
Jam pelajaran telah usai, kini aisyah duduk diteras kelas bersama sahabatnya tak lama kemudian pacar aisyah lewat didepan mereka sambil tersenyum manis kepadanya.
“emmm,, tuh pacar kamu lewat disapa gih” ucap nisa sambil menyenggol lengan kanan aisyah karena Aisyah duduk ditengah antara Annisa dan Nadya “bener tuh ais, samperin gih, kok kalian kayak orang gak pacaran sih gak pernah ketemuan di sekolah, biasanya kalau orang pacaran tuh kalau gak makan bareng dikantin pastinya mojok di sudut sekolah” timpal Nadya
“iiih kalian apaan sih, sebelum aku terima fajar aku udah bilang sama dia kalau dia emang mau pacaran sama aku dia harus siap aku giniin, karena aku paling gak suka yah mojok-mojok disudut sekolah atau pergi bareng dan dia terima syaratku yah udah jadi gini sekarang” jawab Aisyah cuek.
Nadya dan Annisa melongo mendengar penuturan Aisyah “putus baru tau rasa kamu” sarkas mereka bersamaan. Aisyah tak bergeming “yaa Allah ais, segitunya kamu yah cuek amat sih kamu. Emang kamu gak ada perasaan sama sih Fajar?” ucap Nadya dengan ekspresi heran.
“gak tau, perasaan aku biasa saja gak ada yang istimewa ke dia” ucap Aisyah dengan pandangan lurus kedepan “aku lagi nunggu waktu yang tepat untuk ngasih tau dia kalau aku mau akhiri hubungan ini” lanjutnya.
“ku rasa itu pilihan terbaik, takutnya kalau lama-lama Fajar makin cinta ke kamu sedang kamu biasa saja, kan kasian sih Fajar” ucap nisa. Nadya hanya mangut-mangut setuju.
...****************...
Beberapa hari kemudian
Aisyah menemui Fajar di kelasnya “Jar aku mau ngomong sesuatu, kamu ada waktu” Ucap Aisyah
Fajar terperanjat kaget karena Aisyah tiba-tiba muncul dihadapannya saat lagi asiiknya bercerita dengan teman sekelasnya. Seketika perhatian sekelas beralih ke Aisyah dan Fajar sebagian memandang Aisyah dengan pandangan kagum karena kecantikaan alami Aisyah sebagian memandang dengan pandangan sinis “Ciee ciee,,” ledek teman-temannya.
“eh ais kok tiba-tiba emang mau ngomong apa, aku selalu punya waktu kok buat kamu” ucap Fajar bangkit dari tempat duduknya dan menatap Aisyah dengan senyum manisnya.
“bisa kita bicara diluar jar, jangan disini ini masalah penting” ucap Aisyah sambil beranjak keluar dari kelas Fajar menuju sudut sekolah dan disusul Fajar dibelakang Aisyah.
“ais”
“fajar”
“humm” gumam fajar
“ada apa ais, sepertinya sangat penting. Ngomong ajah” ucap Fajar dengan nada cemas ia bisa melihat kalau ada sesuatu yang ingin Aisyah katakan dan itu bukan masalah lain melainkan tentang hubungan mereka
“maafkan aku Jar” lirih Aisyah sambil menundukkan kembali kepalanya.
“ada apa ais, kamu membuatku semakin khawatir dengan tingkahmu seperti ini, apa kamu ada masalah katakan saja saya akan dengan senang hati membantu”
“Jar mari kita berteman saja” ucap Aisyah sambil mengangat wajahnya dan menatap lekat mata Fajar yang tampak membulat karena terkejut mendengar permintaannya, Aisyah semakin merasa tidak tegah tapi ia harus mengatakannnya karena tak ada cinta di hatinya dan juga ia ingin fokus mempersiapkan ujian untuk kelulusannya.
