
Diakhir pekan masa libur kantor Aisyah memilih menikmati dengan berjalan di mall membeli berbagai keperluan pribadi karena stok yang sering disediakannya telah habis terpakai.
Semenjak masa magang Aisyah memilih ngekost sendiri untuk sementara waktu karena jarak yang cukup jauh dari kost sebelumnya akan memerlukan biaya lebih banyak pada saat proses magang sedangkan Nisa dan Nadya memilih di kost lama mereka karena tempat mereka magang tidak cukup jauh.
“huufft, sungguh tidak nyaman jalan sendiri seperti ini, biasanya juga kami jalan bertiga” keluh Aisyah
Ting
Sebuah notif masuk ke ponsel Aisyah.
“Ais kamu dimana? Jalan yukk mumpung kamu sedang libur”
“aku lagi di mall nih, belanja keperluan pribadi”
“sama siapa?”
“sendiri ajah”
“aku temenin yah, aku kesana sekarang”
“eeh gak usah”
“pokoknya tunggu aku disana jangan kemana-mana aku jalan sekarang”
Tut, tut, tut
“uh kebiasaan nih Fajar suka matiin telpon tampa nunggu jawaban dariku” aisyah mendengus
Sambil menunggu Fajar Aisyah melangkah masuk ke toko perawatan tubuh, sebenarnya Aisyah hanya iseng namun karena rasa penasarannya yang lebih tinggi akhirnya aisyah masuk juga seorang pramuniaga mendatangi Aisyah menawarkan sebuah lipstik dengan warna merah menyala dengan lembut Aisyah menolak bisa-bisa dia akan terlihat seperti tante-tante diausia yang masih muda.
Aisyah merasa akhir-akhir ini bibirnya terasa sedikit kering dengan berbagai pertimbangan Aisyah mencoba menanyakan kepada pramuniaga yang menawarkannya lipstik tadi.
“permisi mba apa ada yang dapat mengatasi bibir kering kecuali lipstik yang berwarna” tanya Aisyah menunjuk deretan lipstik dari berbagai merk berada melihat warnanya membuat Aisyah bergidik.
“ada mba, mbanya bisa memakai lip balm berupa pelelmbab untuk bibir”
“bisa aku lihat mba”
“bisa mba, mari ikut saya” pramuniaga melangkah lebih dulu menghampiri berbagai stand merk lip balm
“ini semua merk yang kami punya mba, mba mau yang mana” tawar pramuniaga
Mata Aisyah menelisik berbagai merk yang ada di hadapannya sampai pilihannya jatuh pada merk dengan brand wardah karena model produknya memakai jilbab sehingga menarik perhatiannya.
“aku ingin coba merk itu mba” ucap Aisyah menunjuk kearah produk yang telah membuatnya tertarik
“ini stok warna yang kami punya mba, silahkan mba pilih”
“kalau untuk bibir seperti saya cocoknya yang mana mbak” Aisyah nyengir kuda karena merasasadar bahwa dirinya terlalu banyak bertanya “maaf mbak saya tidak tahu apapun tentang dunia permake-upan” lanjut Aisyah tersenyum kikuk
“tidak apa-apa mbak ini sudah tugas kami, kalau menurut saya melihat bibir mbaknya sudah pink alami sebaiknya mbak pilih warna ini ini wangi buah anggur yang menyegarkan juga warnanya menyatu dengan warna alami bibir, mbak bisa coba sendiri”
“aah tidak mbak aku langsung ambil saja” tolak Aisyah karena merasa Fajar mungkin telah tiba
“oh baik mbak mari saya antar ke kasir” yang dibalas anggukan oleh Aisyah
Aisyah yang merasa penasaran apa penyebab bibirnya bisa kering akhirnya mencoba untuk bertanya berharap pramuniaga tahu penyebabnya.
“ohya mbak aku boleh nanya, kira-kira apa yah penyebab bibir bisa kering?”
“banyak mbak, bisa dari pola hidup kita yang tidak sehat, makanan yang kita konsumsi dan juga karena kurangnya merawat kulit bibir seperti scrub bibir” ucap pramuniaga
“kalau dari pola hidup dan makanan saya seperti biasanya kok mbak dan baru kali ini bibir saya kering”
“bisa juga karena berciuman mbak” ucap pramuniaga sambil tersenyum
Aisyah tersedak salivanya sendiri, wajahnya merah merona ia menundukkan wajahnya karena malu. Aisyah kembali mengingat saat dirinya berciuman dengan Rey yang menyebabkan dirinya dan Rey merasa canggung saat bertemu hingga saat ini.
