
Sesuai permintaan Emily, disisa hidupnya gadis itu ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Emily ingin pergi ke Swiss dan tinggal di sana sampai nafas terakhirnya berhembus.
Tuan Brishel menyiapkan segala sesuatunya ditambah menunggu Aya benar-benar pulih. Mungkin dengan cara ini hubungannya dengan Aya bisa membaik, dia akan memperlakukan gadis itu seperti dia memperlakukan Emily.
Selama menunggu semua persiapan selesai, Aya masih tinggal di mansion Aldeguera.
"Hak warisan dari ayah tirimu sudah selesai diurus, rumah dan aset akan berpindah atas namamu," ucap Chris memberitahu.
Saat ini Chris dan Aya tengah berjalan-jalan di taman bermain.
"Sepertinya aku tidak membutuhkan itu jadi warisanku akan aku jadikan panti asuhan," balas Aya.
"Panti asuhan? Apa kau tidak ingin meneruskan pendidikanmu?" tanya Chris.
"Dengan otak minimalisku, aku tidak yakin akan mampu mengejar ketinggalan lagipula ada kekasihku yang pintar jadi aku selalu meminta bantuan padanya," balas Aya dengan menyenggol lengan Chris.
Chris berdehem karena mendengar kata kekasihku, ternyata gadis itu sudah mengakui dan tidak malu-malu lagi padanya.
Hanya saja, sebentar lagi mereka akan berpisah.
"Aku pasti tidak akan direpotkan lagi oleh kekasihku jadi aku agak kesal," ucap Chris kemudian.
"Untuk itu maafkanlah kekasihmu, dia pasti akan kembali dan memenuhi janjinya," sahut Aya.
"Janji?" gumam Chris yang merasa Aya tidak pernah berjanji padanya.
Dan Chris baru mendapatkan jawaban saat perpisahan mereka di bandara.
Aya memeluk pemuda itu kemudian mengecup pipinya. "Aku sudah ingat semuanya, aku akan cepat kembali dan kita harus membuka kapsul waktu itu bersama!"
Sebenarnya Chris agak kaget, dia langsung meraup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
"Sejak kapan ingatan itu kembali?" tanya Chris.
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Karena aku takut goyah," jawab Aya.
Chris menghela nafasnya berat sekali, dia tidak mau jadi egois karena Aya juga punya kehidupan sendiri.
"Pergilah, aku akan menunggumu," ucap Chris seraya mengecup kening kekasihnya.
Selama Aya pergi ke Swiss, sepasang kekasih itu menjalani hubungan jarak jauh.
Chris menyelesaikan kuliahnya dan Aya yang menghabiskan waktunya bersama Emily.
Panti asuhan yang diimpikan oleh Aya juga dalam proses pembangunan. Kadang sesekali, Chris juga mendatangi keluarga Brishel yang berada di pedesaan Swiss.
Pada saat itu musim dingin tiba, keadaan Emily sudah cukup parah, gadis itu hanya bisa terbaring di tempat tidur.
"Kakak, aku buatkan syal ini," Aya memberikan hasil rajutannya dan dia pakaikan pada Emily.
"Ini hangat," komentar Emily dengan senyuman. "Maaf ya, kita tidak bisa jalan-jalan bersama lagi!"
"Jalan-jalan atau tidak, yang penting kita selalu bersama," balas Aya.
Emily masih berusaha tersenyum walaupun nafasnya sudah terputus-putus. Sebentar lagi, dia akan menyusul ibunya.
"Aku nanti pasti akan mencari ibumu dan aku akan katakan bahwa Aya sudah tumbuh besar dan cantik, adikku mempunyai hati yang selembut salju," ucap Emily.
Aya tahu ini sudah waktunya, walaupun hatinya menangis tapi dia berusaha baik-baik saja.
"Ayah..." panggil Aya sambil berlari dan memeluk Tuan Brishel. "Aku tidak bisa melihatnya!"
"Kita sudah berjanji akan selalu ada di samping Emily sampai akhir jadi ayo kita penuhi janji kita," Tuan Brishel berusaha menahan kesedihan yang mendalam.
Mereka pun menemani Emily dan berusaha tidak memperlihatkan wajah sedih mereka. Sampai Emily benar-benar menutup matanya dengan seutas senyuman.
"Selamat tinggal semua," batin Emily.