She Is My Mine

She Is My Mine
Cemburu



Aisyah sangat bingung apa yang membuat Rey semarah itu, ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun karena hari ini adalah hari liburnya.


“sa.sa.ya sa.salah a.a.pa tu.tu.an” Aisyah gagu seketika antara bingung heran dan takut menjadi satu


Rey menoleh dengan aura yang mengerikan, sorot mata yang merah padam menandakan bahwa dirinya sedang sangat marah, Rey kembali menoleh kearah depan sama sekali belum berniat untuk melajukan mobil miliknya, Aisyah meremas ujung bajunya dengan keberanian yang tersisa Aisyah berusaha bertanya ingin turun dari mobil untuk kembali kedalam mengambil barang belanjaanya yang tertinggal


“tu.tuan apa saya boleh turun sa.saya ingin kembali kedalam me....” belum sempat Aisyah melanjutkan ucapannya mulutnya sudah dibungkam oleh bibir Rey.


Rey mencium Asiyah dengan kasar, amarahnya mencapai ubun-ubun mendengar Aisyah ingin kembali masuk kedalam untuk menemui Fajar diliputi rasa cemburu Rey membabi buta mencium bibir Aisyah, ******* bibirnya atas bawah, menggigit, dan menghisapnya Rey tidak membiarkan Aisyah bernafas barang sedetik saja Rey mengabsen semua isi mulut Aisyah membelit lidahnya dan memilinnya, Aisyah berusaha mendorong dan memukul dada Rey karena sudah kehabisan namun Rey sudah lupa diri hingga Aisyah menangis dan air matanya mengalir disela-sela bibir Rey, Rey merasakan asin dibirnya karena air mata Aisyah segera membuka matanya melihat Aisyah menangis Rey melesat tautat bibirnya.


Aisyah memegangi dadanya dengan nafas yang terengah-engah, wajahnya yang putih bersih menjadi memerah menandakan dirinya sempat kehabisan nafas, tangan Aisyah ia letakkan di dashboard untuk menopang dirinya agar tidak luruh ke bawah dadanya yang naik turut karena berusaha menarik nafas dalam-dalam setelah dirasa nafasnya telah kembali normal air mata Aisyah mengucur dengan deras.


Rey merasa bersalah ia dan merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri karenatersulut api cemburu, perlahan Rey mendekat dan meraih Aisyah masuk kedalam dekapannya. Perlahan tangis Aisyah pun meredah dalam dekapan Rey.


Rey memegangi kedua bahu Aisyah dan dijauhkan dari dadanya agar Rey dapat melihat wajah Asiyah, Rey meringis melihat mata yang sembab dan hidung yang memrah karena menangis, didekapnya kebali dan mengelus-elus kepala Aisya.


“jangan pernah sedekat itu lagi dengan Pria lain” suara dingin yang penuh penekanan.


Aisyah mendongakkan wajahnya menatap Rey penuh tanya


“aku tak suka melihat mu sedekat tadi dengan Fajar” ucap Rey memandangi lamat-lamat wajah ayu yang mengisi seluruh hatinya.


“aku dan Fajar hanya teman tidak lebih, apa hubungannya dengan tuan” ucap Aisyah kesal


“sudah ku katakan bukan aku tak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria mana pun”


“kamu juga pria”


“aku pengecualian”


“pernyataaan apaan itu” Aisyah mencebik


“itu sudah mutlak dan jangan kau bantah”


“tuan kenapa sih, jangan membatasi ruang pertemananku anda tidak punya hak mengaturku” sentak Aisyah tenang namun penuh kekesalan didalam nada suaranya


“menurutlah jika kamu masih ingin terus berkuliah” ucap Rey kemudian melajukan mobilnya menuju mansionnya.


Aisyah terdiam mendengar ancaman Rey dia takut jika diberhentikan kuliah beasiswa yang sudah susah payah dia dapatkan tidak mungkin dia buang begitu saja, namun yang membuat Aisyah merasa heran mengapa Rey melarangnya berdekatan dengan pria lain dari pada bertanya Aisyah memilih diam membiarkan beberapa pertanyaan bercokol dikepalanya, Aisyah menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.


Merasa tidak ada pergerakan dari Aisyah Rey menoleh ia melihat Aisyah sudah terlelap dengan pulasnya Rey mengelus-ngelus pipi mulus Aisyah ia pun belum tahu kenapa dirinya bisa semarah itu.


“maafkan aku, bantu aku untuk memastikan perasaan apa yang tengah ku rasakan pada mu” kemudian Rey kembali fokus ke kemudi


Setelah sampai di mansion Rey mengangkat tubuh mungil Aisyah ke kamarnya diletakkannya Aisyah secara perlahan di kasur king size miliknya dan menarik selimut hingga menutupi perutnya ia pandangi wajah Aisyah yang sembab kemudian mencium kening Aisyah.


