
“kamu ambil jurusan apa Jar” tanya Nadya
Netra Fajar teralihkan ke Nadya yang sedari tadi menatap Aisyah, “Aaah aku... aku mengambil jurusan manajemen bisnis karena ayahku menyerahkan tanggung jawab perusahaan sepenuhnya padaku setelah selesai kuliah nanti, itulah sebabnya aku memilih jurusan ini untuk memperdalam ilmu bisnis” ucap Fajar sembari tersenyum kecut
Aisyah dan sahabatnya hanya saling pandang, mereka bisa merasakan bahwa Fajar merasa sangat tertekan.
“sepertinya kamu tidak terlalu senang dengan itu jar” Nisa ikut bertanya
“yaah, karena ku ingin menjadi dokter bukan pengusaha”
“lalu kenapa kamu menerima tawaran ayah mu begitu saja”
“itu bukan tawaran nis, tapi mutlak dan harus ku patuhi, aku satu-satunya anak laki-laki mau tidak mau aku yang menjadi pewaris keluargaku, aku hanya mempunyai seorang adik perempuan itupun masih duduk di bangku SD kelas 6 apa yang bisa ku harapkan” ujar Fajar panjang lebar
Aisyah hanya menatap Fajar dengan tatapan sendunya, merasa kasihan padanya dikekang dan tertekan dua posisi yang sangat tidak menguntungkan. Harus melakukan sesutau yang tidak di senangi hanya akan menyiksa diri.
“sabar Jar, suatu saat kamu akan mengerti kenapa ayah mu memintamu melakukan itu, kamu harus menurunkan ego mu agar kamu bisa melihat dan merasakan sisi positif permintaan ayahmu” ucap Aisyah sambil menepuk-nepuk bahu Fajar
Senyum Fajar terbit seketika, merasa disayangi dan diperhatikan oleh Aisyah fajar kembali bersemangat.
“tentu Aisyah, maka dari itu sering-sering lah berada didekat ku agar ada yang selalu menasihat ku” ucap Fajar dengan mata berbinar
“yyeeh itu sih mau kamu, dan hanya untung dikamu” ledek nisa mencebik
Fajar cengengesan merasa kikuk karena tujuan ide gilanya mudah terbaca menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
*****
Rey sungguh sangat kesal dengan apa yang dilihatnya, dia sangat menyesal telah memilih datang untuk melihat langsung dan harus disuguhi pemandangan yang membuatnya sangat muak.
Tapi ada untungnya dia dantang dia bisa mengetahui dua orang pria yang berusaha mendekati gadis yang selalu membuatnya gelisah tak tenang.
“untung aku datang jika tidak aku tidak akan mengetahuinya” gumam Rey namun terdengar oleh ian
“mengetahui apa tuan” tanya ian penasaran
Bukannya menjawab Rey malah menyalahkan ian.
“ini semua salahmu, sudah ku katakan padamu selidiki gadis itu cari informasi apapun yang kau lihat dan laporkan padaku tapi kau tak mengindahkannya, apa kau menunggu aku mencabut bonusmu dan memotong gajimu” bentak Rey dengan emosi
“apa katanya?, salahku?, hey bahkan baru kemarin kau menyuruhku menyelidikinya dan sekarang kau menyalahkanku, sungguh aku tidak mengerti jalan pikiran Bos ku satu ini. Lagian kenapa gadis itu harus ku selidiki kurang kerjaan saja” batin ian menggerutu menahan kekesalannya.
“maaf tuan aku baru saja mau memulai penyelidikan ku hari ini karena baru kemarin aku mendapatkan perintah dari mu tuan” sela ian seolah menyindir Rey yang akhir-akhir ini moodnya seperti bunglon
Rey terperanjant tersadar akan kesalahannya akhirnya Rey hanya memilih bungkam, Rey memikirkan ucapan ian yang seolah menyindirnya bahwa dirinya sekarang sangat berbeda, ada apa? dia pun tak tahu hanya author yang tahu.
“kita makan siang dulu di restoran biasa” sebagai sogokan rasa bersalah nya karena sudah mengganggu waktu istirahat ian yang menikmati secangkir kopi dan tiba-tiba menyalahkan ian tanpa dasar.
“waaah apa ini sogokan mu tuan muda Rey karena merasa bersalah padaku? Kau pikir aku senang? Aku lebih senang jika kau menyogok ku dengan menambah bonusku.”
Rey bergegas turun saat mobilnya suskses mendarat di parkiran, berajalan gontai penuh wibawa degan wajah dingin membuat orang disekelilingnya diam terpaku seola tersihir dengan ketampanan Rey.