“ais apa yang kamu katakan, bukan kah hubungan kita baik-baik saja kita tidak pernah ada masalah” ucap Fajar sambil meraih tangan Aisyah dan menggenggamnya erat, ia sangat mencintai Aisyah. putus adalah hal yang paling ia hindari oleh karena itu ia selalu berusaha menjaga tingkah lakunya takut akan membuat Aisyah marah, ia sangat menjaga jarak dari semua teman wanita disekolahnya bahkan hampir tak pernah ia berbicara dengan wanita yang lain, jika ada wanita yang berusaha mendekatinya dia akan langsung pergi tampa mengatakan sepatah kata.
“maaf jar, hubungan kita tidak bisa diteruskan aku ingin fokus ke ujian kelulusanku, aku harap kamu mengerti” ucap Aisyah sambil melepaskan genggaman tangan fajar.
“aku sangat mencintaimu ais, aku berjanji tidak akan mengganggu mu, kamu bisa fokus belajar aku berjanji tapi jangan akhiri hubungan kita aku akan bersabar menunggu, tolong ais jangan akhiri hubungan kita” ucapnya fajar memohon bulir-bulir kristal bening yang sedari ia tahan akhirnya menetes juga, ia tak bisa membendung lagi tubuhnya bergetar sesak dan gemuruh didadanya begitu besar Aisyah merupakan cinta pertamanya, ia jatuh cinta kepada Aisyah saat pertama kali ia melihatnya saat menginjakkan kaki di sekolahnya, Fajar merupakan siswa pindahan.
Aisyah terus menundukkan kepalanya matanya sudah berkaca-kaca ia benar-benar tidak tegah namun keputusannya sudah bulat jika ia tidak mengambil keputusan saat ini ia khawatir akan semakin melukai perasaan Fajar kedepannya.
“ma.maafkan aku jar, ini sudah keputusan ku. aku harap kamu mengerti jar kamu orang yang baik, semoga kamu mendapatkan orang yang baik pula” lirih Aisyah air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga dipipi mulusnya, ia menyeka air matanya dan berusaha menatap mata Fajar matanya sudah memerah karena menangis seketika tatapnya sayu pria yang selama ini selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya, sangat menurut, pria yang berada di barisan paling terdepan untuk melindungi saat ada yang mengganggunya, pria yang selalu terlihat kuat dan berkharisma saat ini terlihat rapuh lebih dari kata rapuh, ia mengangkat tangannya dan menyeka dengan lembut air mata Fajar lalu memberikan senyum termanisnya.
“Fajar aditama listen to me, jangan menangis kamu terlihat jelek. Kemana Fajar yang kuat dan paling tampan mengapa sekarang seperti ini hanya karena seorang wanita bernama Aisyah Maharani yang sama sekali tak pantas untuk ditangisi” ucapnya sambil tersenyum “don’t be cry jar, open your eyes and your heart segala sesuatu yang indah tidak akan bisa kamu rasakan kalau kamu hanya fokus pada satu titik” jelas Aisyah sambil berbalik untuk beranjak pergi.
Langkah Aisyah seketika berhenti “aku pergi jar, jaga dirimu jadilah sosok pria yang hebat, jangan pernah berubah tetaplah jadi Fajar yang memiliki Hati yang tulus seperti Fajar yang muncul di pagi hari yang menjadi awal kebaikan bagi penduduk bumi, kita tetap menjadi sahabat, Assalamu’alaikum” lanjutnya tanpa menoleh dan menyeka air matanya.
“maafkan aku jar, kamu layak bersama wanita yang juga mencintaimu” batin Aisyah.
“aku sangat mencintaimu ais, semoga kamu selalu menjadi sosok Aisyah Maharani yang aku kenal, sosok cantik dan lemah lembut. Baiklah jika ini keputusanmu aku akan terima, biarkan perasaan ini tetap aku simpan dengan baik di hatiku tidak ada yang bisa menggantikanmu dihatiku”