian dalam hati
Flashback off
“ohya aku kesana dulu yah aku lupa kalau ada janji dengan teman” sela Rangga sembari tersenyum paksa, bisa-bisa dirinya tak bisa menahan diri kalau terus berada diantara mereka.
“oh dengan senang hati” jawab Fajar acuh, sebelum datang menghampiri Aisyah tadi Fajar melihat Rangga yang selalu mencuri pandang pada Aisyah itulah sebabnya cuek pada Rangga.
Rangga yang mendengar jawaban Fajar terdengar acuh semakin kesal.
“bye Rangga” ucap Nadya dan Nisa menimpali
“iya Nga, hati-hati yah” ucap Aisyah tersenyum
“makasih Ais” balas rangga tersenyum manis dan berlalu, Fajar hanya mencebikkan bibirnya tak suka melihat Aisyah tersenyum padanya
“Woooohh what happned bro, sepertinya kamu cemburu dengan Rangga” ucap Nisa pada Rangga sambil terkekeh
“jangan mulai Nis” seru Aisyah dengan melotot
“hati-hati ntar biji mata mu keluar Ais, kamu gak mau kan biji mata mu seperti pengidap gondok beracun” seloroh Nisa
Aisyah memutar matanya malas.
Nadya dan Fajar terkekeh geli, Nisa memang ceplas ceplos jika ingin berbicara, apa yang ada di pikirannya akan langsung diukeluarkan tanpa berpikir terlebih dahulu.