“bukan kah itu tuan muda Rey pemilik Mahendra Corp, aku baru melihatnya benar-benar sangat tampan sekali” ujar salah satu pengunjung restoran.
Rey mengotak atik ponselnya sembari menunggu pesanan mereka tiba begitupun dengan ian dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakuka Rey.
“mulai besok perintahkan satu orang untuk memperhatikan gadis itu dan lapor segera” ucap Rey memecah keheningan
“bukankah kita terlihat seperti penguntit tuan”
“aku menggaji mu untuk melakukan perintahku bukan untuk mengkepoi urusanku” tegas Rey dengan mata yang melotot
“dasar kikir” cerca ian dalam hati
“baik tuan” jawab ian mengangguk patuh
Suasana kembali hening seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka dengan sangat cekatan pelayan itu meletakkan satu persatu piring diatas meja dan mempersilahkannya untuk makan.
Rey menikmati suapan pertamanya suara seorang gadis memanggil namanya berhasil membat Rey terpaku membeku.
Cantika sengaja ingin makan direstoran itu untuk mengenang kebersamaannya dengan Rey dahulu sebelum berangkat ke paris besok untuk beberapa tahun kedepan bersama dengan Hendra karena nenek Hendra yang sudah sakit sakitan, namun siapa sangka pada saat bersamaan Rey juga sedang makan siang di tempat itu, senyumnya mengembang tanpa rasa bersalah Cantika menghampiri Rey dan ian .
“Reyhan”
Baru saja Rey ingin memasukkan suapan kedua gerakannya harus terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya
Cantika langsung mendudukkan bokongnya di kursi tepat disamping Rey, ian yang melihat cantika dengan tidak tau dirinya masih berani memunculkan wajahnya di depan Rey hanya memandangnya sinis.
Rey masih setia memegang sendok ditangannya, matanya memerah menahan amarahnya namun ia tidak ingin membuat keributan Rey hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh wanita tak tahu malu itu pikirnya.
“Rey kamu disini juga, aku tahu kamu tidak bisa melupakan kenangan kita disini dan aku sangat senang” ucap Cantika tanpa dosa sambil mengelus-elus lengan kekar milik Rey
Ian hanya menatap dalam diam mencoba menerka apa yang akan dilakukan oleh Rey.
“singkirkan tangan kotor mu dari lenganku” ucap Rey penuh penekanan, senyum ian mengembang melihat respon Rey
“Rey” panggil Cantika dengan nada yang dibuat selembut mungkin
“jangan kau sebut nama ku dengan mulut mu yang menjijikkan itu” sarkas Rey dengan tatapan tajamnya bahkan tatapan itu lebih mengerikan dari tatapan emosi Rey saat melihat Cantika di cabuli oleh preman, Cantika bergidik namun masih tetap berusaha meluluhkan Rey
“Rey ku mohon jangan marah”
bujuk Cantika
Emosi Rey sudah sampai di ubun-ubunnya ada bom yang segera ingin meledak sedari tadi namun semakin menjadi saat cantika terus saja berbicara yang membuatnya muak.
Rey memejamkan matanya yang memanas menggertakkan giginya terlihat jelas rahangnya yang mengeras Rey membanting pisau dan garpu yang dipegangnya.
“sudah ku katakan pada mu jangan menyebut namaku, aku bahkan tak sudi nama ku keluar dari mulut menjijikkan mu itu, aku disini bukan karena aku masih mengingatmu tetapi hanya restoran ini satu-satunya yang menyediakan fasilitas sesuai dengan standar keinginanku bukuan karena dirimu” sarkas Rey dengan suara yang meninggi memekakkan telingan, mata yang memerah terlihat gejolak amarah yang memenuhi rongga dadanya
“dan satu lagi pasang telingamu baik-baik aku tak ingin mengulang untuk kedua kalinya kau tau sendiri jika aku mengulang kau harus siap menerima resikonya, jangan kau anggap dirimu itu sangat istimewa sehingga aku tidak bisa melupakan mu singkirkan pikiran bodoh mu itu, perasaanku padamu sudah hilang tanpa sisa sejak hari itu bahkan aku merasa jijik pada diriku sendiri jika mengingat aku pernah mencintaimu wanita menjijikkan” jelas Rey panjang lebar lalu meninggal Cantika yang termangu dengan apa yang baru didengarnya barusan
“ayo ian, selera makan ku sudah rusak dengan kehadiran wanita menjijikkan itu” sindir Rey penuh penekanan
Cantika menangis terseduh-seduh dia tidak menyangka secepat itu Rey melupakannya meskipun sudah setahun lebih telah berlalu tetapi dia sangat yakin meski bertahun-tahun pun Rey tidak akan bisa melupakannya namun kenyataan malah sebaliknya.