
Rey keluar dari restaurant dengan muka yang dipenuhi amarah, Rey sangat muak melihat wajah Cantika entah kenapa dia sendiri merasa risih berdekatan dengannya, secepat itu kah cintanya hilang untuk cantika.
Suara ian terdengar memeca keheningan “tuan apakah anda sudah melupakan nona cantika” ian yang dilanda rasa penasaran ingin memastikan perasaan tuannya.
“sepertinya begitu, aku bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku memikirkannya. Aku jadi ragu pada diriku sendiri apakah perasaan yang ku rasakan padanya dulu benar perasaan cintai atau bukan” Rey menjawab dengan tatapan menerawang seolang mengingat kembali kenangan bersama Cantika.
“ku rasa hanya perasaan sayang kakak ke adiknya namun aku salah mengartikan yang nama sayang dan mana cinta” tambahnya lagi.
Ian hanya diam menanggapi tidak ingin ikut berkomentar, mengetahui perasaan Rey saat ini yang sudah tidak menyimpan perasaan untuk cantika sudah cukup membuatnya legah.
“setelah ini kita kemana tuan”
“kita ke kantor, jika kamu ingin melanjutkan makan siang mu lanjut kan saja di kantin kantor”
“baik tuan”
Mobil sport milik Rey melaju membelah jalan kota, Rey memejamkan matanya sejenak Aisyah kembali menyerang pikiran Rey, Rey mendengus kesal mengusap wajahnya kasar sudah tak sabar ingin segera mengetahui siapa dua orang pria yang dekat dengan Aisyah.
Rey kembali ke perusahaan bergelut dengan berkas yang memenuhi meja kerjanya, mendengus kesal karena berkas yang di tanda tanganinya terlihat masih banyak bahkan terlihat tidak berkurang.
Drrrtt drrrttt,,
Ponsel Rey berdering meraih ponselnya dari nakas dahinya mengkerut menatap layar ponselnya.
“ada apa momy menelpon” Rey membatin lalu menjawabnyanya.
Terdengan suara wanita paruh baya dari sebrang telpon sedang berceloteh panjang kali lebar, Rey menjauhkan ponsel dari telinganya suara momynya yang cukup melengking membuat telinganya sakit.
“iya iya mom, bersabarlah aku akan membawakan seorang gadis untuk mu” ucap Rey menenangkan momynya
“aku tak mau tahu harus secepatnya” tegas momy menutup telponnya secara sepihak
Rey menghela nafas beratnya dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini Rey bahkan tidak suka berdekatan dengan wanita bagaimana dia bisa mempunyai kekasih.
Dari pada memikirkannya tentang permintaan momynya Rey memilih melanjutkan pekerjaannya.
Tok
Tok
Tok
“masuk” ucap Rey dengan mata yang terpejam sambil bersandar di kursi kebesarannya
“permisi tuan, jam 1 siang nanti ada pertemuan dengan tuan Rico, dan beliau sudah dalam perjalanan menuju kantor” ucap ian
“baik, pergilah”
“permisi tuan”
******
Selalu saja begini, Aisyah menghela nafas berat menyaksikan kedua sahabatnya saling berebut untuk bercermin, tidak ada yang mau mengalah mereka sama kerasnya ingin menguasai cermin.
“aku dulu Nad, baru kamu” ucap Nisa mendorong Nadya dengan bahunya lalu memakai bedaknya
“iiih apaa sih Nis yang duluan didepan cermin itu aku yah jadi aku dulu baru kamu” cerca Nadya tak terima
“aku lebih tua loh, jadi mengalah lah” sejurus kemudian Nadya terpaksa mengalah mencebikan bibirnya merasa kalah telak dengan perkataan lebih tua yang selalu dijadikan jurus ampuh untuk membuay seorang Nadya tunduk patuh.
Diantara mereka yang lebih tua memanglah Nisa kemudian Nadya sedang Aisyah sudah tidak dipertanyakan lagi dialah yang paling muda walau selisih usia mereka hanya selisih bulan.
“okee kamu yang duluan, tapi cepat lah bentar lagi Fajar menjemput kita” Ucapnya memperingati karena Nisa selalu lupa waktu jika berdandan, seolah cermin adalah miliknya.
