She Is My Mine

She Is My Mine
Pertemuan Pertama Dengan Rey 2



Dengan langkah secepat kilat Aisyah mendekati mobil tersebut masih dengan jarak yang sedikit jauh Aisyah melihat dengan samar dua orang pria bertubuh tinggi dan tegap dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya keluar dari dalam mobil mewah tersebut Aisyah ingin berteriak namun diurungkan karena meneriaki orang bukan lah perilaku terpuji.


Aisyah semakin mempercepat langkahnya, “yah sedikit lagi, tolong jangan melangkah terlalu cepat” batinnya memohon.


Aisyah semakin meningkatkan kecepatan langkahnya dan..”Aawww” pekiknya menahan sakit Aisyah keseleo karena tersandung oleh kakinya sendiri.


Mendengar suara wanita membuat langkah Rey dan Ian berhenti tiba-tiba. Mereka berbalik untuk melihat siapa wanita itu Rey melepaskankan kacamatanya yang sedari tadi bertengger dihidung mancungnya.


Hening tak ada pergerakan saat Netra mata kecoklatan Rey dengan Netra milik Aisyah yang teduh saling bertemu secara bersamaan.


Satu


Dua


Tiga


Higga lima detik mereka saling menatap dalam satu sama lain namun Aisyah segera tersadar saat ian melontarkan pertanyaan dan juga membuyarkan lamunan Rey.


“ada apa nona, apa yang terjadi” tanya ian


Aisyah berusaha bangkit menahan sakit dipergelangan kakinya, dengan susah payah aisyah melangkah mendekati ian dan Rey.


“mohon maaf tuan mengganggu waktu anda, bolehkan saya bertanya dimana jalan menuju pintu keluar dari kampus ini, sudah hampir dua jam saya berkeliling namun tak juga menemukan jalan keluarnya”


Rey yang mendengar penuturan Aisyah yang penuh kelembutan membuat indra penglihatannya tak ingin Rey alihkan sedikitpun dari wajah Ayu gadis yang berada didepannya, Rey melihat ada kerutan halus diwajah Aisyah seperti menahan rasa sakit namun karena Egonya Rey hanya diam memperhatikan.


“Anda mahasiswa baru nona, sehingga jalan keluar saja nona tidak tahu” tanya ian memastikan


“benar tuan, aku dan sahabat ku baru saja menyelesaikan pengumpulan berkas untuk masuk di Kampus ini kami calon mahasiswa baru, namun karena rasa keingintahuan kami yang besar dengan seluk beluk kampus ini membuat kami tersesat” lirih Aisyah pipinya merona karena malu


karena kesasar


“oh baiklah, nona cukup mengikuti jalan itu jangan pernah berbelok lurus saja sampai nona menemukan pintu gerbang di ujung sana nanti kira-kira 1 km dari sini” jelas ian seraya menunjukkan jalan


“terimakasih atas bantuan tuan-tuan, maaf telah menunda kerjaan tuan” ucap Aisyah menunduk hormat “kalau begitu saya permisi tuan, sekali lagi terimakasih” lanjutnya seraya mengangkat wajahnya lalu tersenyum manis aisyah berlalu dengan kakinya yang pincang.


Rey benar-benar terposona “cantiik” batin Rey memuji sudut bibirnya terangkat membentuk senyum namun hampir tak terlihat.


Cara berjalan Aisyah tak luput dari pandangan Rey dan ian kening mereka mengkerut seolah bertanya ada apa dengan cara jalan gadis itu ian berusaha membuka suara “kaki anda kenapa nona” tanyanya dengan suara sedikit dikeraskan


karena jarak mereka yang tak dekat


Aisyah berbalik dan tersenyum manis “tidak apa-apa tuan kaki saya hanya keseleo” ucapnya lalu segera beranjak sahabatnya sudah menunggu cukup lama di taman.


“tunggu nona saya akan bantu mengobati” ucap ian


Aisyah kembali berbalik “terimakasih atas kebaikan anda tuan, sahabat saya sedari tadi sudah menunggu saya disana” tunjuk aisyah ke arah taman dimana posisi sahabatnya berada namun tak terlihat karena terhalangi oleh pohon “mereka yang akan membantu saya nanti untuk mengobati kaki saya” lanjutnya dengan senyum dan menunduk hormat.