Aisyah kembali tersadar dan menggelengkan kepalanya cepat berusaha membuang jauh ingatan konyolnya.
“ini semua arena ciuman itu membuatku malu saja” Aisyah meringis mengingat dirinya yang terlihat bodoh didepan pramuniaga.
“Fajar mana sih kok lama banget aku udah lapar banget” Aisyah cemberut memilih berdiri didepan pintu utama mall
“ais apa aku terlalu lama, maafkan aku diperjalanan aku terjabak macet” ucap Fajar dengan nafas yang masih tersengal-sengal
Aisyah yang tadinya ingin mengomel mengurungkan niatnya melihat Fajar bernafas tidak beraturan, ia memilih diam lalu mengangguk.
“aku lapar” ucap Aisyah dengan memajukan bibirnya 5 senti
Fajar tersenyum lalu meraih tangan Aisyah dan menariknya lembut
“ayo kita cari makan” aisyah mengangguk dan mengikuti langkah Fajar
“kamu mau makan apa?”tanya Fajar
“ayam bakar” jawab Aisyah dengan tersenyum
sumringah
“baik tuan putri mari kita cari ayam bakarnya” balas Fajar mengelus lembut pucuk kepala Aisyah
“jar disitu saja” tunjuk Aisyah pada salah satu resto bertuliskan warung pojok yang mereka lewati
“kau yakin?, kau tidak mau mencari yang lebih mewah?”
Aisyah menggeleng tanda tidak ingin beralih temoat “baiklah apapun untukmu” Fajar kembali melangkah tampa melepas genggaman tangannya dari tangan mungil Aisyah.
Tampa mereka sadari Ada pasang mata yang memperhatikan mereka ia mengepalkan tangannya hingga membuat buku-buku tangannya memutih
“silahkan duduk tuan putri” seloroh Fajar saat menarik salah satu kursi untuk mempersilahkan Aisyah duduk
“apaan sih jar, lebay” cibir Aisyah, Fajar hanya menanggapi dengan senyuman
Aisyah dan fajar menikmati makananya dan saling bercerita lucu, Aisyah tak henti-hentinya tersenyum.
“Aisyah tunggu ada nasi diwajahmu” Aisyah merabah raba wajahnya
“salah ais, sebelah kanan agak keatas” ucap Fajar berusaha menjelaskan letak nasi yang menempel diwajah Aisyah
Aisyah mendengus kesal saat tak kunjung menemukan letak nasi diwajahnya
“apa kau membohongiku jar” mata Aisyah memicing
“aku tidak bohong biar aku yang mengambilnya”
Fajar berdiri dari duduknya tampa berpindah dari duduknya ia mendekatkan wajahnya pada wajah Aisyah, Aisyah mendongak mata mereka saling bertemu saling tatapan pun tak terelakkan cukup lama mereka saling tatap dengan perlahan tangan Fajar mengambil sebuah nasi diwajah Aisyah, Fajar belum juga ingin menjauhkan wajahnya dan tersenyum manis pada Aisyah.
Masih dengan posisi yang semula lengan Aisyah tiba-tiba ditarik kasar oleh sebuah tangan kekar, dengan satu kali tarikan Aisyah bangkit dari duduknya dengan terpaksa mengikuti langkah orang tersebut, Aisyah menoleh melihat Fajar yang menatapnya dengan tatapan kecewa.
Aisyah berusaha berontak melepaskan tangannya namun tak berhasil.
“apa-apan sih kamu siapa sebenarnya” tanya Aisyah meringis merasakan sakit dipergelangan tangannya
Langkah orang tersebut berhenti lalu menoleh padanya mata Rey merah padam dan rahang yang mengeras seketika Aisyah tertegun melihat wajah Rey yang dipenuhi amarah
“tuan” ucap Aisyah terbata, dengan kasar Rey kembali menarik tangan Aisyah keluar dari mall
“tuan kenapa sih, anda menyakitiku” ucap Aisyah berusaha melepas cengkraman tangan Rey dipergelangan tangannya.
Rey tak bergeming, ia tidak mendengarkan perkataan Aisyah dadanya sudah sesak dipenuhi dengan amarah melihat kedekatan Aisyah dengan Fajar, dengan langkah cepat mereka tiba di parkiran Rey membuka pintu mobil dan memaksa Aisyah masuk kedalam mobil, Rey melangkah cepat memutari mobil dan duduk dibelakang kemudi.