“nis cepat lah aku belum memasang jilbabku, wajah mu tidak akan berubah menjadi Princess hanya karena bercermi sampai sejam”
“sorry aku melupakan mu” balasnya teekekeh
“kebiasaan yang tidak bisa hilang” ucap Nadya dengan gelengan kepala
Tin
Tin
Tin
“kau keluarlah lebih dulu Ais aku masih memakai jilbabku beri aku waktu 5 menit lagi” ucap Nadya memohon
Aisyah berlalu keluar untuk menemui Fajar.
“jar tunggu bentar yah mereka masih memasang jilbabnya, gak apa-apa kan”
Fajar tak merespon, matanya tak berkedip sedikitpun melihat penampilan Aisyah yang sangat cantik menurutnya, baju warna cream dipadukan dengan pashmina yang memiliki warna yang senada serta Rok plisket berwarna olive ditambah high heels setinggi 3 cm.
“Jar kau mendengar ku” seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Fajar
“aaah iya tidak apa aku bisa menunggu, masuk lah kita tunggu dimobil” seraya tersenyum canggung
“duduklah didepan biarlah mereka berdua dibelakang, telinga ku sakit kalau harus salah satu diantara mereka duduk didepan dan bertengkar” ucapnya Fajar berbohong, dirinya hanya ingin lebih dekat dengan Aisyah.
Aisyah terkekeh merasa tak curiga beralih kedepan dan duduk disamping Fajar, beberapa menit Nisa dan Nadya pun keluar dan segera masuk kemobil
“jadi kita kemana”
“kita ke Cinemax Plaza Semanggi, buruan jar setengah jam lagi filmnya dimulai” Ucap Nisa tak sabar
“Rangga juga sudah menunggu kita disana kasian jika membuatnya lama menunggu sendiri” ucap Nadya menimpali
Muka Fajar yang tadinya berseri-seri berubah masam mendengar jika ternyata Rangga juga ikut dengan mereka.
“akhirnya sampai yuuk kita masuk” ucap Nadya tak sabaran berjalan secepat mungkin mencari keberadaan rangga.
“eh itu Rangga, Rangga... disini” panggil Nadya melambaikan tangannya pada Rangga.
Rangga tersenyum manis saat melihat kedatangan mereka dengan gerakan cepat Rangga menghampiri senyum manis Rangga berubah menjadi senyum kecut saat melihat keberadaan Fajar.
Saling menatap dengan sengit seolah saling berbicara melalui sorot mata mereka memperingati jangan mendekati Aisyah karena dia milik ku, tak ada yang mau mengala sampai suara Aisyah mengembalikan kesadaran keduanya yang saling bertatapan tajam.
“kalian akan terus disana saling bertatapan atau kami tinggal masuk sekarang juga” ucap nsa penuh penekanan
Rangga terperanjat dan buru-buru menghampiri Aisyah Fajar pun tak mau ketinggalan sedangkan kedua sahabat Aisyah sudah masuk lebih dahulu.
Nadya dan Nisa cekikikan saat menyaksikan dilayar pemeran Antagonis jatuh dan kecebur di got.
“lihat wajahnya terlihat bodoh dan o.on” ucap Nisa tertawa “mirip dengan dirimu Nad” tambahnya semakin tertawa
Nadya mendengus kesal “aku buka pemeran Antagonis tapi pemeran utamanya” sergah Nadya
“yah kau pemeran utamanya, dengan judul seorang putri yang bodoh dan o.on” tawa Nisa semakin kencang
Aisyah hanya tersenyum sesekali terkekeh bukan menertawakan filmnya tapi menertawakan tingkah kedua sahabatnya.
Jangan tanya kan Rangga dan Fajar sudah jelas mereka tidak menonton filmnya, mereka lebih tertarik dengan gadis yang duduk ditengah diantara mereka.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam.
“sudah waktunya pulang filmnya juga sudah habis” ucap Aisyah
“iya, besok juga aku ada kuliah pagi”
“Kau pulang sendirikan Nga, tidak ada tempat lagi untuk mu di mobil ku kita sudah pas” ucap Fajar dengan tersenyum karena merasa menang telak
“iya kalian pulang lah sudah larut malam, aisyah hati-hati yah” jawab Ranggah datar
“buat Aisyah ajah nih ucapannya” ucap Nadya mencoba meledek
Rangga tersenyum kikuk “untuk kalian semua”
Merekapun bergegas meninggalkan tepat tersebut, Rangga hanya memperhatikan punggung Aisyah yang semakin hilang dari pandangannya.
"Mungkin akan susah mendapatkanmu Ais, cinta lama mu telah kembali tapi aku tidak akan berhenti. aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu" batin Rangga tersenyum kecut.