Lagi-lagi jawaban Aisyah membuat kening Rey mengkerut “sahabat siapa yang dia maksud kenapa tidak kelihatan, pria atau wanita” batin Rey kesal “aah sial apa yang aku pikirkan” batin Rey sembari geleng-geleng.


“kepala anda kenapa tuan” tanya ian heran


“tidak apa, ayoo Rapat harusnya sudah dimulai 20 menit yang lalu” ucap Rey berlalu masuk ke gedung Rektorat


Tak


Tak


Tak


Suara sepatu Rey dan ian menggema memenuhi langit-langit gedung, kacamata telah Rey pasang saat memasuki gedung kacamata itu bertengger sempurna dihidungnya yang mancung menambah kesan maco dan keren, Rey berjalan didepan diikuti sang sekertaris dibelakang seolah bersiap siaga untuk menjaga tuannya dari setiap mara bahaya.


Kasak kusuk para dosen wanita mengganggu indra pendengaran Rey bukan hanya itu dari kalangan dosen pria pun tak ketinggalan, meskipun yang mereka bisikkan semua adalah pujian untuknya tapi Rey tidak menyukai ada yang mengganggu pendengarannya dan ini benar-benar merusak moodnya.


Rey geram tampa berhenti Rey memberi kode kepada ian untuk menyumpal mulut para dosen yang tak punya kerjaan selain bergosip.


“ian” ucapnya lantang “dasar sampah, perilaku tidak berbobot”


Ian yang mendengar tuannya memanggil seketika mengerti apa yang dimaksud tuannya langkahnya berhenti tepat ditengah-tengah dosen yang masih saja saling berbisik, pandangan ian menyapu seisi ruangan tatapnya menajam mengabsen setiap orang yang ada ditempat itu netranya seolah siap menghujam tepat dijantung setiap orang yang dilihatnya wajahnya yang tampak datar dengan gigi yang di gertakkan membuat semua yang melihatnya bergidik ngeri seolah ingin diterkam sang zimba raja hutan suara para penggosip lenyap seketika tanpa jejak yang tersisa hanya hening seiring dengan aura sang sekertaris membuat suasana semakin mencekam.


Setelah ian merasa semua orang bungkam tak ada yang berani untuk kembali berbicara, ian melanjutkan langkahnya keruangan yang dituju. Kepergian ian membuat semua yang ada ditempat itu menghirup udara dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang sempat kering-kerontang hampir saja mereka kehabisan oksigen.


Kedatangan ian mengukir senyum sinis di bibir Rey yang ditujukan ke gerombolan anjing-anjing yang mengonggong mencari perhatian tuannya namun nyatanya gagal, Rey sangat membenci orang yang suka mencari muka dihadapannya.


“rapat bisa kita mulai sekarang” ucapnya tegas sembari bersandar dikursi kebesaran yang telah disediakan khusus untuknya.


Rapat berlangsung secara khidmat, namun pikiran Rey berkelana tak tentu arah pandangannya menerawang Rey kembali teringat dengan gadis berkaki pincang beberapa jam yang lalu, senyum Aisyah terus terngiang ngian dikepalanya.


“siapa gadis itu, darimana dia berasal dan..Aah shiit aku lupa menanyakan namanya” batin Rey mengumpat kesal.


“bagaimana tuan apa anda setuju dengan ide saya” tanya sang Rektor hati-hati


Rey segera tersadar dari lamunannya “ada apa” tanyanya kembali tak mengerti


“dasar tuan bodoh, apa yang kau pikirkan hingga tak fokus begitu dasar cacing setrika” gerutu ian dalam hati


“Anu tuan apakah anda setuju dengan ide Pak Rahman selaku rektor” jawab ian mengulangi pertanyaan


“memangnya apa idenya” tanyanya bingung, sudah sejauh itukah ia tak fokus mengikuti rapat sehingga sekarang adalah tahap terakhir dari rapat yaitu tentang tanggapan persetujuannya pikirnya heran. Dan sialnya Rey tak tahu sedikitpun apa yang disampaikan dalam rapat Kesalnya sama diri sendiri.