Rey meraih sebuah tombol diatas nakas yang menghubungkan dirinya ke bagian pelayanan dapur


“siapkan makan malam lalu antarkan ke kamarku, dan juga buatkan saya secngkir kopi antarkan ke ruang kerja ku”


Rey melangkah ke bathroom ia ingin berendam beberapa menit dengan aroma Rose untuk menghilangkan sisa-sisa amarah yang sempat menyelimutinya.


Setengah jam kemudian Rey keluar lengkap dengan setelan rumah baju kaos putih transparan hingga otot perut tercetak dengan sempurna dan cela pendek menampilkan ketampanan seorang Rey dari sudut yang berbeda.


Diruang kerja Rey memeriksa beberapa email yang dikirimkan oleh ian setelah meletakkan ponselnya ia tak sengaja melihat sebuah kalender berada diatas meja kerjanya, dihitungnya hari tepat dimana Aisyah mulai magang ia tak menyangka ternyata sudah 2 minggu Aisyah berada dikantornya yang menandakan 2 minggu lagi masa magang akan selesai.


Ditempat lain, Aisyah mengerjapkan matanya pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang tampak asing baginya setelah kesadarannya penuh Aisyah menyapu sekeliling kamar tersebut ia menyadari jika dirinya berada di sebuah kamar mewah dan besar.


Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya Aisyah merasa tenang karena pakaianya masih lengkap ditubuhnya, menggerak-gerakkan tubuhnya apakah ada ia merasakan sakit bagian bawah tubuhnya dan lagi ia kembali merasa tenang karena apa yang ada dipikirannya ternyata tidak terjadi dipandanginya kembali kamar tersebut.


“lalu kamar siapa ini” batin Aisyah


Lamunan Aisyah buyar ketika mendengar suara ketukan pintu, Aisyah turun dari kasur dan melangkah kearah pintu.


“persmisi nona ini makan malam untuk nona dan tuan” ucap kepala pelayan


ucap Aisyah dengan ramah dan senyuman


Kepala pelayan memerintahkan para pelayan yang membawa makanan untuk masuk dan meletakkannya di atas meja.


Karena penasaran siapa yang membawanya ia bertanya kepada kepala pelayan.


“maaf pak boleh saya tahu siapa pelik rumah ini”


Mendengar pertanyaan Aisyah kepala pelayan itu mengerutkan keningnya merasa aneh mengapa tuannya membawa seorang gadis yang tidak mengenalinya bahkan sampai membawa masuk ke kamarnya ruangan yang tidak sembarangan orang untuk masuk kecuali atas izin dari Rey.


“pak..” ucap aisyah karena tak kunjung mendapat jawaban


Kepala pelayan tersentak “maafkan saya nona, ini adalah mansion tuan Reyhan Mahendra” ucapnya lalu melangkah pergi ia tak mau berlama-lama jika ketahuan tuannya ia akan mendapat hukuman.


Aisyah membulatkan matanya kemudian kembali melihat seluruh isi mansion


“apakah ini rumah atau istana kerajaan” Aisyah berbicara pada dirinya sendiri


“lalu kemana dia kenapa tidak ada disini” ucapnya lagi dan melangkah masuk kedalam kamar ia duduk kembali di sisi kasur dan menggantungkan kakinya matanya tidak berhenti memperhatikan isi kamar Rey.


“bahkan kamarnya sebesar rumahku” cicit Aisyah tersenyum kikuk


Aisyah menoleh ke arah pintu saat mendengar suara hendle pintu diputar oleh seseorang.


“kenapa kau melihat ku seperti itu” tanya Rey karena melihat Aisyah menatapnya dengan intens


“aah tidak tuan, kau darimana tuan bolehkah aku pulang” tanya Aisyah balik


“kemarilah kita makan malam bersama”


Aisyah menangguk lalu melangkah ke arah Rey


“duduklah” Rey menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya Aisyah duduk dengan patuh.


Melihat Aisyah yang patuh senyum Rey mengembang ia kemudian meraih piring untuk Aisyah


“kau mau makan apa biar ku ambilkan”


“aku bisa sendiri tuan”


“patuhlah, aku hanya ingin mengambilkan mu makanan”


“terserah tuan, aku pemakan segalanya” ucap Aisyah


“benarkah, apa saja yang tidak bisa kau makan?” tanya Rey berusaha menggoda Aisyah


“semuanya tuan aku tidak pemilih makan” jawab Aisyah meyakinkan


Rey mengambil steak lalu memotongnya kecil kemudian menggigitnya


“makanlah” perintah Rey


Aisyah melongo tidak mengerti “Haaah?”


“makan ini” ucap Rey menggoyangkan mulutnya agar Aisyah mengerti untuk menggigit daging yang ada di mulutnya.


Aisyah melotot “apa tuan bercanda?”


“cepat” desak Rey


“tidak” ucap Aisyah menggeleng


“tidak ada penolakan” tukas Rey penuh penekanan